MENTERI AGAMA RI: Iya pak
F- P NASDEM (NURHADI, S.Pd): Terima kasih Pimpinan
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
Terima kasih Pak Kyai Maman, tadi sebelah Pak Nurhadi ada? Mau bicara? Silakan Pak.
F-P NASDEM (NURHADI, S.Pd): Terima kasih Pimpinan.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Yang Saya hormati Pimpinan Dan Anggota Komisi VIII DPR RI, Yang Saya hormati Pak Menteri Agama beserta jajarannya,
Yang pertama saya menyoroti terkait paparan kegiatan prioritas rencana kerja pemerintah, atau RKP Kementerian Agama Tahun 2021 pada
slide 12 yaitu peningkatan, angka 1 peningkatan kualitas pengajaran dan
pembelajaran. Pak Menteri mohon dijelaskan bagaimana program ini dapat terlaksana dengan baik dan terukur, sedangkan hak yang harus diterima oleh para pengajar ini tidak terealisasi?
Tunjangan profesi pendidik (TPP) terhutang Tahun 2018 kalau tidak salah jumlah 3 bulan dan tahun 2019 1 bulan. Contoh ini yang saya bawa nanti yang saya serahkan ke Pak Menteri, Kota Kediri saja ini terhutang hampir Rp2 miliar, terhutang hampir 2 Miliar. Dimana kewajiban sudah dijalankan oleh para pengajar, tetapi haknya tidak diberikan. Pertanyaan saya apa tanggapan dan rencana kerja yang logis dari Kementerian Agama terkait tersebut?
Negara punya hutang kepada rakyat melalui institusi Kementerian Agama, dan laporan yang masuk ke kami TPP ini akan cair kalau ada sisa anggaran. Lha kalau tidak ada sisa anggaran berarti negara punya hutang lagi kepada guru-guru non PNS ini. Astagfirullah haladzim jangan sampai disebut oleh rakyat Kementerian Agama adalah Kementerian yang dholim
43
dimana banyak proyek fisik tetap berjalan Dirjen Pendis namun kewajiban membayar honor TPP malah terhutang. Itu yang pertama Pak Menteri.
Yang kedua secara umum anggaran Tahun 2021 naik Rp1,6 triliun atau (2,48%) apakah ini sudah mengakomodir persoalan anggaran di Kementerian seperti persoalan SK Guru Inpassing Pak Menteri? Tentu ini berkonsekuensi pada anggaran, karena terkait penerbitan SK Guru Inpassing ini dijanjikan Kemenag melalui Dirjen Pendis dalam hal ini Direktur guru dan tenaga kependidikan Bapak Prof. Suyitno bagaimana realisasinya? Jangan sampai hanya janji-janji saja, karena SK akan dijanjikan terbit tahun ini anggarannya, realisasinya tahun depan.
Kemudian bagaimana juga dengan keputusan Menteri Agama tentang keringanan UKT (Uang Kuliah Tunggal)? Akapah juga sudah terakomodir dalam kenaikkan usulan dari pagu indikatif tersebut?
Yang ketiga belum terealisasinya anggaran sebesar (61,31%) atau Rp3,9 triliun ini mohon dijelaskan tersebar di Dirjen mana saja? Karena ini tidak ada penjelasan yang detail. Ini penting untuk dicermati Pak Menteri sejauhmana program-program di Kemenag bisa dievaluasi jangan sampai tahun anggaran 2021 minta ditambah, tetapi justru anggaran tahun ini banyak yang tidak terserap.
Yang terakhir dalam laporan ini kami melihat ada anggaran refokusing yang walaupun sangat-sangat kecil seperti tadi disampaikan sama kakang Kyai Maman tidak punya saign of pandemic yaitu disini saya catat hanya (0,5%) sekitar Rp319 miliar untuk percepatan penanganan Covid 19, sejauhmana efektifitas kegiatan tersebut? Walaupun anggarannya ini hanya (0,5%) kami minta penjelasan, karena pada pagu indikatif 2021 tidak mencerminkan amanat undang-undang yang dalam Perpu nomor 1 tahun 2020 dimana di Kementerian semua Kementerian diwajibkan untuk refokusing terkait efektifitas dari pandemic sampai tahun 2022.
Kesimpulannya saya pribadi dari Fraksi Nasdem menolak usulan dari Kemenag, baik itu dari pagu indikatif maupun usulan tambahan pagu anggaran, pagu indikatif ini.
Terima kasih Pimpinan.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Terima kasih Pak Nurhadi.
44
Silakan.
F-PG (H. JOHN KENEDY AZIS, S.H.): Terima kasih Pimpinan.
Bissmillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pimpinan dan Anggota Komisi VIII DPR RI yang Saya hormati,
Bapak Menteri Agama Republik Indonesia beserta seluruh jajaran yang Saya hormati,
Komisi VIII adalah mungkin yang sudah ketiga atau keempat rapat dengan mitra kerja dalam hal anggaran ini. Kemarin kita rapat dengan Kementerian Sosial, kemarinnya lagi rapat dengan BNPB, dan semuanya minta penambahan anggaran, dan alhamdulillah kita support habis.
Tapi disisi lain Fraksi Partai Golkar dan khususnya saya secara pribadi meminta kepada kawan-kawan Anggota Komisi VIII harus hati-hati dalam menyikapi mitra yang minta tambahan anggaran. Harus hati-hati kita, karena dalam situasi yang kondisi sekarang seluruh negara di dunia ini lagi prihatin terhadap ekonomi. Ekonomi kita condong pertumbuhannya condong makin lama makin turun, dan saya betul-betul mengimbau kepada kawan-kawan harus hati-hati dalam menyikapi mitra kerja yang minta tambahan anggaran. Kita memberikan persetujuan kepada Kementerian/Lembaga dari mitra sebagai Komisi VIII adalah betul-betul program-program yang ditawarkannya itu adalah program yang sangat dibutuhkan oleh rakyat. Program-program yang menyentuh kepada rakyat.
Saya mendengar dari tadi paparan dari Pak Menteri, ada suatu keanehan buat saya, bahwa anggaran yang Rp60 triliunan itu tidak dijelaskan perinciannya ditujukan untuk apa? Tidak ada, saya tidak ada membaca itu, tapi disisi lain minta tambahan yang 4 triliun dibeberkan peruntukkannya untuk apa, untuk apa, untuk apa.
Menambahkan apa yang telah disampaikan oleh Pimpinan dan kawan-kawan tadi, bahwa kita lihat di Tahun 2019 masih ada anggaran yang tidak terserap sebesar Rp2,4 triliun, ya dan di Tahun 2020 ini masih banyak, baru 38% sekian baru penyerapannya. Itu yang pertama terhadap apa namanya artinya saya menghimbau juga Kementerian Agama supaya agak prihatin dengan kondisi Covid 19 yang sebagaimana disampaikan tadi oleh kawan-kawan berdasarkan Perpu itu tidak tahu berakhirnya sampai kapan?
Jangan seolah-olah rakyat melihat kita enak sendiri main sendiri kita begitu lho, disisi lain ada kebutuhan-kebutuhan yang betul-betul sangat-sangat vital, kebutuhan-kebutuhan yang sangat-sangat membantu kepada rakyat, sebagaimana yang saya sampaikan tadi dua Kementerian Lembaga kita yang betul-betul kita support habis ya jadi itu terabaikan.
45
Yang kedua Pak Menteri, adalah mengenai SBSN, salah satu sumber dana yang Bapak harapkan di Kementerian Agama ini. Kalau saya tidak salah SBSN ini dipakai oleh Kementerian Agama sudah beberapa tahun, kalau tidak salah sejak tahun 2016 ya? 2000 berapa? Tapi kami tidak tahu sampai sekarang ini sudah berapa, sudah berapa lama itu dipakai, dan sudah berapa banyak dipakai kami tidak tahu.
Yang kami tahu Pak Menteri mohon dikoreksi saya, SBSN itu kan ada kewajiban kita untuk mengembalikan nanti itu Pak. Ada kewajiban kan kita untuk mengembalikan? Nah kami sementara kami di Komisi VIII kami tidak tahu sudah berapa banyak Bapak memakai SBSN itu? Nah ketika nanti jatuh tempo bagaimana pengembaliannya? Pertama itu tentang SBSN.
