2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Penerimaan Daerah
2.3.2 Retribusi daerah
Retribusi adalah pembayaran wajib dari penduduk kepada negara karena adanya jasa tertentu yang diberikan negara bagi penduduknya secara perorangan. Jasa tersebut dapat dikatakan bersifat langsung, yaitu hanya yang membayar retribusi yang menikmati balas jasa dari pemerintah. Sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan di Indonesia, saat ini penarikan retribusi hanya dapat dipungut oleh pemerintah daerah sehingga disebut retribusi daerah. Menurut Siahaan (2005), retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Selanjutnya dijelaskan tentang pengertian objek dan golongan retribusi, jenis retribusi, penghitungan tarif retribusi, peraturan daerah tentang retribusi, pemeriksaan dan pembagian hasil retribusi daerah.
1) Objek dan golongan retribusi daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Pasal 18 ayat 1 menentukan bahwa objek retribusi adalah berbagai jenis jasa tertentu yang disediakan oleh pemerintah daerah. Jasa tertentu tersebut digolongkan ke dalam 3 golongan yaitu jasa umum, jasa usaha, dan perizinan tertentu.
(1) Jasa umum, yaitu jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Jasa umum seperti pelayanan kesehatan dan persampahan. Jasa yang tidak termasuk jasa umum adalah jasa urusan umum pemerintahan; (2) Jasa usaha, yaitu jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan
menganut prinsip-prinsip komersil karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta. Contoh: penyewaan aset pemerintah daerah, penyediaan tempat penginapan, usaha bengkel kendaraan, tempat pencucian mobil, dan penjualan bibit; dan
(3) Perizinan tertentu, yaitu kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan sebagai pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
Retribusi daerah dibagi atas 3 golongan yaitu:
(1) Retribusi jasa umum, yaitu retribusi atas jasa yang disediakan atau yang diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum sarta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan;
(2) Retribusi jasa usaha, yaitu retribusi atas jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh swasta; dan
(3) Retribusi perizinan tertentu, yaitu retribusi atas kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
2) Jenis retribusi daerah
Jenis retribusi daerah dapat diklasifikasikan dalam 3 bagian yaitu : (1) Retribusi jasa umum
Retribusi jasa umum yaitu sebagai berikut: retribusi pelayanan kesehatan, retribusi pelayanan persampahan, retribusi penggantian biaya cetak KTP dan akta catatan sipil, retribusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat, retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum, retribusi pelayanan pasar, retribusi pengujian kendaraan bermotor, retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran, retribusi penggantian biaya cetak peta, dan retribusi pengujian kapal perikanan.
(2) Retribusi jasa usaha
Objek retribusi jasa usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial. Pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah meliputi:
a. Pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal; dan
b. Pelayanan oleh pemerintah daerah sepanjang belum memadai disediakan oleh pihak swasta.
Jenis retribusi jasa usaha antara lain: retribusi pemakaian kekayaan daerah, retribusi pasar grosir dan atau pertokoan, retribusi tempat pelelangan, retribusi terminal, retribusi tempat khusus parkir, retribusi tempat penginapan, retribusi penyedotan kakus, retribusi rumah potong hewan, retribusi pelayanan pelabuhan kapal, retribusi tempat rekreasi dan olahraga, retribusi penyeberangan di atas air, retribusi pengolahan limbah cair, retribusi penjualan produksi usaha daerah.
(3) Retribusi perizinan tertentu
Mengingat fungsi utama jasa perizinan dimaksudkan untuk mengadakan pembinaan, pengaturan dan pengendalian dan pengawasan, pada dasarnya pemberian izin oleh pemerintah daerah adalah untuk melindungi kepentingan dan ketertiban umum dan tidak harus dipungut retribusi. Karena dalam melaksanakan fungsi tersebut pemerintah daerah memerlukan biaya yang tidak selalu dapat dicukupi dari sumber- sumber penerimaan daerah yang sifatnya umum, maka terhadap perizinan tertentu dapat dipungut retribusi untuk menutupi seluruh atau sebagian biaya pemberian izin tersebut.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 pasal 18 ayat 3 huruf c, retribusi perizinan tertentu ditentukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang diserahkan
kepada daerah dalam rangka asas desentralisasi;
b. Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi kepentingan umum; dan
c. Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari retribusi perizinan.
