• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kualitas Air Tambak

4.1.4. Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut sangat dibutuhkan ikan untuk proses pernafasan, selain itu juga untuk mengoksidasi bahan organik yang ada di tambak. Hasil pengukuran oksigen terlarut air tambak menunjukkan bahwa oksigen terlarut rata-rata tertinggi terdapat pada perlakuan C yaitu 6,06 mg/L dibandingkan dengan kontrol yaitu 5,33 mg/L (Tabel 4.1 dan Lampiran 8). Rendahnya kadar oksigen terlarut diduga karena meningkatnya suhu dan salinitas. Jeffries dan Mills (1996) berpendapat bahwa kadar oksigen berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, salinitas, ketinggian dan berkurangnya tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut secara harian dan musim bergantung pada percampuran dan pergerakan massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi dan limbah yang masuk ke badan air. Kordi dan Tancung (2010) menyatakan bahwa oksigen dalam air tambak dihasilkan melalui proses difusi dari udara yang mengandung 20,95% oksigen. Proses ini terjadi pada permukaan air. Sumber oksigen lainnya adalah fitoplankton, melalui proses fotosintesis fitoplankton dapat menghasilkan oksigen seperti terlihat dari persamaan reaksi berikut:

cahaya

6 CO2 + 6 H2O C6 H12 O6 + 6 O2 klorofil

Sumber oksigen lainnya adalah aliran air baru yang masuk ke dalam tambak. Air baru umumnya mengandung kadar oksigen lebih tinggi dan sewaktu air tersebut

masuk ke dalam tambak kadar oksigen dapat lebih meningkat karena turbulensi/arus air.

Aleem, Hock dan Varner (1965) menyatakan bahwa perputaran oksigen terlarut dalam mengoksidasi nitrit adalah sebagai penerima elektron. Rees dan Nason (1966) menambahkan bahwa dalam mengoksidasi ammonia menjadi nitrit oleh Nitrosomonas, molekul oksigen menjadi pusat penerima elektron dan tidak dapat berhubungan secara langsung terhadap nutrien. Painter dan Prosser (1986) menyatakan bahwa proses nitrifikasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan yang optimal seperti suhu (20-30 oC) dan batas oksigen terlarut (5-10 mg/L). Hasil pengukuran DO selama penelitian masih berada dalam kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan kerapu yaitu > 3 mg/L (Suprakto dan Fahlivi, 2007).

4.1.5. Ammonia

Ammonia dalam air tambak merupakan hasil perombakan dari senyawa-senyawa nitrogen organik oleh bakteri dari penambahan pupuk yang berlebihan, biota akuatik yang telah mati dan sisa pakan. Di dalam air ammonia terdapat dalam dua bentuk, yaitu ammonia terionisasi (NH4+) yang tidak menyebabkan toksisitas bagi ikan. Ammonia tidak terionisasi (NH3) yang menyebabkan toksisitas pada ikan. Kedua bentuk ammonia tersebut berada dalam air dalam keseimbangan seperti terlihat dari persamaan reaksi berikut:

NH4+ + H2O NH3 + H2O.

Senyawa ammonia sangat beracun bagi ikan karena dengan meningkatnya ammonia dalam air, ekskresi ammonia ikan menurun dan kadar ammonia dalam

darah ikan budidaya meningkat. Dengan meningkatnya kadar ammonia mengakibatkan kebutuhan oksigen semakin meningkat, jika kebutuhan oksigen tidak terpenuhi akan merusak insang ikan yang mengakibatkan kemampuan darah membawa oksigen berkurang (Boyd, 1990).

Hasil pengukuran ammonia pada air tambak selama penelitian disajikan pada Tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2. Rata-rata kadar ammonia pada air tambak selama penelitian

Perlakuan A (1 mg/L) B (2 mg/L) C (3 mg/L) Kontrol (0 mg/L) Kadar ammonia awal (mg/L) 0,79 0,79 0,79 0,78 Kadar ammonia akhir (mg/L) 0,64 0,59 0,47 0,81 Penurunan kadar ammonia (mg/L) 0,15 0,20 0,32**) 0,03 Keterangan: **) Berbeda sangat nyata

Pada Tabel 4.2 dan Lampiran 9 jelas terlihat bahwa perlakuan terbaik dalam menurunkan kadar ammonia adalah perlakuan C yaitu 0,32 mg/L dibandingkan dengan kontrol yaitu 0,03 mg/L (Fh (433) > Ft 0,01 (7,59). Rata-rata kadar ammonia akhir pada perlakuan C sebesar 0,47 mg/L masih mendukung untuk pemeliharaan ikan kerapu yaitu < 0,6 mg/L dibandingkan dengan kontrol yaitu 0,81 mg/L. Hal ini disebabkan adanya peningkatan dosis probiotik dengan meningkatnya penggunaan dosis probiotik yang mendorong kadar ammonia semakin turun. Balcazar et al. (2006) menyatakan bahwa aplikasi probiotik di air pemeliharaan ikan mampu memperbaiki kualitas air. Moriarty et al. (2005) menyatakan bahwa probiotik komersial yang mengandung bakteri Bacillus sp. menghasilkan eksoenzim yang sangat efektif memecah rantai molekul protein

menjadi mineral kembali. Proses regenerasi nutrien tersebut dapat berlangsung cepat apabila Bacillus sp. yang ditambahkan ke air tambak frekuensinya lebih sering dan kepadatannya tinggi. Bacillus sp. salah satu contoh bakteri probiotik yang efisien digunakan dalam budidaya perairan karena mampu mengkonversi bahan organik (sisa pakan) menjadi CO2 yang digunakan dalam metabolisme sel. Jamilah (2011) melaporkan bahwa B. cereus memiliki isoenzim yang mampu mendegradasi dan mendetoksifikasi sisa pakan yang terdapat di tambak budidaya. Moriarty (1999) dan Suprapto (2005) menggunakan probiotik yang mengandung

Bacillus, Lactobacillus, Nitrobacter sp. dan Nitrosomonas sp. untuk tambak udang dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas air melalui dekomposisi materi organik, menyeimbangkan komunitas mikroba serta menekan pertumbuhan patogen sehingga menyediakan lingkungan yang lebih baik bagi kehidupan udang.

Bacillus mampu merubah senyawa nitrat menjadi nitrogen bebas dan menguraikan

senyawa organik (karbohidrat, lemak dan protein) menjadi senyawa yang sederhana dan larut dalam air. Lactobacillus mampu merubah senyawa nitrat menjadi nitrogen bebas dan menguraikan senyawa organik (karbohidrat, lemak dan protein) menjadi senyawa yang sederhana dan larut di dalam air. Nitrobacter

sp. mampu merubah senyawa nitrit menjadi nitrat. Nitrosomonas sp. mampu merubah senyawa ammonia menjadi nitrit. Pseudomonas sp. mampu merubah senyawa nitrat menjadi nitrogen bebas dan menguraikan senyawa organik (karbohidrat, lemak dan protein) menjadi senyawa yang sederhana dan larut dalam air. Aerobacter sp. mampu merubah karbohidrat menjadi asam lemak dan etanol. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suwoyo dan Mangampa (2010) melaporkan

bahwa konsentrasi probiotik 4 mg/L adalah perlakuan terbaik dalam menurunkan kadar ammonia selama 60 hari pemeliharaan udang vaname, kadar ammonia pada awal penelitian yaitu 2,0013 mg/L kemudian menurun menjadi 0,3027 mg/L. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Aquarista et al. (2012) melaporkan bahwa konsentrasi probiotik 5 mg/L adalah perlakuan terbaik dalam menurunkan kadar ammonia selama pembesaran ikan lele dumbo, kadar ammonia pada awal penelitian yaitu 0,22 mg/L kemudian menurun menjadi 0,17 mg/L.

4.1.6. Nitrit

Nitrit dalam air tambak merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat yang mengalami proses nitrifikasi dengan bantuan bakteri Nitrosomonas sp. Dalam proses nitrifikasi diperlukan sumber karbon dan oksigen terlarut yang cukup. Persamaan reaksi sebagai berikut (Effendi, 2000):

2NH3 + 3O2 Nitrosomonas 2NO2- + 2H+ + 2H2O

Nitrit beracun bagi ikan karena nitrit bergabung dengan ion hidrogen membentuk asam nitrous (HNO2-N) yang berupa asam kuat dan karena tidak bermuatan listrik sehingga dengan bebas dapat berdifusi melintasi membran insang atau melalui transport aktif. Mekanisme efek toksik nitrit adalah ketika asam nitrous berdifusi ke dalam darah melalui insang lalu bereaksi dengan besi II (Fe2+) menghasilkan besi III (Fe3+). Hal ini akan mengurangi kemampuan sel darah merah untuk mengikat oksigen, yang mengakibatkan penyakit darah coklat (methemoglobin) yang dapat mematikan ikan karena kekurangan oksigen (hypoxia) (Boyd, 1990).

Hasil pengukuran nitrit pada air tambak selama penelitian disajikan pada Tabel 4.3 berikut.

Tabel 4.3. Rata-rata kadar nitrit pada air tambak selama penelitian Perlakuan A (1 mg/L) B (2 mg/L) C (3 mg/L) Kontrol (0 mg/L) Kadar nitrit awal (mg/L) 0,27 0,27 0,27 0,26 Kadar nitrit akhir (mg/L) 0,11 0,08 0,05 0,28

Penurunan kadar nitrit (mg/L) 0,16 0,19 0,22**) 0,02 Keterangan: **) Berbeda sangat nyata

Pada Tabel 4.3 dan Lampiran 10 jelas terlihat bahwa perlakuan terbaik dalam menurunkan kadar nitrit adalah perlakuan C yaitu 0,22 mg/L dibandingkan dengan kontrol yaitu 0,02 mg/L (Fh (234,75) > Ft 0,01 (7,59). Rata-rata kadar nitrit akhir pada perlakuan C sebesar 0,05 mg/L masih mendukung untuk pemeliharaan ikan kerapu yaitu < 0,1 mg/L dibandingkan dengan kontrol yaitu 0,28 mg/L. Hal ini disebabkan kandungan oksigen terlarut dalam air tambak pada perlakuan C lebih tinggi (> 6 mg/L) dibandingkan pada perlakuan B, A dan kontrol. Dengan demikian sesuai dengan pernyataan Effendi (2000) bahwa perubahan kandungan ammonia berubah menjadi nitrit dengan bantuan bakteri Nitrosomonas sp. dapat berlangsung lebih baik karena pada proses nitrifikasi dibutuhkan oksigen terlarut lebih tinggi. Jika kadar nitrit yang melampaui batas toleransi kehidupan ikan, nitrit akan menjadi racun bagi ikan sebab nitrit akan mengoksidasi Fe2+ di dalam haemoglobin yang mengakibatkan kemampuan darah untuk mengikat oksigen menurun (Boyd, 1990). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suwoyo dan Mangampa (2010) melaporkan bahwa konsentrasi probiotik 4 mg/L adalah perlakuan terbaik dalam menurunkan kadar nitrit selama 60 hari pemeliharaan

udang vaname. Kadar nitrit pada awal penelitian sebesar 0,7060 mg/L menurun menjadi 0,0769 mg/L.

4.2. Jumlah Bakteri Secara Umum Dengan Metode Total Plate Count

Dokumen terkait