Di Indonesia, obat mag termasuk salah satu produk farmasi yang banyak dikonsumsi seperti consumer goods. Lembaga riset Frontier dan majalah Marketing sampai memasukkan kategori obat mag dalam survei Top Brand tiap tahun. Selama beberapa tahun Top Brand untuk kategori obat mag adalah Promag® dan Mylanta®.
Kalau obat mag dikategorikan sebagai consumer goods, itu berarti bahwa banyak orang Indonesia menderita sakit mag. Berbeda dengan flu-pilek yang disebabkan oleh infeksi virus yang sulit dihindari, sakit mag pada umumnya berasal dari pola hidup kita yang salah.
Sebelum membahas tentang obat mag, sebaiknya kita membahasa dulu tentang sakit mag. (Mag dari bahasa Belanda maag, yang artinya perut atau lambung.)
Cerita tentang sakit mag biasanya dimulai dari meja makan—sekalipun bisa juga dari meja kantor atau bahkan kamar tidur. Biang keladi yang umum adalah makanan meskipun bisa juga stres atau hal lain.
Setelah dikunyah di mulut, makanan masuk ke kerongkongan. (Sekadar diketahui, saluran makanan adalah kerongkongan, bukan tenggorok. Tenggorok adalah saluran napas.) Setelah melewati kerongkongan, makanan atau minuman akan transit di lambung sebelum diserap di usus.
Di lambung, bahan-bahan makanan tersebut dicerna agar bisa diserap oleh tubuh. Pada proses ini, lambung mengeluarkan cairan asam klorida (yang sering disebut sebagai asam lambung) untuk membantu kerja enzim-enzim pencernaan. Tanpa bantuan asam ini, protein dari daging, telur, ikan, dan tempe tidak bisa dicerna dengan baik.
Selain berfungsi mencerna, asam lambung juga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari kuman yang masuk ke dalam tubuh lewat makanan atau minuman. Sebagian besar (tidak semua) bakteri yang terbawa di dalam makanan tidak tahan hidup dalam suasana asam. Begitu berada dalam cairan asam, mereka akan mati sehingga tidak sampai di usus.
Masalah bisa timbul jika produksi asam lambung meningkat melebihi kebutuhan, misalnya karena telat makan, terlalu banyak minum kopi atau soda, atau stres berkepanjangan. Bisa juga
karena pemakaian obat-obatan tertentu, misalnya asetosal (obat sakit kepala) atau asam mefenamat (obat sakit gigi). Bisa juga karena infeksi kuman khusus yang kebal terhadap asam, seperti Helicobacter pylori. Sebagian besar bakteri tidak sanggup bertahan dalam kondisi asam. Bakteri ini termasuk pengecualian.
Kondisi lambung yang terlalu asam menyebabkan dinding lambung mengalami iritasi. Gejala yang paling umum adalah nyeri lambung. Bisa juga disertai mual, kembung, serta rasa penuh dan tidak nyaman di perut. Pada mag yang berat, gejalanya bisa sampai berupa rasa terbakar di dada.
Berdasarkan cara kerjanya, ada dua kelompok besar obat mag.
1. Antasid (penetral asam)
Karena biang gangguan mag biasanya asam lambung, obat-obat mag pada umumnya bekerja dengan cara mempengaruhi asam lambung. Dua golongan obat mag yang paling penting adalah penetral asam (antasid) dan penghambat produksi asam lambung. (Antacid dari kata anti- yang berarti melawan, dan acid yang berarti asam.)
Sebagian besar kandungan obat mag yang dijual bebas adalah golongan antasid. Contoh antasid yang banyak digunakan: aluminium hidroksida dan magnesium
aluminum trisilikat dan magnesium trisilikat. Cara
kerjanya sama saja. Obat-obat ini bersifat basa, bekerja dengan cara menetralkan asam lambung. (Dalam ilmu kimia, lawan kata asam adalah basa.)
Antasid magnesium dan aluminium merupakan dua serangkai yang biasanya ada di dalam satu produk. Keduanya selalu dikombinasikan karena dua obat ini punya efek samping yang berlawanan. Magnesium tunggal punya efek samping diare, sementara aluminium tunggal punya efek samping konstipasi (sembelit). Jika keduanya dikombinasikan, efek samping tersebut bisa saling meniadakan.
Contoh lain antasid adalah kalsium karbonat. Tapi di Indonesia, obat ini jarang digunakan. Hanya digunakan di beberapa merek dagang.
Begitu ditelan, antasid bereaksi cepat menetralkan asam lambung. Lebih cepat lagi kalau dikunyah dulu baru ditelan. Obat-obat ini rasanya tawar, sama sekali tidak pahit sehingga bisa dikunyah.
Oleh karena kerjanya cepat, obat golongan ini cocok sebagai pertolongan pertama untuk mengatasi serangan mag yang datang sesekali. Namun, obat ini punya kekurangan, yakni waktu kerjanya singkat. Itu sebabnya antasid saja
kurang ampuh sebagai obat utama untuk sakit mag yang telah menjadi kronis.
2. Antikembung (penyerap gas)
Di banyak produk obat mag, antasid juga sering dikombinasikan dengan obat antikembung, misalnya
simetikon (dimetil polisiloksan) dan dimetikon. Dua obat
ini bukanlah penetral asam, melainkan bahan yang digunakan untuk menyerap kelebihan gas di saluran cerna. Obat antikembung digunakan di dalam obat mag karena pada umumnya gangguan lambung diikuti dengan gejala salah cerna yang menyebabkan produksi gas secara berlebihan.
3. Penghambat produksi asam lambung
Di Indonesia, obat golongan ini sebagian bisa dibeli tanpa resep. Sekalipun ada produk yang bisa dibeli tanpa resep, sebaiknya obat golongan ini digunakan dengan hati-hati. Saat membelinya di apotek, tanyakan efek sampingnya kepada apoteker. Contoh golongan ini antara lain
famotidin, simetidin, dan ranitidin.
Contoh merek dagang obat yang mengandung obat golongan ini dan banyak diiklankan adalah Promag Double Action® dan Neosanmag Fast®. Produk ini berisi
kombinasi tiga bahan, yaitu kalsium karbonat, magnesium hidroksida, dan famotidin.
Kalsium karbonat dan magnesium hidroksida merupakan golongan penetral asam lambung. Sedangkan famotidin bekerja mengurangi produksi asam lambung. Di brosur obat, famotidin mungkin disebut sebagai “antagonis reseptor H2” atau “acid blocker”. Ini istilah medis untuk obat yang bekerja mengurangi produksi asam lambung.
Selain golongan obat “idin-idin” ini, ada pula obat yang lebih kuat, yang bekerja dengan cara menutup saluran produksi asam lambung. Obat-obat golongan ini di Indonesia masih termasuk golongan obat keras. Misalnya,
omeprazol, esomeprazol, dan lansoprazol.
Obat golongan keras ini dibahas di sini bukan agar pembaca bisa mengobati diri sendiri, lalu membelinya dari apotek tanpa konsultasi ke dokter. Pembahasan obat keras dimaksudkan agar pembaca sebagai konsumen mengetahui hal-hal penting tentang obat yang diminum.
Swamedikasi (pengobatan sendiri) dengan obat-obat golongan ini bisa berbahaya. Beberapa penelitian menyebutkan, salah satu risiko yang bisa timbul dari penggunaan jangka panjang obat keras ini adalah turunnya daya ingat.
Dua golongan obat mag (idin-idin dan prazol-prazol) ini punya waktu kerja lebih lama dibandingkan antasid. Dokter biasanya meresepkan untuk mengatasi gangguan mag kronis yang tidak lagi bisa diatasi dengan antasid saja.
Kalau sakitnya sudah parah dan ada indikasi luka infeksi di lambung, dokter kadang meresepkan antibiotik, misalnya metronidazol. Obat ini berfungsi membasmi bakteri Helicobacter pylori.
Obat lain yang juga bisa digunakan dalam obat mag adalah bismut subsalisilat. Obat ini bekerja dengan cara meredakan iritasi di lambung. Kadang digunakan dalam obat antidiare. Tapi di Indonesia, hanya beberapa merek dagang obat mag yang menggunakannya.
Dari pembahasan di atas, kita bisa melihat, obat mag bermacam-macam. Yang paling perlu diketahui oleh konsumen awam adalah golongan antasid. Kelompok lainnya hanya perlu diketahui kalau kita mendapatkan obat-obat ini dari resep dokter.