• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dikutip dari Abdul Majid (2012: 116-117), bahwa standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana diatur di dalam Permendiknas Nomor 41/2007, proses pembelajaran meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Berdasarkan Permendikbud Nomor 65/2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan, bahwa Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Proses dikembangkan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan PemerintahNomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu, setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan. Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi, maka prinsip pembelajaran yang digunakan:

1. Dari peserta didik diberi tahu menuju pesertadidik mencari tahu;

2. Dari guru sebagai satu - satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;

3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;

4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;

5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;

6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju dua pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;

7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;

8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);

9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;

10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ingmadyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);

11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; 12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa

saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas;

13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan

14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.

Selanjutnya, terkait dengan prinsip di atas, dikembangkan standar proses yang mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran. E. Mulyasa (2008: 25) menjelaskan bahwa standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Secara garis besar standar proses pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai berikut:

1. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi

prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perekembangan peserta didik.

2. Dalam proses pembelajaran, pendidik memberikan keteladanan.

3. Setiap tahun pendidik melakukan perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengawasan pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

4. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode, sumber belajar dan penilaian hasil belajar.

5. Pelaksanaan proses pembelajaran harus memerhatikan jumlah maksimal peserta didik per kelas dan beban mengajar maksimal per pendidik, rasio maksimal buku teks pembelajaran setiap peserta didik dan rasio maksimal jumlah peserta didik perpendidik.

6. Pelaksnaan proses pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan budaya baca dan menulis.

7. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan berbagai teknik penilaian, dapat berupa tes tertulis, observasi, tes praktik, dan penugasan perorangan atau kelompok, sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.

8. Untuk mata pelajaran selain kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester. 9. Pengawasan proses pembelajaran meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi,

Prinsip belajar dan pembelajaran yang diimplementasikan pada setiap penyelenggaraan kurikulum telah mengacu pada teori belajar dan pembelajaran. Dari berbagai pendapat para ahli dapat diketahui, bahwa dalam membahas konsep belajar dan pembelajaran diidentifikasi melalui prinsip belajar dan pembelajaran meliputi hal-hal sebagai berikut: (a) prinsip kesiapan (readiness), (b) prinsip motivasi (motivation), (c) prinsip perhatian (attention), (d) prinsip persepsi

(perception), (e) prinsip retensi (retention) dan (f) prinsip transfer (transfer).

(Muhaimin,2002:137).

Prinsip-prinsip tersebut penting dipahami dan dilaksanakan dalam pembelajaran agar setiap guru mampu menggali potensi anak. Dengan demikian, yang disebut dengan belajar itu merupakan kegiatan menumbuhkan keyakinan pada peserta didik untuk dapat secara bertahap dan berkelanjutan melejitkan potensinya.

Menurut Sardiman (2003: 14), proses belajar mengajar senantiasa merupakan proses kegiatan interaksi antar dua unsur manusia yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar. Interaksi antara keduanya, dapat bersifat teknis, namun di dalamnya tetap memerlukan dimensi normative, sehingga dapat disebut sebagai interaksi edukatif. Interaksi edukatif bersifat spesifik, karena merupakan kegiatan komunikasi yang memiliki ciri khusus, bila dibandingkan dengan interaksi lainnya. Edi Suardi (1980) yang dikutip oleh Sardiman mengemukakan ciri-ciri interaksi belajar mengajar, sebagai berikut:

1. Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud interaksi belajar mengajar sadar tujuan dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian. Siswa mempunyai tujuan, sedang unsur lainnya sebagai pengantar dan pendukung.

2. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana, didisain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur atau langkah-langkah sistematik dan relevan. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang satu dengan yang lain, mungkin akan membtutuhkan prosedur dan disain yang berbeda pula.

3. Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini, materi harus didisain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Sudah barang tentu, dalam hal ini perlu memperhatikan komponen-komponen yang lain. Apalagi komponen peserta didik yang merupakan komponen sentral. Materi harus sudah disusun dan didisain sebelum berlangsungnya interaksi belajar mengajar.

4. Ditandai dengan adanya aktivitas Siswa. Siswa yang merupakan sentral merupakan syarat bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar. Jadi, tidak ada gunanya guru melakukan interaksi belajar mengajar, jika siswanya hanya pasif saja. Karena siswa yang belajar, maka merekalah yang harus melakukannya.

5. Dalam interaksi belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam kaitan peran ini, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses belajar mengajar, karena guru merupakan tokoh yang akan dilihat dan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik. Guru akan jauh lebih baik bersama siswa, bertindak sebagai

designer yang memimpin terjadinya interaksi belajar mengajar.

