• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Tinjauan Pustaka

2.1.5 Opini Audit Going Concern

Going concern adalah kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitas operasional usahanya dalam kurun waktu yang lama pada masa yang akan datang. Kosasih (1985: 33) menyatakan bahwa istilah ini diartikansebagai

anggapan bahwa operasi satuan ekonomi akan berlangsung terus di masa yang akan datang. Going concern merupakan suatu asumsi akan kelangsungan hidup perusahaan yang berkaitan erat dengan kemampuan perusahaan dalam melunasi utang-utangnya, dan kemampuan perusahan dalam menagih piutangnya.

xxviii Carmichael dalam The Auditors Reporting Obligation menyatakan bahwa going concern dipengaruhi oleh ketidakpastian yang sangat material yang mengancam

kelangsungan hidup suatu entitas atau perusahaan.

Menurut Altman dan McGough (1974:65) masalah going concern terbagi dua, yaitu masalah keuangan yang meliputi kekurangan (defisiensi) likuiditas, defisiensi ekuitas, penunggakan utang, kesulitan memperoleh dana, serta masalah operasi yang meliputi kerugian operasi yang terus-menerus, prospek pendapatan yang meragukan, kemampuan operasi terancam, dan pengendalian yang lemah atas operasi.

Opini audit going concern adalah opini yang dikeluarkan oleh

auditoruntuk mengevaluasi apakah ada kesangsian tentang kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya (SA Seksi 341). Dalam melaksanakan prosedur audit, auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi adanya kondisi yang dapat menimbulkan kesangsian besar terhadap kemampuan perusahaan untuk mempertahankan hidupnya (SA Seksi 341, paragraf 02).

Pada saat menentukan opini going concern, auditor dapat mengidentifikasi informasi mengenai kondisi atau peristiwa tertentu, jika dipertimbangkan secara keseluruhan akan menunjukkan adanya kesangsian besar tentang kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu yang diharapkan. Signifikan atau tidaknya kondisi atau peristiwa tersebut akan tergantung atas keadaan, dan beberapa diantaranya kemungkian hanya menjadi signifikan jika ditinjau bersama-sama dengan kondisi atau peristiwa yang lain.

xxix Berikut ini beberapa contoh peristiwa yang menjadi pertimbangan auditor dalam memberikan opini audit goingconcern − dalam hal ini tidak hanya terbatas pada pristiwa berikut−diantaranya :

1. Trend negatif, misalnya kerugian operasi yang berulang kali terjadi, kekurangan modal kerja, arus kas negatif dari kegiatan perusahaan, dan rasio keuangan penting yang menunjukkan nilai dibawah standar perusahaan.

2. Kesulitan keuangan, misalnya kegagalan melunasi kewajiban yang telah jatuh tempo, penunggakan pembayaran deviden, dan restrukturisasi utang. 3. Masalah intern, misalnya adanya karyawan yang melakukan mogok kerja,

ketergantungan besar atas sukses proyek tertentu, komitmen yang panjang yang tidak ekonomis, dan kebutuhan untuk secara signifikian memperbaiki operasi.

4. Masalah luar, misalnya masalah gugatan pengadilan baik yang dilakukan oleh pemasok, maupun pelanggan yang merasa tidak puas dengan pelayanan perusahaan, kehilangan pelanggan dan pemasok utama, kerugian akibat bencana besar, keluarnya undang-undang yang mengancam keberadaan perusahaan, kehilangan franchise, lisensi atau paten yang penting, dan bencana yang tidak diasuransikan.

Auditor perlu mempertimbangkan rencana manajemen dalam mengatasi kondisi buruk yang mungkin akan terjadi pada masa yang akan datang dalam periode tidak lebih dari satu tahun. Dalam SA (Standar Auditing) Seksi 341 dinyatakan pertimbangan – pertimbangan tersebut antara lain:

xxx 1. Rencana untuk menjual aktiva.

2. Rencana penarikan utang atau restrukturisasi.

3. Rencana untuk mengurangi atau menunda pengeluaran. 4. Rencana untuk menaikkan modal pemilik.

Perusahaan yang mendapat opini wajar tanpa pengecualian bukan berarti telah bebas dari kebangkrutan. Oleh karena itu auditor mengevaluasi tingkat kekuatan kelangsungan hidup perusahaan klien. Berikut beberapa pedoman yang diberikan oleh Ikatan Akuntan Indonesia mengenai dampak dari pengaruh kelangsungan hidup perusahaan terhadap opini yang dikeluarkan oleh auditor, yaitu :

1. Tanggungjawab auditor

Seorang auditor bertanggungjawab dalam mengevaluasi kelangsungan hidup perusahaan klien. Jika auditor menemukan adanya tanda-tanda yang menunjukkan gangguan operasional perusahaan, maka auditor harus :

a. Berkordinasi dengan pihak manajemen dan memastikan apa rencana manajemen dalam meminimalisir atau menghilangkan dampak yang akan mungkin terjadi pada masa yang akan datang dari temuan auditor.

b. Memastikan rencana tersebut efektif dan aman jika direalisasikan, dan memastikan pada manajemen bahwa mereka akan melaksanakan rencana tersebut.

2. Prosedur audit

Prosedur audit adalah tindakan yang dilakukan atau metode dan teknik yang digunakan oleh auditor untuk mendapatkan atau mengevaluasi bukti audit.

xxxi Auditor cukup membuat suatu prosedur yang dapat menggambarkan kondisi klien yang sesungguhnya dimana dalam prosedur tersebut dapat dilihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada masa yang akan datang yang dapat merugikan iinternal maupun eksternal perusahaan. Menurut Mulyadi (2002) Berikut contoh prosedur audit yang dapat dibuat oleh auditor, yaitu :

a. Prosedur ananalitik,

b. Review terhadap peristiwa kemudian,

c. Review terhadap kepatuhan atas syarat-syarat utang,

d. Pembacaan notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, dan komite penting yang dibentuk,

e. Permintaan keterangan kepada penasehat hokum entitas dan pendapatnya, f. Konfirmasi dengan pihak-pihak yang mepunyai hubungan istimewa. 3. Pertimbangan atas kondisi peristiwa

Auditor dapat mempertimbangkan suatu peristiwa yang terjadi pada perusahaan klien dalam memberikan opini going concern. Mengidentifikasi kejadian tersebut, apakah berdampak merugikan atau tidak terhadap pihak- pihak yang berkaitan dengan perusahaan klien kemudian menentukan seberapa tingkat pengaruh kejadian tersebut terhadap operasional perusahaan.

4. Pertimbangan atas manajemen

Rencana manajemen perusahaan klien juga perlu dipertimbangkan dalam hal pemberian opini going concern. Hal ini apat dilihat pada contoh berikut : a. Apabila manajemen tidak memiliki rencana dalam hal pengurangan resiko

buruk suatu peristiwa untuk mempertahankan kelangsung hidup suatu perusahaan, maka auditor harus mempertimbangkan untuk menyatakan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).

xxxii terjadi pada perusahaan, maka auditor memiliki dua pilihan, diantaranya :

a) Jika menurut auditor rencana yang dibuat manajemen perusahaan tidak efektif, maka auditor mempertimbangkan untuk menyatakan tidak memberikan opini (disclaimer opnion).

b) Jika menurut auditor rencana yang dibuat manajemen perusahaan efektif dan mampu mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, serta manajemen mengungkapkan rencana tersebut dalam catatan atas laporan keuangan, maka auditor dapat mempertimbangkan untuk memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion).

c) Jika menurut auditor rencana manajemen tersebut efektif, namun tidak diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, maka auditor dapat mempertimbangkan untuk memberikan pendapatwajar dengan pengecualian (qualified opinion) atau pendapat tidakwajar (adverse

opinion).

5. Pertimbangan Dampak Informasi Kelangsungan Hidup Entitas Terhadap Laporan Auditor Setelah auditor mempertimbangkan rencana manajemen, maka apabila auditor mendapat kesangsian akan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidup dalam jangka waktu pantas, auditor harus mempertimbangkan dampak yang kemungkinan timbul atas laporan keuangan dan cukup atau tidaknya pengungkapannya. Berikut beberapa informasi yang dapat diungkapkan, yaitu :

a. Kondisi atau peristiwa yang menimbulkan kesangsian besar mengenai kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya

xxxiii dalam waktu pantas.

b. Dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kondisi atau peristiwa tersebut. c. Evaluasi manajemen terhadap signifikan atau tidaknya kondisi atau peristiwa

dan factor-faktor yang melemahkan dampak negatifnya. d. Kemungkinan diberhentikan operasi satuan waktu.

e. Rencana manajemen (termasuk informasi keuangan prospektif yang relevan). f. Informasi mengenai kemungkinan pulihnya kembali keadaan satuan usaha

atau klasifikasi aktiva yang dicatat atau klasifikasi utang. 2.1.6 Kualitas Audit

De Angelo (1981:78) mendefinisikan kualitas audit sebagai probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa KAP yang besar akan berusaha untuk menyajikan kualitas audit yang lebih besar dibandingkan dengan KAP yang kecil.

Berdasarkan pengertian yang dikemukakan diatas, dapat dipahami bahwa kualitas audit berkaitan dengan kemampuan auditor dalam menemukan, mengidentifikasi, dan melaporkan pelanggaran yang dilakukan oleh klien diserta dengan bukti-bukti yang ditemukan. Semakin besar KAP-nya, semakin tinggi kualitas auditnya.

Dalam penelitian yang lain yang dilakukan oleh Deis dan Giroux (2000:90), dikatakan bahwa beberapa hal yang mempengaruhi kualitas audit yaitu:

1. Lama waktu auditor telah melakukan pemeriksaan terhadap suatu perusahaan (tenure), semakin lama seorang auditor telah melakukan

xxxiv audit pada klien yang sama maka kualitas audit yang dihasilkan akan semakin rendah.

2. Jumlah klien, semakin banyak jumlah klien maka kualitas audit akan semakin baik karena auditor dengan jumlah klien yang banyak akan berusaha menjaga reputasinya.

3. Kesehatan keuangan klien, semakin sehat kondisi keuangan klien maka akan ada kecenderungan klien tersebut untuk menekan auditor agar tidak mengikuti standar.

4. Review oleh pihak ketiga, kualitas audit akan meningkat jika auditor tersebut mengetahui bahwa hasil pekerjaannya akan direview oleh pihak ketiga.

Dari berbagai faktor diatas, dalam penelitian ini lebih menekankan pada ukuran Kantor Akuntan Publik sebagai tolok ukur kualitas audit. Adapun ukuran perusahaan tersebut diproksikan pada big four dan non big four. Berikut nama-nama perusahaan yang tergolong dalam KAP big four, yaitu :

1. Price Water House Coopers (PWC), yang bekerjasama dengan KAP Haryanto Sahari dan rekan.

2. Deloitte Touche Tohmatsu, yang bekerjasama dengan KAP Osman Bing Satrio dan rekan.

3. Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG) International, yang bekerjasama dengan KAP Siddharta dan Widjaja.

4. Ernst and Young (E&Y), yang bekerjasama dengan KAP Purwantoro, Sarwoko, dan Sandjaja. Suherman & Surja.

Dokumen terkait