• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM KEUANGAN NEGARA DAN PENGADAAN BARANG/ JASA PEMERINTAH

B. KONSEP DASAR PENGADAAN BARANG/ JASA PEMERINTAH

2. Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah di Indonesia

Pengaturan perihal Pengadaan Barang/ Jasa oleh Pemerintah di Indonesia melalui beberapa tahap/ fase. Kondisi ini disebabkan berkembangnya tata cara dan/atau mekanisme Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah yang keseluruhannya dilaksanakan demi menjunjung prinsip adil dan transparan yang menjadi prinsip utama dalam Pengadaan Barang/ Jasa.

Dalam tulisan ini pembagian periode didasarkan pada lahirnya peraturan perihal Pengadaan Barang/ Jasa itu sendiri. Khususnya terhadap lahirnya peraturan – peraturan fundamental yang mendasari perubahan pada setiap periodenya.

a.

Pada periode ini pengaturan mengenai Pengadaan Barang/ Jasa bermula dari Keputusan Presiden No. 11 Tahun 1973 yang merupakan pelaksanaan dari Undang – Undang No. 3 Tahun 1973 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1973/1974. Pengaturan mengenai Pengadaan Barang/ Jasa tidak berdiri atas satu regulasi khusus, melainkan selalu disisipkan pada peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan APBN.

Periode 1973 – 1999

Keputusan Presiden yang terkait dengan Pengadaan Barang/ Jasa pemerintah setelah Keppres No. 11 Tahun 1973 tersebut adalah :

1) Keputusan Presiden No. 17 Tahun 1974 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 1974/1975;

2) Keputusan Presiden No. 7 Tahun 1975 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 1975/1976;

3) Keputusan Presiden No. 14 Tahun 1976 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 1976/1977;

4) Keputusan Presiden No. 12 Tahun 1977 tentang Pelaksanaan APBN;

5) Keputusan Presiden No. 14A Tahun 1980 tentang Pelaksanaan APBN;

6) Keputusan Presiden No. 18 Tahun 1981 tentang Penyempurnaan Keputusan Presiden No. 14A Tahun 1980 tentang Pelaksanaan APBN;

7) Keputusan Presiden No. 29 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN;

8) Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBN;

9) Keputusan Presiden No. 24 Tahun 1995 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBN;

10) Keputusan Presiden No. 6 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Keputusan

Presiden No. 16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBN sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1997.

Sampai dengan terbitnya Keputusan Presiden No. 14 Tahun 1976, sejauh yang menyangkut pengeluaran Negara tidak mengalami banyak perubahan. Dengan demikian aturan tentang Pengadaan Barang/Jasa pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Presiden No. 17 Tahun 1974 dan Keputusan Presiden No. 7 tahun 1975 pada dasarnya sama dengan apa yang tertuang dalam Keputusan Presiden No. 11 Tahun 1973 kecuali tentang batas minimal nilai pekerjaan atau pembelian barang yang harus dilelangkan karena memang diperlukan penyesuaian berhubung kenaikan harga tiap tahunnya. Perubahan yang signifikan adalah ketika tahun 1975 terdapat keharusan untuk mengutamakan produksi dalam negeri dalam Pengadaan Barang/

Jasa.

Dalam Keputusan Presiden No. 14 Tahun 1976 juga terdapat perubahan menyangkut prinsip dasar dalam pengeluaran Negara terkait Pengadaan Barang/ Jasa.

Prinsip dasar yang semula hanya penghematan dan efisiensi, kemudian berkembang menjadi 4 (empat) prinsip, yaitu : (i) penghematan dan efisiensi; (ii) pengarahan dan pengendalian yang sesuai dengan fungsi masing-masing departemen; (iii) koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi; (iv) tidak bergaya mewah.68

1) Melalui Keputusan Presiden No. 12 Tahun 1977 pengaturan tentang pengutamaan produksi dalam negeri dalam Pengadaan Barang/Jasa berkembang menjadi lebih jelas dan diatur pula larangan perangkapan fungsi pekerjaan;

Perubahan fundamental pada kurun waktu 1977 sampai dengan 1980, antara lain :

68 Pasal 10 ayat (1) Keppres Nomor 14 Tahun 1976

2) Keputusan Presiden No. 14 Tahun 1979 menyatakan bahwa dalam pelaksanaan pengeluaran anggaran sejauh mun gkin diusahakan standardisasi. Maksud dari ketentuan ini adalah agar dilakukan selengkap mungkin standardisasi sekalipun tidak dapat menjangkau setiap jenis barang dan atau pekerjaan berikut harganya.

