• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODUL PRAMUKA SIAGA MULA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF UNTUK SEKOLAH INKLUSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN MODUL PRAMUKA SIAGA MULA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF UNTUK SEKOLAH INKLUSI"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGEMBANGAN MODUL PRAMUKA SIAGA MULA

BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF UNTUK

SEKOLAH INKLUSI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Chita Kisyaraning Mahayu NIM: 171134013

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2021

▸ Baca selengkapnya: download program mingguan pramuka siaga

(2)

ii SKRIPSI

PENGEMBANGAN MODUL PRAMUKA SIAGA MULA

BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF UNTUK

SEKOLAH INKLUSI

Oleh:

Chita Kisyaraning Mahayu NIM: 171134013

Telah disetujui oleh: Pembimbing

▸ Baca selengkapnya: rencana tindak lanjut pramuka siaga

(3)

iii SKRIPSI

PENGEMBANGAN MODUL PRAMUKA SIAGA MULA

BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF UNTUK

SEKOLAH INKLUSI

Dipersiapkan dan di tulis oleh: Chita Kisyaraning Mahayu

NIM: 171134013

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 16 Juni 2021

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. ………

Sekretaris Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M. Pd. ………

Anggota Drs. Albertus Hartana, S.J., M.Pd. ………

Anggota Eny Winarti, Ph.D. ………

Anggota Laura Aptik Evanjeli, S.Psi., M.A. ………

Yogyakarta, 16 Juni 2021

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

Dekan,

(4)

iv

PERSEMBAHAN

Saya persembahkan Karya ini untuk:

1. Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menyertai dan membimbing langkah dan usahaku dalam menyelesaikan karya ini.

2. Kedua Orang Tua dan Kakakku, yang selalu memberikan kasih sayang, semangat dan selalu mendoakanku.

3. Dosen Pembimbingku Rm. Drs. Albertus Hartana, S.J., M.Pd.,

4. Sahabat-sahabatku di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angakatan 2017

(5)

v MOTTO

FILIPI 4:6

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang

apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam

segala hal keinginanmu kepada ALLAH

dalam doa dan permohonan dengan ucapan

syukur.”

AMSAL 23:18

Karena masa depan sungguh ada,

dan harapanmu tidak akan hilang”

AGNEZMO

Dreams Believe and Make It

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah

Yogyakarta, 16 Juni 2021 Penulis

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma:

Nama : Chita Kisyaraning Mahayu

Nomor Induk Mahasiswa : 171134013

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

Pengembangan Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Sekolah Inklusi

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 16 Juni 2021 Yang menyatakan

(8)

viii ABSTRAK

PENGEMBANGAN MODUL PRAMUKA SIAGA MULA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF UNTUK SEKOLAH INKLUSI

Chita Kisyaraning Mahayu Universitas Sanata Dharma

2021

Ekstrakurikuler Pramuka di SD Tumbuh yang merupakan Sekolah Inklusi mulai diaktifkan kembali. Seluruh siswa kelas 3 dan 4 mengikuti kegiatan Pramuka, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Tujuan dari penelitian ini mendeskripsikan langkah-langkah dan mengetahui kualitas modul Pramuka Siaga Mula berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk Sekolah Inklusi. Paradigma Pedagogi Reflektif dapat diterapkan pada ranah non-akademik, seperti kegiatan ekstrakurikuler. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Research and Development (R&D) model ADDIE. ADDIE merupakan suatu

akronim dari Analyze, Design, Development, Implementatiton, dan Evaluate yang merupakan suatu paradigma pengembangan modul. Hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut, yaitu (1) peneliti melakukan penelitian pendahuluan (preliminary research); peneliti membuat sampul untuk modul Pembina dan modul siswa beserta dengan pemilihan warna yang sesuai dengan kepramukaan, merancang isi modul Pembina dan modul siswa hingga selesai; peneliti menyusun modul pembina dan modul siswa ; peneliti melakukan uji coba modul secara daring karena terkendala pandemi COVID-19; peneliti melaksanakan evaluasi berdasar hasil validasi modul dan komentar, dan (2) kualitas modul Pembina dan modul siswa masuk pada kategori “keseluruhan produk sudah layak digunakan”. Skor rata-rata 3,6 diberikan untuk modul Pembina. Sedangkan, skor rata-rata 3,67 diberikan untuk modul siswa. Kedua skor tersebut dibandingkan dengan skala empat.

(9)

ix

ABSTRACT

THE DEVELOPMENT OF FUNDAMENTAL CUB SCOUT MODULE BASED ON REFLECTIVE PEDAGOGY PARADIGM FOR INCLUSION

SCHOOL

Chita Kisyaraning Mahayu

Sanata Dharma University 2021

SD Tumbuh as an Inclusion School has reactivated its scout extracurricular. The participants are students in grade 3 and 4, including the students with special needs. The purpose of this study is to describe the steps and to judge the quality of the scout module based on Reflective Pedagogy Paradigm for inclusion schools. Reflective Pedagogy Paradigm could be applied to non-academic areas, such as extracurricular activities. The type of research used in this study is research and development (R&D) ADDIE model. ADDIE is an acronym of Analyze, Design, Development, Implementatiton, and Evaluate which is a paradigm of product development. Results and discussion of this study, the conclusions stated as follow; (1) The researcher conduct preliminary research; the researcher created the covers for the Mentor and the student module along with the selection of colors corresponding to scouting, designing the contents of both the Mentor and students module; the researcher then compiled the mentor module and the student module accordingly to the finished module; the researcher conducted online module trials due to the COVID-19 pandemic; the researcher carried out evaluations based on module validation results and comments, and (2) the quality of the Mentor module and the Student module fits into the "overall decent" category. An average score of 3.6 is given for the Mentor module.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengembangan Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Sekolah Inklusi”

Skripsi ini diselesaikan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa selama menyelesaikan skripsi ini penulis memperoleh bantuan, bimbingan, dukungan, dan doa dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu memberikan berkat-Nya, menyertai dan membimbing sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd, M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

3. Ibu Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

4. Ibu Maria Agustina Amelia, S.Si., M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Akademik.

5. Rm. Drs. Albertus Hartana, S.J., M.Pd., selaku dosen pembimbing yang telah memberi dukungan, bimbingan, dan arahan kepada penulis selama proses penyusunan skripsi.

6. Kedua orang tuaku, Bapak Yusak Supy Achmady dan Ibu Purwanti atas kasih sayang, semangat, dan doa yang telah diberikan selama ini.

7. Kakakku, Wida Hening Sukma Crisdiati dan Bagas Sakti Pratama, yang selalu mendukung dan mendoakanku.

8. Sahabat-sahabatku, Yofie Eka, Yosef Adi Perdana, Angela Fienda, Corry Restuina, Caecih, Michaela Dinda, Yudhistira Prama, Avian Kurnia, Titis Sangha Maheswari, dan Brigita Vio.

(11)

xi

9. Teman-temanku di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2017 yang selalu mendukung, memberi semangat dalam penyelesaian skripsi ini serta terimakasih atas kebersamaannya selama ini.

10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dan mendukung penulis selama penyusunan skripsi.

11. Last but not least, I wanna thank me, I wanna thank me for believing in God in

me, I wanna thank me for doing all this hard work, I wanna thank me for having no days off, I wanna thank me for never quitting, for just being me at all times.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khusunya.

Yogyakarta, 16 Juni 2021 Penulis,

(12)

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN MOTTO ... vii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ...ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR BAGAN ... xv

DAFTAR TABEL ...xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 6 1.3 Tujuan Penelitian ... 6 1.4 Manfaat ... 6 1.5 Definisi Operasional ... 7 1.6 Spesifikasi Modul ... 8

BAB II LANDASAN TEORI ... 13

2.1 Landasan Teori ... 13

2.1.1 Gerakan Pramuka ... 13

2.1.1.1 Pramuka di Dunia ... 13

(13)

xiii

2.1.1.3 Tujuan Pramuka ... 16

2.1.1.4 Dasar Pendidikan Pramuka ... 16

2.1.1.5 Metode Pengajaran Pramuka... 17

2.1.1.6 Golongan Pramuka ... 19

2.1.1.7 Pramuka di Sekolah Inklusi ... 20

2.1.2 Paradigma Pedagogi Reflektif ... 22

2.1.2.1 Pengertian Paradigma Pedagogi Reflektif ... 22

2.1.2.2 Langkah belajar Paradigma Pedagogi Reflektif ... 23

2.1.2.3 Kelebihan Paradigma Pedagogi Reflektif ... 29

2.1.3 Modul ... 30

2.1.3.1 Pengertian Modul ... 30

2.1.3.2 Karakteristik Modul ... 30

2.1.3.3 Unsur-unsur Modul ... 31

2.1.4 Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Sekolah Inklusi ... 33

2.2 Penelitian Yang Relevan ... 33

2.3 Kerangka Berpikir ... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 39

3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.2 Setting Penelitian ... 40

3.3 Prosedur Pengembangan Penelitian ... 41

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 48

3.5 Instrumen Penelitian ... 49

3.6 Teknik Pengujian Instrumen ... 53

3.7 Teknis Analisis Data ... 53

3.8 Jadwal Penelitian ... 54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 56

4.1 Hasil Penelitian ... 56

4.2 Pembahasan ... 85

BAB V PENUTUP ... 93

(14)

xiv 5.2 Keterbatasan Penelitian ... 94 5.3 Saran Penelitian ... 95 DAFTAR PUSTAKA ... 96 LAMPIRAN ... 99 BIOGRAFI PENULIS..………..……….147

(15)

xv

DAFTAR BAGAN

Halaman Bagan 2. 1 Penelitian yang Relevan ... 35

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. 1 Spesifikasi Bentuk Modul ... 8

Tabel 1. 2 Spesifikasi Isi Modul ... 10

Tabel 3. 1 Tujuan Kegiatan Pramuka... 42

Tabel 3. 2 Susunan Modul Pembina ... 45

Tabel 3. 3 Susunan Modul Siswa ... 46

Tabel 3. 4 Matrik Instrumen Wawancara ... 49

Tabel 3. 5 Matriks Instrumen Kuesioner Tertutup ... 50

Tabel 3. 6 Matriks Instrumen Kuesioner Terbuka ... 50

Tabel 3. 7 Matriks Instrumen Validasi Modul Pembina ... 51

Tabel 3. 8 Matriks Instrumen Validasi Modul Siswa ... 51

Tabel 3. 9 Matriks Instrumen Implementasi Modul Pembina ... 52

Tabel 3. 10 Matriks Instrumen Implementasi Modul Siswa ... 52

Tabel 3. 11 Matriks Instrumen Implementasi Respon Siswa ... 53

Tabel 3. 12 Perubahan Kuantitatif menjadi Kualitatif ... 54

Tabel 3. 13 Jadwal Penelitian ... 55

Tabel 4. 1 Tujuan Kegiatan Pramuka... 61

Tabel 4. 2 Susunan Modul Pembina ... 65

Tabel 4. 3 Susunan Modul Siswa ... 66

Tabel 4. 4 Hasil Rekapitulasi Validasi Modul ... 69

Tabel 4. 5 Komentar dan Saran dari Dosen Ahli Pramuka ... 70

Tabel 4. 6 Komentar dan Saran dari Pembina Pramuka ... 70

Tabel 4. 7 Hasil Rekapitulasi Implementasi Modul Pembina ... 74

Tabel 4. 8 Hasil Rekapitulasi Implementasi Modul Siswa ... 75

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2. 1 Siklus Paradigma Pedagogi Reflektif ... 24