Yang kedua tentang penggunaan SBSN, dengan rasa hormat yang sangat amat dari saya dan rasa terima kasih, alhamdulillah Sumatera Barat dapat SBSN itu untuk pembangunan embarkasi haji. Tapi Pak mohon maaf malu saya masuk kedalamnya embarkasih haji itu, malu saya, asal bangun itu Pak, alhamdulillah saya cuma sekali saya datang kesana, saya diajak lagi tidak mau, sebagai tanggungjawab moral saya. Jelek sekali Pak, mutunya jelek, ini nya jelek, saya tidak tahu yang terhormat Bapak Nizar apa pernah berkunjung kesitu atau berbeda penglihatannya dengan saya. Tapi kebanyakan memang SBSN itu yang apa kita berkunjung ke daerah-daerah ya hampir-hampir sama.
Ada sih yang banyak ini seperti Bangka Belitung itu bagus sekali, saya puji itu, bagus sekali luar biasa itu Pak, kaya hotel beneran itu, kecil sedikit dia dapat tapi bagus sekali saya diberikan kesempatan oleh kawan-kawan untuk mewakili Pimpinan Komisi VIII pada waktu itu ke Bangka Belitung bagus sekali saya puji itu Pak. Tapi tidak tahu di kampung saya jelek sekali dimata saya tidak tahu kalau dimata kawan-kawan, sehingga waduh saya bicara sama Kanwilnya kenapa ya dibangunnya seperti ini? Rp49 miliar kalau tidak salah ya Pak Profesor? Sepertinya tidak Pak, dananya begitu.
Saya terima kasih artinya Sumatera Barat diberikan kesempatan, dan mudah-mudahan itu dapat diselesaikan supaya tidak menjadi artinya bangunan yang tidak ada fungsinya nanti dikemudian hari.
Tapi untuk kedepan itu betul kita cek, kita inikan sendiri betul-betul padahal saya terhadap Sumatera Barat itu saya dimeja, saya diberi kesempatan oleh Profesor Nizar untuk berkunjung saya bawa Bupatinya, saya minta bawa Kanwilnya, kita sudah wanti-wanti betul ya Profesor ya? inilah kondisinya tetapi hasilnya diluar dugaan kami. Tidak tahu ada permainan apa disitu?
Oleh karena itu Pimpinan dengan izin saya sependapat sama kawan-kawan, artinya tentang penambahan ini kita harus kaji betul dulu, kita harus betul-betul evaluasi betul dulu nanti. Pertama memang dampak psikologis daripada Covid 19 ini, kita tidak tahu apakah negara ini punya uang atau tidak
46
itu. Artinya kita jelas saja karena banyak perusahaan yang masih belum normal jalannya, jadi sumber pendapatan negara dari pajak mungkin tidak terpenuhi, belum terpenuhi sebagaimana mestinya, berdasarkan konteks-konteks yang demikian Pimpinan secara pribadi mudah-mudahan nanti Pimpinan sependapat dengan kami, kita mengenai permohonan penambahan anggaran untuk Kementerian Agama coba kita pelajari betul secara matang. Terima kasih Pimpinan, mohon maaf kurang lebih terhadap apa yang telah saya sampaikan.
Wabillahitaufiq Wal Hidayah.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Pak John Kenedy Azis terima kasih.
Selanjutnya ibu Harmusa Otaviani dari Fraksi Partai Demokrat, silakan. F-PD (HARMUSA OKTAVIANI, S.E.):
Terima kasih Ketua.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Yang Saya hormati Pimpinan dan Anggota Komisi VIII DPR RI, Yang Saya hormati Pak Menteri beserta jajarannya,
Pada kesempatan rapat kerja kali ini kita membahas tentang RAPBN dan evaluasi anggaran Tahun 2019. Disini dijelaskan pada Tahun 2019 ada beberapa kendala dalam penyerapan anggaran, salah satunya adalah proses revisi buka blokir. Dan kalau saya amati sebenarnya dari Kementerian Agama bisa memperkirakan tentang hal ini. Kalau memang proses ini dirasa lama seharusnya diawal-awal tahun itu bisa segera diurus agar pada Tahun 2019 bisa cair, tidak sampai keluar di Tahun 2020.
