• Tidak ada hasil yang ditemukan

OBAT HIPERTENSI

Dalam dokumen Buku Obat .pdf (Halaman 166-174)

Di Indonesia, penyakit yang oleh orang-orang tua zaman dulu disebut bludrek ini termasuk salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi tapi tidak disadari. Menurut riset Kementerian Kesehatan, sekitar 30% orang dewasa memiliki tekanan darah di atas normal.

Yang lebih mengejutkan lagi, tiga perempat dari mereka yang menderita hipertensi tidak menyadarinya. Dengan kata lain, banyak dari kita yang sudah memiliki hipertensi tapi mengabaikannya. Ini terjadi karena hipertensi stadium awal umumnya memang tidak menimbulkan gejala sakit yang jelas. Gejalanya baru akan terasa jelas saat stadiumnya sudah lanjut.

Tinggi rendahnya tekanan darah ditentukan oleh dua hal, yaitu volume darah dan kelenturan pembuluh darah. Pada orang sehat, pembuluh darah seperti selang elastis yang diameternya mudah menyesuaikan diri dengan volume darah. Tapi pada sebagian orang, elastisitas pembuluh darah ini menurun, misalnya akibat lapisan kerak kolesterol yang melekat selama bertahun-tahun.

Karena dinding tidak lagi elastis, tekanan cairan darah yang melewatinya pun menjadi lebih tinggi. Apalagi jika jumlah cairan darahnya lebih banyak. Kondisi inilah yang disebut tekanan darah tinggi.

Tekanan darah dinyatakan dengan satuan mmHg, dalam dua angka yang dipisah oleh tanda garis miring, misalnya 120/80. Angka pertama menyatakan tekanan saat jantung memompa darah. Angka kedua menyatakan tekanan ketika jantung berhenti sesaat sebelum memompa darah lagi. Tekanan darah yang sehat berkisar di angka 120/80.

Jika tekanan darah seseorang mencapai 140/90, kondisi itu sudah bisa disebut hipertensi. Pada stadium awal, tekanan darah sebesar ini mungkin tidak menimbulkan masalah kesehatan apa-apa. Itu sebabnya banyak orang tidak menyadarinya.

Jika dibiarkan saja tanpa perubahan pola hidup, hipertensi ini bisa menjadi lebih parah. Gejala awal biasanya berupa seringnya sakit kepala, pusing, dan vertigo (pusing tujuh keliling).

Kalau tahapnya sudah kronis, hipertensi bisa menyebabkan gangguan fungsi ginjal, payah jantung, hingga serangan jantung atau stroke.

Sampai sekarang, ilmu kedokteran modern masih menganggap hipertensi sebagai penyakit yang BELUM BISA disembuhkan. Ini memang kabar buruk. Tapi kabar baiknya, penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik sehingga penderitanya bisa hidup sehat walafiat. Caranya dengan menerapkan pola hidup sehat, pola makan sehat, dan olahraga teratur.

Bila hipertensinya cukup parah, selain harus menerapkan pola hidup di atas, pasien juga harus minum obat... seumur hidup! Seumur hidup? Ya, sepanjang hayat dikandung badan. Memang seperti inilah faktanya—jika kita bicara dengan kacamata medis.

Karena itu, dalam ilmu medis, istilah “mengobati” hipertensi tidak berarti menyembuhkannya tapi hanya mengendalikan tekanan darah. Dan yang disebut sebagai “obat hipertensi” itu bukanlah obat yang menyembuhkan darah tinggi, yang diminum beberapa kali lalu penyakit sembuh.

Obat hipertensi hanya mengendalikan tekanan darah. Penyakit hipertensinya sendiri tidak lantas sembuh. Karena itu, obat harus diminum terus-menerus. Ini poin penting yang harus disadari oleh penderita.

Minum obat seumur hidup mungkin terdengar seperti berita buruk. Akan tetapi, daripada terpaku pada sisi buruknya, kita bisa

melihat berita baiknya, yaitu bahwa penyakit ini bisa dikendalikan sehingga kita bisa hidup sehat, segar bugar sampai usia lanjut.

Sekali lagi, yang dibicarakan di sini adalah standar dalam ilmu kedokteran modern. Kalau kita bicara dengan standar lain, katakanlah ilmu pengobatan tradisional, mungkin saja kita akan mendapat pendapat yang berbeda.

Banyak herbalis, sinse, tabib, dan ahli-ahli pengobatan tradisional percaya bahwa penyakit darah tinggi bisa disembuhkan dengan minum obat tradisional tertentu. Tentu saja kita akan sulit membandingkan kedua pendapat ini karena memang keduanya menggunakan falsafah yang berbeda dalam menguji kebenaran sebuah klaim. Kacamata dokter berbeda dengan kacamata yang digunakan para ahli pengobatan tradisional itu.

Mungkin timbul pertanyaan: apakah tidak berbahaya minum obat terus-menerus sepanjang hidup? Bukankah kita dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari konsumsi obat? Lagi-lagi, jawaban pertanyaan ini adalah bahwa konsumsi obat didasarkan pada pertimbangan antara manfaat dan mudarat.

Jika kita minum obat terus-menerus, mungkin kita akan terkena efek sampingnya. Tapi jika kita tidak minum obat, mudaratnya dalam jangka panjang akan jauh lebih besar lagi. Jika tidak dikendalikan, hipertensi justru akan menimbulkan komplikasi gangguan ginjal, hingga kemungkinan serangan

jantung dan stroke. Artinya, manfaat minum obat jauh lebih besar daripada mudaratnya.

Oleh karena hipertensi masih belum bisa disembuhkan, cara terbaik menjauhi “kutukan” minum obat sepanjang hayat adalah dengan mencegahnya. Mungkin terdengar klise, tapi memang inilah satu-satunya cara.

Dalam stadium awal, hipertensi mungkin tidak menimbulkan gejala sama sekali. Ini bisa membuat penderita tidak menyadari bahwa tekanan darahnya sudah bermasalah. Itu sebabnya kita sangat dianjurkan untuk rajin memantau tekanan darah kita walaupun tidak merasakan gejala sakit apa-apa. Dengan begitu, kalaupun kita mengalami hipertensi, kita bisa mengetahuinya secara dini sehingga terhindar dari komplikasi yang berbahaya.

Hipertensi memang gabungan antara kabar buruk dan kabar baik. Kabar buruknya, penyakit ini sering diderita tanpa disadari. Tapi kabar baiknya, ia mudah dideteksi secara dini.

Pemeriksaan tekanan darah yang paling baik adalah ketika kita dalam keadaan santai, seperti ketika kita berada di rumah. Saat kita berada di ruang dokter, sebagian dari kita kadang merasa sedikit grogi atau sedikit terengah-engah setelah berjalan. Kondisi ini bisa menyebabkan tekanan darah kita sedikit naik sehingga angka yang dihasilkan pun mungkin kurang akurat.

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan menderita darah tinggi, antara lain:

 Usia

Makin tua seseorang, makin berkurang elastisitas pembuluh darahnya. Hampir semua orang lansia memang mengalami hipertensi sekalipun mungkin derajatnya berbeda-beda. Pada kaum hawa, kondisi hipertensi biasanya mulai muncul setelah menopause (mati haid).

 Keturunan

Faktor nasib ini jelas tidak bisa diapa-apakan. Namun, ini tidak berarti bahwa anak penderita hipertensi PASTI akan menderita hipertensi. Hanya saja, peluangnya memang lebih besar. Dengan pengendalian pola hidup yang baik, bakat hipertensi ini bisa ditekan sehingga tidak muncul.

 Konsumsi garam tinggi

Kandungan utama garam adalah mineral natrium (dalam bahasa Inggris disebut sodium). Mineral ini akan menyebabkan air tertahan di pembuluh darah. Makin banyak garam yang kita makan, makin besar volume cairan darah di pembuluh, sehingga makin tinggi pula tekanannya.

 Kegemukan

Makin gemuk seseorang, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi ke jaringan-jaringan lemak penyebat kegendutan itu. Akibatnya, volume darah yang mengalir di pembuluh pun makin besar sehingga tekanannya pun makin tinggi.

Diperkirakan, penambahan berat badan 1 kg di atas berat badan ideal bisa meningkatkan tekanan darah sekitar 1 mmHg. Jadi, semakin gemuk seseorang, semakin besar kemungkinannya terkena hipertensi.

 Kurang aktif

Pada orang yang kurang bergerak dan jarang berolahraga, detak jantungnya cenderung lebih cepat dengan tekanan yang lebih tinggi sehingga tekanan darahnya pun cenderung lebih tinggi.

 Kebiasaan merokok

Di dalam asap rokok terdapat banyak sekali senyawa toksik. Selain bisa meningkatkan kemungkinan berbagai jenis penyakit, sebagian toksin itu bisa mempercepat kerusakan pembuluh darah sehingga menyebabkan elastisitas pembuluh pun lebih cepat berkurang.

 Sering stres

Kondisi stres bisa menyebabkan lonjakan tekanan darah sesaat. Saat stres reda, tekanan darah kembali normal. Akan tetapi jika stres berlangsung lama dan berulang-ulang, kondisi tekanan darah tinggi yang temporer ini bisa menjadi permanen. Apalagi jika penderita melampiaskan rasa “galau” dengan cara banyak makan, banyak begadang, dan merokok, maka risiko hipertensi permanen bisa menjadi berlipat-lipat.  Kurang tidur

Sama seperti stres, kondisi kurang tidur juga bisa menyebabkan kenaikan tekanan darah yang sementara. Tekanan darah akan kembali normal ketika kita kembali beristirahat dengan cukup. Namun, jika kondisi kurang tidur berlangsung kronis, kondisi tekanan darah tinggi yang sementara tadi bisa berubah menjadi permanen.

 Kehamilan

Kondisi hamil kadang bisa menyebabkan hipertensi yang biasanya dikenal dengan preeklamsia. Hipertensi jenis ini berbahaya bagi janin tapi biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah si ibu melahirkan.

 Konsumsi obat tertentu

Sebagian obat jika dikonsumsi dalam jangka lama mungkin bisa menyebabkan hipertensi, misalnya sebagian pil KB, sebagian obat flu dan obat migrain. Baca juga Bab Pil KB, juga Bab PPA dan Pelega Hidung.

 Penyakit lain

Beberapa jenis penyakit bisa meningkatkan risiko seseorang menderita hipertensi, seperti diabetes, gangguan fungsi ginjal, dan tinggi kolesterol.

Dari daftar di atas, kita bisa melihat bahwa sebagian besar penyebab hipertensi adalah faktor-faktor yang bisa dikendalikan. Memang ada faktor yang tidak bisa diapa-apakan seperti usia dan keturunan, tapi sebagian besar lainnya adalah faktor-faktor yang bisa diubah.

Dalam dokumen Buku Obat .pdf (Halaman 166-174)

Dokumen terkait