Istilah swakelola dan penggunaan SPK termasuk dalam hubungan antara swasta dengan swasta bermula dari Keppres ini69

Mengenai metode pemilihan penyedia barang/jasa telah berkembang menjadi tiga jenis, yaitu pelelangan umum, pelelangan terbatas dan penunjukan langsung

namun tidak ada penjelasan lebih lanjut dalam Keppres ini tentang apa yang dimaksud dengan SPK dan substansi apa yang harus dimuat didalamnya.

70

3) Mekanisme pembayaran kepada rekanan diatur lebih lengkap. Selain mewajibkan adanya berita acara,71

69 Pasal 18 ayat (1) Keppres Nomor 14 Tahun 1976 menyatakan “Pelaksanaan pekerjaan pemborongan oleh pihak ketiga atau pembelian barang dan bahan untuk pekerjaan yang dilakukan sendiri (swakelola) yang berjumlah diatas Rp.1.000.000,00 sampai dengan Rp.10.000.000,00 dilakukan dengan surat perintah kerja (SPK) atau surat perjanjian berdasarkan penawaran yang masuk.”

70 Metode penunjukan langsung didasarkan pada prinsip yang paling menguntungkan bagi Negara baik ditinjau dari kebutuhan, harga maupun kualitas dengan membandingkan tiga penawaran atau lebih yang diajukan secara terpisah olehtiga calon penyedia barang/jasa.

71 Menyatakan bahwa penyerahan barang/jasa atau prestasi pekerjaan telah diselesaikan sesuai dengan yang diperjanjikan.

Pasal 18 ayat (14) Keputusan Presiden No. 14A Tahun 1980 menentukan bahwa jumlah pembayaran kepada pemborong/ rekanan tidak boleh melebihi prestasi pekerjaan yang diselesaikan/jumlah barang yang diserahkan.

Terdapat kebijakan baru pemerintah dalam kaitan dengan Pengadaan Barang/

Jasa pemerintah yakni pembentukan Tim Pengendali Pengadaan Barang/

Peralatan Pemerintah (Tim Pengendali Pengadaan). Tim ini berkedudukan dan bertanggungjawab kepada presiden dengan tiga fungsi : (i) penelitian dan penetapan jenis, jumlah, spesifikasi, harga serta tata cara pengadaan barang/

peralatan yang diperlukan Departemen atau LPND; (ii) koordinasi dan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/ peralatan yang telah ditetapkan;

dan (iii) pembinaan administrasi dan dokumentasi pengadaan barang/ peralatan.

4) Keputusan Presiden No. 18 Tahun 1981 membuat perhatian lebih terhadap pemborong/rekanan ekonomi lemah, yakni : pertama, dilarang dilakukannya pengalihan pekerjaan kepda pihak lain dengan sanksi pembatalan kontrak dan dikeluarkan dari daftar pemborong/rekanan golongan ekonomi lemah dalam Daftar Rekanan Mampu (DRM). Kedua, apabila dalam pelelangan yang terpilih sebagai pemenang bukan pemborong/ rekanan ekonomi lemah, maka dalam surat perjanjian ditetapkan kewajiban bekerja sama dengan pemborong/ rekanan ekonomi lemah setempat (dengan subkontrak atau leveransir barang, bahan dan jasa).

Fase perkembangan berikutnya dalam periode ini yaitu pada kurun waktu 1984 sampai dengan 1994, antara lain :

1) Perkembangan ini khususnya terjadi ketika Keputusan Presiden No. 29 Tahun 1984 diterbitkan yakni : (i) Keharusan penggunaan kemampuan/ hasil produksi

dalam negeri dijadikan salah satu prinsip dasar dalam pengeluaran angaran;72 (ii) Penambahan 1 (satu) metode pemilihan penyedia barang/ jasa, yaitu Pengadaan Langsung, yakni pelaksanaan pemborongan/pembelian yang dilakukan diantara pemborong/ rekanan golongan ekonomi lemah tanpa melalui pelelangan umum, pelelangan terbatas atau penunjukan langsung dengan tujuan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada pemborong/rekanan golongan ekonomi lemah sebagai upaya pembimbingan untuk menigkatkan kemampuan yang lebih besar sekaligus usaha untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan;73

2) Pada Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994 terjadi perubahan perihal istilah dalam metode pemilihan penyedia barang/jasa. Keputusan Presiden No. 14 Tahun 1979 memperkenalkan istilah penunjukan langsung, namun pada Keputusan Presiden No. 16 tahun 1994, istilah penunjukan langsung tidak lagi digunakan melainkan diperkenalkan istilah baru, yakni Pemilihan Langsung.

(iii) Ditentukan apa yang sekurang-kurangnya harus dimuat dalam SPK. Bagian komparisi yang membedakan antara SPK dengan perjanjian, dibagian ini dituangkan pihak yang memerintahkan dan yang menerima perintah pelaksanaan pekerjaan serta ditandatangani oleh kedua belah pihak; (iv) Melarang perumusan klausula ganti rugi bagi pemerintah dalam perjanjian.

74

b.

72 Pasal 14 huruf c

73 Pasal 19 ayat (5)

74 Aturan teknis dalam hal metode Pemilihan langsung tidak jauh berbeda dengan Penunjukan Langsung sebagaimana diatur dalam Keppres Nomor 14 Tahun 1976.

Periode Pebruari 2000 – November 2003

Pengadaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah yang dibiayai dengan APBN/

APBD seyogianya dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien dengan prinsip persaingan sehat, transparan, terbuka, dan perlakuan yang adil bagi semua pihak, sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi fisik, keuangan maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas Pemerintah dan pelayanan masyarakat, oleh karena itu diperlukan penyempurnaan perihal pengaturan Pengadaan Barang/

Jasa Pemerintah.

Lahirnya Keputusan Presiden No. 18 Tahun 2000 merupakan tonggak sejarah dalam pengaturan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. Sebab selain terdapat beberapa perubahan dalam berbagai aspek pengadaan, Keputusan Presiden ini merupakan aturan tentang Pengadaan Barang/ Jasa yang bersifat terpisah dan khusus.

Pada periode sebelumnya peraturan terkait Pengadaan Barang/ Jasa selalu disisipkan dalam Keppres pelaksanaan APBN.

Pada periode ini, Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah diatur pada :

1) Keputusan Presiden RI No. 18 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Instansi Pemerintah.

2) Keputusan Bersama Menteri Keuangan RI dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No. S-42/A/2000 (Nomor S-2262/D.2/05/2000) tentang Pedomaan Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Instansi Pemerintah.

3) Keputusan Bersama Menteri Keuangan RI dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No. KEP-82/A/2000 (No. 6126/D.2/11/2000) tentang Perubahan Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan RI dan Kepala Badan

Perencanaan Pembangunan Nasional tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pedomaan Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Instansi Pemerintah.

4) Keputusan Bersama Menteri Keuangan RI dan Menteri Negara perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No.

KEP-54/A/2002 (No. KEP.247/M.PPN/04/2002) tentang Perubahan Kedua atas Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan RI dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No. S-42/A/2000 (No. S-2262/D.2/05/2000) tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Keputusan Presiden No. 18 Tahun 2000 tentang Pedomaan Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Instansi Pemerintah.

5) Keputusan Bersama Menteri Keuangan RI dan Menteri Negara perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No.

KEP-97/KM.2/2002 (No. KEP.289/M.PPN/08/2002) tentang Perubahan Ketiga atas Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan RI dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No. 42/A/2000 (No. S-2262/D.2/05/2000) tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Keputusan Presiden No. 18 Tahun 2000 tentang Pedomaan Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Instansi Pemerintah.

Pengadaan Barang/ Jasa pada periode ini merupakan kegiatan Pengadaan Barang/ Jasa yang meliputi :

- Pengadaan barang;

- Pengadaan jasa;75 - Pengadaan jasa lainnya.

Demi menjamin efektifitas pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa sesuai dengan tujuan dan prinsip – prinsip yang telah ditetapkan, Keputusan Presiden No. 18 Tahun 2000 telah menetapkan metoda pemilihan penyedia barang/ jasa. Metoda pemilihan tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :

Gambar 2.1

Metode Pemilihan Penyedia Barang/ Jasa Berdasarkan Keputusan Presiden No. 18 Tahun 200076

Dalam Keputusan Presiden ini tidak membedakan secara tegas pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa. Istilah swakelola memang sudah diperkenalkan sebagai pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan dan diawasi sendiri dengan menggunakan tenaga sendiri, alat sendiri, atau upah borongan tenaga. Namun

75 Termasuk di dalamnya adalah jasa pemborongan dan jasa konsultansi.

76 Pusdiklatwas BPKP, Pedoman Pelaksanaan Anggaran II, Diklat Pembentukan Auditor Ahli, Edisi VI, 2010, hlm. 11

pengaturan lain perihal swakelola tidak dijabarkan dalam regulasi pengadaan periode ini.

Pelelangan merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan kebutuhan barang/jasa dengan cara menciptakan persaingan yang sehat diantara penyedia barang/ jasa yang setara dan memenuhi syarat, berdasarkan metode dan tata cara tertentu yang telah ditetapkan dan diikuti oleh pihak – pihak yang terkait secara taat azas sehingga terpilih penyedia jasa terbaik.

Jika cara Pelelangan sulit dilaksanakan atau tidak menjamin pencapaian sasaran, maka dapat dilaksanakan dengan cara Pemilihan Langsung, yaitu membandingkan penawaran dari beberapa penyedia barang/ jasa yang memenuhi syarat melalui permintaan harga ulang (price quotation) atau permintaan teknis dan harga serta dilakukan negosiasi secara bersaing, baik dilakukan untuk teknis maupun harga, sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.

Apabila terjadi kondisi – kondisi tertentu, seperti : (i) Pengadaan Barang/ Jasa yang berskala kecil;73 (ii) setelah dilakukan Pelelangan Ulang hanya 1 (satu) peserta yang memenuhi syarat; serta (iii) bersifat mendesak/ khusus,77 maka Pengadaan Barang/ Jasa dapat dilaksanakan dengan cara Penunjukan Langsung.78

Begitu pula halnya dengan pemilihan penyedia jasa konsultansi. Pada prinsipnya pemilihan penyedia jasa konsultansi dilakukan dengan cara Seleksi

77 Setelah mendapat persetujuan dari Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non-Departemen/

Gubernur/ Bupati/ Walikota/ Direksi BUMN/BUMD.

78 Pemilihan dan Penunjukan Langsung (melalui negosiasi teknis dan harga) pun dapat dilakukan apabila pelelangan ulang gagal.

Umum, yakni seleksi yang pesertanya dipilih melalui proses prakualifikasi, dilakukan terbuka melalui media cetak dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum serta jika memungkinkan melalui media elektronik, agar konsultan yang memenuhi syarat dapat mengikutinya. Namun, apabila dengan Seleksi Umum tidak dapat terlaksana, maka pemilihan penyedia jasa dapat dilakukan dengan metode Seleksi Langsung atau Penunjukan Langsung.

Kepala Kantor/ Satuan kerja/ Pemimpin proyek/ bagian proyek/ pejabat yang disamakan/ ditunjuk menentukan penyedia jasa secara Penunjukan Langsung apabila:

(i) nilai yang hendak diperjanjikan sampai dengan Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah); (ii) setelah dilakukan Pelelangan Ulang hanya 1 (satu) peserta yang memenuhi syarat; (iii) bersifat mendesak/ khusus; (iv) penyedia jasa tunggal.

Keputusan Presiden No. 18 Tahun 2000 tidak mengatur permasalahan pekerjaan konstruksi secara mendetail. Terkait pekerjaan Jasa Konstruksi diatur tersendiri dalam beberapa regulasi, yakni :

1. Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 28 Tahun 2000 Tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi;

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 29 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi;

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 30 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi.

c.

Diperlukannya pengaturan perihal Pengadaan Barang/ Jasa pemerintah yang lebih komprehensif dilatarbelakangi beberapa kondisi, antara lain, besarnya pembelanjaan uang APBN/ APBD yang dibelanjakan/ dikeluarkan melalui proses Pengadaan Barang/ Jasa; masih tingginya tingkat kebocoran dalam pelaksanaan APBN/ APBD; adanya ketidakjelasan pengaturan dan benturan aturan yang mengatur Pengadaan Barang/ Jasa pemerintah; serta, adanya liberalisasi perdagangan di masa datang sebagai tantangan yang berat.

Oleh karena itu disusunlah Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003, dengan tujuan antara lain, mengurangi ekonomi biaya tinggi dan untuk meningkatkan efisiensi; meningkatkan persaingan sehat; melindungi dan memperluas peluang usaha kecil/ koperasi kecil; serta meningkatkan profesionalisme SDM pelaksana dan pengelola proyek.

Pada periode ini, Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah diatur pada : Periode Nopember 2003 – Desember 2010

1) Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.

2) Keputusan Presiden No. 61 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/

Jasa Pemerintah.

3) Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/

Jasa Pemerintah.

4) Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2005 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.

5) Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2006 tentang Perubahan Keempat Atas Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.

6) Peraturan Presiden No. 79 Tahun 2006 tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.

7) Peraturan Presiden No. 85 Tahun 2006 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.

8) Peraturan Presiden No. 95 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.

Berdasarkan pasal 7 Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 diketahui bahwa ruang lingkup berlakunya Keputusan Presiden tersebut tidak hanya pada pengadaan yang murni dibiayai oleh APBN/APBD, juga pada pembiayaan yang dilakukan oleh sebagian dibebankan pada APBN/APBD; sebagian atau seluruhnya dari PHLN; serta investasi di lingkungan BI, BHMN, BUMN dan BUMD yang pembiayaannya seluruh atau sebagian dibebankan pada APBN/ APBD.

Dari perluasan pengertian Keuangan Negara maka modal yang telah dipisahkan dalam BUMN/ BUMD merupakan Keuangan Negara.79

Peraturan

Akibatnya terjadi ketidaksinkronan antara paket UU Keuangan Negara dengan peraturan lain, khususnya terkait Perseroan Terbatas, BUMN dan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. Dalam hal ini penulis akan memberikan beberapa contoh peraturan tersebut.

Tabel 2.2

Ketidaksinkronan peraturan terkait perluasan pengertian keuangan Negara dan pengadaan barang/ jasa di BUMN

Pasal Terkait Bunyi

UU No. 19 Tahun 2003 Tentang BUMN

Penjelasan Umum Angka VI

UU BUMN dimaksudkan untuk memenuhi visi pengembangan BUMN di masa yang akan datang dan

meletakan dasar-dasar dan prinsip – prinsip tata kelola perusahaan yang baik. UU BUMN dirancang untuk menciptakan sistem pengelolaan dan pengawasan BUMN berlandaskan prinsip efisiensi da produktivitas guna meningkatkan kerja dan value BUMN serta menghindarkan BUMN dari tindakan-tindakan pengeksploitasian di luar asas tata kelola perusahaan yang baik.

Penejelasan Pasal 4 ayat (1)

Yang dimaksud dengan dipisahkan adalah pemisahan kekayaan Negara dari APBN untuk dijadikaan penyertaan modal Negara pada BUMN, untuk selanjutnya pembinaan dan

pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem APBN, namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada

79 Lihat kembali pandangan Arifin P. Soeria Atmadja pada halaman 33-34.

prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat.

UU No. 15 Tahun 2006

Tentang Badan Pemeriksa Keuangan

Pasal 6 ayat (1) BPK bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau badan lain yang mengelola Keuangan Negara.

PP No. 23 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum

Pasal 1 Angka 2 Pola Pengelolaan BLU adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini, sebagai pengecualian dari ketentuan

pengelolaan keuangan negara pada umumnya.

Pasal 20 ayat (2) Kewenangan Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan berdasarkan jenjang nilai yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan/ Gubernur/ Bupati/

Walikota.

Penjelasan Pasal 20 ayat (1)

BLU dapat dibebaskan sebagian atau seluruhnya dari ketentuan yang berlaku umum bagi Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah bila terdapat alasan efektivitas dan/atau efisiensi.

PP No. 45 Tahun 2005 tentang Pendirian, Pengurusan, Pengawasan dan Pembubaran BUMN

Pasal 99 ayat (1) Pengadaan Barang dan Jasa oleh BUMN yang menggunakan dana langsung dari APBN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan pelaksanaan APBN.