Kemudian untuk kendala penyerapan anggaran Tahun 2020 itu hanya dijelaskan banyak anggaran yang tidak terserap karena Pandemic Covid. Dan banyak anggaran yang dialihkan penggunaannya, saya kira sayang sekali Pak, ini masih ada beberapa bulan lagi, dan mungkin anggaran yang tidak terpakai atau kegiatan yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan bisa dialihkan untuk pembayaran hutang kepada guru honorer, atau guru-guru inpasif seperti yang dijelaskan oleh Pak Hadi tadi, jadi hutangnya minimal bisa dicicil. Kan sayang kalau ada anggaran tapi penggunaannya tidak bisa maksimal dan macet, lebih baik digunakan untuk menyelesaikan tanggungan-tanggungan Kementerian Agama yang ditahun-tahun sebelumnya.
47
Kemudian setahu saya Pak, di Kementerian Agama itu ada bea siswa, dan sampai hari ini entah karena saya baru masuk di Komisi VIII, atau yang dulu-dulu juga seperti ini, saya belum tahu pak gimana cara mendapatkan bea siswa ini. karena ketika kemarin saya melakukan reses di Dapil banyak dari teman-teman, guru-guru madrasah, sekolah yang dibawah naungan Kementerian Agama mereka bertanya. Saya dengar ada bea siswa dari Kementerian Agama, tapi sayapun tidak tahu apakah program ini masih kah berjalan, atau bagaimana mohon penjelasan dari Bapak Menteri.
Mungkin itu saja ketua dari saya.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Terima kasih Bu Harmusa.
Selanjutnya Ibu Nur Azizah Tamhid dari Fraksi Partai PKS silakan. F-PKS (Hj. NUR AZIZAH TAMHID, BA., M.A.):
Terima kasih.
Bissmillahirrahmaanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Yang Saya hormati Bapak-Bapak Pimpinan dan Anggota Komisi VIII DPR RI,
Yang Saya hormati Bapak Menteri Agama dan Seluruh jajarannya,
Alhamdulillah ini sudah lewat jam 14.00 WIB tapi tidak apalah, ya jadi
kalau tadi melihat anggaran-anggaran yang Tahun 2019 masih berlebih, kemudian ya mudah-mudahan kelebihan itu nanti Pak Pendis, Pak Dirjen Pendis jangan lupa mengalokasikan untuk Madrasah Aliyah Negeri di Kota Depok. Dan kalau bisa Madrasah Tsanawiyah Negeri dan Madrasah Iftida’iyah Negeri di Kota Depok.
Selanjutnya Pak Menteri, saya ingin mengoreksi sedikit kuatir ini menjadi keyakinan yang salah, dihalaman tiga itu Pak Menteri kan menyampaikan jadi Kementerian Agama merumuskan, menetapkan dan melaksanakan kebijakan dalam urusan agama, dalam meningkatkan layanan agama yang adil dan merata Kementerian Agama akan terus memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas kesolehan umat beragama untuk mencapai visi masyarakat yang sholeh. Peningkatan kesholehan umat beragama yang diperkuat dengan moderasi beragama baik melalui pembimbingan masyarakat maupun pendidikan agama pada satuan pendidikan, akan menghasilkan masyarakat yang sholeh didepan kholiqnya,
48
tapi juga bersikap moderat dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut saya kalau manusia itu sudah sholeh didepan kholiqnya, tentu tidak perlu ungkapan bersikap moderat dalam kehidupan masyarakat. Kalau orang belum bisa bersikap moderat di masyarakat tentu itu belum sholeh dihadapan sang kholiq. Kita harus ingat bahwa disurat An Mutahanah ayat 8 “laa
yanhaakumu allaahu ‘ani alladziina lam yuqaatiluukum fii alddiini walam yukhrijuukum min diyaarikum an tabarruuhum watuqsithuu ilayhim inna allaaha yuhibbu almuqsithiina” jadi orang yang adil itu adalah yang selalu berbuat adil juga terhadap siapapun selagi tidak merugikan mereka itu tidak memerangi, kita selalu harus berbuat baik, itulah orang yang baik dihadapan kholiqnya berarti sholeh. Sehingga kata-kata yang tetapi juga bersikap moderat dalam kehidupan bermasyarakat itu harus dihapus, kuatir menjadi keyakinan yang keliru kan keyakinannya. Padahal ayat 8 surat An Mumtahanah sudah jelas.
Selanjutnya ini karena fungsi Kemenag juga adalah memfasilitasi untuk apa namanya sertifikasi produk halal. Nah ini tolong ini menjadi konsen bener, karena ya mudah-mudahan nanti ada program, jadi seperti makanan ini, makanan mewah le god men inikan belum ada sertifikat halal, lha Pak Menteri harus punya program bagaimana seluruh pengusaha itu mensertifikasi produknya. Sehingga siapapun orang Islam supaya sholeh didepan kholiqnya tadi itu, makan itu tidak ada keraguan, ini halal kok untuk saya gitu. Ini harus punya program bertahap kapan semua produk-produk besar harus punya sertifikasi halal.
Kemudian kaki lima itu yang saya sangat miris, karena saya kan Dapil Depok Pak banyak sekali jajanan-jajanan dipinggir jalan, terus terang saya itu ragu kalau namanya makan nasi goreng, di yaitu yang dijajakan dipinggir-pinggir jalan, termasuk tahu goreng, tempe goreng kemudian apa itu yang paling ini singkong goreng. Karena apa? Ada berita suatu ketika malam-malam itu ada yang mergoki orang jual apa namanya? Lemak babi, lho itu dikerubuti pedagang-pedagang kecil itu, malam itu pun langsung habis, lha akhirnya ternyata orang-orang itu ya penjual-penjual itu untuk penyedap. Lha tidak tahu bagaimana yang jelas itu kapan itu saya dengar begitu, bagaimana supaya membikin nyaman semua masyarakat yang mayoritas muslim ini memang menjadi sholeh bener, jadi makanannya itu terjamin halalnya. Itu kesana, jadi memang ini perlu ada program kedepan harus seperti itu dan perlu memang apa namanya standarisasi, standarisasi produk halal itu seperti apa? Kemudian tentu ini dunia pendidikan kaya Mahasiswa-mahasiswa UI, atau mana itu in sya allah akan mau mengerjakan seperti itu, yang penting ini ada gereged dari Kemenag.
Dan kedua yaitu produk busana halal, ini perlu ada juga sertifikasi halal dari Indonesia, karena produk Indonesia yang banyak garmen-garmen kemudian busana-busana, mukena yang mukena dari Tasik, Padang itu tidak bisa masuk ke Saudi kecuali lewat Malaysia. Karena apa? Tidak ada sertifikasi busana halal, ini tolong ini juga menjadi perhatian, in sya allah akan meningkatkan ekonomi masyarakat, dan juga meningkatkan gairah masyarakat Indonesia untuk berproduksi. Itu yang kedua.
49
Kemudian yang ketiga yaitu terkait kemarin sudah saya sampaikan penyuluh-penyuluh agama, jadi mungkin apa namanya anggaran-anggaran yang lebih atau dan bagaimana itu termasuk sebaiknya dianggarkan untuk para penyuluh agama dimungkin di Kabupaten juga ada, di kota dikelurahan juga ada, karena mereka itu sangat penting. Kalau sekarang kan mungkin Kemenag merasa aman karena ada majelis taklim yang menyampaikan. Tapi sementara sebetulnya masih banyak hal-hal yang perlu diwaspadai, kalau sekarang masih ada Covid kemudian tidak ada yang namanya pergaulan bebas, kemudian tidak ada LGBT, tidak ada yang mabuk-mabukan. Nah kalau nanti sudah selesai pandemic ini, tentu na’udhubillah jangan sampai
kemudian anak-anak muda itu kemudian kembali lagi keasalnya, kemudian minum-minuman keras itu dianggap halal, kemudian juga LGBT, kemudian pergaulan bebas itu ada dimana-mana.
Oleh karena itu mohon perhatian terkait penyuluh-penyuluh agama ya ini digali dengan pemahaman yang komprehensif dan juga diberi honor untuk mereka. Barangkali ini saja, terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selanjutnya kami persilakan Ibu Diah yang ada disini nanti setelah itu ke yang virtual.
