• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANGGUNG JAWAB KUASA PENGGUNA ANGGARAN DALAM PROSES PENGADAAN BARANG/ JASA PEMERINTAH

B. Para Pihak Dalam Proses Pengadaan Barang/ Jasa

Sebagaimana individu melakukan usaha guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan pribadinya, pemerintah juga dituntut untuk memenuhi kebutuhan publik secara permanen dan konstan. Seperti halnya individu melakukan hubungan kontraktual dalam memenuhi kebutuhannya maka pemerintah pun melaksanakan hal yang sama. Pola kontraktualisasi ini digunakan oleh pemerintah sebagai salah satu cara dalam melaksanakan fungsinya disamping tindakan – tindakan sepihak (unilateral acts) yang didasarkan pada kewenangan dan perintah (authority and command).100

Didalam badan hukum mengenai badan hukum kita mengenal perbedaan antara badan hukum dan organ – organnya. Badan hukum adalah pendukung hak-hak kebendaan (harta kekayaan). Badan hukum melakukan perbuatan hukum melalui organ-organ yang mewakilinya. Perbedaan badan hukum dengan organ berjalan

99 Ibid

100 George Langrod, Administrative Contracts (A Comparative Study), The American Journal of Comparative Law, Vol.IV, Number III, Summer 1995, p.325-326, dalam Yohanes Sogar Simamora, op.cit., hlm. 77.

paralel dengan perbedaan antara badan umum (openbaar lichaam) dengan organ pemerintahan. Pararelitas perbedaan itu kurang lebih tampak ketika menyangkut hubungan hukum yang berkaitan dengan harta kekayaan dari badan umum (yang digunakan oleh organ pemerintahan).101

Pengaturan perihal para pihak dalam Pengadaan Barang/ Jasa pemerintah melibatkan badan hukum privat dan publik. Perbedaan badan hukum publik dan privat terletak dalam dua hal, yaitu segi pembentukannya atau cara terjadinya dan dari segi fungsinya. Apabila suatu badan dibentuk dengan Undang – Undang dan didirikan dalam rangka menjalankan fungsi pelayanan kepentingan umum maka badan yang bersangkutan merupakan badan publik.102

Kontraktualisasi membawa implikasi kontrak yang dibuat pemerintah selalu terdapat unsur hukum publik. Adanya unsur hukum publik dalam kontrak pemerintah Terhadap badan hukum privat berlaku aturan dalam hukum perdata.

Hubungan hukum yang dilakukan oleh badan hukum privat dengan demikian tunduk dan dikuasai oleh hukum privat. Badan privat hanya dapat melaksanakan hubungan hukum yang sifatnya privat. Sebaliknya badan publik adalah badan yang tunduk pada aturan hukum publik. Namun demikian badan publik dapat saja melakukan perbuatan yang berskala privat. Dalam hal demikian berlaku juga bagi badan publik itu.

101 H.D. van Wijk/Willem Konijnenbelt, Hoofdstukken van Administratief Recht, hlm. 97 dalam Ridwan HR, Op.Cit., hlm. 73.

102 Terdapat pula kriteria pada segi ada tidaknya kewenangan seperti penguasa yaitu kewenangan dalam membuat keputusan dan peraturan yang mengikat masyarakat. Jika terdapat ciri ini maka badan yang bersangkutan merupakan badan publik (Namun, pendapat ini tidak diikuti di Indonesia).

Chaidir Ali, Badan Hukum, Bandung : Alumni, 1999, hlm.60-61 dalam Yohanes Sogar Simamora, , op.cit., hlm.71.

menempatkan pemerintah dalam dua peran. Di satu sisi, sebagai kontraktan pemerintah berkedudukan sebagai subjek hukum privat, di sisi lain dalam kedudukan sebagai badan hukum publik, pemerintah menjalankan fungsi pelayanan publik.

Dalam kaitan ini maka disamping pemerintah terikat pada ketentuan yang terdapat dalam konstitusi dan Undang-Undang, ia juga terikat pada norma privat khususnya dalam hubungannya dengan kontrak.

Dalam perspektif hukum publik, tindakan hukum pemerintahan itu selanjutnya dituangkan dalam dan dipergunakan beberapa isntrumen hukum dan kebijakan seperti peraturan perundang-undangan, kebijakan serta keputusan.

