TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.4 Opini Audit
Dengan melihat banyak faktor klien yang mempengaruhi auditor switching maka fokus utama dalam penelitian ini yaitu ukuran kantor akuntan publik, ukuran perusahaan, opini audit, pergantian manajemen, financial distress.
2.1.4 Opini Audit
Opini audit merupakan pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan perusahaan dalam semua hal yang material dan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia (IAPI 2013, Standar Akuntani “SA” 700). Opini audit juga merupakan informasi utama yang diinformasikan kepada pemakai informasi tentang kondisi perusahaan klien. Pemberian opini audit dilakukan oleh auditor melalui beberapa tahap proses audit, hingga auditor dapat menyimpulkan bahwa auditor telah memperoleh keyakinan memadai atas laporan keuangan yang disajikan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Atas dasar keyakinan tersebut auditor dapat merumuskan suatu opini tentang apakah laporan keuanga telah disusun dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
Auditor dapat memilih tipe pendapat yang akan diberikan pada laporan keuangan auditee berdasarkan setiap keadaan yang dijelaskannya. Secara garis besar ada tiga standar audit terbaru sehubungan dengan opini, yaitu Standar Audit (SA) 700 (IAPI, 2013) menjelaskan tentang opini tanpa modifikasian terdiri dari Opini Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified opinion) , Opini Wajar Standar Audit (SA) 705 (IAPI, 2013) menjelaskan tentang opini modifikasian terdiri dari Opini Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion), Opini Tidak Wajar
22 (Adverse Opinion), Opini Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer Opinion), dan Standar Audit (SA) 706 (IAPI, 2013) menjelaskan tentang Paragraf Penekanan Suatu Hal dan Paragraf Hal Lain Dalam Laporan Auditor Independen.
Opini audit tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (IAPI, 2013:SA 700:16-18, 705:7-10, dan 706:5) :
1. Opini tanpa modifikasian (SA 700 Pr.7)- Opini Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)
Auditor harus menyatakan opini wajar tanpa modifikasian bila auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Jika auditor:
a. Menyimpulkan bahwa, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, laporan keuangan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahan penyajian material; atau
b. Tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material; auditor harus memodifikasi opininya dalam laporan auditor berdasarkan SA 705.
Jika laporan keuangan disusun sesuai dengan ketentuan suatu kerangka penyajian wajar tidak mencapai penyajian wajar, maka auditor harus mendiskusikan hal tersebut diselesaikan, harus menentukan apakah perlu untuk memodifikasi opininya dalam laporan auditor berdasarkan SA 705.
2. Opini dengan modifikasian (SA. 705 Pr.7(a))- Opini Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Opini wajar dengan modifikasian akan diterbitkan apabila adanya pembatasan ruang lingkup audit dan tidak mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku (PSAK). Pembatasan ruang lingkup yang dimaksud adalah auditor tidak memperoleh bukti yang cukup selama penugasan audit sesuai dengan standar audit yang berlaku, sehingga audit tidak dapat diselesaikan semestinya.Opini wajar dengan pengecualian dapat diberikan apabila laporan keuangan perusahaan telah disimpulkan oleh auditor disajikan secara wajar.
Auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian ketika : c. Auditor, setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat,
menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi, adalah material, tetapi tidak pervasif, terhadap laporan keuangan; atau
d. Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasari opini, tetapi auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi
23 terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material, tetapi tidak pervasif.
3. Opini dengan modifikasin (SA. 705 Pr.8) Opini Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Auditor harus menyatakan suatu opini tidak wajar ketika auditor, setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi, adalah material dan pervasif terhadap laporan keuangan.
4. Opini dengan modifikasian (SA. 705 Pr.9) - Opini Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer of Opinion)
Auditor tidak boleh menyatakan pendapat ketika auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasar opini, dan auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan penyajian kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material dan pervasif.
Auditor tidak boleh menyatakan pendapat ketika, dalam kondisi yang sangat jarang yang melibatkan banyak ketidakpastian, auditor menyimpulkan bahwa, meskipun telah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang setiap ketidakpastian tersebut, auditor tidak dapat merumuskan suatu opini atas laporan keuangan karena interaksi yang potensial dari ketidakpastian tersebut dan kemungkinan dampak kumulatif dari ketidakpastian tersebut terhadap laporan keuangan.
5. Paragraf Penekanan Suatu Hal dan Paragraf Hal Lain Dalam Laporan Auditor Independen (SA 706, Pr 6 dan Pr 8)
Paragraf penekanan suatu hal adalah suatu paragraph yang tercantum dalam laporan auditor yang mengacu pada suatu hal yang telah disajikan atau diungkapkan dengan tepat dalam laporan keuangan yang, menurut pertimbangan auditor, sedemikian penting bahwa hal tersebut adalah fundamental bagi pemahaman pengguna laporan keuangan atas laporan keuangan. Paragraf hal lain adalah suatu paragraf yang tercantum dalam laporan auditor yang mengacu pada suatu hal selain yang telah disajikan atau diungkapkan dalam laporan keuangan yang, menurut pertimbangan auditor, relevan bagi pemahaman pengguna laporan keuangan atas audit, tanggung jawab auditor, atau laporan auditor.
Opini yang diberikan oleh auditor dapat mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para pihak yang berkepentingan, misalnya investor. Investor akan merasa lebih yakin untuk menanamkan modalnya pada perusahaan yang memiliki opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada laporan
24 keuangannya (Faradilla & Yahya, 2016). Oleh karena itu manajemen perusahaan menghindari opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion) karena bisa mempengaruhi harga saham perusahaan dan kompensasi yang diperoleh manajer, sehingga perusahaan cenderung bepindah kantor akuntan publik setelah menerima opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion) atas laporan keuangan.