Gambar 3. 1 Desain Penelitian Model ADDIE dan tahapannya ... 40

Gambar 4. 1 Sampul Belakang dan Sampul Depan Modul Pembina ... 68

Gambar 4. 2 Sampul Belakang dan Sampul Depan Modul Siswa ... 69

Gambar 4. 3 Koreksi Kegiatan Inti Oran Tubuh Manusia ... 77

Gambar 4. 4 Revisi Kegiatan Inti OrganTubuh Maanusia ... 77

Gambar 4. 5 Koreksi Alokasi Waktu Kegiatan Beragama ... 78

Gambar 4. 6 Revisi Alokasi Waktu Kegiatan Beragama ... 78

Gambar 4. 7 Koreksi Materi Pokok Agama Islam ... 79

Gambar 4. 8 Revisi Materi Pokok Agama Islam ... 79

Gambar 4. 9 Koreksi Tujuan Kegiatan Agama Islam ... 80

Gambar 4. 10 Revisi Tujuan Kegiatan Agama Islam ... 80

Gambar 4. 11 Koreksi Materi Pokok Agama Katolik ... 80

Gambar 4. 12 Koreksi Materi Pokok Kegiatan Agama Katolik ... 81

Gambar 4. 13 Revisi Materi Pokok Kegiatan Agama Katolik ... 81

Gambar 4. 14 Koreksi Materi Pokok Kegiatan Agama Kristen ... 81

Gambar 4. 15 Revisi Materi Pokok Kegiatan Agama Kristen ... 82

Gambar 4. 16 Koreksi Materi Pokok Kegiatan Agama Hindu ... 82

Gambar 4. 17 Revisi Materi Pokok Kegiatan Agama Hindu ... 83

Gambar 4. 18 Koreksi Materi Pokok Kegiatan Lagu Kebangsaan Indonesia ... 83

Gambar 4. 19 Revisi Materi Pokok Kegiatan Lagu Kebangsaan Indonesia ... 83

Gambar 4. 20 Koreksi Aksi Kegiatan Bersikap Hemat ... 84

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Hasil Rekapitulasi Wawancara ... 99

Lampiran 2. Hasil Rekapitulasi Kuesioner Analisis Kebutuhan ... 101

Lampiran 3. Hasil Rekapitulasi Validasi Modul ... 106

Lampiran 4. Hasil Rekapitulasi Uji Coba Modul... 117

Lampiran 5. Hasil Rekapitulasi Respon Siswa Terhadap Uji Coba Modul ... 127

Lampiran 6. Hasil Refleksi Siswa ... 130

Lampiran 7. Hasil Refleksi Pembina ... 132

Lampiran 8. Hasil Evaluasi Siswa ... 133

Lampiran 9. Rencana Program Uji Coba ... 135

Lampiran 10. RPP Kegiatan Uji Coba ... 138

Lampiran 11. Surat Ijin Penelitian ... 142

Lampiran 12. Surat Ijin Validasi Modul ... 143

Lampiran 13. Surat Ijin Uji Coba Modul ... 145

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan spesifikasi modul.

1.1 Latar Belakang

Kurikulum 2013 mempunyai kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi sarana penguatan psikologis-sosio-kultural (reinforcement), pengembangan sikap, pengembangan kecakapan dan keterampilan. Ekstrakurikuler tersebut adalah Pramuka (Pramesti, 2016: 2). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014 menyatakan bahwa Pramuka adalah ekstrakurikuler yang wajib diselenggarakan pada pendidikan dasar dan menengah. Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana yang memiliki makna orang Indonesia berusia 7 sampai 25 tahun yang berkarya dan aktif dalam Pendidikan kepramukaan serta bertugas mengamalkan Satya dan Darma Pramuka. Pramuka terbagi menjadi beberapa golongan, yaitu golongan Siaga, Penggalang, Penagak, dan Pandega. Pramuka Golongan Siaga biasa dilakukan di Sekolah Dasar (SD) dengan ciri khas pada kegiatannya yaitu bernuansa rekreasi, permainan, dan kelompok (Muflihin, 2011: 38-45).

Di Indonesia, Pramuka memiliki tujuan mencapai sikap spiritual, sikap sosial, dan sikap keterampilan (Mendikbud, 2014: 2). Sikap (spiritual, sosial, dan keterampilan), kecakapan, bakat dan potensi yang telah dikembangkan oleh siswa dapat tersalurkan melalui penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah dengan harapan menjadi manusia yang berkualitas melalui kegiatan Pramuka (Mulyani, 2017: 372). Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif disebut sebagai sekolah inklusi. Sekolah inklusi merupakan tempat belajar yang mengikutsertakan siswa berkebutuhan khusus belajar dengan siswa sebaya di sekolah reguler.

