• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktek-praktek yang baik pada Kerabat Jeruk (Citrus)

Dalam dokumen KONSERVASI ON-FARM BUAH TROPIKA LOKAL SPESIFIK (Halaman 148-152)

Pamelo (Citrus grandis (L.)Osbeck).

Di Sulawesi Selatan, pamelo awalnya ditemukan di salah satu desa di kecamatan Ma‘rang, kabupaten Pangkajene Kepulauan (Hamidun 2003). Pada tahun 1980an Dinas Pertanian setempat membawa buah tersebut ke pekarangan petani, setelah menyadari bahwa tanaman buah ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kemudian petani megembangkan di perkebunan

136

mereka dan tanaman buah tersebut sekarang telah berkembang secara meluas di Kabupaten Pangkajene Kepulauan dan menjadi tanaman buah prioritas di Sulawesi Selatan. Dua varietas lokal dari daerah ini sudah didaftarkan sebagai varietas nasional. Luas wilayah yang potensial untuk pengembangan pamelo di Sulawesi Selatan ialah 1550 ha dan 443 ha dari luasan tersebut sudah dimanfaatkan.

Teknik budidaya pamelo di kabupaten Pangkajene Kepulauan masih tradisional. Para petani memproduksi bibit sendiri dan menanamnya pada saat berumur 45 hari. Beberapa petani menggunakan pupuk kandang dosis 20-60 kg/ha. Untuk menghindari cekaman kekeringan, digunakan ember kecil yang diisi air dan membenamnya dekat pohon jeruk pamelo. Dengan cara ini menjaga kelembaban udara di sekitar pohon dapat dipertahankan untuk kelangsungan hidupnya. Petani melakukan panen buah pamelo 6 bulan sesudah berbunga, dan memasarkannya baik ke pasar setempat maupun ke pulau Jawa. Rata-rata 8 kontainer masing-masing berisi 7000-8000 buah untuk dikirim ke pulau Jawa setiap musim panen. Para tengkulak mengumpulkan buah pamelo dari petani dan membawanya ke pasar.

Di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pamelo pada umumnya ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain dipekarangan atau daerah aliran sungai secara tidak intensif (Dinas Pertanian 2003). Petani membudidayakan tanaman ini pada skala kecil dan tersebar di seluruh kecamatan dengan teknik budidaya yang relatif masih tradisional. Produksi pamelo yang masih rendah, menjadi kendala dalam pengembangan agribisnis karena memerlukan pasokan produk dengan kualitas yang seragam. Pada tahun 2003, pemerintah daerah membangun beberapa sentra produksi baru, selain membimbing dan mengembangkan sentra produksi yang sudah ada. Sentra-sentra produksi tersebut mencakup areal seluas 130 ha. Bibit yang digunakan untuk pengembangan pamelo di sentra produksi berasal dari pohon induk yang ada di setiap lokasi. Dua aktivitas utama dari pusat ialah memperkenalkan teknologi baru seperti varietas, teknik budidaya, perlindungan tanaman dan teknologi pasca panen; serta memberikan dukungan kepada petani untuk mengakes sumberdaya finansial dan ketrampilan. Petani mendapatkan kredit tanpa bunga secara langsung, sehingga dapat membeli sarana produksi yang dibutuhkan untuk menerapkan

137 teknologi baru. Ketrampilannya juga ditingkatkan melalui penyuluhan, pelatihan dan pelayanan informasi secara berkelanjutan.

Di Magetan, Jawa Timur, produksi pamelo mencapai 20.000 ton per tahun dengan nilai 40 milyar rupiah. Produksi ini berasal dari 1300 ha perkebunan pamelo. Produksi yang tinggi ini menjadikan Magetan sebagai area produksi pamelo terbesar di Indonesia. Di samping pamelo dikonsumsi dalam bentuk segar, kulit buahnya juga digunakan untuk membuat permen. Industri buah ini tumbuh secara mandiri tanpa intervensi pemerintah. Agribisnis berbasis pamelo ini telah meningkatkan pendapatan dan kesejateraan petani di Magetan

Ceritera sukses agribisnis berbasis pamelo di Magetan bermula ketika Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur dan Balai Penelitian Jeruk dan buah sub-tropika memperkenalkan varietas baru yang secara komersial dapat diterima menggantikan varietas lama yang rasanya kurang enak (Supriyanto & Suyamto 2003). Perkebunan-perkebunan pamelo kecil digabung untuk menjadi perkebunan besar. Petani diberdayakan dengan memperbaiki ketrampilannya dan dilakukan pembimbingan melalui kelompok tani. Penerapan teknologi pada perkebunan dibimbing secara intensif oleh peneliti dan penyuluh pertanian. Petak-petak percontohan dibuat di sekitar perkebunan dan klinik agribisnis, di mana petani bisa mendapatkan informasi teknologi yang dibentuk bersama oleh petani, penyuluh dan peneliti. Proses diseminasi dilakukan melalui stasiun radio mini yang mengudara 5 hari seminggu. Hasil dari pembimbingan secara intensif ini nyata memberikan harapan. Selama 3 tahun luas perkebunan Pamelo meningkat seratus persen. Penangkar-penangkar bibit lokal berkembang dan dapat memasok bibit unggul. Industri rumah tangga permen dari kulit pamelo juga berkembang dan menyebar di seluruh kabupaten. Pasar jeruk pamelo segar diperluas dan petani menjadi termotivasi dan sangat menghargai teknologi baru.

Jeruk siam (Citrus reticulata (L.)Osbeck).

Perkebunan jeruk siam di Kalimantan Selatan terkonsentrasi pada 4 kabupaten. Ke empat kabupaten tersebut menjadi sentra produksi jeruk siam di Kalimantan Selatan dan disupervisi oleh Dinas Pertanian provinsi dan Kabupaten melalui program pengembanagan hortikultura. Kabupaten lain

138

mungkin juga memiliki perkebunan jeruk, tapi areanya kecil dan tersebar di beberapa wilayah.

Di Kalimantan Selatan, jeruk siam dibudidayakan pada berbagai agro-ekosistem seperti lahan pasang surut, lahan lebak, lahan sawah tadah hujan dan lahan kering. Pada lahan pasang surut, dan lahan lebak, jeruk ditanam pada tukungan yang dibuat di antara tanaman padi dengan kerapatan populasi berkisar antara 200 - 250 tanaman per hektar. Di lahan kering dan lahan sawah tadah hujan, jeruk ditanam secara monokultur (mono-cropping) dengan kerapatan populasi 400 -500 tanaman per hektar. Penanganan pasca panen seperti screening, grading, packacging dan de-greening jarang dilakukan petani. Pembeli langsung datang ke perkebunan jeruk, kemudian langsung memetiknya dan dibeli. Beberapa pembeli melakukan grading terhadap buah jeruk yang dibeli sebelum menjualnya pada konsumen; beberapa pembeli lainnya menjual langsung ke konsumen buah jeruk dengan ukuran yang beragam. Hal ini menyebabkan keuntungan lebih banyak dinikmati tengkulak daripada petani. Meskipun demikian petani jeruk mendapat penghasilan lebih banyak daripada petani padi; karena selain mendapat penghasilan dari usahatani padi juga mendapat penghasilan dari jeruk. Oleh karena itu sistem usahatani padi-jeruk banyak berkembang di Kalimantan Selatan, terutama di lahan pasang surut dan lahan lebak.

Di desa Sungai Madang, Kabupaten Banjar, provinsi kalimantan selatan, jeruk ditanam pada tukungan diantara tanaman padi. Ada sekitar 23.000 pohon jeruk yang dimiliki petani kecil di desa ini. Pohon induk tanaman jeruk di desa ini berasal dari desa sekitarnya 40 tahun yang lalu. Setelah beradaptasi di desa yang baru, buah jeruk yang dihasilkan berkulit lebih tipis dan rasanya lebih manis; sehingga disukai konsumen. Saat ini hampir seluruh bibit jeruk yang ditanam di Kalimantan Selatan berasal dari pohon induk tersebut. Jeruk siam ini menjadi pemenang pertama lomba buah jeruk di Surabaya pada bulan Juni 2004

Di Kalimantan Barat, jeruk siam diperkenalkan oleh imigran cina di kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Pada tahun 1960, banyak kebun jeruk siam di daerah ini dibongkar dan ditebang untuk menghindari endemik penyakit. Pada tahun 1979 tanaman jeruk ditanam ulang bersamaan dengan pengembangan sarana transportasi dan fasilitas pendukung lainnya. Pada saat yang hampir bersamaan perkebunan jeruk di pulau jawa hancur akibat

139 serangan CVPD. Kondisi ini memberi peluang bagi pengembangan perkebunan jeruk di Sambas dan memanfaatkan pasar di kota besar. Pada periode ini banyak lahan sawah yang dikonversi menjadi perkebunan jeruk dan juga banyak pohon kelapa ditebang dan diganti dengan tanaman jeruk. Puncak dari perkembangan ini terjadi pada tahun 1992 yaitu ketika perkebunan jeruk produktif mencapai 15.000 ha dengan produksi mencapai 235.000 ton per tahun

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pengembangan agribisnis jeruk di implementasikan melalui program yang komprehensif. Proyek percontohan dilaksanakan dengan melibatkan 50 petani dan perusahaan agribisnis. Setiap petani menyerahkan 1 ha lahannya kepada perusahaan sebagai kontribusi permodalan. Perusahaan juga bermitra dengan penangkar bibit setempat untuk mendapatkan bibit yang baik dan sehat. Untuk menjamin kualitas dari buah yang dihasilkan, perusahaan membangun unit pengolahan di setiap 50 ha perkebunan jeruk. Unit pengolahan ini juga berfungsi sebagai pemasok input sarana produksi untuk perkebunan jeruk. Buah jeruk yang berasal dari unit pengolahan terlebih dahulu dibawa ke terminal agribisnis sebelum dipasarkan. Terminal ini dilengkapi dengan alat dan mesin untuk mengukur kualitas buah dan memiliki sistem informasi pasar. Pelatihan dan supervisi diberikan secara terus-menerus kepada petani dan petugas untuk menjamin berfungsinya sistem. Kemitraan agribisnis ini berdampak pada perekonomian lokal, kesempatkan kerja meningkat dan beberapa fasilitas diperbaiki yang memberi manfaat kepada masyarakat sekitar.

Dalam dokumen KONSERVASI ON-FARM BUAH TROPIKA LOKAL SPESIFIK (Halaman 148-152)