F-PDIP (DIAH PITALOKA, S.Sos., M.si.):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Yang Saya hormati Bapak Menteri Agama dan jajarannya,
Kita sebetulnya berharap ada banyak sekali harapan kita dengan Kementerian Agama Pak, terutama inovasi-inovasi dbidang pendidikan Islam, dan juga agama lain, karena seperti misalnya pendidikan agama lain itu kita masih menemukan kurang guru agama, iya kan itu persoalan masih, masih terus menjadi catatan. Atau di Pendidikan Islam hari ini madrasah, pesantren itu sebetulnya juga ingin Bapak agak lebih agresif, artinya ya lebih aktif, lebih komunikatif dan tersosialisasikan dengan baik juga format-format program yang baru yang bisa mewarnai persoalan-persoalan yang selama ini ada dipendidikan Islam. Jadi kalau kata kang Maman tadi sibuk mengurusi internal saya juga merasakan Kementerian Agama itu kayaknya apa ya? saya takutnya terjebak dalam satu anggaran yang normatif begitu, tiap tahun begitu-begitu saja, begitu lho, tidak ada sesuatu yang grafiknya itu yang tidak dinamis begitu. Kita ingin sebetulnya melihat, melihat itu deprogram-program Kementerian Agama kaya di BPJPH ini misalnya banyak lembaga penjamin produk halal ini masih antri untuk disahkan legalitasnya, dan itu membuat
50
jaminan produk halal orang itu kalau UKM ngantri lama gitu memang, kayaknya jaminan produk halal itu salah satu hal yang apa ya diaksesnya lama begitu. Sementara nah persoalan-persoalan itu sebetulnya bukan persoalan-persoalan berat, bukan persoalan-persoalan yang diluar jangkauan kita, tapi kok tidak selesai-selesai begitu.
Nah memang ini tadi Bapak terima kasih sudah memaparkan panjang sekali, tapi kita ingin lebih apa ya, lebih mencermati lagi sebetulnya sebelum mengesahkan ya. Kaya misalnya pembantuan pondok pesantren dan lembaga keagamaan, kenapa kok ada di porsi yang butuh tambahan? Kenapa saya tidak tahu apakah sudah ada bantuan untuk pesantren dianggaran yang besarnya atau hanya tambahan ini? Kaya misalnya peraturan untuk pesantren ya, setelah undang-undangnya disahkan itu juga belum keluar-keluar. Nah kita ingin, ingin lebih sebetulnya dari Kementerian Agama, jadi tidak nanti tahun depan angkanya segini-gini lagi programnya ini, ini lagi. Kaya kerukunan umat beragama begitu-begitu saja gitu, kita ingin, ingin ada pembaharuanlah, ingin ada Pak Menteri ini kan orangnya gesit gitu ya, inginnya wajahnya lebih Kementerian Agama ini lebih hidup begitu Pak sebetulnya.
Jadi kita ingin mengeksplor lagi terutama karena ini juga kalau pendidikan Islam itu kan banyak sekali ya ininya apanya? Entah mahasiswanya, kaya SBSN juga, SBSN itu waktu kita tinjau ke lapangan itu sedih gitu lho. Kok banyak yang eksekusinya tidak bagus gitu padahal itu masuk di BPKH kadang, itu tuh ditaruh di Kementerian Agama tu pasti ada target strategisnya gitu surat berharga itu, ditaruh di Kementerian Agama. Tapi problematika itu kita lihat saya tidak melihat ada persoalan lalu itu tidak terlihat ada penyelesaiannya dianggaran hari ini. Nah itu yang saya ingin ini kita telaah lagi, sama kaya kang Maman, dan kaya haji gitu memang kita sudah lihat sih patuh, si patuh itu kadang bisa diakses kadang tidak. Nah ini juga kadang tidak bisa gitu, tidak on line kadang on line, syukur kalau bisa menemukan pas on line oh bagus juga gitu, tapi memang belum, belum terlalu, belum terlalu memuaskan, artinya sudah mulai ada diagram, sudah mulai ada gambar tapi kita tidak bisa benar-benar aksesebilitasnya terhadap