Sekolah inklusi memiliki intervensi strategi pembelajaran seperti: mendengar, mencatat, melakukan pertanyaan mandiri (refleksi), tes lisan dan tindakan (aksi), dan pemantauan kesalahan (evaluasi) sebagai penilaian dan tindak

(20)

lanjut belajar berikutnya (Smith, 2013: 395-401). Penyelenggaraan Pendidikan inklusif di Indonesia dilandasi oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif yang memaparkan bahwa siswa yang memiliki kelainan dan potensi atau kecerdasan bakat istimewa mempunyai kesempatan yang sama dengan siswa reguler untuk memperoleh layanan berkualitas sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Penyelenggaraan pendidikan inklusif di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur DIY No. 21 tahun 2013 pasal 3 ayat 1 yang menyebutkan bahwa setiap satuan pendidikan wajib menerima siswa berkebutuhan khusus.

Pada tanggal 4 November 2019, peneliti melakukan penelitian pendahuluan

(preliminary research) melalui observasi dan wawancara dengan koordinator

ekstrakurikuler Pramuka di SD Tumbuh Yogyakarta. Kegiatan Pramuka sempat ditiadakan pada tahun 2014 karena ketertarikan siswa yang rendah terhadap kegiatan Pramuka. Hal tersebut ditandai dengan 4 siswa dari 36 siswa yang tertarik mengikuti kegiatan Pramuka. Ekstrakurikuler Pramuka yang belum wajibkan di sekolah menjadi faktor penyebab kebebasan siswa untuk memilih keikutsertaannya mengikuti kegiatan Pramuka. Selain itu, siswa tidak mempunyai buku Pramuka sebagai bahan belajar. Kemudian, pada tahun ajaran baru 2019 di SD Tumbuh yang merupakan sekolah inklusi mengaktifkan kembali ekstrakurikuler Pramuka setelah 5 tahun istirahat dari ekstrakurikuler Pramuka. Siswa -siswi kelas 3 dan 4 di Sekolah Inklusi tersebut harus mengikuti kegiatan Pramuka tanpa terkecuali sehingga siswa reguler harus merangkul siswa berkebutuhan khusus supaya dapat mengikuti seluruh proses kegiatan Pramuka.

Observasi kegiatan Pramuka dilakukan selama lebih kurang 8 bulan setiap hari Senin pukul 14.00 WIB, mulai dari tanggal 19 Agustus 2019 sampai 6 April 2020. Pada hari Jumat, 16 Agustus 2019, seluruh pembina Pramuka, koordinator ekstrakurikuler Pramuka, dan guru kelas Middle (kelas 3 dan kelas 4) SD Tumbuh 1-4, SMP Tumbuh, dan SMA Tumbuh melakukan rapat di ruang rapat. Hasil rapat memutuskan bahwa kegiatan Pramuka di sekolah inklusi tidak ada kegiatan fisik yang ekstrim seperti jurit malam dalam kegiatan berkemah dan kegiatan lain yang

(21)

mengeluarkan banyak tenaga mengingat siswa yang berkebutuhan khusus juga terlibat aktif di dalam kegiatan Pamuka. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ekstrakurikuler Pramuka menyesuaikan dengan kurikulum sekolah dan tetap menyesuaikan Syarat Kecakapan Umum (SKU). Syarat Kecakapan Umum (SKU) merupakan syarat kecakapan yang wajib dimiliki oleh setiap anggota Pramuka sebagai prasyarat untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Umum yang telah disusun menurut pembagian golongan usia Pramuka.

