• Tidak ada hasil yang ditemukan

PADA SISWA KELAS XI-A2 SMAN TANJUNGSARI Sad

Dalam dokumen Spektrum Jurnal Pendidikan Vol 2 (Halaman 63-73)

Dimyati & Mudjiono 2006 Belajar dan Pembelajaran Jakarta: Rineka Cipta Rachmadiarti 2001 Pembelajaran Kooperatif Surabaya: University Press.

PADA SISWA KELAS XI-A2 SMAN TANJUNGSARI Sad

Pengajar Bidang Studi Agama SMAN Tanjungsari [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam materi membiasakan perilaku terpuji melalui model kontekstual. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI-A2 di SMA Negeri Tanjungsari. Metode penelitian yang digunakan melalui pendekatan kualitatif dengan desain penelitiannya menerapkan penelitian tindakan kelas dan rancangan penelitian yang digunakan mengacu pada model spiral. Model spiral ini mengacu pada empat komponen yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observasing), dan refleksi (reflecting). Instrumen yang digunakan terdiri dari lembar observasi kinerja guru dan aktivitas siswa, lembar wawancara, catatan lapangan, dan tes yang diolah diperoleh rata-rata kelas pada siklus I sebesar 67%, siklus II sebedar 74%, dan siklus III sebesar 80%. Berdasarkan hasil uji perbedaan rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol, didapatkan bahwa penggunaan model konstekstual pada pembelajaran kontekstual interaktif pada materi membiasakan perilaku terpuji, secara signifikan lebih efektif dalam meningkatkan pembiasaan perilaku terpuji dibandingkan dengan pembelajaran kontekstuall interaktif tanpa menggunakan model kontekstual.

Kata Kunci: pembelajaran, Agama Islam, kontekstual Pendahuluan

Pada saat ini, para siswa dihadapkan pada tantangan era globalisasi. Era ini ditandai dengan beberapa karakteristik yang harus dimilki oleh masyarakat, yaitu harus memiliki keterampilan dasar (membaca, menulis, berhitung), juga ditutntut untuk memiliki kemampuan untuk belajar sepanjang hayat, mengelola informasi, mengelola sumber daya, mengelola hubungan sosial, mengelola diri, bersikap fleksibel, memecahkan masalah, mengambil keputusan, beradaptasi, berpikir kreatif, memotivasi diri, dan menyusun pertimbangan, serta lkemampuan lainnya yang diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain.

Untuk menyiapkan masyarakat yang disebutkan di atas, pendidikan adalah upaya yang sangat strategis untuk membentuk karakteristik masyarakat yang dituntut seperti yang dikemukakan dia atas. Salah satu mata pelajaran yang berkontribusi besar terhadap pembentukan watak dan karakteristik yang dituntut seperti dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 di kelas XI, yang perlu diajarkan kepada siswa dengan ruang lingkup pembelajaran fiqih dengan Standar Dasar: ―Membiasakan perilaku menghargai karya orang lain dalam kehidupan sehari-hari‖, (Depdiknas, 2006:8). Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, perlu seorang guru merancang yang dapat melibatkan aktivitas siswa.

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, maka guru perlu memahami cara pembelajaran yang tepat, sehingga siswa lebih mudah memahami suatu konsep pembelajaran membiasakan perilaku terpuji. Salah satu cara agar pembelajaran membiasakan perilaku terpuji dapat dipahami oleh para siswa tersebut adalah menggunakan pembelajaran kontekstual yang tepat sebagai model yang dapat menjelaskan konsep pembelajaran membiasakan perilaku terpuji.

Penulis menemukan masalah bahwa pada umumnya para siswa masih kesulitan dalam membiasakan perilaku terpuji. Hal ini dibuktikan pada kelas XI-A2 dari siswa yang berjumlah 21 orang, hanya 8 orang atau 38% yang mencapai KKM dan sisanya 13 orang atau 62% belum mencapai KKM.

Dari data di atas, maka siswa kelas XI-A2 SMAN Tanjungsari perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran membiasakan perilku terpuji. Untuk membantu agar siswa tidak lagi mengalami kesuliatan dalam menyelesaikan soal membiasakan perilaku terpuji diperlukan model yang dapat menguhubungkan masalah pembelajaran dengan kehidupan anak yang realistis, maka upaya yang dilakukan oleh penulis adalah menerapkan model pembelajaran kontekstual.

