BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Paparan Desain Pengembangan
Pada sub bab ini akan dipaparkan tahapan pengembangan yang telah dilakukan. Tahap pengembangan dilakukan dengan penyusunan desain produk, validasi desain, dan revisi desain. Implementasi dilakukan untuk lebih meyakinkan peneliti bahwa desain prototype layak untuk diujicobakan. Berikut pemaparannya :
1. Desain produk
Perangkat pembelajaran yang disusun terdiri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), bahan ajar dan evaluasi. Penyusunan perangkat pembelajaran berdasarkan kebutuhan yang dipaparkan pada sub bab di atas. Berikut pemaparannya: a. Silabus
Silabus disusun oleh peneliti berdasarkan KTSP dengan format sesuai BSNP. Isi dari format BSNP adalah identitas sekolah, standar kompetensi, komptensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, sumber dan media belajar. Format dari BSNP
tersebut kemudian digunakan dalam penyusunan silabus ini. Silabus disusun berdasarkan kompetensi dasar (8.1) Menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana dan (8.2) Menentukan jaring-jaring balok dan kubus.
Penyusunan silabus disesuaikan dengan intertwining, hal ini terlihat dari kegiatan pembelajaran dengan indikator. Kegiatan pembelajaran akan menggunakan cerita “Paijo dan Kotak Ajaib” agar dapat mengidentifikasi sesuai dengan indikatornya. Cerita “Paijo dan Kotak Ajaib” menceritakan kisah seorang laki-laki yang menemukan kotak ajaib. Kotak ajaib yang ditemukan berisi benda-benda berbentuk bangun ruang. Benda-benda tersebut akan dimanfaatkan siswa untuk mengidentifikasi bangun ruang.
b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun berdasarkan silabus yang sudah dipaparkan di atas. RPP yang disusun berisi identitas sekolah, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pembelajaran, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, pendekatan dan metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, media dan sumber belajar, dan penilaian.
Penggunaan intertwining terlihat pada kegiatan pembelajarannya. Proses pembelajarannya dikaitkan dengan penerapan dari sikap disiplin dan menyimak cerita. Hal ini bertujuan agar siswa dapat
c. Lembar Kegiatan Siswa
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) disusun berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Isi dari LKS adalah kegiatan belajar siswa dan refleksi pembelajaran.
Penggunaan intertwining terlihat dari pertanyaan yang terdapat pada kegiatan belajar. Pertanyaan tersebut disusun agar dapat menuntun siswa dalam menemukan pengertian jaring-jaring. Penemuan pengertian jaring-jaring menggunakan bangun datar, seperti yang telah ditekankan dari awal pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memudahkan siswa dalam memahami jaring-jaring.
Refleksi dapat ditemukan pada setiap LKS. Refleksi disertakan dalam LKS bertujuan untuk mengetahui perasaan siswa terhadap pembelajaran yang berlangsung. Hasil dari refleksi digunakan sebagai evaluasi pembelajaran.
d. Bahan ajar
Bahan ajar bersumber dari buku paket dan buku pembelajaran yang relevan. Materi bahan ajar mencakup kompetensi dasar yang ada dalam silabus.
Intertwining akan dilakukan dengan tiga topik yaitu balok dengan kubus, bangun datar dan membilang. Maksud dari intertwining balok dengan kubus adalah pembelajaran topik balok akan disampaikan dalam satu kali pertemuan bersamaa dengan topik kubus. Hal ini dilakukan karena balok dan kubus memiliki sifat-sifat yang sama tetapi
bentuknya berbeda. Tujuannya agar dapat menghemat waktu yang digunakan dan siswa dapat melihat langsung persamaan dan perbedaan dari dua topik tersebut.
Intertwining dengan bangun datar digunakan untuk memudahkan siswa dalam membangun konsep bangun ruang dan jaring-jaring. Bangun datar digunakan untuk memulai perkenalan siswa dengan bangun ruang. Hal ini dilakukan karena bangun ruang memiliki sisi yang berbentuk bangun datar. Jaring-jaring sendiri merupakan gabungan dari bangun datar. Berdasarkan hal itu, sangatlah relevan jika bangun datar digunakan dalam penyampaian bangun ruang.
Intertwining dengan membilang bertujuan untuk memperjelas jawaban dari siswa. Hal ini dilakukan karena guru akan melakukan tanya jawab dalam penyampaian materi, maka dipilihlah membilang untuk membantu siswa.
