• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

C. Pembahasan Temuan Penelitian

Dalam temuan penelitian telah diungkapkan paparan tentang pelaksanaan standar proses pada setiap madrasah aliyah yang dijadikan sasaran penelitian ini. Berdasarkan paparan tersebut, terungkap beberapa temuan penilitiaan yang dapat dijadikan sebagai analisis lebih lanjut, sehingga pelaksanaan standar proses K-13 dapat berjalan sesuai ketentuan yang telah digariskan pencetus dan pengembangan K-13. Beberapa temuan tersebut akan dibahas secara sistimatis berdasarkan kajian standar proses yaitu perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengawasan.

1. Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan pengajaran telah berhasil menempatkan posisi pada peran positifnya di setiap madrasah. Kondisi ini tentu merupakan upaya yang sangat baik dari masing-masing madrasah agar mampu menunjukkan kinerja awal dalam proses pembelajaran yaitu perumusan dan pembuatan RPP. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat oleh guru melalui proses bimbingan oleh kepala madrasah dan pengawas madrasah. Berdasarkan hasil pengamatan, ranah perencanaan ini telah berjalan sesuai regulasi yang sebenarnya yaitu guru berdasarkan arahan dan petunjuk kepala madrasah telah berusaha membuat dan merumuskan RPP dengan berbagai upaya, baik secara mandiri maupun group atau kelompok. Setiap guru telah mengupayakan agar perencanaan pembelajaran benar-benar telah siap, sebelum pembelajaran dimulai. Secara personal mereka telah mampu membuatnya, karena telah dilakukan pelatihan, baik oleh Kanwil Kemenag Provinsi maupun Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi. Secara group/kelompok, mereka berkumpul melalui lembaga MGMP PAI (Musyawarah

Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam) untuk merumuskan pembuatan RPP yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterampilan rata-rata guru madrasah dalam pembuatan RPP sudah sangat memadai, meskipun terdapat persoalan pada kualitas RPP yang telah dibuatnya. Penilaian terhadap RPP ini erat kaitannya dengan strategi dan metode mengajar. Oleh karena itu, jika terdapat kekurangan dalam pembuatan RPP, maka kepala sekolah memberikan arahan kepada para guru, agar membuat RPP dengan standar yang telah ditetapkan. Artinya, RPP tidak hanya sekadar dibuat, tetapi perlu ditingkatkan kualitasnya. RPP harus dibuat berdasarkan Permendikbud Nomor 53 tahun 2015, bahwa setiap sekolah/madrasah dalam membuat RPP berpedoman pada keputusan tersebut. Keputusan tersebut sudah final. Oleh karena itu, dalam penyusunan RPP, setiap guru wajib mencantumkan strategi pembelajaran yang Interdispliner, Intradisipliner, Multidisipliner dan Transdisipliner. Hasil revisi K-13 ini, akan segera diberlakukan secara nasional, setelah sempat dihentikan sementara.

Pada hakekatnya penyusunan RPP bertujuan merancang pengalaman belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tidak ada alur pikir (algoritma) yang spesifik untuk menyusun suatu RPP, karena rancangan tersebut seharusnya kaya akan inovasi sesuai dengan spesifikasi materi ajar dan lingkungan belajar siswa (sumber daya alam dan budaya lokal, kebutuhan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi). Pengalaman dari penilaian portofolio sertifikasi guru ditemukan, bahwa pada umumnya RPP guru cenderung bersifat rutinitas dan

kering akan inovasi. Secara umum, ciri-ciri Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang baik adalah sebagai berikut:

a. Memuat aktivitas proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan oleh guru, sehingga bisa menjadi pengalaman belajar siswa.

b. Langkah-langkah pembelajaran disusun secara sistematis agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

c. Langkah-langkah pembelajaran disusun serinci mungkin, sehingga apabila RPP digunakan oleh guru lain (misalnya, ketiga guru mata pelajaran tidak hadir), mudah dipahami dan tidak menimbulkan penafsiran ganda. (https://mukhliscaniago.wordpress.com/2011/01/07/penyusunan-rpp-yang-baik-dan-benar)

2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran, secara operasional melibatkan banyak komponen, antara lain kesiapan dan ketersediaan RPP, pengembangan materi bahan ajar, pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran, evaluasi dan pengawasan pembelajaran. Dalam kaitan dengan pelaksanaan pembelajaran tersebut, secara spesifik akan dibahas tentang pengembangan materi bahan ajar dan pemilihan serta penggunaan metode pembelajaran. Hampir semua informan mengakui Madrasah Aliyah di Kota Bekasi belum sepenuhnya mengikuti standar proses jenjang pendidikan dasar dan menengah yang ditetapkan oleh Permendikbud Nomor 22/2016, padahal sebelumnya, Kementerian telah mengeluarkan edaran petunjuk pelaksanaan proses pembelajaran K-13 secara lengkap. Namun, realitanya guru-guru madrasah belum sepenuhnya membaca dan

memahami panduan tersebut, sehingga ketika proses pembelajaran berlangsung, mereka rata-rata tetap menggunakan pendekatan dan tata cara yang lama. Dalam PP Nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, dinyatakan bahwa guru harus mengembangkan materi pembelajaran sendiri, yang kemudian dipertegas dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Oleh karena itu, guru diharapkan mengembangkan bahan pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar.

Dalam Permendiknas nomor 41 tahun 2007 dinyatakan bahwa materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, prosedur yang relevan dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar atau materi ajar merupakan bagian dari sumber belajar yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan dan sikap atau perangkat lunak yang mengandung pesan pembelajaran dan disajikan dengan menggunakan peralatan tertentu.

Bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Menurut pengertian sumber belajar dari AECT dan Banks dalam Komalasari (2010:108), bahwa salah satu komponen sumber belajar adalah bahan. Bahan merupakan perangkat lunak

(software) yang mengandung pesan-pesan belajar, yang biasa disajikan dengan

menggunakan peralatan tertentu, misalnya buku teks, modul, film, transparansi (OHT), program kaset audio dan program video.

Adapun dalam pemilihan metodologi pembelajaran diketahui bahwa dalam K-13 metode yang sangat dianjurkan adalah metode belajar yang berbasis saintifik, karena metode ini menggugah siswa berpola fikir kritis, kreatif, penemuan dan ekaplorasif. Jadi, metode yang dianjurkan dalam K-13 adalah metode yang mampu mengangkat motivasi belajar siswa untuk mengembangkan nalar dan sering disebut dengan pembelajaran proses pembelajaran kebermaknaan (meaningfull learning). Metode pembelajaran kebermaknaan ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang serta mudah pelaksanaannya, sebagaimana dapat dilihat pada bagan dan uraian berikut ini:

Gambar 3 Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran

a. Mengamati (Observing)

Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, karena peserta didik yang terlibat dalam proses mengamati akan

dapat menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.

b. Menanya (Questioning)

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong anak asuhnya untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, tetapi juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri norma hukum? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri norma hukum!

c. Menalar (Associating)

Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penalaran non ilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara : 1). Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sesuai

dengan tuntutan kurikulum.

2). Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh, baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.

3). Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis, dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi).

4). Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.

5). Setiap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki.

6). Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman.

7). Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.

8). Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.

d. Mencoba (Eksperimen/Experimenting)

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, misalnya, peserta didik harus memahami konsep-konsep Pendidikan Agama Islam dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.

Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah:

1). Menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum;

2). Mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan;

3). Mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya;

4). Melakukan dan mengamati percobaan;

5). Mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data; 6). Menarik simpulan atas hasil percobaan.

7). Membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka :

1). Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yang akan dilaksanakan murid.

2). Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan. 3). Perlu memperhitungkan tempat dan waktu.

4). Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid.

5). Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen. 6). Membagi kertas kerja kepada murid.

7). Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan

8). Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.

e. Membentuk Jejaring Pembelajaran/Pembelajaran Kolaboratif (Networking)

Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. Guru harus mengetahui definisi & contoh model pembelajaran kolaboratif Kurikulum 2013, serta langkah-langkah penerapan model pembelajaran Card Sort, Tim Siswa Kelompok Prestasi, Jigsaw, Group

Investigation, CIRC, dan Inkuiri Dasar sangat dianjurkan dalam proses

pembelajaran dalam K-13.

(http://www.salamedukasi.com/2014/06/langkah-langkah-pembelajaran-scientific.html)

3. Penilaian (Evaluasi)

K-13 memiliki kekuatan dan kelengkapan dalam sistem evaluasi yang digunakan. Di antara evaluasi yang diberlakukan di dalam K-13 banyak perbedaan dengan KTSP dan KBK. Penggunaan penilaian hasil belajar (tes) dan juga penilaian non tes (angket/kuesioner) untuk siswa telah disiapkan formatnya. Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil

belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Penilaian dapat dilakukan selama pembelajaran berlangsung (penilaian proses) dan setelah pembelajaran usai dilaksanakan (penilaian hasil/produk). Ruang lingkup penilaian K-13 meliputi domain sikap yang di dalamnya dapat dilakukan dengan strategi observasi, penilaian diri, penilaian antar peserta didik dan Jurnal. Pengetahuan dilakukan dengan cara Tes Tulis, Tes Lisan, dan Penugasan. Keterampilan dilakukan dengan cara Tes Praktek, Projek dan Portofolio. Selanjutnya teknik penilaian hasil pembelajaran dalam K-13 dapat dirangkum sebagai berikut:

Tabel 13 : Sistem Penilaian dalam Implementasi Kurikulum 2013

NO. JENIS PENILAIAN PELAKU WAKTU

1 Penilaian otentik Guru Berkelanjutan

2 Penilaian diri Siswa

Tiap kali sebelum ulangan harian.

3 Penilaian projek Guru

tiap akhir bab atau tema pelajaran

4

Ulangan harian (dapat

berbentuk penugasan)

Guru

terintegrasi dengan proses pembelajaran

5

Ulangan Tengah dan Akhir Semester

Guru (di bawah koordinasi satuan pendidikan)

Semesteran

6 Ujian Tingkat Kompetensi

Sekolah

(kisi-kisi dari

Pemerintah)

Tiap tingkat

kompetensi yang tidak bersamaan dengan UN

7

Ujian Mutu Tingkat

Kompetensi

Pemerintah

Tiap akhir tingkat

kompetensi (yang

bukan akhir jenjang sekolah)

8 Ujian Sekolah

Sekolah (sesuai dengan

peraturan)

Akhir jenjang sekolah

9

Ujian Nasional sebagai Ujian Tingkat Kompetensi pada

akhir jenjang satuan

pendidikan.

Pemerintah (sesuai dengan peraturan)

Akhir jenjang sekolah

(http://www.salamedukasi.com/2014/06/sistem-penilaian-kurikulum-2013-prinsip.html)

4. Pengawasan (Supervisi)

Kegiatan pengawasan yang dilaksanakan pada empat madrasah wilayah penelitian telah menunjukkan kinerja yang baik, setiap madrasah telah menunjukkan karakter pengawasan yang terprogram dan terarah. Persoalan yang dihadapi bukan pelaksanaan suprvisinya, melainkan soal materi dan teknik supervisi yang masih sering dikeluhkan, baik oleh kepala madrasah maupun dewan guru. Secara fungsional tugas pengawasan dilakukan sepenuhnya oleh para pengawas madrasah, namun kepala madrasah sebagai bagian dari Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) yang diembannya, juga memiliki kewajiban teknis untuk melakukan fungsi pengawasan secara langung di madrasah. Secara structural tugas pengawasan ada di bawah kendali tugas para pengawas madrasah, tetapi secara nyata kualifikasi pengawas madrasah tidak merata. Dengan berbagai latar belakang keterampilan dan kompetensi yang dimiliki, maka sering terjadi

pengawas tidak mampu memberikan solusi yang terjadi dalam proses pengelolaan pembelajaran. Akibatnya, pengawas jarang yang mampu memberikan bimbingan konten dan metodologi yang bersifat teknis kepada dewan guru yang sering menghadapi permasalahan di lapangan. Untuk itu, maka pengawasan dalam konteks K-13 meliputi ketepatan dan keajegan Surat Keputusan-Kompetensi Dasar, Keakuratan Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, dan Indikator hasil Belajar. Menurut Burton dan Bruckner (1955 : 1), supervisi adalah suatu teknik yang tujuan utamanya adalah mempelajari dan memberbaiki bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak. Lebih lanjut Kimball Wiles (1967) menyatakan bahwa konsep supervisi modern dirumuskan sebagai “Supervision is assistance in the development of a better

teaching learning situation”. Kimball Wiles beranggapan bahwa faktor manusia

yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih baik. Lebih luas lagi pandangan Kimball Wiles yang menjelaskan bahwa supervisi adalah bantuan yang diberikan untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, agar lebih baik. Situasi belajar mengajar di sekolah akan lebih baik tergantung terhadap supervisor sebagai pemimpin. Seorang supervisor yang baik harus memiliki lima kemampuan dasar yaitu :

a. Keterampilan dalam hubungan-hubungan kemanusiaan b. Keterampilan dalam proses kelompok

c. Keterampilan dalam kepemimpinan pendidikan d. Keterampilan dan mengatur personalia sekolah e. Keterampilan dalam evaluasi (Wiles, 1955).

Menurut Willes dan Bondi ada delapan kompetensi yang harus dimiliki oleh supervisor, sebagai berikut :

a. Supervisi adalah pengebang manusia. b. Supervisi adalah pengebang kurikulum. c. Supervisi adalah Spealis pengajaran.

d. Supervisi adalah Pekerja hubungan manusia. e. Supervisi adalah pengebang Staf.

f. Supervisi adalah Administrator.

g. Supervisi adalah Pemimpin perubahan staf. h. Supervisi adalah penilai.

Pelaksana supervisi yang kompeten adalah mereka yang mampu melaksanakan tugasnya dengan efektif. Di antara kemampuan supervisor yang mutlak dikuasai adalah sebagai berikut :

a. Supervisor harus orang yang beragama, karena agama membuat supervisor selalu ingat bahwa diatasnya masih ada yang berkuasa. Dengan demikian, supervisor akan selalu mawas diri.

b. Supervisor harus berperikemanusiaan, ia tidak kejam dan harus bisa merasakan perasaan orang lain serta bertindak manusiawi.

c. Supervisor harus berperasaan sosial, ia harus membantu orang, harus menyampaikan ilmunya kepada orang lain, tidak boleh berpendirian “saya tidak akan memberitahu seluruhnya, yang ini saya simpan untuk sendiri “,

d. Supervisor harus bertindak demokratis, artinya harus terbuka, memberikan kesempatan kepada orang lain mengemukakan pendapatnya. Supervisor harus mendengarkan pendapat orang lain. Supervisor harus sadar bukan hanya dia yang berhak mempunyai pendapat, tetapi orang lain juga. Supervisor harus menerima kenyataan bahwa ada kalanya pendapatnya tidak diikuti, tetapi sebagai supervisor ia tidak dapat melepas tanggung jawabnya.

e. Supervisor harus memiliki kepribadian yang simpatik, artinya orang senang bertemu dan berbicara dengannya. Pada air mukanya dan gerak-geriknya dapat dilihat dan dirasakan bahwa ia senang didatangi.

f. Supervisor harus terampil dalam komunikasi, artinya teknik berkomunikasi harus dikuasainya, karena komunikasi merupakan titik tolak bagi pelaksanaan supervisi. Tidak ada komunikasi, berarti tidak ada kemungkinan berinteraksi, tidak ada kemungkinan berinteraksi, berarti tidak ada bawahan yang menerima secara sukarela pendapat supervisor.

g. Supervisor harus bersikap ilmiah. Ini berarti tindakan dan keputusan haruslah berdasarkan bukti, tidak hanya emosi dan dugaan. Penerima supervisi harus dapat mengerti mengapa supervisor mempunyai pendapat yang berbeda, mengapa penilaian supervisor terhadap dirinya tidak seperti yang diharapkan.

h. Supervisor harus menguasai teknik supervisi. Ada teknik individual dan kelompok, lisan dan tulisan, langsung dan tidak langsung. Teknik yang satu

cocok dengan teknik yang situasinya tertentu, tetapi belum tentu cocok dengan situasi lain. Kadang-kadang situasi membutuhkan beberapa teknik. i. Supervisor harus bekerja berdasarkan tujuan, ia tidak dapat mengadakan

supervisi yang efektif tanpa lebih dahulu mengetahuai tujuan yang akan dicapai, baik tujuan supervisi dengan kegiatannya maupun tujuan supervisi yang akan dilaksanakan. Dengan mengetahui tujuan yang kan dicapai, supervisor dapat memilih teknik yang sesuai.

j. Supervisor harus dapat membuat alat evaluasi dan dalam rangka supervisinya, ia menggunakan alat evaluasi itu, serta

k. Supervisor harus patuh pada etika jabatannya (Baharudin Harahap,1983) Dengan demikian, supervisi merupakan kegiatan yang sangat memerlukan keahlian dan kompetensi, agar hasil kerjanya dapat bermanfaat dalam memperbaiki kinerja dan kualitas pendidikan. K-13 adalah inovasi kurikulum yang memberikan perubahan pada berbagai sisi indikator pendidikan. Oleh karena itu, profesionalitas supervisor seperti halnya profesionalitas guru harus saling bertautan, mendukung dan saling menguatkan satu sama lain.

A. Kesimpulan

Tupoksi Kepala Madrasah yang mengambil peran sebagai EMASLIM dalam berbagai dimensi guna membangun karakter penyelenggaraan manajemen madrasah dalam koridor Standar Nasional Pendidikan, yang terdiri dari 8 (delapan) standar telah diupayakan sedemikian rupa dan tetap berjalan baik dengan tetap berpatokan pada ciri khas madrasah sebagai institusi pendidikan berbasis keagamaan Islam.

Kesulitan dalam penyelenggaraan standar proses adalah pada dimensi kemampuan guru dan terbatasnya sarana prasarana belajar untuk mewujudkan strategi pembelajaran yang sepenuhnya dapat berjalan sesuai ketentuan standar proses K-13. Guru kurang mampu memahami guide line K-13, ditambah dengan kondisi sarpras yang kurang menunjang, sehingga K-13 di Madrasah Aliyah mengalami hambatan dalam pelaksanaannya.

Madrasah Aliyah Negeri yang diteliti berjumlah 2 unit (Madrasah Aliyah Negeri 1 dan Madrasah Aliyah Neegeri 2), sedangkan Madrasah Aliyah Swasta ada 2 unit (Madrasah Aliyah Swasta al-Muawwanah dan MAS Sullamul Istiqomah). Dari keempatnya menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan standar proses, tidak menjadi jaminan bahwa Madrasah Aliyah Negeri lebih baik dari Madrasah Aliyah Swasta. Secara keseluruhan diketahui bahwa peringkat pencapaian standar proses dari 4 (empat) Madrasah Aliyah adalah Peringkat I,

Madrasah Aliyah Negeri 1 Bekasi; Peringkat II, Madrasah Aliyah Sullamul Istiqomah; Peringkat III, Madrasah Aliyah al-Muawanah dan Peringkat IV, Madrasah Aliyah Negeri 2 Bekasi.

B. Rekomendasi

1. Kepala Madrasah dapat memaksimalkan kemampuan guru untuk memahami standar proses K-13 dengan cara melakukan pelatihan dan pembimbingan melalui peran serta pengawas madrasah. Di samping itu, secara konsisten kepala madrasah juga perlu mengadakan kegiatan mandiri berupa kajian intensif dengan peserta para guru, agar secara bertahap memiliki pengetahuan dan kemampuan praktik dalam penyelenggaraan pembelajaran K-13. Buku panduan pelaksanaan pembelajaran yang telah dimiliki guru dapat dibedah untuk selanjutnya secara mendalam, dapat memudahkan guru menerapkan pembelajaran di kelas mereka masing-masing.

2. Kurangnya sarana dan prasarana pembelajaran tentu berpengaruh besar terhadap penyelenggaraan K-13. Oleh karena itu, pengadaan secara bertahap, baik dengan menggunakan sumberdaya internal (ortu dan masyarakat), maupun dengan mengajukan permohonan kepada pemerintah, harus terus diusahakan. Khusus untuk pengadaan jaringan internet sebagai sumber belajar, dapat diupayakan dan diprioritaskan, bisa dilakukan dengan bantuan pemerintah dan memanfaatkan peran serta swasta melalui program CSR, sehingga ketersediaan sarpras dapat terpenuhi dan memadai. Belajar dengan menggunakan jaringan internet (multimedia) saat ini sedang

ngetrend di lingkungan lembaga pendidikan, guna menunjang program K-13 dan penggunaan metode belajar scientific.

3. Pemerintah diharapkan segera melakukan penyediaan terhadap buku panduan sistem administrasi K-13. Ketersediaan buku panduan sistem administrasi pembelajaran yang meliputi administrasi penilaian, administrasi siswa, administrasi jadwal mengajar dan lain-lain, sangat ditunggu oleh madrasah. Untuk sistem administrasi penilaian, setiap guru wajib memahami kegunaannya dan cara menggunakannya. Jadi, semua instrumen evaluasi secara maksimal harus dapat dipahami dan dijalankan oleh guru.

4. Pemerintah telah melakukan revisi terhadap K-13 pada tahun 2015, dan sudah dinyatakan selesai. Tetapi yang paling penting bagi sekolah adalah kepastian penggunaan kurikulum, sebagai ruhnya pendidikan. Sekarang ini, setiap madrasah berkembang penggunaan 4 (empat) pendekatan kurikulum, yaitu K-13, KTSP, Kurikulum Umum dan Kurikulum Agama. Bagi madrasah yang terpenting adalah penyederhanaan penggunaan kurikulum, bukan malah sebaliknya, memberlakukan banyak kurikulum. Bila pemerintah telah menetapkan penggunaan K-13 yang telah direvisi, maka madrasah hanya akan menggunakan satu kurikulum yang berlaku yaitu K-13 revisi.

D.Kast Fremon, James E, Rosenzweig, Organisasi dan Manajemen, Jakarta: Rajawali Press, 2010.

Ahmad, Syarwani. Faktor penentu keberhasilan kepala sekolah. Jurnal HEPI (Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia), 2013.

Asril, Zainal. Microteaching, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2015.

Budi, Prasetyo Saksono, Dalam menuju SDM Berdaya, Jakarta: Bumi

Dokumen terkait