• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori

2.1.2 Paradigma Pedagogi Reflektif

2.1.2.1 Pengertian Paradigma Pedagogi Reflektif

Paradigma Pedagogi Reflektif adalah pola pikir manusia yang mempunyai tujuan menumbuhkembangkan tindakan setiap pribadi manusia melalui refleksi diri dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari (Tim Kanisius, 2008: 39). Paradigma Pedagogi Reflektif juga merupakan pola pembelajaran yang mengintegrasikan pemahaman tentang masalah dunia, kehidupan dan perkembangan nilai-nilai kemanusiaan dalam satu proses yang terintegrasi sehingga nilai-nilai tersebut muncul dari kesadaran dan kemauan siswa melalui refleksi yang menuntunnya sampai pada kedalaman kehidupan beriman, yaitu hubungannya dengan Tuhan (aspek vertikal), sedangkan pada aspek horizontal adalah hubungannya dengan manusia (Pranyoto, 2014). Paradigma Pedagogi Reflektif dapat menyatukan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam setiap materi ajar. Paradigma Pedagogi Reflektif memiliki 5 langkah yang dilakukan secara beruntun dan terus-menerus, yaitu (1) konteks, (2) pengalaman, (3) refleksi, (4) aksi, dan (5)

evaluasi. Inti dari Paradigma Pedagogi Reflektif itu ada di tahap refleksi (Hartana, 2016: 765-769).

Dalam berefleksi, siswa memilih dan menimbang pengalaman-pengalamannya untuk menemukan dirinya yang otentik sehingga siswa dapat mengambil keputusan dan bertindak dengan nilai yang luhur. Setiap langkah dalam dinamika Paradigma Pedagogi Reflektif memiliki relasi yang saling membutuhkan sehingga tidak dapat dipisahkan. Kita dapat memahami Paradigma Pedagogi Reflektif sebagai pengembangan pribadi manusia secara utuh menjadi “Men and

Women -for and with- Other” yang berarti “Manusia untuk dan bersama Orang

Lain” (P3MP, 2008: 5-6). Proses pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif bertujuan pada keseimbangan strategi belajar dengan melakukan penekanan sisi kognitif (competence), sisi hati nurani (conscience) dan sisi bela rasa terhadap sesama (compassion) pada proses pembelajaran (Hartana, 2016: 766).

2.1.2.2 Langkah belajar Paradigma Pedagogi Reflektif

Langkah belajar Paradigma Pedagogi Reflektif merupakan interaksi terus menerus dari 3 unsur pokok, yaitu pengalaman, refleksi dan aksi dalam proses pembelajaran. Tiga unsur tersebut kemudian dilengkapi dengan adanya konteks yang menjadi tempat pengalaman dan adanya evaluasi setelah melakukan sebuah aksi (Hartana, 2016: 769). Dalam Pedoman Model Pembelajaran Berbasis Pedagogi Ignasian-P3MP (2008: 8), pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif dirumuskan dalam sebuah sistem yang memiliki unsur-unsur pokok: context (konteks) –

experience (pengalaman) – reflection (refleksi) – action (aksi) –evaluation

(evaluasi). Sistem tersebut menekankan langkah-langkah beruntun (dari context kembali ke context) yang secara singkat dapat dilihat gambar siklusnya pada Gambar 2.1 dan uraian singkatnya di bawah ini.

1. Konteks

Konteks merupakan tahap pertama dalam Paradigma Pedagogi Reflektif yang memiliki 3 tahapan untuk menumbuhkembangkan Pendidikan, antara lain sebagai berikut: Pertama, Guru harus memahami lingkungan belajar siswa untuk dapat menjadi fasilitator dan motivator yang memiliki nilai-nilai kehidupan seperti: solidaritas, menghargai, tanggung jawab, kerja keras, dan nilai-nilai lain semacam itu dengan cara menaati nilai-nilai kehidupan tersebut (Korth, 2008). Kedua, Guru menjadi role model mengenai penghayatan nilai-nilai sehingga siswa cenderung melihat, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai yang berlaku. Dan yang ketiga adalah guru membangun keakraban dengan siswa melalui percakapan, saling menghormati dan bekerja sama (Tim Kanisius, 2008). Jadi, dalam konteks, guru memfasilitasi setiap siswa untuk mencermati pelbagai konteks dalam hidupnya dengan tujuan supaya lebih cermat dalam mendeteksi potensi yang mendukung atau menghambat siswa dalam proses pembelajaran. Pada

hakikatnya, konteks merupakan semua faktor yang mendukung atau menghambat setiap siswa dalam proses pembelajaran (Hartana, 2016: 769).

Berikut adalah konteks yang harus dipahami oleh guru untuk dapat memberikan nilai-nilai kehidupan (Tim Kanisius, 2014: 45-48):

1) Konteks nyata dari kehidupan siswa

Guru harus memperhatikan orang-orang terdekat dengan siswa termasuk cara-cara hidupnya. Orang-orang terdekat, seperti keluarga, teman, adat, tekanan sosial, dan hal lain yang berdampak pada dunia siswa dan mempengaruhinya ke arah baik atau buruk. Apabila siswa memilih ke arah buruk, maka siswa akan kehilangan percaya diri dalam proses belajar sehingga siswa merasa tertekan dalam belajar dan tidak dapat memaknai pembelajaran. Untuk menghindari hal tersebut, refleksi diri dilakukan sebagai upaya mengolah diri dan memilih pilihan positif dalam hidup.

2) Konteks sosio-ekonomik, politis, dan kebudayaan

Menurut P3MP (2008: 9), lingkungan hidup siswa dapat mempengaruhi perkembangan siswa “sebagai manusia bagi orang lain” (men and women for other). Guru mempunyai kewajiban untuk memperhatikan kondisi ekonomi siswa karena mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Kemiskinan menjadi ancaman bagi siswa karena dapat menyebabkan putus sekolah sehingga nilai kehidupan yang akan siswa bawa sebagai pengalaman terhambat dalam pengembangannya (Tim Kanisius, 2014: 45).

3) Suasana Lingkungan Belajar

Siswa yang berhasil dalam proses belajar tentunya tak luput dari lingkungan kelas dan mutu guru. Selain itu, sekolah dengan lingkungan yang damai, seperti menjalin hubungan yang baik antara sesama warga sekolah dan patuh terhadap norma-norma yang berlaku di lingkungan sekitar dapat memicu siswa untuk belajar lebih giat dan mendapatkan nilai-nilai luhur yang lebih bermutu. P3MP (2008: 10) menegaskan bahwa konteks ini perlu dipahami karena relasi tersebut menciptakan

atmosfir kehidupan yang mendukung pembentukan pribadi siswa menuju komitmen pada nilai-nilai luhur.

4) Pengertian yang dibawa ketika memulai proses belajar.

Kegiatan belajar siswa diawali dengan mengumpulkan pendapat-pendapat dan pemahaman-pemahaman yang sudah didapatkan melalui pengalaman belajar sebelumnya. Kegiatan tersebut disebut sebagai penggalian pengetahuan. Kemudian guru perlu memperhatikan ketika siswa mempraktikkan pengertian yang mereka pahami selama proses belajar melalui sikap, nilai, dan perasaan siswa terhadap pengetahuan yang pernah didapatkan sebelumnya.

2. Pengalaman

Istilah pengalaman menurut Ignatius adalah untuk menunjukkan keaktifan siswa secara kognitif pada materi yang sedang dipelajari (Hartana, 2016: 770). Pada tahap pengalaman, guru menjadi fasilitator untuk memotivasi siswa dalam mempergunakan imajinasi mereka dan mempelajari suatu kejadian yang pernah dialami (Tim Kanisius, 2008). Guru dapat memotivasi siswa dengan cara menciptakan kegiatan yang menarik dan tetap menyesuaikan informasi terkini yang relevan dengan Pendidikan supaya pengalaman yang digambarkan siswa pun relevan dengan materi yang akan dipelajari (Korth, 2008).

Hartana (2016: 770) berpendapat bahwa setiap pengalaman yang diperoleh akan ada data dan fakta diserap secara kognitif oleh siswa. Ia juga mengatakan bahwa pengalaman mempunyai dua macam, yaitu pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. Pengalaman langsung adalah pengalaman yang secara langsung dialami oleh siswa melalui pengalaman intrapersonal, diskusi kelompok, atau penelitian laboratorium. Sedangkan, pengalaman tidak langsung adalah pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan membaca berita, mendengarkan audio, dan melihat media elektronik secara visual.

3. Refleksi

Hartana (2016: 769-770) mengatakan bahwa refleksi merupakan unsur yang sangat sentral pada pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif. Dengan kata lain, Refleksi merupakan inti dalam proses siklus pembelajaran. Refleksi merupakan jembatan yang menghubungkan antara pengalaman dan tindakan. Dalam berefleksi, terdapat pertimbangan yang seksama dengan menggunakan daya ingat, pemahaman, imajinasi, dan perasaan yang menyangkut bidang ilmu, pengalaman, ide, dan tujuan yang diinginkan atau reaksi spontan untuk menangkap nilai yang dipelajari (P3MP, 2008: 8). Tahap refleksi ini bertujuan membentuk suara hati para siswa sehingga siswa menemukan gerak batin yang mendasari tindakan ke arah yang lebih baik atau ke arah yang buruk (Tim Kanisius, 2014: 54). Selain itu, refleksi bertujuan menemukan keterkaitan antar pengetahuan dengan realitasnya serta memahami implikasi pengetahuan dan seluruh tanggung jawabnya (P3MP, 2008: 15).

Istilah refleksi juga dapat menangkap makna dalam pengalaman dengan beberapa cara berikut ini: (1) memahami kebenaran yang dipelajari secara lebih baik, (2) mengerti sumber-sumber perasaan dan reaksi yang dialami, (3) memperdalam pemahaman temtang implikasi-implikasi yang telah dimengerti, (4) berusaha menemukan makna bagi diri pribadi tentang kejadian-kejadian, ide-ide, kebenaran, atau pemutarbalikan dari kebenaran, dan (5) mulai memahami siapa dirinya dan bagaimana seharusnya sikapnya terhadap orang lain (Tim Kanisius, 2014:55-56).

4. Aksi

Menurut Hartana (2016: 770), aksi merupakan praktik dalam kehidupan nyata yang dilakukan oleh siswa berdasarkan hasil pembelajaran dengan pikiran dan hati nurani untuk mewujudkan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam Paaradigma Pedagogi Reflektif, aksi diterapkan dalam bentuk proyek, pemecahan masalah, pembuatan business-plan, dll. Dalam P3MP (2008: 16) dijelaskan bahwa aksi merupakan pertumbuhan batin yang mencakup dua tahap, yaitu hasil dari refleksi pengalaman (batin) dan perwujudtan nyata yang dapat dipertanggungjawabkan (lahir). Dalam tahap batin bermakna

mempertimbangkan pengalamannya dari sudut pandang pribadi dan manusiawi. Pengalaman baru yang didapatkannya dipahami secara kognitif disertai dengan perasaan afektif (positif atau negatif). Kemudian dalam tahap aksi yang dinyatakan secara lahir, artinya, nilai-nilai kehidupan yang didapatkan selama kegiatan telah menjadi bagian dari dirinya sehingga siswa beraksi secara konsisten dan yakin. Jika nilai itu positif, siswa akan meningkatkan keadaan yang menimbulkan pengalaman positif tersebut. Namun, apabila nilai pengalamannya negatif, siswa akan berusaha memperbaiki, mengubah, mengurangi, atau bahkan menghindari hal-hal yang menimbulkan pengalaman negatif itu. (Tim Kanisius, 2014:61-62).

Dalam proses pembelajaran, aksi adalah bagaimana cara siswa memaknai hasil belajar dengan pikiran dan hati nurani untuk mewujudkan pengetahuannya ke dalam kehidupan sehari-hari (P3MP, 2008:16). Guru mengajak siswa untuk melakukan kegiatan nyata yang sesuai dengan nilai yang sudah didapatkan setelah melakukan refleksi (Korth, 2008). Dalam melakukan aksi, guru memfasilitasi siswa dengan pertanyaan aksi agar siswa terbantu untuk membangun niat dan bertindak sesuai hasil refleksinya (Tim Kanisius, 2008:44). Pangkal dalam mengambil keputusan mengenai tindakan-tindakan yang akan siswa lakukan adalah dengan memperhatikan nilai-nilai yang terkandung karena aksi merupakan implementasi setelah melakukan refleksi dengan tujuan “merasakan dan mengenyam” pengalamannya (Tim Kanisius, 2014:59-60).

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir pada Paradigma Pedagogi Reflektif yang tidak hanya mengukur kemampuan siswa dalam bidang akademik tetapi juga pada aspek kemanusiaan (Hartana, 2016: 771). Pada tahap evaluasi guru mengajak siswa untuk melakukan penegasan materi yang sudah dikuasai dengan penugasan (Korth, 2008). Selain penugasan, evaluasi dapat dilakukan dengan tes atau praktikum. Adapun alat evaluasi lain yang dapat digunakan adalah penggunaan waktu luang dan melayani orang lain secara sukarela (Tim Kanisius, 2014: 62-63).

Tahap evaluasi mengajarkan bagaimana cara melayani sesama manusia sekaligus untuk mempertahankan pengamalan nilai kehidupan dalam aksi nyata yang sudah dilakukan. Evaluasi memiliki tujuan untuk menumbuhkan bela rasa siswa secara menyeluruh sebagai pribadi yang penuh kasih. Pada tahap evaluasi inilah hubungan saling percaya dan saling menghargai antara siswa dan pengajar menentukan suasana pembelajaran. Evaluasi tidak hanya dialami oleh siswa, melainkan oleh guru yang wajib mengevaluasi diri supaya dapat memberikan umpan balik kepada diri sendiri sehingga dapat menemukan gaya mengajar dan pola pendampingan yang baru kepada siswa (Perdana, 2020: 32). 2.1.2.3 Kelebihan Paradigma Pedagogi Reflektif

Berdasarkan Tim Kanisius (2014: 67-70), Paradigma Pedagogi Reflektif memiliki kelebihan dalam penerapannya apabila dilakukan secara konsisten. 1. Paradigma Pedagogi Reflektif dapat diterapkan pada semua kurikulum bahkan

kurikulum yang ditentukan pemerintah karena Paradigma Pedagogi Reflektif merupakan pendekatan yang taat asas dan harus mendasari seluruh pengajaran. 2. Paradigma Pedagogi Reflektif menjadi fundamental untuk proses belajar mengajar. Selain dapat diterapkan pada disiplin akademik, Paradigma tersebut juga dapat diterapkan pada ranah non-akademik, seperti kegiatan ekstrakurikuler. Jika Paradigma ini dipakai secara konsisten maka akan membantu pembentukan kebiasaan berefleksi sebelum bertindak.

3. Paradigma Pedagogi Reflektif menjamin para pembelajar menjadi lebih baik karena membantu para pembelajar memotivasi para siswa dengan mengajak mereka menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan pengalaman mereka. 4. Paradigma Pedagogi Reflektif mendorong semangat para pembelajar dalam merefleksikan makna dari apa yang dipelajari melalui proses belajar mengajar. 5. Paradigma Pedagogi Reflektif menekankan dimensi sosial dalam belajar dan mengajar melalui refleksi yang mengantar siswa untuk mempunyai sifat toleransi yang tinggi terhadap hidup orang lain. Paradigma ini memperhatikan struktur yang menunjang atau mrnghalangi pengembangan dan pertumbuhan sebagai sesama manusia.

Dokumen terkait