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Berdasarkan paparan di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian pada permasalahan tersebut dengan mengambil judul ―Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Materi membiasakan perilaku Terpuji Melalui Model Kontekstual Kelas XI-A2 SMAN Tanjungsari.‖

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

a. Bagaimana proses pembelajaran penerapan model pembelajaran kontekstual dalam upaya mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran membiasakan perilaku terpuji di kelas XI-A2 SMAN Tanjungsari?

b. Bagaimana hasil pelaksanaan model pembelajaran kontekstual dalam upaya mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran membiasakan perilaku terpuji di kelas XIA2 SMAN Tanjungsari?

Memperhatikan masalah yang telah penulis rumuskan sebelumnya, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut.

a. Mengetahui sejauh mana proses pembelajaran penerapan model pembelajaran kontekstual dalam upaya mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran membiasakan perilaku terpuji di kelas XI-A2 SMAN Tanjungsari.

b. Mengetahui hasil pelaksanaan proses pembelajaran penerapan model pembelajaran kontekstual dalam upaya mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran membiasakan perilaku terpuji di kelas XI-A2 SMAN Tanjungsari.

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Bagi Siswa

 Dapat memahami pembelajaran membiasakan perilaku terpuji yang dijelaskan oleh guru.

 Dapat memudahkan penyelesaian soal-soal membiasakan perilaku terpuji yang diberikan oleh guru.

 Memperoleh gambaran dengan jelas tentang membiasakan perilaku terpuji dengan model kontekstual.

2) Bagi Guru

 Dapat mempermudah cara pembelajaran membiasakan perilaku terpuji kepada siswa.

 Dapat menjadi bekal pengalaman dan pengetahuan bagi pembelajaran membiasakan perilaku terpuji.

 Dapat menambah model pembelajaran dengan menampilkan bukti nyata dalam menerapkan konsep membiasakan perilaku terpuji.

Kajian Teori

Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Mata pelajaran pendidikan Agama Islam perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari tingkat dasar sampai dengan tingkat menengah untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.

Perlunya belajar Pendidikan Agama Islam adalah untuk manusia agar berpikir, karena Pendidikan Agama Islam disajikan dengan keabsahan dari pemikiran kebenaran yang tidak bisa diragukan lagi manfaatnya dalam kehidupan.

Pendidikan Agama Islam merupakan alat bantu dan pelayanan ilmu yang tidak hanya untuk Pendidikan Agama Islam itu sendiri tetapi juga untuk ilmu-ilmu yang lainnya, baik untuk kepentingan teoritis maupun kepentingan praktis sebagai aplikasi dari Pendidikan Agama Islam.

Ruseffendi berpendapat bahawa Pendidikan Agama Islam diajarjan di SMA adalah menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islm sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah (Depdiknas, 2006:2). Selain itu Pendidikan Agama Islam diajarkan di SMA mempunyai kelebihan dari kebanyakan ilmu pengetahua, maka perlu disajikan dalam bentuk berbagai cara pembelajaran agar manrik, melekat, dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari gur ke siswa.

Dalam nkelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.

Menurut Trianto (2007:101) mengemukakan, kontekstual adalah sebuah konsep yang membantu guru menghubungkan isi mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga kerja.

Pembelajaran kontekstual bukan merupakan sesuatu yang baru. Penerapanan pembelajaran kontekstual di Amerika Serikat pertamma kali diusulkan oleh Dewey (1916) mngusulkan bahwa suatu kurikulum dan metodologi pengejaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman siswa (Trianto, 2007:101).

Pembelajaran kontekstual merupkan suatu proses pendidikan yang holistic dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengakaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswwa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya.

Pendekatan kontekstual menekankan pada proses berpikir yang tingkatnya lebih tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin, serta pengumpulan, analisis, dan sintesis informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan. Trianto berpendapat ada enam unsur kunci kontekstual, yaitu, (1) Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi dan penghargaan pribadi siswa bahwa dia berkepentingan terhadap materi yang harus dipelajari; (2) Penerapan pengetahuan: kemampuan untuk melibatkan bagaimana materi yang dipelajari dalam aplikasinya pada saat sekarang dan masa yang akan datang; (3) Berpikir tingkat lebih tinggi: siswa dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu, atau memecahkan masalah; (4) Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar: materi pengajarn berstandar local, nasional, atau industri; (5) responsif terhadap budaya: pendidik harus memahami dan menghormati nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaansiswa, sesame rekan pendidik, dan masyarakat setempat; (6) penilaian autentik: penggunaan berbagai macam strategi penilaian yang secara valid mencerminkan hasil belajar sesungguhnya yang diharapkan dari siswa (2007:102-103).