6. Di dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin. Disiplin dalam berinteraksi belajar mengajar itu diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh semua pihak dengan sadar. Mekanisme konkrit dari ketaatan terhadap ketentuan atau tata tertib, akan terlihat dari pelaksanaan prosedur. Langkah-langkah yang dilaksanakan harus sesuai dengan prosedur yang sudah digariskan. Penyimpangan terhadap prosedur, berarti suatu indikasi pelanggaran disiplin.

7. Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam suatu sistem kelompok siswa, batas waktu merupakan salah satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberikan waktu tertentu, kapan tujuan itu harus sudah tercapai.

Begitu pula pada implementasi kurikulum 2013, standar proses pembelajaran harus dilaksanakan melalui 3 tahapan yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

1. Kegiatan Pendahuluan dalam Proses Pembelajaran

Kegiatan pendahuluan dalam proses pembelajaran meliputi;

a. Kegiatan yang mula-mula harus dilakukan oleh guru pada kegiatan pendahuluan di dalam sebuah proses pembelajaran adalah mempersiapkan siswa, baik psikis maupun fisik agar dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

b. Selanjutnya guru harus mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan terkait materi pembelajaran, baik materi yang telah siswa pelajari maupun materi-materi yang akan mereka pelajari dalam proses pembelajaran tersebut.

c. Setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan, guru kemudian mengajak siswa untuk mencermati suatu permasalahan atau tugas yang akan dikerjakan, sehingga mereka dapat belajar tentang suatu materi, kemudian langsung dilanjutkan dengan menguraikan tentang tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai pada pembelajaran tersebut.

d. Terakhir, dalam kegiatan pendahuluan, guru harus memberikan outline cakupan materi serta penjelasan mengenai kegiatan belajar yang akan dilakukan oleh siswa untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas yang diberikan.

Guru dalam mengoptimalkan proses pembelajaran ada 7 peran, yaitu guru sebagai sumber belajar, guru sebagai fasilitator, guru sebagai pengelola, guru sebagai demonstator, guru sebagai pembimbing, guru sebagai motivator dan guru

sebagai evaluator. (Wina Sanjaya, 2011: 19-31). Proses pembelajaran akan melibatkan banyak hal dalam komponen pembelajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung. Begitu pula peran guru dalam hubungannya dengan proses pembelajaran, juga perlu diupayakan agar pembelajaran menemukan formasi yang tepat dan berhasil secara efisien dan efektif.

Peran guru sebagai sumber belajar dititikberatkan pada posisi guru sebagai pusat kegiatan belajar siswa. Dalam kaitan ini, dapat dikatakan bahwa guru yang baik adalah guru yang dapat menguasai materi pembelajaran dengan baik, di samping piawai dalam menyampaikan materi tersebut kepada peserta didiknya, sehingga siswa dapat memiliki kepuasan belajar yang diharapkan. Peran guru sebagai fasilitator ditandai dengan layanan kepada siswa dalam proses pembelajaran, dengan tujuan agar setiap siswa memiliki kemudahan dalam daya serap mereka sesuai dengan keragaman tingkat kecerdasan masing-masing. Peran guru sebagai pengelola adalah peran manajerial (pengelola) kegiatan belajar siswa dengan menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman.

Peran lainnya dari guru dalam proses pembelajaran adalah peran sebagai demonstrator. Guru harus mampu mempertunjukkan kepada siswa segala hal yang menjadikannya lebih mengerti dan lebih memahami setiap pokok bahasan yang diajarkan olehnya. Guru dalam hal ini lebih diarahkan untuk bertindak sebagai model dalam memeragakan berbagai kebutuhan belajar siswa. Peran guru sebagai pembimbing adalah agar setiap siswa dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya, membimbing agar siswa dapat mencapai dan melaksanakan

tugas-tugas untuk perkembangan dirinya sebagai peserta didik, sehingga mampu memenuhi tujuan-tujuan pembelajaran. Peram guru sebagai motivator adalah peran mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu menunjukkan prestasi maksimal dalam belajar. Prestasi siswa sangat dipengaruhi oleh aspek internal dan eksternal. Oleh karena itu, secara eksternal diperlukan peran pendorong dan pengarah dari luar yang mampu mendongkrak prestasi belajar siswa. Bisa jadi siswa yang kurang berprestasi, bukan karena kapasitas intelektual yang dimilikinya, melainkan karena kurangnya perhatian dan dorongan dari luar dirinya untuk menunjukkan prestasi yang lebih baik. Selanjutnya, peran guru yang terakhir adalah peran guru sebagai evaluator.Peran ini minimal meliputi dua kepentingan. Pertama, guru harus mengetahui kedudukan dan peringkat daya serap siswa di dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga bila terjadi ketertinggalan dalam daya serap, maka guru perlu melakukan perbaikan (remedial). Kedua, berkaitan dengan kemampuan proses pembelajaran dari guru itu sendiri. Kemampuan siswa yang baik, dan kompetensi siswa yang meningkat, sangat ditentukan oleh keterampilan atau kompetensi mengajar guru. Oleh karena itu, dalam kondisi ini, gutu juga perlu melakukan penyegaran.

2. Kegiatan Inti pada Proses Pembelajaran

Peran guru dalam proses pembelajaran sangat urgen seperti dikutip Zainal Asri (2015: 9) dalam Uzer Usman, menyebutkan bahwa peran dan tugas guru adalah mengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipasi, ekspeditor, perencana, supervisor, motivator dan konselor. Dengan demikian, secara holistik peran dan tugas guru adalah memberikan layanan belajar kepada

peserta didik. Artinya, tugas guru itu mengajar dan tugas siswa itu belajar dalam rangka memenuhi kebutuhan pengembangan psikofisik. Selanjutnya, seiring dengan perkembangan teori belajar, maka proses pembelajaran didorong untuk mengarahkan peserta didik untuk dapat menumbuhkan aktivitas dan kreativitas dalam upaya menggali pengalaman belajar yang baik dan berkualitas. Dalam kurikulum 2013, ada penetapan yang berkaitan dengan kegiatan inti dalam proses pembelajaran. Kegiatan inti ini mencakup proses-proses berikut: (a). melakukan observasi, (b). bertanya, (c). mengumpulkan informasi, (d). mengasosiasikan informasi-informasi yang telah diperoleh, dan (e). mengkomunikasikan hasilnya. Pada setiap kegiatan pembelajaran, seharusnya guru memperhatikan kompetensi yang terkait dengan sikap seperti jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, menghargai pendapat orang lain sebagaimana yang telah dicantumkan pada silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Cara-cara yang dilakukan berkaitan dengan proses pengumpulan data (informasi) diusahakan sedemikian rupa, sehingga relevan dengan jenis data yang sedang dieksplorasi, misalnya di laboratorium, studio, lapangan, perpustakaan, museum dan lain-lain. Sebelum menggunakan informasi atau data yang telah dikumpulkan dan diperoleh, siswa mesti tahu dan kemudian berlatih, lalu dilanjutkan dengan menerapkannya pada berbagai situasi. Berikut ini merupakan contoh penerapan dari kelima tahap kegiatan inti pada proses pembelajaran.

a. Melakukan observasi (melakukan pengamatan)

Guru memfasilitasi siswa untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.

b. Bertanya

Pada saat siswa berada pada kegiatan melakukan pengamatan, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk mempertanyakan mengenai apapun yang telah mereka lihat, mereka simak atau mereka baca. Penting bagi guru untuk memberikan bimbingan kepada siswa, agar bisa mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang dimaksud di sini, berkaitan dengan pertanyaan dari hasil pengamatan objek yang konkrit sampai pada yang abstrak, baik berupa fakta, konsep dan prosedur, maupun hal lain yang lebih abstrak.

Dari kegiatan bertanya ini akan dihasilkan sejumlah pertanyaan. Kegiatan bertanya dimaksudkan agar siswa dapat mengembangkan rasa ingin tahunya. Pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka ajukan akan dijadikan dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber-sumber belajar yang telah ditentukan oleh guru hingga mencari informasi ke sumber-sumber yang ditentukan oleh siswa sendiri, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.

c. Mengumpulkan dan Mengasosiasikan Informasi

Dalam hal ini, siswa boleh membaca buku yang lebih banyak, mengamati fenomena atau objek dengan lebih teliti atau bisa juga melaksanakan eksperimen. Berdasarkan kegiatan-kegiatan ini, akhirnya dapat dikumpulkan banyak informasi.

Informasi yang banyak ini, selanjutnya dijadikan fondasi untuk kegiatan berikutnya yakni memproses informasi, sehingga akhirnya siswa dapat menemukan keterkaitan antara satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.

d. Mengkomunikasikan hasil

Kegiatan terakhir dalam kegiatan inti adalah membuat tulisan atau bercerita tentang apa-apa saja yang telah mereka temukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar siswa atau kelompok siswa tersebut.

3. Kegiatan Penutup pada Proses Pembelajaran

Pada kegiatan penutup, guru bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran, melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedial, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas, baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Dokumen terkait