Disamping itu, pemerintah juga menggunakan instrumen hukum keperdataan, seperti perjanjian, dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan.

Para pihak dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah atau dalam Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 disebut sebagai Organisasi Pengadaan terdiri dari :103

a. Pengguna Anggaran (PA)/ Kuasa Penguna Anggaran (KPA)

Berdasarkan pasal 8, PA mempunyai tugas dan kewenangan sebagai berikut : 1) Menetapkan Rencana Umum Pengadaan;

2) Mengumumkan secara luas Rencana Umum Pengadaan paling kurang di website K/ L/ D/ I;

3) Menetapkan PPK;

103 Pasal 7 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. Pada Keppres Nomor 80 Tahun 2003, para pihak tidak disebutkan secara tegas sebagai organisasi pengadaan. Organisasi pengadaan sebagaimana disebut di atas merupakan organisasi pengadaan untuk pengadaan melalui penyedia barang/jasa, sedangkan bagi pengadaan yang dilaksanakan secara swakelola tidak menggunakan ULP.

4) Menetapkan Pejabat Pengadaan;

5) Menetapkan Panitia/ Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan;

6) Menetapkan:

a) pemenang pada Pelelangan atau penyedia pada Penunjukan Langsung untuk paket Pengadaan Barang/ Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Lainnya dengan nilai diatas Rp.100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah); atau b) pemenang pada Seleksi atau penyedia pada Penunjukan Langsung untuk

paket Pengadaan Jasa Konsultansi dengan nilai diatas Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

7) Mengawasi pelaksanaan anggaran;

8) Menyampaikan laporan keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

9) Menyelesaikan perselisihan antara PPK dengan ULP/ Pejabat Pengadaan, dalam hal terjadi perbedaan pendapat; dan

10) Mengawasi penyimpanan dan pemeliharaan seluruh Dokumen Pengadaan Barang/ Jasa

Penetapan KPA, berdasarkan pasal 10, dalam organisasi pengadaan dapat dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :

a) KPA pada Kementerian/ Lembaga/ Institusi pusat lainnya merupakan Pejabat yang ditetapkan oleh PA;

b) KPA pada Pemerintah Daerah merupakan Pejabat yang ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usul PA;

c) KPA untuk dana deko nsentrasi dan tugas pembantuan ditetapkan oleh PA pada Kementerian/ Lembaga/ Institusi pusat lainnya atas usul Kepala Daerah.

d) KPA memiliki kewenangan sesuai pelimpahan oleh PA.

PA/ KPA diberi kewenangan untuk menyatakan suatu Pelelangan/ Seleksi/

Pemilihaan Langsung gagal dengan kondisi dan syarat tertentu. Berikut bunyi lengkap pasal 83 ayat (3) :

PA/ KPA menyatakan Pelelangan/ Seleksi/ Pemilihan Langsung gagal apabila:

a) PA/ KPA sependapat dengan PPK yang tidak bersedia menandatangani SPPBJ karena proses Pelelangan/ Seleksi/ Pemilihan Langsung tidak sesuai dengan Peraturan Presiden ini;

b) Pengaduan masyarakat adanya dugaan KKN yang melibatkan ULP dan/

atau PPK ternyata benar;

c) Dugaan KKN dan/ atau pelanggaran persaingan sehat dalam pelaksanaan Pelelangan/ Seleksi/ Pemilihan Langsung dinyatakan benar oleh pihak berwenang

d) Sanggahan dari Penyedia Barang/ Jasa atas kesalahan prosedur yang tercantum dalam Dokumen Pengadaan Penyedia Barang/ Jasa ternyata benar;

e) Dokumen Pengadaan tidak sesuai dengan Peraturan Presiden ini;

f) Pelaksanaan Pelelangan/ Seleksi/ Pemilihan Langsung tidak sesuai atau menyimpang dari Dokumen Pengadaan;

g) Calon pemenang dan calon pemenang cadangan 1 dan 2 mengundurkan diri; atau

h) Pelaksanaan Pelelangan/ Seleksi/ Pemilihan Langsung melanggar Peraturan Presiden ini.