Jenis retribusi yang termasuk dalam retribusi perizinan tertentu adalah retribusi izin mendirikan bangunan, retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol, retribusi izin gangguan, retribusi izin trayek.
3) Penghitungan retribusi
Besarnya retribusi yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang menggunakan jasa atau perizinan tertentu dihitung dengan cara mengalikan tarif retribusi dengan tingkat penggunaan jasa (Siahaan, 2005):
Selanjutnya Siahaan menambahkan bahwa tingkat penggunaan jasa dapat dinyatakan sebagai kuantitas penggunaan jasa sebagai dasar alokasi beban biaya yang dipikul daerah untuk penyelenggaraan jasa yang bersangkutan. Tarif retribusi adalah nilai rupiah atau persentase tertentu yang ditetapkan untuk menghitung besarnya retribusi daerah yang terutang. Tarif dapat ditentukan seragam atau dilakukan pembedaan mengenai golongan tarif sesuai dengan prinsip dan sasaran tarif tertentu. Pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk meninjau kembali tarif retribusi sacara berkala dan jangka waktu penerapan tarif tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi perkembangan perekonomian daerah berkaitan dengan objek retribusi yang bersangkutan.
4) Peraturan daerah tentang retribusi daerah
Peraturan daerah tentang retribusi daerah sekurang-kurangnya mengatur ketentuan mengenai hal sebagai berikut:
(1) Nama, objek dan subjek retribusi; (2) Golongan retribusi;
(3) Cara mengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan;
(4) Prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya retribusi; (5) Struktur dan besarnya tarif retribusi;
(6) Wilayah pemungutan; (7) Tata cara pemungutan; (8) Sanksi administrasi;
(9) Tata cara penagihan retribusi; (10)Tanggal mulai berlakunya retribusi; (11)Masa retribusi;
(12)Pemberian keringanan, pengurangan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok retribusi dan atau sanksinya; dan
(13)Tata cara penghapusan piutang retribusi yang kedaluwarsa. 5) Pemungutan retribusi daerah
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 pasal 26 pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan. Artinya seluruh proses kegiatan pemungutan retribusi tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Dengan sangat selektif dalam proses pemungutan retribusi, pemerintah daerah dapat mengajak bekerja sama badan-badan tertentu yang karena profesionalismenya layak dipercaya untuk ikut melaksanakan sebagian tugas pemungutan jenis retribusi tertentu secara lebih efisien. Kegiatan retribusi tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga dalam hal penghitungan retribusi yang terutang, pengawasan penyetoran retribusi, dan penagihan retribusi.
Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) atau dokumen lain yang dipersamakan. SKRD adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya pokok retribusi. Tata cara pemungutan retribusi daerah ditetapkan oleh pemerintah daerah.
6) Pemeriksaan
Pemeriksaan retribusi daerah adalah suatu proses yang diperlukan dalam pemungutan retribusi untuk membuktikan kebenaran pelaksanaan kewajiban retribusi yang diatur oleh undang-undang. Pemeriksaan dilakukan dalam rangka pengawasan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi daerah atau tujuan lain dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan retribusi daerah.
7) Pembagian hasil retribusi daerah
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 pasal 18 ayat 5 dan 6 menentukan bahwa hasil penerimaan jenis retribusi tertentu daerah kabupaten sebagian diperuntukkan kepada desa. Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan penerimaan retribusi untuk membiayai kegiatan yang berkaitan dengan retribusi tersebut ditetapkan dengan peraturan daerah.