BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
4. Paradigma Pedagogi Reflektif
Menurut Tim Redaksi Kanisius (2008: 39), Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) merupakan pola pikir dalam menumbuhkembangkan pribadi siswa menjadi pribadi kemanusiaan. Melalui dinamika pola pikir tersebut, siswa diharapkan mengalami sendiri (bukan hanya mendapatkan informasi karena diberi tahu). Melalui refleksi diharapkan siswa yakin sendri (bukan patuh karena peraturan), melalui aksi siswa yakin berbuat dari kemauannya sendiri (bukan karena ikut-ikutan). Pembentukan kepribadian diharapkan dilakukan sedemikian rupa sehingga siswa nantinya memiliki komitmen untuk memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih adil, bersaudara, bermartabat, melestarikan lingkungan hidup, dan lebih menjamin kesejahteraan umum.
Menurut Suparno (2015: 18), Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) adalah bukan hanya sekedar metode pembelajaran melainkan suatu pedagogi. Pedagogi merupakan pendekatan, cara guru untuk mendampingi siswa sehingga siswa berkembang menjadi pribadi yang utuh.
Peneliti menyimpulkan bahwa paradigma pedagogi reflektif adalah pola pikir yang membentuk kepribadian siswa menjadi pribadi yang menumbuhkembangkan dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Menurut Suparno (2015: 21), terdapat lima komponen dalam pelaksanaan pembelajaran PPR sebagai berikut:
1) Komponen Dalam Proses PPR
Komponen dalam PPR terdiri dari: konteks, pengalaman, refleksi, tindakan, dan evaluasi
a. Konteks
Menurut Tim P3MP-LPM (2013: 13) konteks adalah deskripsi tentang “dengan siapa’ berinteraksi, “bagaimana” latar belakang dan pengalaman hidupnya, “ dimana” dan “seperti apa” lingkungan tempat berinteraksinya. “apa” yang diharapkan muncul dari interaksi tersebut, serta “mengapa” mengikuti proses pembelajaran ini. Konteks akan membantu guru menentukan bentuk dan cara pemberian pengalaman melalui siswa dapat menarik makna dari pengalamannya selama belajar.
Menurut Suparno (2015: 21-22) guru perlu mengerti konteks siswa mengerti konteks siswa, lingkungan dan sekolah, tempat dimana akan dilakukan proses pembelajaran. Perbedaan konteks akan mempengaruhi pengalaman, metode pembelajaran, metode pembelajaran dan pendekatan yang akan dilakukan kepada siswa.
Berdasarkan yang dikemukakan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa konteks adalah gambaran untuk
guru mengenai latar belakang siswa agar dalam proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik
b. Pengalaman
Menurut Tim P3MP-LPM (2012: 16) bahwa pengalaman tahap pengalaman ini, siswa diajak untuk melakukan kegiatan yang memuat tidak hanya aspek kognitif (pemahaman materi) tetapi juga aspek afektif (perasaan/penghayatan).
Menurut Suparno (2015: 28) adalah suatu kejadian yang sungguh terjadi dilakukan dan dialami yang dapat menyentuh pikiran, hati, kehendak, perasaan, maupun hasrat siswa.
Berdasarkan yang telah dikemukakan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pengalaman adalah suatu kejadian atau kegiatan yang memuat aspek kognitif dan juga aspek afektif. Sehingga siswa dapat menguasai langsung pembelajaran tersebut.
c. Refleksi
Menurut Subagya (2012: 53) bahwa refleksi merupakan inti dari pembelajaran dengan berbasis PPR. Melalui Refleksi siswa diharapkan siswa dapat memahami arti dan nilai tentang apa yang sedang dipelajari dan dapat menerapkannya.
Menurut TIM P3MP-LPM (2012: 18-19) bahwa refleksi berarti mengadakan pertimbangan seksama dengan menggunakan daya ingat, pemahaman, imajinasi, dan perasaaan menyangkut bidang ilmu, pengalaman, ide, tujuan yang diinginkan atau reaksi spontan untuk menangkap makana dari apa yang dipelajari.
