• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDIP (SELLY ANDRIANY GANTINA, A.Md.): Terima kasih

KETUA RAPAT: Silakan Pak

F- PDIP (SELLY ANDRIANY GANTINA, A.Md.): Terima kasih

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang Saya hormati Pimpinan serta Anggota Komisi VIII, Yang Saya hormati Pak Menteri beserta jajaran,

Saya masih agak sok dengan Pak Iskan yang barusan menyampaikan, saya pikir rapat kerja Komisi VIII bersama Kementerian Agama dalam rangka pembicaraan awal APBN 2021 dan RKP 2021 kemudian evaluasi penggunaan anggaran 2019 dan evaluasi kinerja pelaksanaan anggaran Tahun 2020 ini bisa mendapatkan gambaran seperti apa Kementerian Agama dari tahun ke tahun.

Mungkin rekan-rekan sudah menyampaikan semua, saya juga hanya ingin menyampaikan beberapa hal saja pak Pimpinan. Terkait dengan Kementerian Agama saya masih berharap banyak, sebetulnya Kementerian Agama ini bisa menjadi trigger khusus untuk visi Presiden menyangkut sumber daya manusia revolusi mental. Dan itu sudah disampaikan oleh Pak Menteri Agama tadi, bahwa di Kementerian Agama ada program khususnya di Tahun 2021 dari 12 program 2020 kemudian diperkecil menjadi 5 program salah satunya adalah program tentang kerukunan umat dan layanan kehidupan beragama. Diharapkan dengan program tersebut moderasi beragama dan hal-hal yang menyangkut dengan umat beragama bisa menjadi bagian terdepan dalam rangka menghindari dan mengurangi indeks tentang intoleransi, radikalisme dan terorisme yang memang menjadi PR untuk Kementerian Agama maupun bangsa ini.

Kalau saya lihat dari pemaparan Pak Menteri Agama saya bersyukur sebetulnya untuk program moderasi beragama untuk kerukunan beragama ini ada peningkatan anggaran sampai dengan 3,6 triliun atau sekitar 4,9% dari pagu indikatif. Tetapi sayangnya sampai kita bahas detail, sampai terakhir saya mendengarkan Pak Menteri dari pagi Bapak sampai dengan terakhir itupun saya belum mendapatkan gambaran bentuknya akan seperti apa? Karena kalau dari indeks yang disampaikan oleh Bapak masih ada sekitar 15 provinsi yang indeks intoleransinya masih dibawah rata-rata nasional, bahkan kalau kita runut ada 5 provinsi terbesar yang memang indeksnya paling bawah seperti halnya provinsi Aceh yang masih 60,2%, kemudian Sumbar, Jawa Barat sendiri yang dekat dengan ibu kota termasuk Banten itu ada diurutan ketiga dan urutan keempat. Padahal kita menginginkan intoleransi, radikalisme ini menjadi bagian yang memang diseriusi, melalui program yang ada di Kementerian Agama.

Nah kiranya Pimpinan, program moderasi beragama ini harus dijelaskan secara detail sistemnya seperti apa? Tata kelolanya bagaimana? Dan kita akan melibatkan siapa, didalam program–program tersebut? Saya

59

juga melakukan kunjungan kerja Pak Menteri dengan Kementerian Agama di Provinsi Jawa Barat, mereka sampaikan kepada kami, keluhannya sangat klise. Tadi betul yang disampaikan oleh rekan sebelumnya termasuk Kyai Maman, untuk sekelas Kementerian Agama Jawa Barat saja masih sekelas Plt, dan itu sudah 6 bulan yang lalu sampai saat ini masih Plt belum ada kejelasan siapa yang akan memimpin disana?

Dari program-program akibat Covid 19 ini mereka juga menyampaikan kepada kami, dengan anggaran yang harus direvisi dan direalokasi maka otomatis kegiatan merekapun akhirnya banyak yang terganggu. Belum ditambah juga ASN juga mereka yang sangat terbatas, mungkin ini menjadi bagian PR dari Kementerian Agama, bahwa untuk kegiatan-kegiatan Kementerian Agama diluar yang tadi saya bicara moderasi, mungkin ada program dukungan menejemen itu betul-betul menyentuh sampai dengan di tingkat bawah. Karena kita harapkan bisa maksimal untuk sekelas provinsi Jawa barat, mengenai tata kelola organisasi jangan disamakan juga dong Pak Menteri dengan misalnya yang di Papua, atau mungkin yang di Yogyakarta, karena Jawa Barat ini populasinya sangat tinggi.

