• Tidak ada hasil yang ditemukan

Objektiikasi

Dalam dokumen Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu I (Halaman 160-164)

BAB IV Konstruksi Filosois Paradigma Keilmuan

C. Konstruksi Metodologis

2. Objektiikasi

Setelah dilakukan proses integralisasi, maka langkah berikut yang harus dilakukan dalam upaya mengembangkan

keilmuan Islam adalah dengan objektiikasi. Kedua aspek ini pada praktiknya harus berjalan secara beriringan. Objektiikasi

sendiri menurut Kuntowijoyo bermula dari internalisasi nilai,

tidak dari subjektiikasi kondisi objektif. Objektiikasi adalah

penerjemahan nilai-nilai internal ke dalam kategori-kategori objektif. Secara lebih seksama, Kuntowijoyo membuat skema

yang kiranya dapat menjelaskan bahwa kedudukan objektiikasi

pada posisi yang tengah-tengah di antara terminologi yang lain, yaitu internalisasi, eksternalisasi, dan gejala objektif sebagai berikut:

Secara kebahasaan, kata objektiikasi berasal dari kata

ob jek tif, yang artinya “the act of objectifying” atau “membuat

diartikan memandang sesuatu secara objektif.65 Sesuatu itu objektif kalau keberadaannya tidak tergantung pada pikiran sang subjek, tetapi berdiri sendiri secara independen. Jadi, bila

A adalah objektiikasi dari B, maka berarti A adalah B yang

telah dibuat objektif oleh sang subjek.66

Objektiikasi memiliki semangat yang hampir serupa

dengan proses eksternalisasi. Eksternalisasi berangkat dari konkretisasi keyakinan yang dihayati secara internal. Sebagai contoh membayar zakat. Zakat timbul setelah ada keyakinan bahwa sebagian harta itu bukan milik orang yang mendapatkan, dan keyakinan bahwa rezeki itu harus dinafkahkan. Kalau kemudian orang membayar zakat, itulah yang disebut ekster-na lisasi.67 Objektiikasi menempuh prosedur yang sama dengan eksternalisasi, tapi ada tambahan. Objektiikasi juga

merupa-kan konkretisasi dari keyakinan internal. Sesuatu perbuatan dikatakan objektif bila perbuatan itu dirasakan oleh orang di luar Islam sebagai sesuatu yang natural (sewajarnya), tidak sebagai perbuatan keagamaan. Sekalipun demikian, dari sisi yang mempunyai perbuatan, bila tetap menganggapnya sebagai

perbuatan keagamaan, termasuk amal. Objektiikasi ini juga

berlaku bagi pemeluk agama lain di luar Islam, asal perbuatan itu dirasakan oleh orang Islam sebagai sesuatu yang objektif, sementara orang non-Islam dipersilakan menganggapnya sebagai perbuatan keagamaan.

65 Ada istilah lain yang berdekatan dengan objektiikasi (objectiication), yaitu objektifasi (objectivation). Berbeda dengan Webster’s New Twentieth Century Dictionary yang cenderung menyamakan, Kunto dalam hal ini membedakannya. Menurut Kunto, objektifasi dapat mempunyai arti lain. Objektifasi bisa berasal dari kata objek, jadi objektifasi adalah “memandang” sesuatu sebagai objek atau benda”. Misalnya kalimat, “Masyarakat teknologis cenderung melakukan objektifasi terhadap manusia”. Sebagai ganti objektifasi dalam kalimat itu sekarang lebih umum dipakai kata dehumanisasi atau menjadikan manusia sebagai mesin, menghasilkan “manusia mesin”. Lihat Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hlm. 301.

66 Kuntowijoyo, Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 213.

Ditegaskan oleh Kunto bahwa sebuah produk ilmu yang lahir dari induk agama harus menjadi ilmu yang objektif. Artinya, suatu ilmu tidak dirasakan oleh pemeluk agama lain, non-agama, dan anti agama sebagai norma, tetapi sebagai gejala keilmuan yang objektif semata. Meyakini latarbelakang agama yang jadi sumber ilmu atau tidak, tidak menjadi masalah, ilmu yang berlatarbelakang agama adalah ilmu yang objektif, bukan

agama yang normatif. Maka, objektiikasi ilmu adalah ilmu

dari orang yang beriman untuk seluruh manusia, tidak hanya untuk orang yang beriman saja.68

Dengan melakukan objektiikasi, menurut Kuntowijoyo,

ada dua hal yang bisa dihindari, yakni sekularisasi dan dominasi. Sekularisasi terjadi karena adanya interpretasi yang

meng anggap bahwa semua peristiwa yang terjadi adalah

konsekuensi logis dari gejala objektif. Sementara, dominasi terjadi apabila suatu umat beragama hanya menghasilkan satu produk saja dari internalisasi atas nilai-nilai, yaitu eksternalisasi.

