TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Obesitas .1 Definisi .1 Definisi
intelegensi atau kemampuan kognitif seseorang (Sukardi, 1993). Tes intelegensi disusun untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan dalam memberikan suatu jawaban atau kesimpulan secara logis berdasarkan informasi yang diberikan (Guilford, 1982). Metode untuk pengukuran tingkat intelegensi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode Standard Progressive Matrices (SPM). SPM merupakan bentuk asli dari Raven Progressive Matrices yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1938. Tes ini terdiri dari lima kelompok soal, dimana masing-masing kelompok soal berisi 12 soal, sehingga jumlah keseluruhan soal adalah sebanyak 60 soal. Setiap soal akan bergerak dari soal yang mudah hingga soal yang sulit. Kondisi ini menunjukkan bahwa dibutuhkan kapasitas kognitif yang lebih besar untuk memasukkan dan menganalisa informasi di dalam otak. Tes ini dirancang khusus untuk usia enam hingga 65 tahun yang dapat disajikan secara individual ataupun klasikal. Waktu untuk mengerjakan tes ini adalah kurang lebih 30 menit. Aspek yang diukur pada SPM adalah daya abstraksi, berpikir logis/menalar, berpikir sistematis, kecepatan dan ketelitian serta konsentrasi.
2.3 Obesitas 2.3.1 Definisi
Penderita obesitas lebih banyak dijumpai pada usia remaja dan eksekutif muda di perkotaan oleh karena mengkonsumsi makanan berlebih serta kurangnya aktivitas fisik dan berolahraga. Obesitas biasanya disebabkan karena remaja tidak dapat mengontrol makanannya, makan dalam jumlah berlebih sehingga berat
26
badannya melebihi normal. Pada beberapa kasus obesitas terjadi karena binge eating disorder yaitu suatu keadaan seseorang yang makan dalam jumlah besar secara terus menerus dan cepat tanpa terkontrol. Setelah menyadarinya baru merasa bersalah tapi jika keadaan binge datang lagi dia akan kembali melakukannya tanpa sadar (Sulistyoningsih, 2011).
Kegemukan (overweight) seringkali disamakan dengan obesitas, namun pada dasarnya memiliki arti yang berbeda. Kegemukan merupakan keadaan berat tubuh yang melebihi berat tubuh secara normal, sedangkan obesitas merupakan keadaan kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya lemak. Kegemukan dan obesitas bisa terjadi pada berbagai golongan umur dan jenis kelamin. Juvenil obesity adalah obesitas yang terjadi pada usia muda (anak-anak). Sekitar 50-70% obesitas yang muncul pada remaja cenderung berlanjut hingga dewasa (Sulistyoningsih, 2011).
Obesitas merupakan suatu bentuk penyimpangan dari bentuk tubuh yang ideal. Obesitas menjadi hal yang penting bagi remaja, karena pada masa ini penampilan fisik menjadi suatu hal yang penting yang dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Obesitas tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik yang dapat mengakibatkan berbagai penyakit bagi penderitanya, tetapi juga berpengaruh pada masalah psikososial. Seseorang yang obesitas sering kali diasosiasikan memiliki harga diri yang rendah. Hal ini tidak timbul dengan sendirinya namun karena adanya stigma dan stereotipe yang berada di masyarakat yang membuat penderita obesitas menjadi tidak puas dengan dirinya sehingga memiliki harga diri yang rendah.
27
Warschburger (2005) menyatakan obesitas membuat remaja mengalami gangguan kesehatan emosional seperti timbulnya harga diri yang negatif, meningkatnya depresi dan kecemasan. Akan tetapi, besarnya hubungan antara masalah berat badan dengan masalah psikologi ini bervariasi dan obesitas tidak secara langsung mengakibatkan masalah psikososial. Sebuah penelitian oleh Eisenberg, dkk. (2003) menyatakan bahwa ejekan yang berhubungan dengan berat badan yang ditujukan pada penderita obesitas dapat menurunkan harga diri baik pada remaja putri dan putra. Masalah psikososial yang terjadi pada remaja obesitas ini juga mempengaruhi aspek lain dalam hidup salah satunya adalah prestasi belajar (Aluja dan Blanch, 2002; Xie, dkk., 2006).
2.3.2 Penilaian status gizi
Standar pertumbuhan yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO) berdasarkan penelitian longitudinal di enam negara yang tersebar di empat benua yaitu Pelotas (Brasil), Accra (Ghana), Delhi (India), Oslo (Norwegia), Muscat (Oman), Davis (California-AS). WHO Multicentre Growth Reference Study (MGRS) telah dirancang untuk menyediakan data yang menggambarkan bagaimana anak-anak harus tumbuh, dengan cara memasukkan kriteria tertentu (misalnya: menyusui, pemeriksaan kesehatan, dan tidak merokok). MGRS menghasilkan Standar Pertumbuhan Normal (preskriptif), berbeda dengan yang hanya deskriptif. Standar baru memperlihatkan bagaimana pertumbuhan anak dapat dicapai apabila memenuhi syarat-syarat tertentu seperti pemberian makan, imunisasi dan asuhan selama sakit. Standar baru ini dapat
28
digunakan diseluruh dunia, karena penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari negara manapun akan tumbuh sama apabila gizi, kesehatan dan kebutuhan asuhannya dipenuhi. Standar WHO (2005) ini diadopsi sebagai acuan untuk menilai status gizi anak di Indonesia. Kategori dan ambang batas status gizi anak sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks
Indeks Kategori
Status Gizi Ambang Batas (Z-Score) Berat Badan menurut Umur
(BB/U)
Anak Umur 0 – 60 Bulan
Gizi Buruk < -3 SD
Gizi Kurang -3 SD sampai dengan < -2 SD Gizi Baik -2 SD sampai dengan 2 SD Gizi Lebih >2 SD
Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan
menurut Umur (TB/U) Anak Umur 0 – 60 Bulan
Sangat Pendek < -3 SD
Pendek -3 SD sampai dengan < -2 SD Normal -2 SD sampai dengan 2 SD Tinggi >2 SD
Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan
menurut Tinggi Badan (BB/TB) Anak Umur 0 – 60 Bulan
Sangat Kurus < -3 SD
Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD Normal -2 SD sampai dengan 2 SD
Gemuk >2 SD
Indeks Masa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak Umur 0 – 60 Bulan
Sangat Kurus < -3 SD
Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD Normal -2 SD sampai dengan 2 SD
Gemuk >2 SD
Indeks Masa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak Umur 5 – 18 Tahun
Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD Normal -2 SD sampai dengan 1 SD Gemuk >1 SD sampai dengan 2 SD Obesitas >2 SD
Sumber: Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 Tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak