• Tidak ada hasil yang ditemukan

Standar Auditing

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH MAHRANI BULKIS (Halaman 31-36)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.2 Standar Auditing

Auditor dalam memberikan jasa auditnya, harus taat standar auditing.

Standar auditing merupakan pedoman umum untuk membantu auditor memenuhi tanggung jawab profesionalnya dalam audit atas laporan keuangan historis. (Arens dkk., 2012). Standar ini mencakup pertimbangan mengenai kualitas profesional yang meliputi kompetensi dan independensi, persyaratan pelaporan dan bukti.

Berdasarkan sumber Simposium Nasional Akuntansi (SNA) tahun 2016 yang membahas mengenai perkembangan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), IAPI mengeluarkan standar auditing yang baru yaitu berbasis Internastional Standard on Auditing (ISA) pada tabel 2.1.

Tebel 2.1

Standar Auditing – International Standard on Auditing No Standar Auditing – International Standard on Auditing

1. Prinsip-prinsip umum

SA 200 Tujuan keseluruhan auditor independen dan pelaksanaan audit berdasarkan standar audit.

SA 210 Persetujuan atas ketentuan perikatan audit

SA 220 Pengendalian mutu untuk audit atas laporan keuangan SA 230 Dokumentasi audit

SA 240 Tanggung jawab auditor terikat dengan kecurangan dalam suatu audit

17 atas laporan keuangan

SA 250 Pertimbangan atas peraturan prundang-undangan dalam audit atas laporan keuangan

SA 260 Komunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola SA 265 Pengomunikasian defenisi dalam pengendalian internal kepada pihak

yang bertanggung jawab atas tata kelola dan manajemen.

2. Risk assesment dan risk response SA 300 Perencanaan suatu audit

SA 315 Pengidentifikasian dan penilaian risiko kesalahan penyajian material melalui pemahaman atas entitas dan lingkungannya.

SA 320 Materialitas dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan audit.

SA 330 Respon auditor terhadap risiko yangn telah dinilai.

SA 402 Pertimbangan terkait dengan entitas yang menggunakan suatu organisasi jasa

SA 450 Pengevaluasian atas kesalahan penyajian yang di identifikasi selama audit

3 Bukti Audit

SA 500 Bukti audit

SA 501 Bukti audit: pertimbangan spesifik atas unsur pilihan No Standar Auditing – International Standard on Auditing (lanjutan)

SA 505 Konfirmasi eksternal

SA 510 Perikatan audit tahun pertama 3. Bukti Audit

SA 520 Prosedur analitis SA 530 Sampling audit

SA 540 Audit atas estimasi akuntansi, termasuk estimasi akuntansi nilai wajar, dan pengungkapan yang bersangkutan.

SA 550 Pihak berelasi SA 560 Peristiwa kemudian SA 570 Kelangsungan usaha SA 580 Representasi tertulis 4. Menggunakan pekerjaan pihak lain

SA 600 Pertimbangan khusus-audit atas laporan keuangan grup.

SA 610 Penggunaan pekerjaan auditor internal SA 620 Penggunaan pekerjaan pakar auditor 5. Laporan auditor

SA 700 Perumusan suatu opini dan pelaporan atas laporan keuangan.

SA 705 Modifikasi terhadap opini dalam laporan auditor independen

SA 706 Paragraf penekanan suatu hal dan paragraf hal lain dalam laporan auditor independen.

6. Spesifik area

SA 800 Pertimbangan khusus- audit atas laporan keuangan yang disusun sesuai dengan kerangka bertujuan khusus.

SA 805 Pertimbangan khusus – audit atas laporna keuangan tunggla dan suatu unsur, akun, atau pos tertentu dalam laporan keuangan.

Sumber: Diolah Peneliti-iapi.or.id (2018)

18 2.1.3 Auditor Switching

Auditor switching adalah pergantian auditor atau pergantian kantor akuntan publik yang dilakukan oleh sebuah perusahaan. Auditor switching ini dapat dilakukan secara mandatory atupun secara voluntary. Pergantian auditor atau Kantor Akuntan Pubik secara mandatory terjadi karena adanya peraturan pemerintah yang mewajibkan dilakukannya auditor switching. Indonesia adalah salah satu negara yang telah mengatur kewajiban rotasi auditor atau auditor switching dengukuan dikeluarkannya Keputusan Menteri Keuangan Republik IndonesiaNomor 359/KMK.06/2003 pasal 2 tentang “Jasa Akuntan Publik”

(perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 423/KMK.06/2002) peraturan ini menyatakan “bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang akuntan publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut”.