Kurikulum kepramukaan Sekolah Dasar Tumbuh mempunyai 3 ranah pengembangan, yaitu ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik. Kompetensi dasar

character building yang berdasar pada ranah pengembangan afektif, scouting skills

berdasar pada pengembangan kognitif yang mengutamakan pengetahuan dasar-dasar kepramukaan, dan scouting skills yang mengutamakan bagaimana cara mengaplikasikan dasar-dasar Pramuka tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut tentu berdasar pada ranah pengembangan psikomotorik. Selain itu, terdapat juga 9 materi pokok, yaitu scouting value, interfaith education,

citizenship, the basic of scouting, nature, navigation, cooking, camping, physical development.

Setelah melakukan penelitian pendahuluan (preliminary research) melalui observasi dan wawancara, peneliti memberikan kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka sebagai penguat analisis kebutuhan mengenai modul Pramuka sebagai sumber belajar kegiatan kepramukaan kepada 4 pembina melalui Google Form. Data yang dihasilkan adalah 4 pembina tersebut memiliki sumber belajar mengajar dalam melakukan kegiatan Pramuka, akan tetapi hanya ada 1 dari 4 pembina yang memiliki modul kepramukaan untuk kegiatan Pramuka. Kemudian ketika peneliti bertanya kepada pembina mengenai ketertarikan kegiatan Pramuka yang diintegrasikan dengan Paradigma Pedagogi Reflektif, hasilnya adalah 4 pembina memilih “Ya” yang berarti mereka tertarik.

Pengintegrasian Paradigma Pedagogi Reflektif dalam modul Pramuka Siaga Mula, tentunya terdapat modifikasi kegiatan Pramuka, terlebih harus tetap menyesuaikan Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan kurikulum kepramukaan yang berlaku di sekolah. Oleh karena itu, peneliti mengemas kegiatan Pramuka tersebut

(22)

dalam bentuk modul tanpa mengurangi nilai-nilai kepramukaan yang terkandung di dalam kegiatan.

Dalam pengembangan modul, peneliti mengintegrasikan Pramuka dengan Paradigma Pedagogi Reflektif. Paradigma Pedagogi Reflektif adalah pola pikir manusia yang mempunyai tujuan menumbuhkembangkan setiap pribadi manusia melalui refleksi diri dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari (Tim Kanisius. 2008: 39). Paradigma Pedagogi Reflektif dapat menyatukan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam setiap materi ajar (Hartana, 2016:765). Penggunaan Paradigma Pedagogi Reflektif apabila diikuti dengan mantap dan sungguh-sungguh, dapat mengembangkan Competence, Conscience dan Compassion pada manusia (Tim Kanisius, 2014: 39). Competence merupakan kemampuan kognitif,

conscience adalah kemampuan afektif yang berkaitan dengan moral seseorang,

sedangkan Compassion adalah kemampuan psikomotorik dan kemauan mengembangkan bakat (P3MP. 2008: 20). Adapaun 5 langkah belajar Paradigma Pedagogi Reflektif adalah sebagai berikut: (1) konteks, (2) pengalaman, (3) refleksi, (4) aksi, dan (5) evaluasi (P3MP, 2008: 8).

Pengembangan modul Pramuka Siaga Mula berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk Sekolah Inklusi bereferensi dari penelitian yang relevan dengan judul penelitian ini. Pramesti (2016) pernah melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pelaksanaan Ekstrakurikuler Pramuka Di Sekolah Dasar Inklusi SDN Sumbersari 1 Malang” yang menunjukkan kurangnya minat siswa terutama ABK terhadap kegiatan Pramuka. Selain Pramesti, penelitian yang menjadi referensi adalah penelitian yang dilakukan oleh Rahmat (2019) dengan judul “Pengembangan Modul Pramuka Siaga Usia 7 Sampai 10 Tahun Dalam Membentuk Karakter Siswa SD/MI”. Penelitian tersebut menghasilkan modul Pramuka siaga berbasis nilai-nilai karakter di SD/MI dengan nilai presentase 82.35% dari ahli materi dan mencapai kriteria “Sangat Layak dan menarik”. Modul yang dihasilkan telah membantu pendidik dan peserta didik dalam kegiatan belajar dan mengajar. Penelitian yang dilakukan oleh Perdana (2020) yang berjudul “Pengembangan Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Pembina dan Siswa” membahas mengenai modul