Sebagai media, peneliti membuat dan mencari alat peraga. Alat peraga yang dibuat adalah bangun ruang kubus dan balok. Alat peraga ini akan digunakan untuk mengidentifikasi balok dan kubus serta jaring-jaring balok dan kubus. Alat peraga yang dicari adalah benda-benda yang berbentuk bangun ruang. Benda-benda-benda tersebut akan digunakan untuk memudahkan siswa dalam mengenalkan bangun ruang.
e. Evaluasi
Evaluasi disusun untuk mengetahui pencapaian siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Soal yang disusun untuk evaluasi seputar mengidentifikasi balok dan kubus dan jaring-jaring balok dan kubus. Intertwining dalam evaluasi dapat ditemukan saat siswa membandingkan sifat-sifat dan jaring-jaring serta balok dan kubus.
2. Validasi desain
Validasi dilakukan setelah penyusunan perangkat pembelajaran selesai. Penelitian ini menggunakan validasi expert judgement oleh ahli matematika dan guru bidang studi matematika kelas IV SD Kanisius Kalasan. Ahli matematika yang melakukan expert judgement adalah Dra. Haniek S. Pratini,M.Pd, Veronika Fitri Rianasari, M.Sc. dan E. Ayunika Permata Sari, M.Sc. Guru yang melakukan expert judgement adalah M. Indarti Rustamti, S.Pd.
Para validator memvalidasi perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus, RPP, LKS, bahan ajar dan evaluasi menggunakan instrumen validasi. Nilai dari validasi tersebut selanjutnya dilakukan analisis kuantitatif. Setelah dilakukan analisis kuantitatif, maka akan didapatkan nilai rata-rata. Nilai rata-rata tersebut akan digunakan untuk menentukan tingkat validasinya.
Berikut tingkat validitasnya berdasarkan nilai rata-rata. Tabel 4.1 Hasil tingkat validasi
Instrumen Rata-rata (M)
Tingkat validasi
Silabus 3,75 Sangat baik
RPP 3,68 Sangat baik
LKS 3,53 Sangat baik
Bahan ajar 3,55 Sangat baik
Evaluasi 3,68 Sangat baik
Berdasarkan tabel di atas maka tingkat validasi perangkat pembelajaran menunjukkan kriteria yang sangat baik. Tetapi perangkat pembelajaran tersebut masih memiliki beberapa kekurangan yaitu lembar jawab kurang luas, refleksi di LKS tidak ada dan sumber materi di bahan ajar juga tidak ada.
Sebelum dilakukan uji keterbacaan, perangkat pembelajaran mengalami perbaikan terlebih dahulu. Perbaikan dilakukan untuk memperbaiki kelemahan dari perangkat pembelajaran tersebut. Setelah dilakukan perbaikan maka dilakukanlah uji keterbacaan terhadap LKS. Tujuan uji keterbacaan adalah untuk memastikan bahwa bahasa yang digunakan dalam LKS mudah dipahami oleh siswa.
Uji keterbacaan dilakukan di SD Negeri 2 Turi dengan bantuan enam siswa. Enam siswa tersebut terdiri dari dua siswa tergolong pandai,
Hasil dari uji keterbacaan yaitu kurang adanya tempat untuk menggambar jawaban siswa dan kurang terlihatnya pertanyaan kesimpulan dari tabel.
3. Revisi desain
Revisi desain yang dilakukan adalah perbaikan pasca dilakukan uji keterbacaan. Perbaikan yang dilakukan selama revisi seperti penambahan tempat untuk menjawab pertanyaan dan memindahkan pertanyaan kesimpulan dari tabel agar dapat terlihat oleh siswa.
Revisi juga dilakukan dengan melihat kembali hasil perbaikan perangkat pembelajaran yang dilakukan sebelum uji keterbacaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak adanya kekurangan dalam perangkat pembelajaran yang belum diperbaiki. Setelah adanya revisi-revisi tersebut, maka perangkat pembelajaran tersebut telah menjadi produkprototype.Produkprototypeinilah yang akan diimplementasi pada SD yang dipilih.
4. Implementasi pada sampel terbatas
Implementasi dilakukan dengan tujuan untuk meyakinkan peneliti bahwa produk prototype layak untuk diujicobakan. Pelaksanaan implementasi dilakukan kepada guru dan siswa kelas IVB SD Kanisius Kalasan.