Peraturan tersebut kemudian diperbaharui dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008 tentang “Jasa Akuntan Publik” yaitu Pemberian jasa audit umum menjadi 6 (enam) tahun berturut-turut oleh kantor akuntan dan 3 (tiga) tahun berturut-turut oleh akuntan publik kepada satu klien yang sama (pasal 3 ayat 1). Akuntan publik (AP) dan kantor akuntan publik (KAP) boleh menerima kembali penugasan setelah satu tahun buku tidak memberikan jasa audit kepada klien tersebut (pasal 3 ayat 2 dan 3).

19 Peraturan tersebut juga kembali mengalami revisi dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2015 mengenai pembatasan jasa audit, dimana pemberian jasa audit terhadap suatu entitas oleh Akuntan Publik dibatasi paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut (pasal 10 ayat 1), Akuntan Publik dapat memberikan kembali jasa audit kepada klien yang sama setelah 2 (dua) tahun buku berturut-turut tidak mendapat penugasan.

Pergantian auditor secara voluntary yang dimaksud bahwa perusahaan melakukan pergantian auditor secara sukarela tanpa adanya keharusan dari peraturan yang dibuat oleh pemerintah dan dapat disebabkan oleh beberapa faktor.

Faktor-faktor tersebut dapat dilihat dari sisi klien maupun sisi auditor. Ismaya (2017) “mengatakan bahwa terdapat dua faktor yang melakukan perusahaan berpindah KAP, yaitu faktor klien (Client-related factors) seperti: kesulitan keuangan (financial distress), manajemen yang gagal, pergantian ownership, Initial Public Offering (IPO), ukuran perusahaan, dan ukuran kantor akuntan publik. Sedangkan faktor auditor (Auditor-related factors) seperti: fee audit dan kualitas audit”.

Febrianto (2009) menjelaskan pergantian auditor bisa dibedakan atas dasar pihak mana yang menjadi fokus perhatian dari isu tersebut. Jika auditor switching terjadi secara sukarela, maka perhatian utama adalah pada sisi klien. Sebaliknya, jika pergantian terjadi secara wajib, perhatian utama beralih kepada auditor. Jika klien mengganti auditornya pada kondisi dimana tidak ada aturan yang mewajibkan pergantian auditor yang harus dilakukan, apapun kemungkinan yang

20 terjadi, perhatian utama tetap pada faktor-faktor apa saja yang mendasari terjadinya auditor switching tersebut dan ke mana klien tersebut berpindah.

Contoh auditor switching yang terjadi pada PT Bhuwanatala Indah Permai. Perusahaan ini mengalami kesulitan keuangan lalu melakukan pergantian auditor (Auditor switching). Dalam laporan auditor independen 2013dijelaskan mengalami kerugian berulang kalu dari usahanya yaitu rugi bersih berturut-turut sebesar Rp 77.968.956 dan 643.288.719.534 pada tahun 2013 dan 2014, serta pada tahun 2015 dan 2016 perusahaan juga mengalami kerugian. Sudah jelas pada tahun 2014 PT. Bhuwanatala Indah Permai mengalami kerugian dan Kantor Akuntan Publik memberikan opini wajar dengan penjelasan. Pada tahun 2014 perusahaan tidak lagi memakai jasa akuntan publik tersebut yaitu Paul Hadiwinata, Hidajat, Arsono, Ade Fatma & Rekan. Pada tahun 2015 perusahaan mengganti Kantor Akuntan Publik nya yaitu menjadi Kantor Akuntan Publik Kokasih, Nurdiyaman, Mulyadi , Tjahjo & Rekan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa auditor switching adalah pergantian auditor karena peraturan pemerintah (mandatory) atau pergantian auditor atas keputusan klien secara sukarela (voluntary) diluar peraturan pemerintah ketika klien merasa tidak puas atas hasil laporan keuangan auditan yang dilakukan auditor tersebut. Pada laporan keuangan sendiri belum ada alasan tentang perusahaan melakukan auditor switching secara voluntary bahkan ada perusahaan yang sama sekali tidak melakukan auditor switching sesuai lamanya seperti yang tercantum di dalam pertauran.

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH MAHRANI BULKIS (Halaman 31-36)

Dokumen terkait