Maka saya sangat meminta kepada Pak Menteri Agama dukungan kepada Kementerian Agama yang ada di bawah Bapak semua itu menjadi perhatian kita, belum nanti kita berbicara tentang kualitas sumber daya ASN maupun tenaga-tenaga honorer yang ada dibawah Kementerian Agama.

Kalau kemarin kita sempat dibuat gaduh terhadap isu tentang akan dihapusnya pelajaran agama, ini akan menjadi momok yang menakutkan bagi kita semua. Bahkan saya juga sangat miris khusus untuk di Jawa Barat guru-guru agama ASN itu hampir sekitar 6.000 dalam kondisi pensiun, dan sampai saat ini keberadaan guru agama tersebut juga belum ada penggantinya. Sehingga banyak sekolah-sekolah regular yang memang guru agamanya sangat dibutuhkan, sementara ini ditanggulangi oleh guru-guru olah raga, guru-guru kesenian yang memang notabene mereka tidak paham. Pelajaran agama ini kan bukan masalah kita memberikan teorinya saja tetapi ada hal lain mengenai urusan keagamaan yang harus menjadi bagian dari keimanan mereka.

Nah ini adalah PR utama dari Kementerian Agama, yang menurut saya harus dikaji kembali, bahkan kalau kita bicara Covid 19 kita tahu bahwa paska

Covid 19 ini kan bukan hanya Tahun 2021, tapi sampai dengan akhir 2022

menjadi perhatian kita semua, termasuk juga masalah ekonomi. karena dampak dari paska Covid 19 ada tiga hal komponen yang menjadi catatan saya. Pertama adalah revitalisasi fasilitas kesehatan dan pola hidup masyarakat yang lebih baik.

Yang kedua jarring pengaman sosial yang memang tepat guna dibutuhkan oleh masyarakat.

Dan yang ketiga mengenai stimulus ekonomi berbasis ekonomi gotong royong.

60

Nah saya belum melihat dari apa yang disampaikan Pak Menteri Agama untuk Tahun 2021 bahwa dari 5 program yang menjadi prioritas bagi Bapak, kemudian ada 18 kegiatan prioritas disitu disampaikan dengan jelas ada pengembangan ekonomi umat dan sumber daya keagamaan, kemudian penataan kelembagaan dan proses bisnis, tetapi kami tidak tahu itu ada dimana?

Seperti tadi yang disampaikan Pak Iskan kita ini tidak tahu detail satuan tiganya seperti apa? Padahal kita harus juga mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang menyangkut apa yang tadi Bapak anggarkan.

Mohon kiranya Pimpinan, dengan kejadian ini menjadi pelajaran buat kita semua, kita tidak ingin menghambat, kita ingin membantu Kementerian Agama agar bisa lebih maksimal, bisa optimal mempunyai program yang tepat sesuai dengan kondisi yang ada, dan mudah-mudahan dengan apa yang kita sampaikan ini bisa menjadi perhatian Bapak.

Diluar itu Pimpinan yang terakhir saya sampaikan bahwa kita ini di DPR juga sudah membahas undang-undang, rancangan undang-undang cipta kerja. Dimana Kementerian Agamapun menjadi bagian dari regulasi perizinan khususnya mengenai sertifikasi halal. Tentang BPJPH, saya coba tadi ikuti dari awal sampai akhir ternyata anggaran BPJPH yang Bapak anggarkan di Kementerian Bapak dari tahun ke tahun ini menurun, 2019 dianggarkan Rp200 miliar memang serapannya tidak terlalu bagus 49 atau 43%. Kemudian dianggaran Tahun 2020 dianggarkan sampai dengan Rp100 miliar lebih alhamdulillah meskipun baru semester pertama sudah hampir 82%, bahkan salah satu Eselon yang memang penyerapannya paling tinggi di Kementerian Agama, tetapi sayangnya kenapa justru pada saat pemerintah serius membuat rancangan undang-undang cipta kerja dimana sertifikasi harus menjadi bagian utama kok dukungan anggaran yang kita anggarkan justru berkurang hanya sekitar Rp96 miliar. Ini mohon menjadi kajian kita semua dan saya sepakat Pimpinan sebaiknya kita minta Kementerian Agama untuk merevisi kembali program dan kegiatan yang tepat sasaran sehingga kita bisa memberikan yang terbaik untuk umat yang ada di Indonesia.

Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Selanjutnya ibu Dra. Hj. Anisah Syakur, M.Ag. silakan ibu. Ibu dimana ini di Surabaya atau dimana? O silakan

61

F-PKB (Dra. Hj. ANISAH SYAKUR, M.Ag.): Di Surabaya.

KETUA RAPAT:

Dokumen terkait