Pendekatan ini mengasumsikan pikiran seseorang secara alami akan mencari makna konteks sesuai dengan lingkungannya. Hal ini dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat. Keterpaduan materi pembelajaran dengan

konteks keseharian siswa akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam di mana siswa memiliki pemahaman masalah yang luas dan cara penyelesaiannya. Metode Penelitian

Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatitf, dengan disain berupa observasi (Moleong, 2004:3) .

Populasi penelitian adalah siswa kelas XI-A2 SMA Negeri Tanjungsari Tahun Pelajaran 2008-2009 yang berjumlah 21 orang yang terdiri dari 14 orang laki-laki dan 7 orang perempuan.

Metode pengumpulan data yang dipergunakan oleh penulis adalah observasi, wawancara, dan hasil tes belajar. Instrumen penelitian berupa tes, angket, dan lembar observasi kegiatan pembelajaran. Dalam lembar wawancara dilakukan langsung kepada guru dan siswa untuk mengetahui pelaksanaan dan hambatan-hambatan yang ditemukan dalam penerapan model pembelajaran kontekstual. Lembar observasi dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan dan hambatan-hambatan yang ditemukan dalam penerapan model pembelajaran kontekstual pada siswwa di kelas XI-A2. Soal tes hasil belajar diperlukan untuk mengetahui keefektifan penerapan model pembelajaran

Untuk memperbaiki dan meningkatkan pemahaman pembelajaran yang dikembangkan Kemmis dan MC. Taggart (dalam Wiraatmaja, 2005:66) gambar spiral refleksi dapat terlihat di bawah ini.

Gambar 1

Modifikasi Model Spiral Menurut Kemmis dan Taggart

Observasi

Refleksi

Pelaksanaan

Tindakan

Refleksi

Rencana

Tindakan III

Pelaksanaan

Tindakan

Observasi

Rencana

Tindakan II

Rencana

Tindakan I

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dalam melasanakan pembelajaran, tentunya penulis mengalami kesuliatan dalam memenetukan metode yang cocok dalam menyelesaikan soal membiasakan perilaku terpuji. Kegiatan orientasi dan identifikasi masalah berfokus pada pelaksanaan pembelajaran membiasakan perilaku terpuji melalui model kontekstual di kelas XI-A2 SMAN Tanjungsari. Data hasil penelitian sebelum memakai metode kontekstual dari siswa kelas XI-A2 SMAN Tanjungsari yang berjumlah 21 orang, hanya 8 orang atau 38% yang mencapai KKM dan sisanya atau 62% belum mencapai KKM, seperti terlihat pada Gmbar 01 di bawah ini.

Gambar 01 KKM Data

Dari data di atas, maka siswa kelas XI-A2 SMAN Tanjungasri perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran membiasakan perilaku terpuji. Unruk membantu agar siswa tidak lagi mengalami kesuliatan dalam menyelesaikan soal membiasakan perilaku terpuji diperlukan model pembelajaran kontekstual, hal ini telihat dalam siklus I prestasi belajar siswa mengalami peningkatan.

Setelah melakukan pembelajaran kontekstual, maka siswa XI-A2 SMAN Tanjungsari dalam menyelesaikan soal membiasakan perilaku terpuji mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari 21 siswa sebanyak 16 orang atau setara 76% yang mencapai KKM dan sebanyak 5 orang atau setara 24% belum mencapai KKM. Berdasarkan hasil pengolahan data maka hasil prestasi belajar siswa dari pembelajaran siklus I, keadaan siswa yang mengalami peningkatan ini terlihat dalam Gambar 02.

Gambar 02 KKM Siklus I

Pada siklus II terjadi lagi peningkatan hasil belajar siswa dalam mengerjakan soal membiasakan perilaku terpuji, dari 21 siswa sebanyak 19 orang atau 90% yang mencapai KKM dan sebanyak 2 orang atau 10% yang belum mencapai KKM dengan rata-rata kelas 74. Berikut ini hasil belajar siswa dalam hasil observasi perbaikan pembelajaran membiasakan perilaku terpuji dapat terlihat dalam Gambar 03 di bawah ini.