(23)

Pramuka Siaga Mula yang dikembangkan untuk mengetahui kemenarikan modul pembelajaran Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk pembina dan siswa di sekolah reguler. Modul yang dikembangkan memiliki penilaian menarik bagi peserta didik dan dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran dalam pembelajaran.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah pernah dilakukan, peneliti mengembangkan modul dengan judul penelitian “Pengembangan Modul Pramuka Siaga Mula berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk Sekolah Inklusi”. Peneliti memilih sekolah inklusi karena pada dasarnya, di sekolah inklusi terdapat siswa berkebutuhan khusus yang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh fasilitas pendidikan sehingga peneliti ingin memberikan tambahan fasilitas pendidikan di bidang ekstrakurikuler kepramukaan. Hasil dari penelitian ini adalah modul Pramuka Siaga Mula berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk pembina di sekolah inklusi yang digunakan oleh pembina dan modul Pramuka Siaga Mula berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk siswa di sekolah inklusi yang digunakan oleh siswa. Peneliti menerapkan Paradigma Pedagogi Reflektif karena langkah pembelajaran dalam Paradigma Pedagogi Reflektif memiliki kesamaan dengan intervensi strategi pembelajaran di sekolah inklusi. Selain itu, Paradiga Pedagogi Reflektif dapat diterapkan di semua kurikulum bahkan kurikulum yang ditentukan pemerintah.

Peneliti membuat modul untuk Pramuka golongan Siaga Mula karena Siaga Mula merupakan tingkat awal dalam kepramukaan yang lebih banyak bernuansa rekreasi, permainan, dan persaudaraan. Selain itu, usia Pramuka golongan Siaga terdapat di dalam usia anak Sekolah Dasar sehingga dapat dikatakan untuk mengenalkan kegiatan Pramuka beserta nilai-nilai Pramuka sejak dini. Modul yang akan dibuat menerapkan dinamika Paradigma Pedagogi Reflektif yaitu (1) konteks, (2) pengalaman, (3) refleksi, (4) aksi dan (5) evaluasi. Isi modul mengacu pada Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan kurikulum di Sekolah Dasar Tumbuh 2 Yogyakarta sebagai tempat penelitian. Dengan menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dalam pelaksanaan kegiatan Pramuka, siswa berkebutuhan khusus dan

(24)

siswa reguler dapat berkembang menjadi manusia Competence, Conscience dan

Compassion.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang penulis paparkan, rumusan permasalahan penelitian sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimana langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses pembuatan Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Sekolah Inklusi?

1.2.2 Apa kualitas Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Sekolah Inklusi?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini, yaitu:

1.3.1 Mendeskripsikan langkah-langkah dalam proses pembuatan Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Sekolah Inklusi.

1.3.2 Mengetahui kualitas Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Sekolah Inklusi.

1.4 Manfaat

Penelitian ini mempunyai manfaat dan keguanaan secara teoritis dan praktis, berikut adalah manfaatnya:

1.4.1 Manfaat teoritis

1.4.1.1 Penelitian ini menambah pengetahuan pengalaman tentang kegiatan Pramuka serta sikap siswa di tingkat sekolah dasar inklusi dan dapat membandingkan kegiatan Pramuka di sekolah dasar reguler dan di sekolah dasar inklusi.

1.4.1.2 Penelitian selanjutnya dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi dalam mengembangkan pengetahuan tentang kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dalam membentuk karakter di sekolah dasar

(25)

inklusi menggunakan modul yang berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif.