Pasal 99 ayat (2) Direksi BUMN menetapkan tata cara

Pengadaan Barang dan Jasa bagi BUMN yang bersangkutan, selain Pengadaan Barang dan Jasa

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan pedoman umum yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 75 ayat (1) Pengadaan Barang/ Jasa kegiatan yang dibiayai Pinjaman Luar Negeri atau Hibah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan

Pasal 4 Peraturan Menteri ini berlaku untuk semua Pengadaan Barang dan Jasa yang dilakukan oleh BUMN yang

pembiayaannya berasal dari anggaran BUMN atau anggaran pihak lain termasuk yang dibiayai dari

pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) baik yang dijamin maupun tidak dijamin oleh Pemerintah, kecuali Pengadaan Barang dan Jasa tersebut menggunakan dana langsung dari APBN/ APBD baik sebagian maupun seluruhnya.

Pasal 5 ayat (2) Huruf D

Memunculkan norma baru yakni : Pembelian langsung, yaitu pembelian terhadap barang yang terdapat di pasar dengan demikian nilainya berdasarkan harga pasar.

Surat Edaran Menteri Negara Pendayagunaan BUMN No.

SE-01/MP/BUMN/1998

Secara garis besar berisi permintaan kepada Direksi BUMN untuk menyusun ketentuan Pengadaan Barang dan Jasa yang pendanaannya bersumber dari dana perusahaan.

Surat Edaran Kementerian Negara BUMN No. S-298/S.MBU/2007

Secara garis besar berisi :

• Pengadaan Barang/ jasa bagi BUMN yang dananya berasal dari BUMN/

bukan dari dana APBN langsung (dengan pengertian Pengadaan barang dan Jasa yang dibiayai dari dana yang berasal dari DIPA APBN/ APBD),

tidak berlaku Keppres No. 80 Tahun 2003;

• Tata cara Pengadaan Barang dan Jasa instansi Pemerintah sejak tahun 1998 tidak berlaku bagi BUMN

(berdasarkan PP No. 12 Tahun 1998 tentang PERSERO dan PP No. 13 Tahun 1998 tentang PERUM);

Direksi BUMN menetapkan Tata Cara Pengadaan Barang dan Jasa;

Sumber : pandangan Arifin. P. Soeria Atmadja terhadap undang – undang Keuangan Negara dan Keppres No. 80 Tahun 2003 hal. 35

Pada periode ini, pengaturan perihal bentuk Pengadaan Barang/ Jasa di Indonesia dijabarkan lebih komprehensif dibanding periode sebelumnya. Bentuk pengadaan dibagi dalam empat kategori, yakni :

a. Pengadaan Barang;

b. Pengadaan jasa;80 c. Pengadaan jasa lainnya;

d. Pengadaan Barang/ Jasa melalui Swakelola

Demi menjamin pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa pemerintah yang efektif, efisien dan ekonomis, Keppres Nomor 80 Tahun 2003 telah menetapkan metoda pemilihan penyedia barang/ jasa. Metoda pemilihan tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :81

80 Termasuk dalam kategori pengadaan jasa yakni pengadaan jasa pemborongan dan jasa konsultansi

81 Pusdiklatwas BPKP, Pedoman Pelaksanaan Anggaran, Diklat Pembentukan Auditor Ahli, Edisi IV, 2007, hlm. 7-8

Gambar 2.2

Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Berdasarkan Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003

Pada prinsipnya pemilihan penyedia barang/ jasa pemborongan/ jasa lainnya dilakukan dengan metoda pelelanganumum. Metoda ini merupakan metoda pemilihan yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya.

Adapun pemilihan penyedia barang/ jasa pemborongan/ jasa lainnya dapat dilakukan dengan menggunakan metode pelelangan terbatas, dengan syarat (1) jumlah penyedia barang/ jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas, dan (2)

Pelelangan Umum

mengerjakan pekerjaan yang kompleks.82 Pada prinsipnya, proses pelelangan terbatas sama dengan pelelangan umum kecuali, dalam pengumuman pelelangan terbatas dicantumkan kriteria peserta dan nama-nama penyedia barang/jasa yang akan diundang.83

Pemilihan langsung dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran, sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia barang/ jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untukpenerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet.84

peserta lelang yang baru atau keseluruhan peserta lelang masih kurang dari 3 (tiga) peserta, maka panitia/ pejabat pengadaan melanjutkan proses pemilihan dengan metoda seperti pemilihan langsung apabila peserta yang mendaftar/ lulus prakualifikasi hanya 2 (dua) peserta. Pemilihan langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Metode inipun dapat dilaksanakan apabila setelah pengumuman lelang/

Metode inipun dapat dilaksanakan apabila setelah pengumuman lelang/