2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Penerimaan Daerah
2.3.1 Pajak daerah
Pajak adalah salah penerimaan negara atau daerah yang diperoleh melalui pungutan terhadap masyarakat untuk digunakan sebagai anggaran dalam pembelanjaan negara atau daerah. Menurut Siahaan (2005) secara umum pajak
adalah pungutan dari masyarakat oleh negara (pemerintah) berdasarkan undang-undang yang bersifat dapat dipaksakan dan terutang oleh orang yang wajib membayarnya dengan tidak mendapatkan prestasi kembali (kontra prestasi/balas jasa) secara langsung, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran negara dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Pembayarannya bersifat paksaan. Pengenaan pajak berdasarkan undang-undang akan menjamin adanya keadilan dan kepastian hukum bagi pembayar pajak sehingga pemerintah tidak sewenang-wenang menetapkan besarnya pajak.
Selanjutnya Siahaan menyebutkan bahwa ditinjau dari lembaga pemungutnya, jenis pajak dibagi dua yaitu pajak pusat dan pajak daerah. Setiap tingkatan ini hanya dapat memungut pajak yang ditetapkan menjadi kewenangannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya tumpang tindih (perebutan kewenangan) dalam pemungutan pajak terhadap masyarakat. Pajak pusat adalah pajak yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah pusat dan pembangunan. Pajak yang termasuk pajak pusat adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai atas barang dan jasa (PPn), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Materai, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), serta Bea Masuk, Bea Keluar (Pajak Ekspor) dan Cukai. Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh daerah kepada orang pribadi atau badan tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah. Pemerintah daerah di Indonesia dibagi dua yaitu provinsi dan kabupaten/kota yang diberi kewenangan melaksanakan otonomi daerah maka pajak daerah di Indonesia dibagi dua yaitu pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota.
Siahaan berikut ini menjelaskan tentang pengertian objek, subjek dan wajib pajak, tarif pajak, dasar pengenaan dan penghitungan pajak, pemungutan pajak, pembagian hasil penerimaan pajak daerah kabupaten, dan biaya pemungutan pajak daerah, serta bagaimana mekanisme pemeriksaan pajak daerah.
1) Objek, subjek, dan wajib pajak
Menurut Siahaan (2005), untuk dapat mengenakan pajak, satu syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah adanya objek pajak yang dimiliki oleh wajib pajak. Pada dasarnya objek pajak merupakan manifestasi dari taatbestand (keadaan yang nyata). Dengan demikian, taatbestand adalah keadaan, peristiwa, atau perbuatan yang menurut peraturan perundang-undangan pajak dapat dikenakan pajak. Tanpa terpenuhinya taatbestand tidak ada pajak terutang yang harus dipenuhi atau dilunasi. Pemberlakuan suatu jenis pajak daerah pada suatu provinsi atau kabupaten/kota ditetapkan oleh peraturan daerah. Untuk mengetahui apa yang menjadi objek pajak harus dilihat apa yang ditetapkan oleh peraturan daerah dimaksud sebagai objek pajak.
Subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak daerah. Dengan demikian, siapa saja baik perorangan atau badan yang memenuhi syarat objektif yang ditentukan dalam suatu peraturan daerah tentang pajak daerah akan menjadi subjek pajak. Sementara itu, wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan perpajakan daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang, termasuk pemungut atau pemotong pajak dari wajib pajak.
2) Tarif pajak
Salah satu unsur penghitungan pajak yang akan menentukan besarnya pajak terutang yang harus dibayar oleh wajib pajak adalah tarif pajak sehingga penentuan besarnya tarif pajak yang diberlakukan pada setiap jenis pajak daerah memegang peranan penting. Tarif pajak daerah yang dapat dipungut oleh pemerintah daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang ditetapkan dengan pembatasan tarif tertinggi, yang berbeda-beda untuk setiap jenis pajak daerah.
Penetapan tarif pajak provinsi berbeda dengan penetapan tarif kabupaten/kota yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah. Tarif pajak provinsi ditetapkan seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam peraturan pemerintah. Penetapan tarif yang seragam ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaanya bersifat netral terhadap wajib pajak sehingga dapat dihindarkan praktik pemanfaatan tarif pajak yang lebih rendah pada daerah tertentu.
Sedangkan tarif pajak untuk kabupaten/kota ditetapkan tidak seragam. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa tarif yang berbeda untuk jenis pajak kabupaten/kota tidak akan memengaruhi pilihan lokasi wajib pajak untuk melakukan kegiatan yang dikenakan pajak.