b. Pejabat Pembuat Komitmen

Sebagaimana disebutkan dalam pasal 11 ayat (1) Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010, PPK yang ditetapkan oleh PA tersebut, memiliki tugas pokok dan kewenangan sebagai berikut :

1) Menetapkan rencana pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa104 a) Spesifikasi tekhnis barang/ jasa;

yang meliputi :

b) Harga perkiraan sendiri (HPS); dan c) Rancangan kontrak105

2) Menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/ Jasa;

3) Menandatangani Kontrak;106

4) Melaksanakan Kontrak dengan Penyedia Barang/ Jasa;

5) Mengendalikan pelaksanaan Kontrak;

6) Melaporkan pelaksanaan/ penyelesaian Pengadaan Barang/ Jasa kepada PA/

KPA;

7) Menyerahkan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA dengan Berita Acara Penyerahan;

8) Melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan pelaksanaan pekerjaan kepada PA/ KPA setiap triwulan; dan

104 Juga merupakan kewenangan PPK untuk menetapkan perencanaan kegiatan swakelola yang diusulkan dan dilaksanakan oleh Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola setelah melalui proses evaluasi. Termasuk didalamnya penunjukan pelaksana pengawasan pekerjaan fisik di lapangan untuk kegiatan swakelola.

105 Meliputi syarat-syarat umum dan khusus, daftar kuantitas dan harga, serta dokumen lainnya.

106 Karena kewenangannya menandatangani kontrak, maka PPK pun dapat memutuskan kontrak secara sepihak dengan syarat dan ketentuan yang telah diatur dalam Perpres Nomor 54 Tahun 2010.

9) Menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.

Selain tugas pokok dan kewenangan sebagaimana tersebut di atas, PPK dapat mengambil langkah yang dianggap perlu, seperti: (i) mengusulkan kepada PA/ KPA untuk melakukan perubahan terhadap paket pekerjaan dan jadwal kegiatan pengadaan; (ii) menetapkan tim pendukung; (iii) menetapkan tim atau tenaga ahli pemberi penjelasan teknis (aanwijzer) untuk membantu pelaksanaan tugas ULP; dan (iv) menetapkan besaran uang muka yang akan dibayarkan kepada Penyedia Barang/

Jasa.

c. Unit Layanan Pengadaan/ Pejabat Pengadaan

ULP wajib dibentuk oleh Menteri/ Pimpinan Lembaga/ Kepala Daerah/

Pimpinan Institusi yang di seluruh K/ L/ D/ I yang dipimpinnya. Perangkat organisasi ULP sekurang-kurangnya terdiri dari kepala, sekretariat, staf pendukung dan kelompok kerja. Apabila di Keppres sebelumnya ULP melaksanakan seluruh pengadaan dengan nilai diatas Rp.50.000.000,00 kini terdapat sedikit perbedaan, yakni ULP melaksanakan Pengadaan Barang/ Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Lainnya dengan nilai diatas Rp.100.000.000,00 dan Pengadaan Jasa Konsultansi dengan nilai diatas Rp.50.000.000,00.

Sama dengan para pihak lainnya, ULP/ Pejabat Pengadaan juga mempunyai kewenangan dan tugas pokok sebagaimana tercantum dalam pasal 17 ayat (2), yaitu :

1) Menyusun rencana pemilihan Penyedia Barang/Jasa;

2) Menetapkan Dokumen Pengadaan;

3) Menetapkan besaran nominal Jaminan Penawaran;

4) Mengumumkan pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa di website K/ L/ D/ I masing – masing dan papan pengumuman resmi untuk masyarakat serta menyampaikan ke LPSE untuk diumumkan dalam Portal Pengadaan Nasional;

5) Menilai kualifikasi Penyedia Barang/ Jasa melalui prakualifikasi atau pascakualifikasi;

6) Melakukan evaluasi administrasi, teknis dan harga terhadap penawaran yang masuk;

7) Membuat laporan mengenai proses dan hasil Pengadaan kepada Menteri/

Pimpinan Lembaga/ Kepala Daerah/ Pimpinan Institusi;

8) Memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan Pengadaan Barang/ Jasa kepada PA/ KPA.