Sebab, titik berangkat objektiikasi sama dengan eksternalisasi,

yaitu internalisasi. Perbedaannya terdapat pada tujuan, apabila

objektiikasi ditujukan keluar, sedangkan eksternalisasi ke dalam umat pemeluk sebuah agama sendiri. Objektiikasi

merupakan perbuatan rasional nilai yang diwujudkan ke dalam perbuatan rasional, sehingga orang luar pun dapat menikmati tanpa harus menyetujui nilai-nilai asal.69

68 Ibid., hlm. 56.

69 Istilah-istilah seperti objektiikasi, internalisasi, dan eksternalisasi yang dipergunakan Kunto tampaknya mirip dengan tiga momen simultannya Berger. Objektiikasi oleh Berger dimaknai sebagai interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Internalisasi yaitu individu mengidentikkan diri dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya. Adapun eksternalisasi adalah penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural sebagai produk manusia. Lihat Frans M. Parera, “Menyingkap Misteri Manusia Sebagai Homo Faber”, pengantar dalam Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, Tafsir Sosial atas Kenyataan, terj. Hasan Basari(Jakarta: LP3ES, 1990), hlm. xx.

Terkait dengan Alquran sebagai kitab rujukan umat Islam,

menurut Kuntowijoyo juga dapat dilakukan objektiikasi. Dengan objektiikasi, Alquran juga tetap menjadi sumber

hukum. Perbedaannya terletak dalam prosedur, tidak dalam

hakikat. Objektiikasi Islam akan menjadikan Alquran terlebih

dahulu sebagai hukum positif, yang pembentukannya atas per-se tujuan bersama warga negara. Dengan demikian, per-secara tidak langsung seluruh syariat Islam menjadi hukum negara, tetapi

melalui objektiikasi.70 Objektiikasi juga menuntut perhatian

umat Islam bukan semata-mata pada isu-isu yang bersifat abstrak seperti akhlak, tetapi juga kepada isu-isu konkret yang menyangkut kepentingan wong cilik, seperti kemiskinan dan kesenjangan. Sehingga, tampak bahwa keraguan orang tidak kepada Islam yang ajarannya sudah komprehensif dan egalitir, tetapi lebih kepada orang yang melaksanakan.

Dalam tataran yang lebih konkret, Kuntowijoyo

menye-but kan beberapa contoh objektiikasi, yaitu akupuntur, tanpa

harus percaya konsep yin-yang Taoisme; yoga, tanpa harus percaya Hinduisme; sengatan lebah, tanpa harus percaya kepada Alquran yang memuji lebah; herbal medicine, tanpa harus percaya kepada Hinduisme Bali; dan perbankan syariah, tanpa harus meyakini etika Islam tentang ekonomi. Dengan

objektiikasi, maka ilmu (terutama dalam pengobatan) itu

terbuka untuk semua orang, dapat ditularkan secara terbuka, dan tanpa laku yang rahasia (sakti, kharisma, bertapa, tiban).

70 Dengan objektiikasi akan terjamin kesamaan di dalam hukum antar agama-agama. Dengan demikian, hilanglah ancaman terhadap stabilitas nasional. Karena itu, ungkapan “menghukumi dengan hukum Allah” itu juga harus diobjektiikasi dalam sejumlah perundangan, peraturan, peraturan pemerintah, instruksi, juklak, dan juknis. Kasus pendirian bank syariah merupakan salah bentuk objektiikasi yang telah berhasil dilakukan di Indonesia, meski melalui proses politik yang cukup lama. Lihat M. Dawam Rahardjo, “Bank Islam”, dalam Tauik Abdullah dkk., Ensiklopedi Islam, hlm. 399; lihat juga Aminuddin, Kekuatan Islam dan Pergulatan Kekuasaan di Indonesia Sebelum dan Sesudah Runtuhnya Rezim Soeharto (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 286.

Dalam konteks yang lebih luas, Kuntowijoyo juga melihat

objektiikasi ini sebagai jalan tengah tidak hanya bagi Islam,

tetapi juga dapat dilakukan oleh agama-agama dan aliran-aliran politik. Pada bidang politik, ia menjadi metode dalam perubahan cara berpikir politik sehingga dapat menjadi solusi dalam mengatasi kemandegan politik.71

Masih terkait dengan objektiikasi yang melibatkan wahyu

Alquran sebagai basis pijakan dalam paradigma Islam, maka muatan data-data yang terdapat dalam Alquran harus dijadi-kan terlebih dahulu sebuah teori ilmu. Hal ini tampaknya se-laras dengan semangat yang dibawakan Kuntowijoyo bahwa ilmu-ilmu yang integralistik merupakan sumbangan orang-orang beriman bagi kemanusiaan.

Dalam dokumen Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu I (Halaman 160-164)