Dalam hubungannya dengan peluang dan tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan biodiversity, melakukan konservasi tanaman buah tropika di Indonesia sangat penting, terutama yang berhubungan dengan mengurangi kerusakan lingkungan. Konservasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain secara ex-situ, in-situ dan on-farm.
56
Konservasi ex-situ banyak dilakukan oleh lembaga penelitian seperti LIPI dan Badan Litbang Pertanian, namun konservasi ini memerlukan biaya yang besar terutama dalam eksplorasi, koleksi dan pemeliharaan. Dengan keterbatasan sumber daya pemerintah, maka konservasi in-situ dan on-farm dapat dilakukan melengkapi sistem SDG nasional yang sudah terbangun saat ini. Melalui pemberdayaan komunitas, kedua pendekatan konservasi in-situ dan on-farm dianggap dapat memberikan solusi di dalam konservasi, terutama karena tanaman buah tropis banyak terdapat di sekitar tempat tinggal komunitas petani. Kedua konservasi tersebut sangat sesuai dengan karakteristik tanaman buah tropis di Indonesia (Koesrini et al 2006).
Konservasi in-situ pada tanaman buah tropika, menempatkan komunitas sebagai pemain utama karena akan menjadi pihak pertama yang menerima manfaat langsung, seperti panen buah, daun, cabang, dan beberapa bagian tanaman lainnya yang dapat digunakan sendiri maupun dijual. Komunitas lokal dengan kearifan lokalnya akan dapat dengan mudah melakukan konservasi. Hal ini berdasarkan fakta bahwa pemeliharaan keragaman tanaman tergantung pada praktek budidaya petani yang dipengaruhi oleh kebiasaan petani, kebiasaan komunitas, dan kebutuhan masyarakat. Pendekatan konservasi tanaman buah tropis yang mengedepankan partisipasi masyarakat yang disebut dengan community
biodiversity management (CBM). CBM merupakan pendekatan yang bersita
bottom upyang dapat difasilitasi oleh pemerintah, swasta atau LSM, untuk memberdayakan komunitas dan stakeholders lainnya, dalam perencanaan, penelitian, pengembangan, manajemen,dan penyusunan kebijakan terhadap konservasi tanaman buah tropis.
Lebih lanjut, Sthapit et al (2008) menyatakan bahwa konservasi tanaman buah tropis melalui CBM merupakan pendekatan partisipatif yang melibatkan komunitas, dengan memberdayakan petani dan kelompoknya membentuk kelembagaan dan mengembangkan strategi dan rencana yang mendukung budidaya tanaman buah tropis. Hubungan antara CBM, konservasi in-situ and on-farm, serta pemberdayaan dan insentif dapat dilihat pada Gambar 2.
Elemen utama dari CBM tanaman buah tropis mencakup: 1) pengetahuan mengenai keragaman tanaman buah tropis dan pewilayahannya, 2) sistem sosial yang memfasilitasi pemeliharaan dan pertukaran tanaman
57 buah tropis, 3) institusi lokal yang mendukung kelembagaan yang kuat, dan akses terhadap keragaman tanaman buah, 4) teknologi pasca panen dan pengolahan yang dapat memberikan nilai tambah, 5) pengelolaan lembaga keuangan mikro, seperti tabungan dan pinjaman untuk menjamin keberlanjutan konservasi tanaman buah, dan 6) jejaring kelembagaan yang menjamin akses terhadap keragaman. Elemen-elemen seperti ini harus diimplementasikan secara terintegrasi antara komunitas dan lingkungan.
Untuk menjamin implementasi metode CBM ini pada komunitas, terdapat beberapa tahapan intervensi. Tahap pertama dan kedua identifikasi dan seleksi komunitas, serta mempelajari tentang pengetahuan lokal. Kemudian meningkatkan kesadaran komunitas akan konservasi (raising
awareness), modalitas kelembagaan (institutional modalities), kapasitas dan
keahlian (capacities and skills), pengembangan dan implementasi rencana kerja (development and implementation action plan), mobilisasi keuangan mikro (mobilize CBM funds), pembelajaran sosial (social learning), dan pada akhirnya biarkan pemimpin lokal menggerakkan CBM (Sthapit, et al 2008).
Gambar 2. Hubungan antara CBM, konservasi in-situ dan on-farm, serta pemberdayaandan insentif (Sthapit et al 2008)
58
Sthapit (2008) menyatakan bahwa perlu mengimplementasikan perbenihan akar rumput (grassroots breeding) bagi tanaman buah tropis (Gambar 3). Kegiatan pertama di dalam grasroot breeding ialah penyelenggaraan pameran keragaman, yang menunjukkan keanekaragaman semua spesies di lokasi tersebut. Kegiatan yang kedua ialah kajian survei pasar untuk mengetahui selera konsumen terhadap buah tropis. Selanjutnya perlu dibuat blok diversitas untuk menseleksi varietas, mendukung perbenihan dan pemasaran tanaman buah tropis, serta register oleh komunitas. Kegiatan perbenihan penting untuk dilakukan sebagai upaya penyediaan benih untuk menjamin ketersediaan tanaman buat tropis di lapangan.
Pada Tabel 1, terlihat beberapa tahapan CBM. Untuk tahap pertama dan ke-tiga, yaitu meningkatkan kesadaran komunitas, memahami keragaman yang ada di wilayah, meningkatkan jejaring sosial dan institusi, telah dilakukan di semua lokasi di Indonesia. Demikian pula dengan lokasi di Sumatera Barat yaitu Latang dan Kampung Dalam, meskipun masih berada dalam tahap awal, namun telah melakukan tiga tahapan tersebut. Ketiga tahapan tersebut merupakan hal yang sangat mendasar dilakukan sebelum melakukan kegiatan lainnya.
59
Implementasi Community Biodiversity Management
Pengembangan kapasitas komunitas sebagai tahapan kegiatan selanjutnya telah dilakukan di 6 lokasi di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, namun masih sedikit yang diterapkan di Sumatera Barat. Kegiatan pengembangan kapasitas tersebut antara lain pelatihan pembibitan, pembuatan blok diversitas, dokumentasi kegiatan,pengolahan, dan pemasaran. Tahap selanjutnya ialah pembentukan modal kerja kelembagaan, konsolidasi peran komunitas di dalam perencanaan dan implementasi, pengelolaan keuangan mikro, pembelajaran fasilitas sosial serta replikasi model yang sudah dilakukan. Keempat tahapan kegiatan tersebut sudah dilakukan di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Namun demikian, dua lokasi di Sumatera Barat telah melakukan konsolidasi untuk pengembangan peran komunitas di dalam perencanaan dan implementasi.
Melihat perbandingan di antara beberapa lokasi kegiatan tersebut, dua lokasi di Jawa Timur dan dua lokasi di Kalimantan Selatan termasuk ke dalam kategori tinggi dalam implementasi tahapan CBM. Sedangkan dua lokasi di Kalimantan Selatan dan dua lokasi di Sumatera Barat termasuk ke dalam kategori sedang. Namun untuk Indonesia secara keseluruhan, implementasi CBM termasuk ke dalam kategori medium. Hal ini berarti bahwa Indonesia masih harus melanjutkan implementasi tahapan-tahapan CBM berikutnya dan melaksanakan evaluasi di semua lokasi. Untuk kedua lokasi di Sumatera Barat perlu dilakukan perpanjangan kegiatan lebih dari tiga tahun.
60
Tabel 1. Gambaran umum pelaksanaan CBM
Tahapan CBM Lokasi Pelaksanaan CBM
JML TK BM TL ST CR AT LT KD Peningkatan kesadaran komunitas 8 √ √ √ √ √ √ √ √ Pemahaman keragaman lokal 8 √ √ √ √ √ √ √ √
Jejaring sosial dan kelembagaan 8 √ √ √ √ √ √ √ √ Pengembangan kapasitas dan kelembagaan 6 √ √ √ √ √ √ Pengembangan modalitas institusi 4 √ √ √ √ Konsolidasi peran komunitas dalam perencanaan dan implementasi 6 √ √ √ √ √ √ Pengembangan keuangan mikro 4 √ √ √ √ Fasilitasi pembelajaran sosial dan replikasi CBM 4 √ √ √ √ Total 48 8 8 8 8 4 4 4 4 T T T T T S S S S Kategori secara Keseluruhan 50-64 Tinggi 25-49 Sedang 1-24 Rendah Kategori untuk Lokasi 5-8 Tinggi 4-5 Sedang 1-3 Rendah
Sumber: Data Primer, diolah Keterangan :
JML : Jumlah CR : Cerbon TK : Tiron Kediri AT : Astambul BM : Bibis Magetan LT : Latang
TL : Telaga Langsat KD : Kampung Dalam ST : Sungai Tabuk
61 Pada Tabel 2, terlihat gambaran umum beberapa kegiatan konservasi dan penguatan kelembagaan sebagai bagian dari CBM. Pameran diversitas, pembibitan dan perbanyakan benih, register oleh komunitas, pemilihan materi unggulan dan penyusunan katalog buah tropis, merupakan kegiatan yang umum dilakukan. Sebagai suatu metodologi, CBM merupakan suatu proses yang cukup panjang dan independen dari tujuan awal dan organisasi yang memfasilitasi CBM.
Pembibitan merupakan kegiatan yang banyak dilakukan terutama terkait dengan produksi benih. Bersama dengan blok diversitas, kegiatan tersebut merupakan kegiatan utama untuk menbangun modalitas kelembagaan dalam rangka keberlanjutan CBM. Dengan demikian perlu dibangun blok diversitas di dua lokasi di Sumatera Barat. Penggabungan antara agro-biodiversity dan pariwisata dilakukan di dua lokasi di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur. Di Kalimantan Selatan, CBM mangga dihubungkan dengan pasar apung, sedangkan di Jawa Timur CBM jeruk dihubungkan dengan wisata di Telaga Sarangan.
Dalam hubungannya dengan jumlah kegiatan, sebagian besar komunitas melakukan sebelas kegiatan atau lebih yang termasuk ke dalam kategori tinggi. Dengan demikian, Indonesia termasuk ke dalam kategori tinggi. Berdasarkan kajian literature (De Boef, 2013), dan pembelajaran dari negara lain seperti Nepal, Prancis dan Ekuador, dalam mengimplementasikan kegiatan yang berbeda dibandingkan dengan Indonesia. Perbedaan pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan adanya visi yang berbeda dari masing-masing organisasi pelaksana dan kelembagaannya dalam proses CBM.
62
Tabel 2. Gambaran umum kegiatan konservasi dan pengembangan institusi Kegiatan dalam CBM Lokasi CBM JML TK BM TL ST CR AT LT KD Pameran keragaman 8 √ √ √ √ √ √ √ √ Blok diversitas 6 √ √ √ √ √ √ Pembibitan dan perbanyakan benih 8 √ √ √ √ √ √ √ √ Register oleh komunitas 8 √ √ √ √ √ √ √ √ Keragaman dan pendidikan masyarakat 2 √ √ Materi-materi unggulan 6 √ √ √ √ √ √ Katalog buah-buahan 8 √ √ √ √ √ √ √ √ Fruit catalogues 8 √ √ √ √ √ √ √ √ GPD 6 √ √ √ √ √ √ Petani pelestari 6 √ √ √ √ √ √ Keuangan mikro 6 √ √ √ √ √ √ Nilai tambah 4 √ √ √ √ Kajian pasar 5 √ √ √ √ √ Total 83 13 14 13 14 11 11 7 6 T T T T T T T R R
Kategori secara Keseluruhan 67-102 Tinggi 34-66 Sedang 1-33 Rendah Kategori untuk Lokasi 11-14 Tinggi
5-10 Sedang 1-4 Rendah Sumber: Data Primer, diolah
Di dalam makalah ini dikaji pula mengenai para pemangku kebijakan yang memfasilitasi implementasi CBM dan jenis kelembagaannya yang akan
63 membuat proses CBM dapat berkelanjutan di tingkat komunitas (Tabel 3). Penerapan CBM secara keseluruhan dapat membangun dan memperkuat kelembagaan.
Dari analisis stakeholders diperoleh bahwa perguruan tinggi di semua lokasi termasuk ke dalam kategori tidak aktif. Oleh karena itu iperlukan upaya khusus untuk dapat melibatkan secara aktif institusi tersebut. Demikian pula Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan petani individu juga harus diperkuat untuk menjamin keberlanjutan kegiatan konservasi. Pada Tabel terlihat bahwa hanya dua lokasi di Jawa Timur yang masuk ke dalam kategori high, satu lokasi di Kalimantan Selatan (TL) termasuk ke dalam kategori sedang. Sedangkan lokasi lainnya masuk ke dalam kategori rendah. Menurut analisis stakeholder, Indonesia termasuk ke dalam kategori sedang. Ini berarti Indonesia harus mendorong peran dan keterlibatan ketiga pihak tersebut, yaitu perguruan tinggi, LSM dan petani secara individual. Di mana pelaku utamanya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian dan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, harus dapat memotivasi pihak pemerintah daerah dan kemudian mengambil alih pendampingan untuk keberlanjutan implementasi CBM di Indonesia.