Menurut Suparno (2015: 33) bahwa pada tahap ini siswa dibantu untuk menggali pengalaman mereka sedalam-sedalamnya dan seluas-luasnya, dan mengambil makna bagi hidup pribadi, hidup bersama, dan hidup bermasyarakatan.
Berdasarkan yang telah dikemukakan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa refleksi adalah suatu kegiatan dimana siswa diharapkan dapat mengambil nilai-nilai dari sebuah pengalaman tersebut.
d. Aksi
Menurut TIM P3MP-LPM (2012: 29) aksi atau tindakan adalah kegiatan yang mencerminkan pertumbuhan batin berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan. Tindakan selalu mencakup dua tahap yaitu pilihan batin (Refleksi dari pengalaman) dan manifestasi (perwujudan nyata) yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Suparno (2015: 37) bahwa aksi adalah tindakan entah batin atau sudah tindakan psikomotorik yang dilakukan siswa setelah mereka merefleksikan pengalaman belajarnya.
Berdasarkan yang telah dikemukakan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa aksi adalah suatu tindakan yang menghasilkan sebuah sikap diri yang berubah ke arah lebih baik serta adanya tindakan nyata yang dapat dipertanggungjawabkan.
e. Evaluasi
Evaluasi bertujuan untuk melihat ketercapaian siswa dalam proses pembelajaran dilihat dari sisi akademik. Evaluasi juga digunakan dalam penerapan PPR. secara keseluruhan bagaimana seluruh proses PPR itu terjadi dan berkembang.
Menurut Suparno (2015: 40), evaluasi bertujuan untuk melihat secara keseluruhan bagaimana seluruh proses PPR itu terjadi dan berkembang. Dalam hal ini, dalam proses pengalaman, refleksi dan aksi perlunya evaluasi agar pembelajaran tersebut apakah berjalan dengan baik. Jadi evaluasi adalah kegiatan untuk mengukur proses dan hasil belajar sisswa dan untuk
mengetahui unsur-unsur PPR apakah terlaksana dengan baik atau tidak.
2) Competence, Conscience, Compassion (3C)
Tim P3MP-LPM USD (2012) menjelaskan Competence, Conscience, dan Compassion (3C) sebagai berikut.
Competence embraces a broad spectrum of abilities-academic proficiency (including the ability to reason reflectively, logically, critically, imaginatively, and creatively art, sport, and leisure, and effective communication skills.
A person of conscience discerns what is right, good, and true, and has the courage to do it, take a stand when necessary, has a passion for social justice and is an influential leader in their community. Such a person is a person of integrity.
A compassionate person generously responds to those who are in greatest need who walk with others to ompower them, in solidarity and empathy.
Pendapat di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut, competence adalah kemampuan akademik, termasuk kemampuan untuk berpikir reflektif, logis, kritis, imajinatif, dan kreatif, keterampilan teknologi dan kejuruan: apresiasi seni kreatif, olahraga, dan rekreasi; serta keterampilan komunikasi yang efektif. Conscience adalah kemampuan untuk menentukan yang baik dan benar, memiliki keberanian untuk melakukannya,
mampu mengambil sikap bila diperlukan, serta memiliki semangat untuk keadilan sosial. Compassion adalah kemampuan untuk memiliki rasa solidaritas dan empati pada orang lain.
Menurut Suparno (2015: 19) competence, conscience, dan compassion adalah sebagai berikut.
Competence berarti menguasai ilmu pengetahuan/keterampilan sesuai bidangnya. Siswa dapat menguasai keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat mejadi cerdas dan berkompeten dalam bidang akademik.
Conscience berarti siswa mempunyai hati nurani dalam bertindak atau melakukan sesuatu hal. Suara hati ini dapat digunakan siswa untuk menentukan bagaimana ia harus bersikap atau membedakan hal-hal yang benar dan salah sehingga diharapkan dapat melakukan hal-hal yang benar.
Compassion berarti siswa mempunyai kepekaan untuk berbuat baik bagi orang lain yang membutuhkan, punya kepedulian pada orang lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa PPR adalah suatu pola pikir dalam pembelajaran yang meliputi 5 unsur yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. Evaluasi dalam pembelajaran PPR terdiri dari 3 yakni competence, conscience, dan compassion.