• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

A. Deskripsi Data

2. Opini Guru Madrasah tentang Kurikulum 13 (K-13)

Dalam jajak opini ini diambil responden masing-masing madrasah satu orang guru. Masing-masing memberikan respon tertulis dan lisan terhadap

masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan K-13. Masing-masing guru berasal dari Madrasah Aliyan Negeri 1 Kota Bekasi, Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Bekasi, Madrasah Aliyah Swasta al-Muawwanah dan Madrasah Aliyah Swasta Sullamul Istiqomah.

Peran kepala madrasah dalam perencanaan pembelajaran, khususnya dalam pengembangan silabus pembelajaran berdasarkan K-13, ternyata seluruh kepala madrasah telah berfungsi sebagai pembimbing aktif bagi guru di madarasah. Kepala madrasah sering menginisiasi gurunya untuk mengikuti pelatihan dalam pengembangan silabus dan pembuatan RPP. Di samping itu, secara tidak terjadwal kepala madrasah terkadang, juga melakukan pembinaan dan pengembangan pada masalah yang berkaitan dengan silabus dan RPP melalui rapat rutin, baik mingguan dan bulanan maupun semesteran. Langkah dan upaya lain yang telah dilakukan kepala madrasah dalam pembimbingan pembuatan silabus dan RPP adalah dengan cara mengirimkan guru berdasarkan kelompok bidang ilmu masing-masing, untuk membuat RPP K-13 dan K-13 revisi bersama-sama teman sejawat pada kegiatan Kelompok Kerja Madrasah (KKM). Pada Madrasah Aliyah Negeri pengembangan Silabus dan RPP telah dirancang sesuai dengan kondisi lingkungan, kebutuhan madrasah dan peserta didik serta diarahkan menuju madrasah berbasis internet. Momentum yang biasa digunakan kepala madrasah dalam memotivasi guru untuk membuat perencanaan pembelajaran, dilaksanakan pada saat rapat-rapat dinas/rapat kerja.

Peran Kepala Madrasah dalam Pelaksanaan Standar Proses meliputi beberapa komponen standar proses dan yang perlu diperhatikan secara serius

dalam K-13 adalah (a). Pengembangan Materi Bahan Ajar, (b). Pengembangan Metode Pembelajaran, (c). Pengembangan Evaluasi/Penilaian, (d). Supervisi terhadap metode pembelajaran yang digunakan, (f). keterlibatan pengawas madrasah dan (g). memperkaya materi bahan ajar. Peran kepala madrasah dalam pengembangan materi bahan ajar, dilakukan dengan cara menganjurkan setiap guru dalam pembelajaran, hendaknya mengkaitkan materi bahan ajar dengan ayat-ayat al-Quran (Ayat Kauniyah), misalnya ketika membahas mata pelajaran Biologi tentang reproduksi dan genetika, guru dianjurkan untuk mengkaitkannya dengan ayat al-Quran, agar setiap kajian ilmu selalu berujung pada kitab suci. Selanjutnya, kepala madrasah juga selalu berupaya menyediakan materi bahan ajar, buku-buku pelajaran tambahan di perpustakaan madrasah. Upaya lain yang dilakukan oleh kepala madrasah dalam pengembangan materi bahan ajar adalah dengan penambahan sarana buku sumber belajar, melibatkan guru dalam kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) serta melaksanakan remedial dan pengayaan kepada siswa. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu lulusan madrasah.

Peran kepala madrasah dalam Pengembangan Metode Pembelajaran, direalisasikan dengan cara memberikan pengarahan agar guru dalam mengimplemintasikan metode pembelajaran menyesuaikan dengan materi pelajaran yang diajarkannya, misalnya ketika mempelajari sistem pernafasan, siswa mempresentasikan di depan kelas hasil pekerjaannya dengan menambah pemahaman mereka terhadap artikel yang didapatkan dari majalah ataupun surat kabar. Kepala madrasah memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti

pelatihan metodologi pembelajaran dengan menghadirkan pembicara dari Kemenag dan Kemendikbud. Penerapan metode pembelajaran di madrasah diarahkan oleh kepala madrasah pada penggunaan metode pembelajaran yang menyenangkan dan mengurangi pemberian Pekerjaan Rumah (PR) kepada peserta didik. Selain itu. kepala madrasah juga mengarahkan agar pembelajaran ditekankan pada penggunaan metode saintifik (aktivitas penelitian-sains).

Peran kepala madrasah dalam pengembangan evaluasi

pembelajaran/penilaian pembelajaran, dilakukan dengan cara meminta guru agar mengarahkan peserta didik dan menilainya berdasarkan tingkat kemampuannya masing-masing. Jika seorang siswa sudah mencapai tingkat ketuntasan minimal, harus diberikan penilaian lebih lanjut, misalnya jika peserta didik sudah melebihi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), guru dianjurkan untuk tetap memberikan pengayaan kepada siswa. Selain itu, setiap guru juga diminta oleh kepala madrasah untuk tetap meningkatkan kemampuan penilaiannya dengan mengikuti pelatihan, baik yang diselenggarakan oleh madrasah secara langsung maupun yang dilaknakan oleh oleh Kementerian Agama. Dalam penilaian, kepala madrasah mengarahkan kepada gurunya agar melakukan penilaian secara obyektif, menyeluruh, adil dan melakukan analisis tindak lanjut atas hasil evaluasi tersebut.

