• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

I. Output, Input dan Harga 1.Output (kg)

2. Input (kg)

3. Tenaga Kerja (HOK) 4. Faktor Konversi

5. Koefisien Tenga Kerja (HOK/kg) 6. Harga Ouput (Rp)

7. Upah Tenaga Kerja (Rp/HOK)

(1) (2) (3) (4) = (1) / (2) (5) = (3) / (2) (6) (7) II. Penerimaan dan Keuntungan

8. Harga bahan baku (Rp/kg) 9. Sumbangan input lain (Rp/kg) 10.Nilai output (Rp/kg)

11.a. Nilai tambah (Rp/kg) b. Rasio nilai tambah (%)

12. a. Pendapatan tenaga kerja (RP/kg) b. Pangsa tenaga kerja (%)

13. a. Keuntungan (Rp/kg) b. Tingkat keuntungan (%) (8) (9) (10) = (4) x (6) (11a) = (10) – (9) – (8) (11b) = (11a/10) x 100% (12a) = (5) x (7) (12b) = (12a/11a) x 100% (13a) = 11a – 12a

(13b) = (13a/11a) x 100% III. Balas Jasa Pemilik Faktor Produksi

14. Marjin (Rp/kg)

a. Pendapatan tenaga kerja (%) b. Sumbangan input lain (%) c. Keuntungan pengusaha (%)

(14) = (10) – (8)

(14a) = (12a/14) x 100% (14b) = (9/14) x 100% (14c) = (13a/14) x 100%

Sumber: Hayami, at all. Agricultural Marketing and Processing In Up Land Java, 1989.Dalam Baroh (2007).

Dasar perhitungan dari analisis nilai tambah adalah per kg hasil, standar harga yang digunakan untuk input/bahan baku dan produksi ditingkat pengolah/ produsen. Nilai tambah menggambarkan imbalan bagi tenaga kerja, modal dan manajemen. Dari hasil perhitungan tersebut akan dihasilkan keterangan sebagai berikut:

a. Nilai tambah (Rp) adalah selisih antara nilai output sapi potong dengan bahan baku utama bibit sapi potong dan sumbangan input lain.

b. Rasio nilai tambah (%) menunjukkan nilai tambah dari nilai produk.

c. Pendapatan tenaga kerja langsung (Rp) menunjukkan upah yang diterima tenaga kerja langsung untuk mengolah satu satuan bahan baku.

d. Pangsa tenaga kerja langsung (%) menunjukkan persentase pendapatan tenaga kerja langsung dari nilai tambah yang diperoleh.

e. Keuntungan (Rp) menunjukkan bagian yang diterima perusahaan.

f. Tingkat keuntungan (%) menunjukkan persentase keuntungan dari nilai produk.

g. Marjin (Rp) menunjukkan besarnya kontribusi pemilik faktor-faktor produksi selain bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.

h. Persentase pendapatan tenaga kerja langsung terhadap marjin (%). i. Persentase sumbangan input lain terhadap marjin (%).

j. Persentase keuntungan perusahaan terhadap marjin (%).

Koefisien tenaga kerja menunjukkan banyaknya tenaga kerja yang diperlukan untuk mengolah satu satuan input. Nilai produk menunjukkan nilai output yang dihasilkan dari satu satuan input. Nilai input lain mencakup nilai dari semua korbanan selain bahan baku dan tenaga kerja langsung yang digunakan selama produksi berlangsung.

Untuk menguji hipotesis 2 pada usaha pembibitan sapi potong, dianalisis dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

Y= f (X1, X2, X3, X4, X5, X6) dimana:

Y = Nilai tambah usaha pembibitan sapi potong x1 = Harga anakan sapi potong (Rp/Kg)

x2 = Harga indukan sapi potong (Rp/Kg) x3 = Biaya obat cacing (Rp)

x5 = Biaya BBM (Rp)

x6 = Upah tenaga kerja (Rp/HOK)

Pada usaha penggemukan sapi potong, dianalisis dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

Y= f (X1, X2, X3, X4, X5, X6) dimana:

Y = Nilai tambah usaha penggemukan sapi potong x1 = Harga bakalan penggemukan sapi potong (Rp/Kg) x2 = Harga sapi potong hasil penggemukan (Rp/Kg) x3 = Biaya obat cacing (Rp)

x4 = Biaya garam (Rp) x5 = Biaya BBM (Rp)

x6 = Upah tenaga kerja (Rp/HOK)

Uji asumsi Ordinary Least Square (OLS) 1. Uji asumsi multikolinearitas

Uji asumsi multikolinearitas dimaksudkan untuk menghindari adanya hubungan yang linear antar variabel bebas. Multikolinearitas dapat dideteksi dengan beberapa metode, diantaranya adalah dengan melihat :

• Jika nilai koefisien determinasi (R²) tinggi; dalam uji serempak (F-test), variabel-variabel eksogen secara serempak berpengaruh nyata terhadap variabel-variabel endogen; tetapi dalam uji secara parsial (t-test), variabel-variabel eksogen secara parsial banyak yang

tidak berpengaruh nyata terhadap variabel endogen, maka hal ini mengindikasikan terjadinya multikolinearitas.

• Melihat nilai standard error. Nilai standard error yang besar mengindikasikan terjadinya multikolinearitas.

• Jika nilai Toleransi atau VIF (Variance Inflation Factor) kurang dari 0,1 atau nilai VIF melebihi 10 mengindikasikan terjadinya multikolinearitas.

• Terdapat koefisien korelasi sederhana yang mencapai atau melebihi 0,8 jika nilai F-hitung melebihi F-tabel dari regresi antar variabel bebas

(Ardiani dalam Gujarati 2004)

2. Uji asumsi heteroskedastisitas

Salah satu asumsi yang penting dari model regresi linier klasik adalah bahwa gangguan (disturbance) atau residual yang muncul dalam fungsi regresi populasi adalah homoskedastik. Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain dalam model regresi. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homokskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ardiani dalam Gujarati 2004). Cara mendeteksi terjadinya heteroskedastisitas dalam model regresi dengan Program SPSS adalah sebagai berikut.

• Analisis Grafik

Analisis grafik dilakukan dengan cara melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel endogen, yaitu Y: ZPRED dengan residualnya X: SRESID. Dengan kriteria uji sebagai berikut.

Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang

teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit): tidak terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y: tidak terjadi heteroskedastisitas (Walpole, 1992).

3. Uji asumsi normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui, bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Cara mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak dalam model regresi dengan Program SPSS adalah sebagai berikut.

• Analisis grafik

Analisis grafik dilakukan dengan cara melihat grafik histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal dan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Dengan kriteria uji sebagai berikut. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola berdistribusi normal: data residual model terdistribusi dengan normal.

Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola berdistribusi normal: data residual model tidak terdistribusi dengan normal.

• Uji Kolmogorov-Smirnov

Konsep dasar Uji Kolmogrov-Smirnov adalah dengan membandingkan distribusi data yang akan diuji normalitasnya dengan distribusi normal baku. Cara melakukan Uji Kolmogrov-Smirnov adalah sebagai berikut.

a. Lakukan regresi utama OLS

c. Dari menu utama, pilih menu Analyze, lalu pilih Nonparametric Test. d. Pilih sub menu 1-Sample K-S.

e. Pada kotak Test Variable List, isi Unstandardized Residual, dan aktifkan Test Distribution pada kotak Normal.

f. Output SPSS akan menunjukkan besar nilai Kolmogrov-Smirnov Z.

Dengan kriteria sebagai berikut.

Jika signifikasi > α : tidak ada perbedaan antara distribusi residual dengan distribusi normal, data residual model berdistribusi normal.

Jika signifikasi ≤ α : ada perbedaan antara distribusi residual dengan distribusi normal, data residual model tidak berdistribusi normal.

Uji Kesesuaian (test goodness of fit) model dan uji hipotesis

Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari goodness of fit-nya. Secara statistik, setidaknya ini dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F, dan nilai statistik t. Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah

kritis (daerah dimana Ho ditolak). Sebaliknya, disebut tidak signifikan apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima (Ghozali, 2006). Koefisien yang dihasilkan dapat dilihat pada output regresi berdasarkan data yang

dianalisis untuk kemudian diinterpretasikan serta dilihat signifikansi tiap-tiap variabel yang diteliti.

Koefisien determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variansi variabel endogen. Koefisien determinasi (R²) bertujuan untuk mengetahui kekuatan variabel-variabel eksogen dalam menjelaskan variabel endogen. 1. Uji pengaruh variabel secara serempak

Uji pengaruh variabel secara serempak pada dasarnya menunjukkan apakah secara serempak semua variabel eksogen yang dimaksukkan dalam model berpengaruh nyata terhadap variabel endogen. Uji pengaruh variabel secara serempak untuk mengetahui signifikansi statistik koefisien regresi secara serempak, digunakan Uji F (F-test). Dengan kriteria uji sebagai berikut.

Jika Fhitung≤Ftabel atau jika signifikansi F>α : terima Ho atau tolak H1. Jika Fhitung>Ftabel atau jika signifikansi F≤α : tolak Ho atau terima H1.

2. Uji pengaruh secara parsial

Uji pengaruh variabel secara parsial pada dasarnya menunjukkan seberapa besar jauh pengaruh satu variabel eksogen secara parsial dalam menerangkan variansi variabel endogen. Uji pengaruh variabel secara parsial dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik koefisien regresi secara parsial, digunakan Uji t (t-test). Dengan kriteria uji sebagai berikut.

Jika thitung≤ttabel atau jika signifikansi t>α : terima Ho atau tolak H1. Jika thitung>ttabel atau jika signifikansi t≤α : tolak Ho atau terima H1.

3.5Definisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami penelitian ini, maka dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut:

1. Peternak sapi potong adalah individu yang memiliki sapi potong sendiri untuk dibudidayakan atau digemukkan yang pengerjaannya dilakukan sendiri ataupun dibantu orang lain baik sebagai usaha pokok maupun usaha sampingan.

2. Usaha pembibitan sapi potong adalah kegiatan atau usaha dimana peternak dan keluarganya memelihara ternak yang bertujuan memperoleh hasil dan pendapatan dari anakan sapi potong hingga menjadi indukan sapi yang siap dijadikan bibit bakalan usaha penggemukan sapi potong dalam jangka waktu 12 bulan.

3. Usaha penggemukan sapi potong adalah kegiatan atau usaha dimana peternak dan keluarganya memelihara ternak yang bertujuan memperoleh hasil dan pendapatan dari pertambahan berat badan yang dihasilkan oleh sapi bakalan dalam jangka waktu 6 bulan.

4. Output adalah jumlah pertambahan berat badan sapi yang dihasilkan dalam jangka waktu 12 bulan untuk usaha pembibitan dan 6 bulan untuk usaha penggemukan sapi potong dihitung dalam satuan kg.

5. Input adalah bahan baku utama yang dibutuhkan dalam jangka waktu 12 bulan untuk usaha pembibitan dan 6 bulan untuk usaha penggemukan sapi potong yang dihitung dalam satuan kg.

6. Tenaga kerja adalah jumlah orang/karyawan yang melakukan usaha pembibitan dan penggemukan sapi potong.

7. Faktor konversi merupakan pembagian dari output dengan input yang digunakan pada usaha pembibitan dan penggemukan sapi potong.

8. Koefesien tenaga kerja diperoleh dari hasil bagi antara tenaga kerja dengan input. 9. Harga output adalah harga sapi potong dan kotorannya per kg dalam satuan Rupiah.

3.5.2 Batasan Operasional

1. Sampel adalah 30 peternak yang memiliki dan mengusahakan usaha pembibitan dan 30 peternak yang memiliki dan mengusahakan penggemukan sapi potong dengan skala usaha yang berbeda yaitu 2 – 5 ekor, 6 – 9 ekor dan > 10 ekor sapi potong.

2. Daerah penelitian adalah Desa Ara Condong, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat. 3. Penelitian dilakukan pada tahun 2013.

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN