• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pameran Keanekaragaman Buah (Diversity Fair)

Salah satu upaya membangkitkan kesadaran masyarakat akan buah-buahan tropis yang dimiliki daerah Kalimantan ialah melalui penyelenggaraan Pameran Keragaman Buah-buahan Tropis atau keragaman sumberdaya genetik (Tropical Fruits Diversity Fair). Berbagai buah-buahan kerabat mangga dan jeruk yang tumbuh di Kalimantan Selatan dipamerkan baik tanaman kerabat mangga yang dibudidayakan maupun kerabat liar yang tumbuh di hutan.

Di Kalimantan Selatan, diversity fair mangga sudah dilakukan di Sungai Tabuk pada tanggal 10 November 2011 dan di Telaga Langsat tanggal 24 November 2011dan 2 March 2014 (Gambar 15). Untuk komoditas jeruk dilakukan di Cerbon pada tanggal 12 October 2012 dan di Astambul pada tanggal 20 September 2013 (Gambar 16). Kegiatan yang dilaksanakan memperkenalkan jenis-jenis mangga dan jeruk lokal yang masih ada saat ini dan juga yang hampir punah. Selain itu ditampilkan olahan mangga menjadi makanan atau minuman yang disukai masyarakat. Pengenalan buah lokal yang hampir punah juga dilakukan kepada anak-anak dan remaja melalui lomba menggambar. Hal ini dapat memperkaya pengetahuan mengenai jenis-jenis mangga dan jeruk yang mereka dimiliki, serta kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dampak dari kegiatan ini di Sungai Tabuk dan Astambul ialah timbulnya kesadaran stakeholder terhadap pentingnya melakukan konservasi terhadap sumberdaya genetik tanaman buah lokal, dan adanya manfaat bagi petani dalam melakukan eksplorasi, pengolahan, serta memasarkan tanaman buah tropis yang langka. Sedangkan dampak kegiatan ini di Telaga Langsat dan Cerbon, selain yang disebutkan di atas pemerintah daerah menyiapkan tempat di kompleks perkantoran dan sekolah untuk membangun kebun keragaman tanaman buah tropis.

86

Gambar 15. Pameran keanekaragaman buah mangga di Sungai Tabuk dan Telaga Langsat

Pameran keanekaragaman buah mangga di Sungai Tabuk

87 Gambar 16. Pameran keanekaragaman buah jeruk di Cerbon dan Astambul

Pameran keanekaragaman buah jeruk di Cerbon

Pameran keanekaragaman buah jeruk di Astambul

Pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah:

1. Diversity fairs dapat menimbulkan kesadaran masyarakat dan

stakeholders terhadap tanaman buah tropis.

2. Diversity fair dapat mengeksplor pengetahuan masyarakat tentang resep-resep masakan tradisional atau manfaat lainnya dari tanaman buah tropis.

3. Diversity fair dapat mengeksplor adanya nilai tambah dari buah-buahan tropis lokal yang belum dimanfaatkan.

88

Penutup

Partisipasi masyarakat dalam konservasi alam sangat diperlukan. Partisipasi masyarakat akan timbul bila dari sejak awal perencanaan dan pelaksanaan kegiatan dilibatkan. Komunikasi dua arah antara pelaksana kegiatan dan masyarakat secara terus menerus dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat akan pentingnya konservasi. Hal ini terlihat dari keberhasilan pelaksanaan kegiatan “Conservation and Sustainable Use of

Cultivated and Wild Tropical Fruit Diversity: Promoting Sustainable Livelihoods, Food Security and Ecosystem Services” di Kalimantan Selatan.

Pendekatan CBM cukup efektif dalam pelaksanaan program konservasi tanaman buah tropis, seperti mangga dan jeruk. Hasil yang sangat dirasakan masyarakat dari kegiatan ini ialah: terkonservasinya tanaman buah mangga dan jeruk yang sudah mulai langka, peningkatan pendapatan petani dari penjualan bibit dan pengolahan buah menjadi produk olahan seperti sirop, jam, permen dan jus, serta munculnya kesadaran masyarakat akan penting konservasi tanaman buah tropis terutama yang sudah mulai langka.

Daftar Pustaka

Bioversity International. 2013. ―Workshop On Custodian Farmers Of Agricultural Biodiversity: Policy Support For Their Roles In Use And Conservation, New Delhi, 11-12 February 2013‖. Dilihat 10 Juni 2013. Http://Tft.Atbioversity.Net/Tiki-Index.Php?Page= Workshop+ On+Custodian+Farmers+Of+Agricultural+Biodiversity

Bompard, J.M. and A.J.G.H. Kostermans. 1985. ―Wild Mangiferaspecies in Kalimantan, Indonesia‖ in Mehra, K.L. and S. Sastrapradja (eds.).

Proceeding of the International Symposium on South East Asian Plant Genetic Resources, Jakarta, Indonesia. Bogor: LBN-LIPI.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. 2011. ―Konservasi dan pemanfaatan buah tropis budidaya dan liar: meningkatkan pendapatan, keamanan pangan, dan mendukung ekosistem‖. Laporan Bioversity. (Tidak diterbitkan).

89 Kurniasih, D. et al. ―Farmers‘ Perception on On-farm Conservation of Mango and Citrus Diversity in Indonesia‖ in Indian J. Plant Genet.

Resour, 28(1), h. 7-16. 2015

Gruberg H. et al. 2014. A methodological approach to work with custodian

farmers. Bioversity International. Rome (Italy): Fundación para la

Promoción e Investigación de Productos Andinos (PROINPA), La Paz (Bolivia) is available in English and in Spanish

Jarvis,D. 2007. Participatory Diagnosis Participatory Assessment of Fruit

Tree Diversity:On Farm and in Wild System, Diversity for Livelihoods Programme. Rome (Italy): Bioversity International.

Rechlin M.A. et al. 2008. Community-Based Conservation. is it More

Effective, Efficient and Sustainable? The Gordon and Betty Moore

Foundation.

Sajise, P.E. 2003. ―Agrobiodiversity and Sustainable Development: What,Why and for Whom. In Landscapes of Diversity: Indigenous Knowledge, Sustainable Livelihoods and Resource Governance in Montane Mainland Southeast Asia‖. Proceedings of the III Symposium on

MMSEA 25–28 August 2002. Lijiang,P.R. China. Xu Jianchu and

Stephen Mikesell, eds. pp.289–294. Kunming: Yunnan Science and Technology Press.

Sajise, P.E. 2006. ―Asian Forest, Biodiversity and Sustainable Development‖. Training Workshop on Forest Biodiversity: Conservation and Management of Forest Genetic Resources.

Sastrapradja, S.D. dan Rifai MA. 1989. ―Mengenal Sumber Pangan Nabati dan Sumber Plasma Nutfahnya‖. Bogor: Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional dan Puslitbang Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Seibert, B. 1988. Agroforestry untuk pengawetan sumber genetika. Prosiding

Seminar Agroforestry untuk Pengembangan Daerah Pedesaan di Kalimantan Timur. Samarinda.

90

Siregar, M. et al. 1995. ―Konsep pelestarian pohon buah-buahan dengan sistem lembo pada masyarakat Kutai: Studi kasus di Kecamatan Kota Bangun dan Kenohan, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur‖.

Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani II. Buku 2.

Yogyakarta.

Sthapit, B. et al. 2008. ―Mobilizing and empowering communities in biodiversity management‖. in: Thijssen, MH, Bishaw, Z, Beshir, A & de Boef, WS 2008 (Eds.). Farmers, seeds and varieties: supporting informal seed supply in Ethiopia. Wageningen: International. 13. Sthapit, B. et al. 2011. ―Community Based Approach to On-farm onservation

and Sustainable Use of Agricultural Biodiversity in Asia‖. tft.atbioversity.net/

Soedjito H. dan Uji T. 1987. ―Potensi flora hutan yang kurang dikenal‖.

Prosiding Diskusi Pemanfaatan Kayu Kurang Dikenal. Bogor: Badan

Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, h. 15–43.

Uji, T. 2007. ―Keanekaragaman jenis buah-buahan asli Indonesia dan Potensinya‖. J. Biodiversitas 8(2): 157-167.

Yudohartono, T.P. 2008. Peranan Taman Hutan Raya Dalam KonservasiSumberdaya Genetik : Peluang Dan Tantangannya.

Informasi Teknis, vol. 6, no. 2, Balai Besar Penelitian Bioteknologi

91

Implementasi Community Biodiversity

Management di Jawa Timur

Dian Kurniasih, Putu Bagus Daroini, Haniek Angraeni Dewi

Pendahuluan

Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau yang tersebar di antara dua benua dan dua samudera, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya genetik hortikultura yang berlimpah. Untuk jenis buah-buahan, Indonesia merupakan salah satu dari delapan pusat keanekaragaman genetik tanaman buah-buahan tropika. Berbagai jenis buah-buahan yang tumbuh di Indonesia memiliki keunikan dan karakteristik khas dari segi citarasa, bentuk dan warna. Saat ini, hutan hujan tropis di Indonesia menyimpan lebih dari 532 jenis buah-buahan potensial untuk dikembangkan sebagai sumber pangan dan gizi masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan untuk ekspor (Supriatna 2008). Kekayaan sumber daya genetik tersebut merupakan aset yang menjadi keunggulan kompetitif bangsa Indonesia dan menjadi basis pengembangan sebagian besar sektor perekonomian di Indonesia (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2003).

Buah-buahan Indonesia tumbuh tersebar di seluruh wilayah nusantara, tercatat di Sumatera 148 jenis, Kalimantan 144 jenis, Jawa 96 jenis, Sulawesi 43 jenis, Maluku 30 jenis, Nusa Tenggara 21 jenis, Papua 16 jenis dan 34 jenis lainnya hidup tersebar di daerah-daerah lainnya. Berbagai jenis buah-buahan tersebut sebagian besar merupakan buah-buah-buahan yang hidup di belantara hutan-hutan tropis di Indonesia (Uji 2007). Namun, potensi tersebut kurang dimanfaatkan secara optimal baik untuk konsumsi maupun komersialisasi dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga petani. Pada umumnya, budidaya tanaman buah-buahan tropika yang berkembang di Indonesia ditanam di pekarangan rumah atau secara tumpangsari. Jenis yang dibudidayakan masyarakat terbatas pada jenis buah-buahan yang sudah dikenal memiliki keunggulan cita rasa dan layak untuk dijual. Buah-buahan yang tumbuh liar dan kurang memiliki cita rasa tinggi, belum banyak dibudidayakan oleh petani. Kurangnya perhatian petani dan pemerintah

92

dalam mengembangkan jenis buah-buahan liar, menjadi salah satu faktor pemicu kepunahan berbagai jenis buah-buahan tersebut di samping faktor terjadinya degradasi fungsi hutan akibat laju alih fungsi lahan yang semakin meningkat.

Menurut Supriatna (2008) konservasi yang dilakukan oleh institusi pemerintah lebih menekankan pada konservasi ex situ di kebun-kebun percobaan dan in-situ berupa hutan lindung atau hutan konservasi. Konservasi yang dilakukan secara on-farm di lahan-lahan pekarangan maupun pertanian belum menjadi program prioritas pemerintah. Walaupun konservasi yang dilakukan di lahan-lahan budidaya pertanian/pekarangan milik petani mempunyai kelebihan dalam hal terlibatnya partisipasi masyarakat. Menurut Isager (2001), kegiatan konservasi akan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari petani saat melakukan budidaya pertanian di lahan-lahan yang mereka kelola. Program-program konservasi yang dilakukan oleh pemerintah, perlu mempertimbangkan tiga prinsip utama yaitu : (1) Prinsip keutuhan (holistik) di mana kegiatan konservasi harus mempertimbangkan keadaan dan potensi seluruh komponen ekologi pembentuknya ialah hayati dan non hayati serta kawasan lingkungan yaitu biofisik, ekonomi, politik, dan sosial budaya masyarakat; (2) Prinsip keterpaduan (integrated) yaitu penyelenggaraan pengelolaan kawasan konservasi harus berlandaskan atas pertimbangan hubungan ketergantungan dan keterkaitan antara komponen-komponen pembentuk ekosistem hutan serta pihak-pihak yang berkepentingan terhadap kawasan dalam aspek kehidupan seperti : lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya; (3) Prinsip keberlanjutan/kelestarian (sustainability). Prinsip ini mengandung arti bahwa fungsi dan manfaat ekosistem kawasan konservasi harus dapat dinikmati oleh semua umat manusia dan seluruh kehidupan di muka bumi secara bekelanjutan (Jarvis 2007).

Salah satu upaya Puslitbang Hortikultura untuk melakukan konservasi buah-buahan tropika yang menitik beratkan pada peran serta dan partisipasi masyarakat ialah melalui kegiatan “Conservation and Sustainable Use of

Cultivated and Wild Tropical Fruit Diversity: Promoting Sustainable Livelihoods, Food Security and Ecosystem Services” dilakukan di Jawa

Timur. Kegiatan ini menggunakan pendekatan Community Biodiversity

93 melalui kegiatan-kegiatan yang secara langsung melibatkan peran serta masyarakat lokal.