• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORAN G ORAN G KUKLU

Dalam dokumen WINETOUW kepala suku Apache (Halaman 177-200)

Sampai sekarang kata ‘Kuklux’ masih menjadi teka-teki walaupun banyak yang sudah merumuskan definisi atau mencoba mengartikannya dari berbagai sudut. Menurut pendapat segelintir orang, nama Kukluxklan, atau yang juga ditulis Ku-Klux- Klan, hanya merupakan tiruan bunyi yang dihasilkan oleh pelatuk senapan. Sementara

itu, sebagian orang lagi mengatakan bahwa kata itu terbentuk dari susunan kata cuc

yang berarti peringatan, gluck bunyi yang timbul ketika orang meneguk air dan clan,

satu kata dari bahasa Skotlandia yang berarti suku, keluarga, atau perkumpulan. Kata tersebut bisa diartikan apa saja, tergantung orang yang memakainya, dan tidak ada definisi yang pasti. Bahkan anggota Ku-Klux-Klan sendiri pun tidak tahu tentang asal dan arti kata tersebut. Tapi bagi mereka, hal itu tidak penting. Barangkali dulu kata itu diucapkan tanpa sengaja oleh salah seorang dari mereka kemudian diteruskan oleh anggota yang lain tanpa mempedulikan arti dari bunyi tersebut.

Terlepas dari ketidakjelasan makna ini perkumpulan tersebut mempunyai tujuan yang jelas. Mula-mula kelompok ini berkembang di beberapa puri di daerah Carolina Utara lalu menyebar dengan cepat ke Carolina Selatan, Georgia, Alabama, Mississippi, Kentucky, dan Tennesse. Belakangan anggotanya pun dikirim ke Texas untuk berjuang demi tercapainya cita-cita perkumpulan. Perkumpulan ini sendiri terdiri dari sekelompok orang yang menjadi musuh besar negara-negara Utara. Dengan segala cara, bahkan dengan cara yang paling keji dan kejam, mereka berjuang melawan semua bentuk peraturan yang dikeluarkan setelah berakhirnya perang saudara di negara-negara Selatan. Karena itu bisa dibayangkan, aksi Kuklux menimbulkan kekacauan selama bertahun-tahun di sana: harta benda menjadi tidak aman, juga perkembangan industri dan perdagangan terhambat. Tindakan tegas yang diambil untuk menghentikan perbuatan yang keterlaluan itu pun tidak membuahkan hasil.

Perkumpulan rahasia ini terbentuk akibat munculnya undang-undang rekonstruksi yang terpaksa dikeluarkan pemerintah terhadap negara-negara Selatan yang kalah dalam peperangan. Anggota kelompok ini direkrut dari para pendukung sistem perbudakan dan mereka menjadi musuh Partai Union serta Partai Republik. Semua anggota harus disumpah untuk menyimpan rapat-rapat rahasia perkumpulan. Hukuman mati siap dijatuhkan kepada anggota yang membocorkan rahasia. Mereka tidak segan-segan melakukan tindakan kekerasan, pembakaran, dan pembunuhan. Secara teratur mereka mengadakan pertemuan rahasia. Bila hendak melakukan perbuatan jahat, mereka datang dengan menunggang kuda dan menyamar. Pastor

yang sedang berkhotbah di atas mimbar atau hakim yang sedang duduk di meja pengadilan ditembak. Para kepala keluarga yang tidak bersalah diserang kemudian mayat mereka ditinggalkan di tengah-tengah keluarganya dengan punggung yang tercabik-cabik. Tak ada penjahat dan pembunuh yang lebih menakutkan daripada Ku- Klux-Klan. Kelompok ini makin lama makin meresahkan sehingga gubernur Carolina Selatan mengajukan permohonan kepada Presiden Grant untuk mengirimkan bantuan militer mengingat kelompok ini tak bisa ditaklukkan lagi. Grant mengajukan usul itu dalam rapat kongres. Maka terbentuklah sebuah Undang-Undang Anti Ku-Klux yang memberikan kuasa penuh kepada presiden untuk membubarkan mereka dan undang- undang ini terpaksa menyetujui penggunaan cara-cara kekerasan. Hal ini merupakan bukti bahwa baik secara individu maupun kolektif, seluruh bangsa telah terjerumus ke dalam krisis akibat ulah Kuklux. Lambat laun perhimpunan ini berubah menjadi kawah mengerikan yang memuntahkan berbagai pemikiran revolusioner. Suatu hari, dari atas mimbar seorang pastor mendoakan keselamatan arwah keluarga yang telah dibunuh anggota Kuklux di siang bolong. Dalam khotbah dan nasihat bijaknya, sang pastor mengumpamakan perbuatan anggota Kuklux seperti pertempuran antara anak-anak setan melawan anak-anak Tuhan. Tiba-tiba dari balkon di bagian belakang gereja muncul seseorang yang menyamar dan menembak kepala pastor itu. Sebelum umat sadar dari keterkejutannya, setan itu sudah lebih dulu menghilang.

--- ---

Ketika kapal kami tiba di La Grange, hari sudah malam. Kapten kapal menjelaskan kepada kami, bahwa hari itu dia tidak berani meneruskan pelayaran karena di dalam sungai akan ada saja bahaya yang mengancam. Jadi kami terpaksa mendarat di La Grange. Winnetou turun lebih dahulu melalui tangga kapal lalu segera menghilang di antara rumah-rumah yang diliputi kegelapan malam.

Di La Grange terdapat juga agen kapal yang siap mengurus kepentingan para penumpang. Old Death segera menuju ke tempat itu.

Sir, kapan kapal terakhir dari Matagorda tiba di sini dan apakah semua

penumpangnya sudah turun?”

“Kapal terakhir telah tiba dua hari yang lalu, kira-kira pada jam yang sama seperti hari ini. Semua penumpang turun ke darat karena kapal itu baru berangkat lagi keesokan harinya.”

“Dan Anda berada di sini ketika kapal itu berangkat?” “Tentu, Sir.

“Jika demikian barangkali Anda bisa memberikan informasi kepada saya. Kami mencari dua orang teman yang berlayar dengan kapal tersebut dan tentu turun juga di sini. Kami ingin tahu apakah mereka meneruskan perjalanannya atau tidak.”

“Hmmm, saya tidak bisa menjawabnya. Saat itu hari sudah gelap dan para penumpang tergesa-gesa turun dari kapal sehingga saya tidak bisa memperhatikan mereka satu persatu. Bisa jadi semua penumpang melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya. Tapi seseorang yang bernama Clinton tidak.”

“Clinton? Ya, dialah yang saya maksudkan. Mari, mendekatlah ke lampu! Teman saya akan memperlihatkan sebuah potret kepada Anda untuk memastikan,

apakah orang itu benar Mast er Clinton.”

Dengan penuh keyakinan sang agen mengatakan bahwa memang dialah orang yang dimaksud.

“Tahukah Anda, di mana dia sekarang?” tanya Old Death.

“Saya tidak tahu pasti. Tapi sangat mungkin dia tinggal di rumah Sennor1

Cortesio karena orang yang mengambilkan kopornya adalah anak buah Sennor

Cortesio. Dia adalah seorang agen untuk semua urusan dan dia berasal dari Spanyol. Saya yakin, saat ini dia sedang sibuk mengurus penyelundupan senjata secara rahasia ke Mexico.”

“Apakah dia termasuk orang baik-baik?”

Sir, pada zaman sekarang ini setiap orang mengaku dirinya orang baik-baik,

meskipun dia memikul pelana kuda di bahunya.”

Tentu saja itu merupakan suatu sindiran bagi kami berdua yang berdiri di hadapannya sambil memikul pelana kuda. Namun sindiran itu tidak dimaksudkan untuk mengejek kami. Karena itu Old Death bertanya dengan nada yang tak kalah halusnya,

“Apakah tidak jauh dari sini ada sebuah penginapan, di mana orang bisa tidur nyenyak tanpa diganggu oleh manusia atau nyamuk?”

“Di tempat ini hanya ada sebuah penginapan. Tapi karena Anda sudah sekian lama bercakap-cakap dengan saya di sini, tentu penumpang lain sudah mendahului Anda dan mengisi beberapa kamar yang kosong.”

“Ini sungguh tidak menyenangkan,” jawab Old Death yang pura-pura tidak mempedulikan sindiran itu. “Apa kami tidak boleh menumpang di rumah-rumah penduduk?”

“Hmmm, Sir. Saya tidak mengenal Anda. Dan saya pun tak bisa menerima

Anda di tempat saya karena rumah saya sangat kecil. Tapi saya mempunyai seorang

kenalan yang tidak akan mengusir Anda dari pintu rumahnya jika Anda orang jujur. Dia seorang Jerman, seorang pandai besi yang datang dari Missouri.”

“Nah,” sahut Old Death, “teman saya ini juga orang Jerman dan saya pun lancar berbahasa Jerman. Kami bukan orang jahat. Kami mampu dan mau membayar sewa penginapan. Jadi dalam perhitungan saya, kenalan Anda tak perlu khawatir menerima kami. Maukah Anda menunjukkan rumahnya?”

“Seandainya tak ada pekerjaan lagi di kapal, tentu saya akan mengantar kalian

ke sana. Sekarang Mast er Lange, demikian namanya, tidak berada di rumah. Biasanya

pada saat seperti ini dia berada di kedai minum. Demikianlah kebiasaan orang Jerman

di sini. Jadi tanyakan saja nama Mast er Lange dari Missouri. Katakan kepadanya

bahwa agen kapal yang menyuruh kalian datang menemuinya. Berjalanlah terus dan setelah melalui rumah kedua dari sini, Anda mesti belok kiri. Kemudian Anda akan melihat rumah makan itu karena di sana cahaya lampunya sangat terang. Kedai itu pasti masih buka.”

Saya memberikan tip pada lelaki itu atas informasi yang diberikannya. Kami melanjutkan perjalanan sambil memikul pelana kuda. Kedai ini tak hanya dikenal karena lampu-lampunya tapi juga karena suara gaduh yang terdengar melalui jendela yang terbuka. Di atas pintu terpampang gambar binatang yang menyerupai penyu

raksasa tapi memiliki sayap dan hanya dua kaki. Di bawahnya tertera tulisan “Hawks

I nn”. Penyu itu melambangkan burung pemangsa dan rumah itu adalah penginapan

bagi ‘elang-elang pemangsa’.

Ketika pintu dibuka, asap rokok yang tebal dan berbau tajam langsung menerpa kami. Rupanya tamu-tamu itu memiliki paru-paru yang sangat kuat karena mereka tidak hanya dapat menahan asap yang pengap itu melainkan juga merasa nyaman berada di sana. Di samping itu kekuatan paru-paru mereka juga tampak dari

cara mereka saat berbicara. Tak ada seorang pun yang berkata pelan, setiap orang

harus berteriak. Tak seorang pun yang sabar mendengarkan omongan rekannya. Suasana benar-benar hiruk-pikuk. Kami berdiri selama beberapa saat di ambang pintu dan membiasakan mata melihat ke dalam asap tebal sampai bisa mengenali orang- orang dan benda-benda yang ada di sana. Kami lihat, kedai ini memiliki dua buah ruang. Ruang yang besar untuk tamu biasa dan ruang yang kecil untuk tamu yang lebih terhormat. Di Amerika penataan seperti ini sungguh berbahaya karena sebagai negara demokratis, penduduk negara itu tidak mengakui perbedaan tingkat atau derajat sosial.

Karena semua kursi di ruang depan telah penuh, dengan diam-diam kami berjalan menuju ruang belakang tanpa sepengetahuan pengunjung kedai lainnya. Di tempat itu masih ada dua kursi kosong. Setelah meletakkan pelana di pojok ruangan,

kami duduk. Di sekeliling meja duduk beberapa pria yang tengah meneguk bir dan bercakap-cakap dalam bahasa Jerman. Sekilas mereka memandang kami dengan tajam, seperti ingin tahu. Begitu tahu kami mendekat, mereka segera mengalihkan pokok pembicaraan. Ini terlihat dari isi pembicaraan mereka yang tiba-tiba menjadi tidak karuan. Dua orang di antara mereka berwajah mirip. Sepintas orang bisa menduga bahwa mereka adalah ayah dan anak. Perawakan mereka tegap. Garis wajah mereka tegas dan tangan mereka kekar; ciri khas orang yang selalu bekerja keras. Wajah mereka mencerminkan kejujuran dan kepolosan. Tapi pada waktu itu raut wajah mereka tampak tegang, sepertinya mereka tengah memperbincangkan suatu hal yang menggelisahkan.

Ketika kami duduk, kedua orang itu menggeser tempat duduknya agak jauh sehingga ada jarak di antara kami. Suatu isyarat halus bagi kami bahwa mereka tak ingin bercakap-cakap dengan kami.

“Tetaplah duduk, Mesch’schurs!” kata Old Death. “Kami bukan orang yang

berbahaya meskipun sejak pagi tadi kami belum makan. Dapatkah kalian mengatakan kepada kami, di mana kami bisa mendapatkan makanan agar perut kami ini tidak lagi keroncongan?”

Seseorang dari mereka, tampaknya ayah dari orang yang satunya, memicingkan sebelah matanya lalu menjawab sambil tertawa.

“Apa yang diinginkan oleh orang terhormat seperti Anda, tentu akan kami

sediakan, Sir! Tapi bukankah Anda ini Old Death? Saya kira, Anda tak perlu malu

menyembunyikan identitas diri Anda yang sebenarnya.”

“Old Death? Siapakah orang itu?” tanya sahabat saya ini sambil berlagak bodoh.

“Seorang yang sangat terkenal. Dia adalah seorang west m an dan pencari

jejak. Dalam sebulan dia lebih banyak mengumpulkan petualangan daripada orang lain sepanjang hidupnya. Anak saya, Will, pernah melihatnya.”

Pemuda yang dimaksud lelaki itu kira-kira berusia dua puluh enam tahun. Mukanya coklat akibat sengatan matahari. Kesannya seolah-olah dia dapat berkelahi menghadapi dua belas orang sekaligus. Old Death mengamati pemuda itu dari samping dan bertanya,

“Anak Anda pernah melihatnya? Di mana?”

“Pada tahun enam puluh dua di Arkansas, tidak lama sebelum meletus pertempuran di dekat Pea Ridge. Tapi Anda pasti tidak mengetahui peristiwa itu.”

“Mengapa tidak? Saya sering mengembara di Arkansas. Saya yakin, pada waktu itu saya berada tidak jauh dari tempat itu.”

“Oh ya? Jika saya boleh bertanya, partai manakah yang Anda dukung saat itu? Keadaan yang terjadi sekarang di daerah kami memaksa kami mengetahui aliran politik yang dianut orang yang duduk semeja dengan kami.”

“Jangan khawatir, Mast er! Saya kira, Anda tidak memihak kepada kaum

pemilik budak belian yang kini sudah ditaklukkan. Saya pun demikian. Anda pun dapat menyimpulkan bahwa saya bukan termasuk orang seperti itu. Saya orang Jerman, buktinya saya sudah berbicara dengan Anda dalam bahasa Jerman.”

“Selamat datang, Sir! Tapi Anda jangan salah paham. Bahasa Jerman bukanlah

tanda pengenal yang dapat dipercaya. Beberapa orang dari pihak asing memahami bahasa Jerman dan menggunakan bahasa itu hanya untuk mendapat kepercayaan dari kami. Saya sudah seringkali mengalaminya. Tapi sekarang kita bicara saja tentang Arkansas dan Old Death. Barangkali Anda sudah tahu bahwa negara bagian ini hendak memihak kepada Partai Union pada saat pecahnya perang saudara. Namun kenyataannya sungguh lain. Banyak orang kritis yang sebelumnya tidak menyetujui perbudakan dan menganggap terbentuknya kelompok bangsawan di negara Selatan sebagai tindakan kekejaman, kemudian bersatu dan menyatakan penolakan terhadap pemisahan. Namun dengan cepat para pemberontak, di dalamnya termasuk juga para bangsawan, berhasil merebut kekuasaan yang sah. Para cendekiawan diteror. Akhirnya Arkansas jatuh ke tangan negara Selatan. Tentu saja hal ini menimbulkan kepedihan di kalangan penduduk keturunan Jerman. Untuk sementara mereka tak dapat berbuat apa-apa dan terpaksa membiarkan bagian utara negeri yang indah itu mengalami penderitaan luar biasa akibat peperangan. Pada waktu itu saya tinggal di Missouri, di Poplar Bluff, dekat perbatasan Arkansas. Anak saya yang duduk di depan Anda ini tentu saja masuk menjadi anggota pasukan Jerman. Mereka hendak menolong Partai Union di Arkansas dan mengirimkan pasukan kecil melewati perbatasan untuk melakukan mata-mata. Will ikut dalam pasukan itu. Tiba-tiba mereka bertemu dengan pasukan musuh yang sangat besar jumlahnya. Lalu pasukan Jerman itu berhasil dikalahkan setelah mereka melakukan perlawanan sengit.”

“Jadi mereka ditawan? Saat itu pasti sangat berat. Kita tahu bagaimana pasukan negara Selatan memperlakukan tawanannya, karena dari seratus tawanan paling kurang delapan puluh orang meninggal akibat siksaan yang sangat kejam. Tapi yang lain pun pasti tidak bisa bertahan hidup, bukan?”

“Oho! Anda keliru besar. Para pemberani itu mempertahankan dirinya dengan gigih. Mereka menembak terus hingga pelurunya habis lalu menyerang dengan gagang

senapan dan pisaunya. Akibatnya kelompok sesessionis mengalami kerugian yang

mutuskan membunuh semua tawanan. Will adalah anak saya satu-satunya. Hampir saja saya kehilangan anak ini. Bahwa kini dia masih hidup, semua ini berkat jasa Old Death.”

“Bagaimana, Mast er? Anda membuat saya penasaran. Apakah pencari jejak itu

membawa bala bantuan untuk membebaskan para tawanan?”

“Tidak, jika demikian halnya maka tentu semuanya sudah terlambat dan pembunuhan itu pasti telah terjadi sebelum tiba bantuan. Dia bertindak seperti

seorang west m an sejati yang gagah berani. Dia sendirian yang membebaskan para

tawanan.”

“Bukan main , benar-benar tindakan yang nekat!”

“Memang! Dia merayap masuk ke dalam perkemahan seperti orang Indian. Dengan mudah dia menyelinap karena malam itu terjadi hujan lebat yang mengakibatkan banjir dan memadamkan api unggun. Kemudian penjaga yang berada

di garis depan ditusuknya dengan pisau. Kelompok sesessionis menduduki sebuah

tanah pertanian. Satu batalion berada di tempat itu. Semua opsir menempati rumah khusus dan serdadu-serdadu ditempatkan di bagian lain. Sementara itu para tawanan yang berjumlah lebih dari dua puluh orang dikurung dalam gudang gula. Pada setiap sisi gudang ditempatkan empat penjaga untuk mengawasi mereka. Keesokan harinya orang-orang malang itu akan ditembak mati. Pada malam harinya, tidak lama setelah pertukaran penjaga, para tawanan mendengar bunyi aneh di atas kepala mereka. Namun suara itu bukan bunyi air hujan. Mereka memasang telinga dengan lebih seksama. Tiba-tiba terdengar bunyi berderak. Atap gudang yang terbuat dari kayu lapuk itu terkuak. Rupanya seseorang telah melubangi atap itu hingga air hujan masuk ke dalam. Tapi selama sepuluh menit kemudian keadaan masih sunyi senyap. Setelah itu sebatang pohon yang masih tampak sisa-sisa cabangnya diturunkan dari atas atap. Pohon itu cukup kuat sehingga bisa dipanjat naik turun. Lalu seorang demi seorang memanjat batang pohon itu dan naik ke atap yang rendah lalu melompat ke tanah. Di sana mereka melihat keempat penjaga yang bukannya tertidur melainkan terbaring di tanah dan tidak lagi bergerak. Para tawanan segera melucuti senjata mereka. Dengan cerdik sang penyelamat itu membawa tawanan keluar dari sana dan menunjukkan jalan menuju perbatasan yang sudah diketahui oleh mereka. Di tempat itu barulah mereka tahu bahwa orang yang menolong mereka dengan mempertaruhkan nyawa sendiri itu ialah Old Death, sang pencari jejak.”

“Lalu apakah dia melanjutkan perjalanan bersama mereka?” tanya Old Death. “Tidak. Dia mengatakan bahwa masih ada urusan penting yang harus dikerjakannya. Kemudian dia menghilang dalam guyuran hujan lebat di tengah kegelapan malam tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk mengucapkan

terima kasih atau menatap wajahnya. Malam itu sangat gelap sehingga mereka tak dapat mengenali wajah seseorang. Yang dapat dilihat oleh Will hanya badannya yang tinggi dan kurus. Tapi dia sempat bercakap-cakap dengan orang itu. Sampai sekarang dia masih ingat perkataan orang yang gagah berani itu. Jika kami nanti berjumpa dengan Old Death, maka dia akan tahu bahwa kami orang Jerman adalah bangsa yang tahu berterima kasih dan kami akan berterimakasih kepadanya.”

“Tentu dia sudah tahu akan hal itu. Dalam perhitungan saya, anak Anda bukan

orang Jerman pertama yang dijumpainya. Omong-omong, Sir, barangkali Anda

mengenal seseorang yang bernama Mast er Lange dari Missouri?”

Anaknya tercengang.

“Lange?” dia bertanya. “Mengapa Anda menanyakannya?”

“Saya khawatir, kami tidak mendapat lagi tempat di rumah penginapan ini. Maka kami bertanya kepada agen kapal di pinggir sungai apakah ada seseorang yang

bisa memberi kami tumpangan. Dia menyebut nama Mast er Lange dan menganjurkan

agar kami mengatakan kepadanya bahwa agen itulah yang menyuruh kami datang ke sini. Dan dia tahu, kami akan bertemu dengan orang itu di sini.”

Lelaki yang lebih tua itu memandang kami dengan tatapan menyelidik dan berkata,

“Memang benar apa yang dikatakan sang agen, karena saya sendirilah Mast er

Lange. Karena dia yang menyuruh Anda datang ke mari dan karena saya menganggap Anda orang yang jujur, maka saya ucapkan selamat datang. Siapakah teman seperjalanan Anda yang duduk di sana dan dari tadi hanya diam saja?”

“Dia sebangsa dengan Anda dan berasal dari Saksen. Bahkan dia seorang terpelajar yang datang ke sini untuk mengadu nasib.”

“Ya, Tuhan! Orang di negeri itu mengira bahwa mereka hanya duduk

berpangku tangan menunggu datangnya rejeki. Dengar baik-baik, Sir, orang yang

datang ke negeri ini harus bekerja lebih keras dan mengalami lebih banyak kekecewaan daripada di tanah airnya sendiri. Tapi bukan berarti semuanya tidak bisa diraih. Saya berharap, semoga Anda berhasil dan saya mengucapkan selamat datang kepada Anda.”

Dia juga berjabat tangan dengan saya. Old Death menganggukkan kepala dan berkata,

“Dan jika Anda masih ragu-ragu dan belum mempercayai kami, saya hendak berbicara sebentar dengan anak Anda. Dialah nanti yang akan membuktikan bahwa saya tidak patut dicurigai.”

“Ya, yang saya maksud anak Anda dan bukan orang lain. Tadi Anda mengatakan bahwa dia telah bercakap-cakap dengan Old Death dan masih ingat setiap perkataan yang diucapkannya pada waktu itu. Anak muda, maukah Anda mengatakan kepada saya apa yang dibicarakan waktu itu? Saya ingin mengetahuinya.”

Will menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya itu dengan bersemangat, “Saat Old Death membawa kami ke jalan yang harus kami tempuh, dia berjalan paling depan. Saya menderita luka tembak di lengan. Rasanya sakit sekali,

Dalam dokumen WINETOUW kepala suku Apache (Halaman 177-200)

Dokumen terkait