• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SEMANGAT PELAYANAN PARA GURU DIJIWA

C. Penerapan Paradigma Pedagogi Fransiskan bagi Para

Sebagaimana yang telah diuraikan pada bab II tentang paradigma pedagogi Fransiskan, pada bagian III dari bab ini akan lebih mendalami tentang penerapan paradigma pedagogi Fransiskan bagi para guru di sekolah yang berada di YEMS. Dalam paradigma pedagogi Fransiskan terdapat aspek-aspek yang menjadi ciri pedagogi Fransiskan. Penerapan paradigma pedagogi Fransiskan bagi para guru di YEMS merupakan salah satu sarana dalam menghayati semangat/spiritualitas St. Fransiskus dari Asisi sebagai pelindung sekolah sehingga kehadiran para guru di sekolah sungguh mencerminkan spiritualitas Fransiskan.

Penerapan paradigma pedagogi Fransiskan dalam lembaga pendidikan Fransiskan menekankan aspek dasariah yaitu membina relasi dan keharmonisan dengan sesama, Allah dan dengan alam. Sebagaimana yang sudah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa pedagogi Fransiskan bertolak dari sikap dasar dan spiritualitas St. Fransiskus dari Asisi sehingga relasi yang dibangun berdasarkan relasi yang

diwariskan oleh St. Fransiskus dari Asisi sendiri yaitu relasi yang mengandung aspek persaudaraan dan kedinaan. Persaudaraan yang dibangun oleh Fransiskus Asisi bersifat universal atau yang sering dikenal dengan nama persaudaraan universal atau persaudaraan semesta.

Persaudaraan universal atau persaudaraan semesta menekankan persaudaraan yang tidak hanya dengan sesama manusia tetapi juga bersaudara dengan alam dan segala isinya karena sama-sama berasal dari pencipta yang satu dan sama (Allah sendiri) sehingga ada saudara Matahari, saudari Bulan, saudara semut, saudara api bahkan mautpun disapa dengan saudari (bdk. Gita sang Surya). Bertolak dari semangat Fransiskus Asisi dalam membangun persaudaraan, paradigma pedagogi Fransiskan memunculkan model pendidikan yang dikenal dengan pendidikan ekologi dan ekopedagogi. Sebagaimana yang diketahui bahwa pendidikan yang ekologis merupakan suatu pendidikan yang membantu para anak didik mempelajari tentang interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Sedangkan ekopedagogi merupakan suatu pendidikan yang berjuang untuk membangun komunitas persaudaraan semesta (bdk. GSS edidi Mei-Jun 2015). Ekopedagogi berusaha untuk merekonstruksi kembali kesadaran hati nurani manusia terutama anak didik untuk lebih menghargai, memelihara dan merawat martabat semua makhluk sebagai sesama warga bumi. Selain ekopedagogi, paradigma pedogogi fransiskan juga mengusahakan model pendidikan ekologi. Artinya melalui pendidikan ekologi, anak didik dibantu oleh para pendidik/guru

untuk bertanggungjawab dalam melestarikan dan memelihara alam sebagai wujud persaudaraan semesta yang dibangun oleh st. Fransiskus dari Asisi sendiri sebagai tokoh dan pelindung ekologi.

YEMS sebagai salah satu karya dari Kongregasi FSE yang mewarisi spiritualitas St. Fransiskus dari Asisi. Sebagai salah satu karya dari para suster Kongregasi FSE yang bergerak dalam bidang pendidikan yang hadir untuk membantu, membimbing dan mendidik setiap pribadi menuju perkembangan yang utuh dalam mencintai alam, YEMS menerapkan nilai-nilai yang menjadi kekhasan dari paradigma pedagogi Fransiskan yang diwarisi dari spiritualitas St. Fransiskus Asisi yang tertuang dalam visi-misi YEMS. Secara umum bisa dilihat visi-misi dan tujuan dari sekolah yang dikelolah oleh YEMS yaitu mengusahakan sekolah yang menjadi wadah dan persaudaraan yang pax et Bonum (kekhasan salam Fransiskus dari Asisi).