3) Dasar pengenaan dan perhitungan pajak
Dasar pengenaan pajak kabupaten/kota adalah sebagaimana di bawah ini: (1) Pajak Hotel dikenakan atas jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel; (2) Pajak Restoran dikenakan atas jumlah pembayaran yang dilakukan kepada
restoran;
(3) Pajak Hiburan dikenakan atas jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar untuk menonton dan atau menikmati hiburan;
(4) Pajak Reklame dikenakan atas nilai sewa reklame yang didasarkan atas nilai jual objek Pajak Reklame dan nilai strategis pemasangan reklame;
(5) Pajak Penerangan Jalan dikenakan atas nilai jual tenaga listrik yang terpakai; (6) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C dikenakan atas nilai jual hasil
pengambilan bahan galian golongan C; dan
(7) Pajak Parkir dikenakan atas penerimaan penyelenggaraan parkir yang berasal dari pembayaran atau yang seharusnya dibayar untuk pemakaian tempat parkir kendaraan bermotor.
Besarnya pokok pajak dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak. Cara perhitungan ini digunakan untuk setiap jenis pajak daerah:
4) Pemungutan pajak
Menurut Siahaan (2005), pemungutan pajak daerah saat ini menggunakan tiga sistem pemungutan pajak sebagaimana tertera di bawah ini:
(1) Dibayar sendiri oleh wajib pajak. Sistem ini merupakan sistem pengenaan pajak yang memberi kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, melaporkan sendiri pajak yang terutang dengan menggunakan SPTPD (Surat Pemberitahuan Tagihan Pajak Daerah). Sistem ini dinamakan dengan self assessment;
(2) Ditetapkan oleh kepala daerah, yaitu sistem pengenaan pajak yang dibayar oleh wajib pajak setelah ditetapkan dulu oleh pemerintah daerah atau pejabat yang ditunjuk melalui Surat Ketetapan Pajak Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan; dan
(3) Dipungut oleh pemungut pajak, yaitu sistem pengenaan pajak yang dipungut oleh pemungut pajak pada sumbernya.
Dalam melaksanakan sistem pemungutan pajak mana yang akan diterapkan pada suatu jenis pajak daerah, kepala daerah (gubernur atau bupati/walikota) menetapkan jenis pajak yang dibayar sendiri oleh wajib pajak, ditetapkan oleh kepala daerah atau dipungut oleh pemungut pajak. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kepastian dalam pemungutan suatu jenis pajak daerah di setiap daerah yang memberlakukannya.
Dalam pelaksanaannya, pemungutan pajak daerah tidak dapat diborongkan. Artinya, seluruh proses kegiatan pemungutan pajak tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Walaupun demikian, dimungkinkan adanya kerja sama dengan pihak ketiga dalam proses pemungutan pajak, antara lain pencetakan formulir perpajakan, pengiriman surat-surat kepada wajib pajak, penghimpunan data objek dan subjek pajak. Kegiatan yang tidak bisa dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan penghitungan besarnya pajak yang terutang, pengawasan penyetoran pajak, dan penagihan pajak.
5) Pembagian hasil penerimaan pajak daerah kabupaten
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 pasal 2A ayat 3 mengatur bahwa hasil penerimaan pajak kabupaten, baik yang telah ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 maupun yang ditetapkan sendiri dengan peraturan daerah, diperuntukkan paling sedikit sepuluh persen (10%) bagi desa di wilayah kabupaten yang bersangkutan. Bagian desa yang berasal dari pajak kabupaten ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten dengan memerhatikan aspek dan potensi antar desa.
6) Biaya pemungutan pajak daerah
Sesuai dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 35 Tahun 2002, dalam rangka kegiatan pemungutan pajak daerah dapat diberikan biaya
pemungutan, yang ditetapkan paling tinggi sebesar lima persen dari realisasi penerimaan pajak daerah. Persentase besarnya biaya pemungutan ditetapkan dalam peraturan daerah.
Alokasi biaya pemungutan bagian aparat pelaksana pemungutan diatur lebih lanjut oleh kepala daerah atau pimpinan perusahaan/instansi yang bersangkutan. Alokasi biaya pemungutan bagian aparat penunjang diatur lebih lanjut oleh Menteri Dalam Negeri untuk bagian tim pembina pusat; Kapolri untuk bagian kepolisian; dan pimpinan instansi/lembaga penunjang yang bersangkutan untuk bagian aparat penunjang lainnya.
7) Pemeriksaan pajak daerah
Pemeriksaan pajak daerah adalah suatu proses yang diperlukan dalam pemungutan pajak untuk membuktikan kebenaran pelaksanaan kewajiban perpajakan yang diatur oleh undang-undang. Pemeriksaan pajak daerah menghendaki kerja sama yang baik dari wajib pajak yang diperiksa. Oleh karena itu, wajib pajak yang diperiksa wajib:
(1) Memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya, dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek pajak yang terutang;
(2) Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan, termasuk memberikan kesempatan kepada petugas untuk melakukan pemeriksaan kas; dan
(3) Memberikan keterangan yang diperlukan.
Apabila wajib pajak tidak dapat memenuhi kewajibannya yang berkaitan dengan pemeriksaan pajak, dikenakan penetapan secara jabatan.