Gambar 03 KKM Siklus II

Pada siklus III terjadi lagi peningkatan dalam hasil mengerjakan soal membiasakan perilaku terpuji, terbukti semua siswa kelas XI SMAN Tanjungsari yang berjumlah 21 orang sudah mencapai KKM 100% dengan rata-rata kelas 80. Untuk lebih jelasnya, peningkatan hasil tiap siklus dari data awal sampai dengan siklus III dapat terlihat pada Gambar 04 di bawah ini.

Gambar 04 KKM Peningkatan Siswa

Melalui tiga siklus penelitian tersebut terdapat peningkatan yang signifikan, jika dibandingkan dengan kemampuan para siswa sebelum diberikannya tindakan berdasarkan data awal observasi penelitian. Peningktah ini dikarenakan membiasakan perilaku terpuji melalui pembelajaran model pembelajaran kontekstual dilaksanakan sesuai dengan model pembelajaran kontekstual yang sistematis dan bertahap yang mengacu pada pola tujuh komponen utama pembelajaran yang efektif, yaitu:

1. Kontstruktivisme; 2. Bertanya;

3. Menemukan; 4. Masyarakat Belajar; 5. Pemodelan;

6. Refleksi;

7. Penilaian Sebenarnya.

Pendekatan ini mengamsumsikan pikiran seseorang secara alami akan mencari makna konteks sesuai dengan lingkungannya. Hal ini dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat. Keterpaduan materi pembelajaran dengan konteks keseharian siswa akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam di mana siswa memiliki pemahaman masalah yang luas dan cara penyelesaiannya. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan berdasarkan kepada teori-teori atau konsep-konsep dasar yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran pendekatan kontekstual dalam mengatasi kesuliatan siswa dalam mengerjakan soal membiasakan perilaku terpuji di kelas XI-A2 SMAN Tanjungsari, meliputi tahap kontruktivisme, tahap inqquiry (menemukan), tahap questioning (bertanya), tahap learning community (masyarakat belajar), tahap modeling (pemodelan), tahap reflection (refleksi), tahap authentic assessment (penilaian yang sebenarnya).

Hasil dari pelaksanaan membiasakan perilaku terpuji melalui model pembelajaran kontekstual pada siswa XI-A2 SMAN Tanjungsari adalah peningkatan rata-rata pada data awal 38%, namun setelah dilaksanakannya model pembelajarn kontekstual, maka siklus I sebesar 76%, siklus II 90%, dan siklus III menjadi 100%. Saran-saran

Ada beberapa saran atau rekomendasi yang perlu penulis sampaikan sebagai implikasi dari hasil penelitian ini, antara lain adalah seorang guru harus memperluas wawasan pengetahuan dan keterampilan mengenai penerapan pendekatan kontekstual. Seorang guru harus mempermudah pelaksanaan pembelajaran membiasakan perilaku terpuji. Untuk siswa perlu memotivasi dan membangkitkan pembiasaan perilaku terpuji, sedangkan untuk lembaga perlu memberikan kontribusi dalam meningkatkan kemampuan pembelajaran membiasakan perilaku terpuji, serta dijadikan salah satu model pembelajaran yang relevan dengan permasalahan yang terjadi di sekolah. DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1994. Pendidikan Agama Islam 2. Jakarta: Depdikbud Depdiknas. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas. Depdiknas. 2003. Pedoman Penelitian Karya Ilmiah. Bandung: UPI. Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas. Depdiknas. 2005. Pembelajaran Kontekstual. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas. Hawa, S. dkk. 2007. Pendidikan Agama Islam di SMA. Jakarta: Depdiknas.

Hidayat, dkk. 2003. Belajar Pendidikan Agama Islam 3. Bandung: PT Sarana Panca Karyanusa.

Moleong. 2004. Metedologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosma Karya. Muchtar, A.K. 1997. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Depdikbud.

Rachmat, dkk. 2005. Belajar Pendidikan Agama Islam. Badung: PT Sarana Panca Karyanusa.

Ruseffendi, E.T. 1992. Pendidikan Agama Islam 3. Jakarta: Universitas Terbuka. Subarinah. 2005. Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar.

Jakarta: Depdiknas.

Trianto. 2007. Model-Model pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Windayana, H. 2004. CTL dalam Pembelajaran Matematik SMA Seiringa KBK. Bandung: Jurnal Pendidikana Dasar UPI.

INOVATIF PADA KELAS X DI SMA NEGERI JATINANGOR

Dalam dokumen Spektrum Jurnal Pendidikan Vol 2 (Halaman 63-73)