Pax et Bonum berarti : damai dan kebaikan. Bertolak dari inspirasi Biblis, damai atau damai sejahtera adalah keselamatan yang sebenarnya merupakan tujuan hakiki manusia. Fransiskus Asisi dalam hidupnya setiap hari menggunakan salam pax et bonum yang artinya damai dan kebaikan sebagai salam untuk menyapa semua orang yang dijumpainya manusia, alam dan juga tumbuh-tumbuhan sebagai saudara karena Fransiskus merasa bahwa yang paling penting dimiliki oleh semua makhluk bukanlah harta, kedudukan atau pangkat tetapi memiliki hati yang damai dan kebaikan Allah yang tinggal merajai diri setiap pribadi.

Santo Fransiskus Asisi memberi inspirasi bahwa bentuk komunitas yang paling tepat untuk mengembangkan hidup manusia adalah persaudaraan. Hal ini dilandasi oleh unsur pedagogi fransiskan yang meyakini bahwa manusia berkembang di dalam dan melalui relasi multidimensi. Persaudaraan yang dibangun adalah persaudaran yang bernilai egaliter dan demokratif. Persaudaraan dikatakan bernilai egaliter karena bagi Fransiskus Asisi semua orang memiliki kesamaan sebagai saudara sehingga semua memiliki kedudukan yang setara (egaliter). Persaudaraan dikatakan bernilai demokratis karena dengan menyadari bahwa semuanya adalah saudara maka semua memiliki hak dan kewajiban yang sama. Persaudaraan juga dimaknai sebagai kesatuan dan kebersamaan dengan semua makhluk hidup yang saling berpengaruh sehingga kepunahan salah satu unsur berarti akan berdampak bagi keseluruhan. Dalam inspirasi Fransiskus persaudaraan yang bermakna universal disebut sebagai persaudaraan semesta yakni bukan hanya antar manusia melainkan antar semua makhluk ciptaan. Semua ciptaan di dunia ini adalah saudara karena sama-sama ciptaan Tuhan. Masing-masing makhluk termasuk manusia saling solider dan peduli merawat kelestarian hidup satu sama lain sehingga semua boleh merasakan kebahagian dan kesejahteraan bersama.

Dari Visi-Misi dan tujuan yang dicapai oleh YEMS hendak membentuk dan mendidik setiap saudara menjadi pribadi yang cerdas dalam menyikapi perkembangan zaman yang ada dan terampil dalam memanfaatkan sumber daya yang disediakan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Sebagaimana yang

tertuang dalam visi YEMS bahwa dengan kehadiran YEMS berusaha untuk membangun masyarakat cerdas, terampil, disiplin, sehat, bermoral, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan spiritualitas Kongregasi FSE. Melalui apa yang tertuang dalam visi ini bisa dilihat bahwa YEMS tidak hanya mendidik setiap pribadi menjadi manusia yang cerdas tetapi juga manusia yang bertaqwa kepada Tuhan. Di sini jelas bahwa sekolah-sekolah YEMS tidak hanya berjuang untuk mengasah segi kognitif dari anak didiknya tetapi juga berusaha untuk menyeimbangkan antara segi kognitif dan hati nurani anak didik sehingga bertumbuh menjadi pribadi yang taqwa kepada Tuhan. Dalam rangka untuk mewujudkan visi- misi dan tujuan dari YEMS, setiap guru diharapkan mampu merealisasikan apa yang tertuang dalam visi-misi dan tujuan dari yayasan yang telah dijabarkan dalam visi dan misi setiap unit sekolah yang ada dibawah naungan YEMS. Bertolak dari apa yang menjadi harapan dari YEMS bagi para guru dalam menerapkan paradigma pedagogi Fransiskan, setiap guru diharapkan dapat menerapkan pedagogi Fransiskan dalam setiap pembelajaran di kelas sehingga anak didik dibantu untuk lebih bersahabat dan bersaudara dengan alam.

Melalui wawancara penulis dengan beberapa guru yang berkarya di sekolah- sekolah YEMS termasuk kepala sekolah SMA St. Fransiskus Asisi Samarinda diketahui bahwa dalam melaksanakan tugas dan perutusan setiap hari di sekolah, ada beberapa guru yang sudah berusaha untuk menerapkan unsur persaudaraan dan kesederhanaan di sekolah, di SMA bahkan menjadi program tahunan yang akan

dilaksanakan tahun ajaran 2017/2018 bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Akan tetapi dari hasil wawancara tersebut, hampir semua guru mengatakan bahwa secara praksis, mereka sudah mulai menerapkannya walaupun masih dalam bentuk aturan sekolah, akan tetapi arti dan makna paradigma pedagogi Fransiskan itu sendiri mereka belum tahu bahkan belum pernah mendengarnya. Secara praksis yang sudah mereka lakukan seperti untuk mewujudkan persaudaraan semesta dan untuk menghayati kedinaan/kesederhanaan yang diwariskan oleh St. Fransiskus Asisi, sekolah membuat aturan untuk tidak membawa mobil ke sekolah (karena hampir semua anak didik ekonomi menengah ke atas), tidak memakai perhiasan seperti gelang dan anting, tidak merayakan ulang tahun di sekolah. Aturan ini dibuat karena bertolak dari persaudaraan yang dibangun oleh St. Fransiskus Asisi bahwa semua saudara sama dihadapan Tuhan dan sesama sehingga dengan menghayati kedinaan/kesederhanaan maka tidak ada yang lebih kaya dan tidak ada yang miskin, semua sama dan menjadi saudara satu dengan yang lainnya.

Maka, melalui hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan beberapa guru yang ada di sekolah-sekolah YEMS dapat dikatakan bahwa para guru yang berkarya di sekolah yang dikelolah oleh YEMS belum memahami dan menerapkan secara utuh di sekolah St. Fransiskus Asisi Samarinda-Kalimantan Timur model pembelajaran dengan menggunakan paradigma pedagogi Fransiskan walaupun secara praksis sudah ada sebagian yang dilaksanakan melalui aturan-aturan yang diterapkan di sekolah YEMS. Akan tetapi dari hasil wawancara, secara utuh para guru belum

mengerti apa yang dimaksudkan dengan paradigma pedagogi Fransiskan dan bagaimana menerapkannya di dalam sekolah terutama dalam tindakan di dikelas melalui interaksi edukatif walaupun secara praksis sudah ada sekolah yang menerapkannya masih sebagai aturan sekolah.

D. Rangkuman

Pendidikan sebagai wadah untuk melahirkan tunas-tunas bangsa yang cerdas dan terampil menuju perkembangan pribadi yang utuh. Dalam melahirkan tunas- tunas bangsa itu membutuhkan seorang figur yang kita kenal dengan nama Guru. Guru memiliki peran dan tanggungjawab yang besar dalam dunia pendidikan tetapi guru juga tidak bisa dipisahkan dari anak didik. Guru dan anak didik menjadi partner yang saling melengkapi.

Dalam menjalankan tugas dan profesi sebagai seorang guru yang disemengati oleh kesadaran dari panggilan hati nurani untuk mendidik dan membantu setiap guru untuk lebih mencintai panggilannya sebagai seorang guru. Hal ini tampak dalam usaha setiap guru dalam pengabdiannya untuk mendidik dan membantu setiap anak didik bertumbuh menjadi pribadi yang utuh. Para guru yang berkarya di YEMS senantiasa disemangati dan dijiwai oleh semangat St. Fransiskus dari Asisi dalam mendidik dan membantu setiap anak didik dalam bertumbuh menjadi pribadi yang utuh.

Semangat pelayanan guru yang dijiwai oleh semangat St. Fransiskus dari Asisi menuntut setiap guru untuk memandang setiap anak didik sebagai anugerah Tuhan yang terindah yang harus diterima untuk didik, dibantu dan dibimbing menuju pribadi yang cerdas dan terampil dalam membina relasi yang baik dengan sesama, alam dan dengan Allah sendiri.

Dokumen terkait