9) Khusus untuk ULP : a) Menjawab sanggahan

b) Menetapkan Penyedia Barang/ Jasa untuk :

- Pelelangan atau Penunjukan Langsung untuk paket Pengadaan Barang/

Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp.100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah);

- Seleksi atau Penunjukan Langsung untuk paket Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);

c) Menyerahkan salinan Dokumen Pemilihan Penyedia Barang/Jasa kepada PPK;

d) Menyimpan dokumen asli pemilihan Penyedia Barang/ Jasa;

10) Khusus untuk Pejabat Pengadaan :

a) Menetapkan Penyedia Barang/ Jasa untuk :

- Penunjukan Langsung atau Pengadaan Langsung untuk paket Pengadaan Barang/ Pekerjaan/ Konstruksi/ Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

- Penunjukan Langsung atau Pengadaan Langsung untuk paket Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);

b) Menyerahkan dokumen asli pemilihan Penyedia Barang/ Jasa kepada PA/

KPA

Anggota ULP dilarang duduk sebagai PPK, Pengelola Keuangan107

Dalam melakukan evaluasi penawaran, ULP/ Pejabat Pengadaan dilarang melakukan tindakan post bidding, yaitu tindakan mengubah, menambah, mengganti

dan APIP, terkecuali menjadi Pejabat Pengadaan/ anggota ULP untuk Pengadaan Barang/ Jasa yang dibutuhkan instansinya. Guna memperjelas dokumen pengadaan yang diterima oleh peeserta lelang, maka ULP/ Pejabat Pengadaan dapat memberikan penjelasan kepada para peserta lelang yang hadir.

107 Pengelola keuangan yang dimaksud terdiri dari bendahara, verifikator dan Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar.

dan/ atau mengurangi Dokumen Pengadaan dan/ atau Dokumen Penawaran setelah batas akhir pemasukan penawaran.108

1) Jumlah peserta yang lulus kualifikasi pada proses prakualifikasi kurang dari 3 (tiga) peserta (kurang dari 5 (lima) untuk Seleksi Umum atau kurang dari 3 (tiga) untuk Seleksi Sederhana);

Berdasarkan pasal 83 ayat (1) dan (2) ULP/ Pejabat Pengadaan selaku pihak yang melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk, maka dapat menyatakan bahwa Pelelangan/ Seleksi/ Pemilihan Langsung gagal dengan berbagai sebab, yaitu :

2) Jumlah peserta yang memasukan Dokumen Penawaran untuk Pengadaan Barang/ Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Lainnya kurang dari 3 (tiga) peserta;

3) Sanggahan dari peserta terhadap hasil prakualifikasi ternyata benar;

4) Tidak ada penawaran yang lulus evaluasi penawaran;

5) Dalam evaluasi penawaran ditemukan bukti/indikasi terjadi persaingan tidak sehat;

6) Harga penawaran terendah terkoreksi untuk Kontrak Harga Satuan dan Kontrak gabungan Lump Sum dan Harga Satuan lebih tinggi dari HPS (atau dari Pagu Anggaran untuk Seleksi);

7) Seluruh harga penawaran yang masuk untuk Kontrak Lump Sum diatas HPS (atau di atas Pagu Anggaran untuk Seleksi);

8) Sanggahan hasil Pelelangan/ Seleksi dari peserta ternyata benar;

108 Pasal 79 ayat (2) dan Penjelasannya

9) Calon pemenang dan calon pemenang cadangan 1 dan 2, setelah dilakukan evaluasi dengan sengaja tidak hadir dalam klarifikasi dan/ atau pembuktian kualifikasi (atau tidak hadir dalam klarifikasi dan negosiasi dengan alasan yang tidak dapat diterima dalam Seleksi).

ULP wajib dibentuk K/ L/ D/ I paling lambat pada Tahun Anggaran 2014.

Penegasan perihal batas waktu akhir pembentukan ULP tidak diatur dalam Keppres sebelumnya.

d. Panitia/ Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan

Dalam Keppres sebelumnya, Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan tidak diatur.

Keanggotaannya berasal dari pegawai negeri baik dari instansi sendiri maupun instansi lainnya,109

1) Melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/ Jasa sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Kontrak;

dengan tugas pokok dan kewenangan sebagai berikut :

2) Menerima hasil Pengadaan Barang/ Jasa setelah melalui pemeriksaan/

pengujian; dan

3) Membuat dan menandatangani Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan.