• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PARADIGMA PEDAGOGI FRANSISKAN

A. Siapakah Fransiskus dari Asisi

3. Panggilan Fransiskus dari Asisi

Fransiskus sungguh merasa bangga dengan keadaan hidupnya yang sudah dijalani sejak masa kecilnya. Ia sungguh menikmati kehidupan dengan segala kemewahan yang ada, dan selagi ia dengan semangat mudanya menceburkan diri ke dalam dosa dan didorong kelincahan umurnya untuk memenuhi segala keinginannya dan tidak ada sesuatupun yang bisa mengendalikan nafsu kemudaannya, saat itu juga rahmat Allah hadir untuk pertama kalinya menyerbunya melalui pengalaman yang sangat sederhana tetapi membawa efek yang sungguh luar biasa (Cel:3)

Pengalaman itu dialaminya pada tahun 1202, pada umur 20 tahun ia bersama teman-temannya terlibat sebagai prajurit dalam perang saudara antar Asisi dan Perugia. Dalam pertempuran itu, ia ditangkap dan dipenjarakan selama satu tahun hingga jatuh sakit. Pengalaman pahit itu menandai awal hidupnya yang baru. Allah hadir untuk memanggil pulang Fransiskus dari kesesatan hidupnya dengan mendatangkan kegelisahan batin dan gangguan badan. Hal ini selaras dengan perkataan nabi “sesungguhnya Aku menyekat jalannya dengan duri-duri dan

mendirikan pagar tembok mengurung dia” (Cel:3). Setelah sembuh, remuk-redamlah

hatinya dan ia berjalan kian kemari di rumah dengan bertongkat. Ketika ia berjalan keluar rumah dan mulai melihat-lihat dengan penuh perhatian lingkungan sekitarnya, keelokan pemandangan dan pemandangan kebun anggur yang indah sama sekali tidak memikat hatinya. Ia tidak tertarik lagi dengan usaha dagang ayahnya dan corak hidup mewahnya dahulu. Ia sendiri heran atas perubahan mendadak mengenai

dirinya dan orang-orang yang menyukai semua itu dianggapnya bodoh. Sebaliknya ia lebih tertarik pada corak hidup sederhana dan miskin sambil lebih banyak meluangkan waktunya untuk berdoa di Gereja, mengunjungi orang-orang di penjara dan melayani orang-orang miskin dan sakit.

Sungguh suatu keputusan pribadi yang datang dari luar bayangan orang sedaerahnya dan orang tuanya. Ketika sedang berdoa di gereja San Damiano di luar kota Asisi, ia mendengar suatu suara keluar dari salib Yesus: “Fransiskus, perbaikilah rumah-Ku yang hampir rubuh ini”. Fransiskus tertegun sebentar lalu dengan yakin mengatakan bahwa suara itu adalah suara Yesus sendiri. Segera ia berlari ke rumah. Tanpa pikir panjang ia mengambil setumpuk kain mahal dari gudang ayahnya lalu menjual kain-kain itu. Uang hasil penjualan kain itu diberikan kepada pastor paroki San Damiano untuk membiayai perbaikan gereja itu, tetapi pastor menolak pemberian itu. Ayahnya marah besar dan memukulnya dan menguncinya di dalam sebuah kamar. Ibunya jatuh kasihan lalu membebaskan dia dari kurungan itu. Setelah dibebaskan ibunya, ia kembali ke gereja San Damiano. Ayahnya mengikuti dia ke gereja San Damiano, memukulnya sambil memaksanya mengembalikan uang hasil jualan kain itu. Dengan tenang ia mengatakan bahwa uang itu sudah diberikan kepada orang-orang miskin. Ia juga tidak mau kembali lagi ke rumah meskipun ayahnya menyeret pulang. Ayahnya tidak berdaya lalu meminta bantuan uskup Asisi untuk membujuk Fransiskus agar mengembalikan uang itu. Fransiskus patuh kepada uskup. Dihadapan uskup Asisi, ia melucuti pakaian yang

dikenakan sambil mengatakan bahwa pakaian-pakaian itupun milik ayahnya. Sejak saat itu, hanya Tuhanlah yang menjadi satu-satunya ayahnya. Sang uskup memberikan kepadanya sehelai mantel dan sebuah ikat pinggang.

Fransiskus tidak kecut apalagi sedih hati dengan semua yang tejadi atas dirinya. Ia bahkan dengan bangga berkata “nah, sekarang barulah aku dapat berdoa sungguh-sungguh: “Bapa kami yang ada di surga”. Sejak itu, sabda Yesus “ barang siapa yang mau mengikuti Aku ia harus menjual segala harta kekayaannya dan membagikannya kepada orang miskin” menjadi dasar hidupnya yang baru. Sehari-harian ia mengemis sambil berkotbha kepada orang-orang yang ada di sekitar gereja San Damiano. Ia menolong orang-orang miskin dan menderita lepra dengan uang yang diperolehnya setiap hari. Ia sendiri hidup miskin, ia disebut dengan nama “poverello” (lelaki miskin). Cara hidupnya yang miskin tetapi selalu gembira dan penuh cinta kepada orang-orang miskin menarik perhatian dan minat banyak pemuda.

Pada tahun 1209, mulai ada tiga orang yang datang dan bergabung dengan Fransiskus dan bersama dengan tiga orang anggota baru tersebut Fransiskus mulai membentuk sebuah komunitas persaudaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ordo yaitu Ordo saudara-saudara Dina atau Ordo Fransiskan. Tak ketinggalan wanita-wanita. Klara, seorang gadis bangsawan Asisi meninggalkan rumahnya dan bergabung juga bersamanya. Bagi Klara dan teman-temannya, Fransiskus mendirikan sebuah perkumpulan khusus. Itulah awal dari kongregasi suster-suster

Fransiskan atau ordo kedua Fransiskan. Dalam perjalanan selanjutnya Fransiskus juga mendirikan ordo ketiga sekular bagi mereka yang ingin menghayati dan mengikuti semangat dan cara hidup Fransiskus tetapi tetap membina keluarga dan ordo ketiga regular bagi mereka yang berkaul itulah kongregasi-kongregasi yang mewarisi semangat santo Fransiskus Asisi hingga saat ini. Ordo Fransiskan berkembang dengan pesat dan menakjubkan. Dalam waktu relatif singkat komunitas Fransiskan bertambah banyak terutama di Italia, Spanyol, Jerman dan Hongaria.

Pada usia 43 ketika sedang berdoa di bukit La Verna, sekonyong-konyong terasa sakit dibadannya dan muncul di kaki dan tangan serta lambungnya luka-luka yang sama seperti luka-luka Yesus. Itulah stigmata Fransiskus. Pada tanggal 3 Oktober 1226 dalam usia 44 tahun Fransiskus meninggal Dunia di kapela Portiuncula dan dua tahun berikutnya ia langsung dinyatakan Kudus oleh gereja. Fransiskus adalah orang kudus besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat hingga saat ini.

Kebesaran St. Fransiskus terletak pada dua hal praktis yakni: “Kegembiraan dalam hidupnya yang sederhana dan Cintanya yang merangkul seluruh alam ciptaan. Ketika Gereja menjadi lemah dan sakit karena lebih tergiur dengan kekayaan dan kekuasaan duniawi, Fransiskus menunjukkan kembali kekayaan iman Kristen dengan menghayati sungguh-sungguh nasihat-nasihat dan cita-cita injil yang asli yaitu kerendahan hati, kemiskinan dan cinta (Groenen 1997).

B. Nilai-Nilai Spiritualitas Fransiskan

Dokumen terkait