Peran kepala madrasah dan wakil kepala madrash dalam melakukan supervisi terhadap metode yang digunakan guru dalam pembelajaran, selalu terjadwal. Minimal setiap minggu dilakukan pertemuan 1 kali dengan guru, agar proses pembelajaran tetap berpatokan pada koridor K-13. Selain itu, kepala

madrasah juga mengadakan supervisi kelas terhadap guru mata pelajaran secara regular, melakukan kontrol kondisi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan memantau guru dalam penggunaan metode pembelajaran yang digunakan. Keterlibatan pengawas madrasah dalam kegiatan supervisi pembelajaran belum berjalan maksimal, karena masih ada beberapa madrasah yang tidak melibatkan pengawas madrasah dalam supervisi pembelajaran. Namun, untuk pemeriksaan perangkat pembelajaran setiap guru, kepala madrasah melibatkan pengawas dari POKJAWAS (Kelompok Kerja Pengawas). Ada juga kepala madrasah melibatkan POKJAWAS pada kegiatan supervisi pembelajaran dengan menghadirkan pengawas ke madrasah untuk membina guru-guru secara langsung atau supervise kepala madrasah pada guru lewat aktivitas yang dilakukan oleh MGMP, bahkan tak jarang dilakukan dengan mengundang pengawas madrasah pada saat menjelang pelaksanaan ujian semester.

Peran kepala madrasah dalam memberikan pengarahan kepada guru untuk selalu memperbaiki dan mengembangkan metode mengajar, dilakukan dengan memberikan arahan kepada setiap guru bidang studi agar meminta peserta didik terbiasa dengan sikap yang Islami, aktif, dan kreatif. Pada saat rapat dengan dewan guru yang dilakukan secara rutin setiap bulan, kepala madrasah selalu meminta guru agar selalu memperbaiki dan mengembangkan metode mengajar. Bahkan dalam forum breafing, meeting dan rapat dinas yang dilaksanakan setiap minggu, minimal sekali dalam sebulan, kepala madrasah juga memberikan pengarahan kepada guru.

Peran kepala madrasah dalam memberikan motivasi kepada guru untuk selalu mengembangkan sumber belajar yang digunakan, dilakukan dengan memotivasi agar guru terus menemukan sumber bahan ajar dan mencari beberapa buku sumber lainnya yang baru dan relevan. Motivasi penggunaan jaringan internet sebagai media dalam kegiatan pembelajaran juga dilakukan oleh pihak madrasah atas bimbingan kepala madrasah, namun masih dalam skala terbatas, karena kapasitas internet yang dimiliki masih minim. Kepala madrasah menganjurkan kepada guru agar tidak hanya tergantung kepada satu sumber bahan ajar, selalu mengembangkan sumber belajar yang digunakan dan dalam upaya menemukan sumber bahan ajar dan beberapa buku sumber lainnya, kepada madrasah menyampaikannya saat rapat/pertemuan dewan guru yang dilaksanakan setiap minggu.

Peran dalam memberikan arahan untuk memperkaya materi bahan ajar selalu dilakukan kepala madrasah, karena kepala madrasah di wilayah Kota Bekasi rata-rata sudah berpendidikan Strata 2 atau Magister, sehingga kompetensinya sudah dapat diakui oleh para guru, terutama dalam hal arahan dan koreksi dalam pembuatan RPP. Arahan kepala madrasah dilakukan pada saat rapat koordinasi dewan guru. Biasanya kepala madrasah meminta kepada dewan guru untuk memperkaya materi bahan ajar dengan menyarankan untuk mengambil bahan melalui internet dan perpustakaan. Selanjutnya, madrasah juga menyediakan CD pembelajaran dan buku sekolah elektronik. Peran dalam memberikan arahan untuk memperkaya materi bahan ajar selalu dilakukan kepala

madrasah kepada dewan guru, dengan tujuan agar guru dapat melakukan pendalaman bahan ajar kepada peserta didik.

Peran dalam strategi penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh kepala madrasah yakni dengan mengawal cara membuat soal ujian yang dibuat guru, dalam hal ini perannya sebagai aktor yang menetapkan kriteria soal yang harus diberikan kepada siswa, berdasarkan SK dan KD. Kepala madrasah memberi penjelasan kepada dewan guru untuk menyusun langkah awal pembuatan soal dengan membuat kisi-kisi soal ujian, untuk ujian tengah semester, sedangkan untuk ujian akhir semester, soal dibuat oleh tim tingkat kantor Wilayah Provinsi Jawa Barat. Teknisnya adalah setiap Wilayah Kota/Kabupaten mengirimkan 1 (satu) orang perwakilan guru untuk menjadi tim pembuat soal dan berkumpul suatu tempat di Bandung untuk merumuskan soal ujian tersebut. Kepala madrasah memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan kreativitas masing-masing, terutama membuat kisi-kisi soal dan perumusan butir-butir soal setiap mata pelajaran.

Peran sebagai pelopor dan mengarahkan guru dalam memberikan penilaian yang adil terhadap hasil belajar, sehingga murid tidak dirugikan, dilakukan kepala madrasah dengan memberi arahan kepada guru untuk memberi penilaian yang obyektif sesuai dengan kemampuan siswa. Disamping itu, kepala madrasah juga memberi arahan agar penilaian terhadap hasil belajar siswa dapat dilakukan secara menyeluruh dengan berpatokan kepada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebagai cermin dari ketercapaian kompetensi peserta didik. Kepala madrasah

memberi arahan kepada guru untuk lebih dahulu membuat format penilaian hasil belajar, sebelum soal dibuat.

Dokumen terkait