1.4.2 Manfaat Praktis 1.4.2.1 Bagi Siswa

1.4.2.1.1 Siswa di sekolah inklusi dapat melakukan kegiatan Pramuka menggunakan modul.

1.4.2.1.2 Siswa di sekolah inklusi dapat menemukan nilai dalam melakukan kegiatan Pramuka melalui refleksi.

1.4.2.1.3 Siswa di sekolah inklusi memiliki sumber belajar yang baru. 1.4.2.1.4 Siswa di sekolah inklusi mampu belajar berefleksi

1.4.2.2 Bagi Guru dan Pembina Pramuka

1.4.2.2.1 Guru di sekolah inklusi mendapatkan referensi baru tentang modul kegiatan Pramuka untuk sekolah inklusi

1.4.2.2.2 Pembina Pramuka dapat menerapkan modul dan kegiatan refleksi 1.4.2.2.3 Pembina dapat terampil dalam melatih kegiatan kepramukaan Berbasis

Paradigma Pedagogi Reflektif terkhusus untuk sekolah inklusi

1.5 Definisi Operasional

Berdasarkan judul penelitian ini, yaitu “Pengembangan Modul Pramuka Siaga Mula Untuk Sekolah Inklusi Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif” terdapat isitilah-istilah yang perlu penjabaran untuk memperjelas maknanya, istilah-istilah tersebut antara lain:

1.5.1 Pramuka (Praja Muda Karana) adalah organisasi yang mewadahi proses pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan di Indonesia.

1.5.2 Siaga adalah golongan dasar dalam kepramukaan yang dapat dijumpai di Sekolah Dasar dengan peserta berusia 7-10 tahun.

1.5.3 Siaga Mula adalah tingkat pertama pada Syarat Kecakapan Umum di organinsasi Pramuka satuan Pramuka Siaga.

1.5.4 Modul adalah buku panduan yang berisi satu kesatuan materi belajar dalam satu kegiatan yang dapat dibaca atau dipelajari seseorang secara mandiri.

(26)

1.5.5 Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada refleksi siswa agar mampu menemukan nilai-nilai kehidupan dalam proses pembelajaran.

1.5.6 Sekolah Inklusi adalah tempat di mana difabel dan teman seusianya dapat dilayani oleh layanan pendidikan tanpa harus dikhususkan kelasnya.

1.6 Spesifikasi Modul

Sesuai dengan judul penelitian, yaitu “Pengembangan Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Sekolah Inklusi”, peneliti memiliki spesifikasi modul yang diharapkan untuk mencapai tujuan penelitian. Spesifikasi modul yang diharapkan dibagi menjadi 2, yaitu:

1.6.1 Bentuk

Tabel 1. 1 Spesifikasi Bentuk Modul

Aspek Modul Untuk Pembina Modul Untuk Siswa

Ukuran Modul

A5

Lebih menghemat ruang di dalam tas.

A5

Lebih efektif untuk siswa serta menghemat ruang tas jika dibawa saat kegiatan Pramuka. Selain itu, mudah digunakan untuk anak Sekolah Dasar karena seperti buku tulis yang biasa digunakan.

Jenis Kertas Sampul Depan Ivory 80g Ivory 80g Halaman Isi HVS 70g HVS 70g Sampul Belakang Ivory 80g Ivory 80g

Jenis Tulisan dan Ukuran Tulisan Sampul

Depan

a. Kata "MODUL" font

Grafipaint dengan ukuran 27.5 pt

b. Tulisan "PRAMUKA SIAGA MULA" font KG

Blank Space Sketch

dengan ukuran 23 pt c. Tulisan "BERBASIS

PARADIGMA

a. Kata "MODUL" font Grafipaint dengan ukuran 27.5 pt

b. Tulisan "PRAMUKA SIAGA MULA" font KG Blank Space

Sketch dengan ukuran 23 pt

c. Tulisan "BERBASIS

PARADIGMA PEDAGOGI

REFLEKTIF" font CHAWP

(27)

PEDAGOGI

REFLEKTIF" font

CHAWP dengan ukuran

13 pt

d. Tulisan "Untuk Siswa Di Sekolah Inklusi" font

Grafipaint dengan ukuran 20 pt

e. Tulisan "Chita" font KG

Blank Space Sketch

ukuran 15 pt

d. Tulisan "Untuk Siswa Di Sekolah Inklusi" font Grafipaint dengan ukuran 20 pt

e. Tulisan "Chita" font KG Blank

Space Sketch ukuran 15 pt

Halaman Isi

Semua jenis huruf pada

modul pembina

menggunakan jenis huruf

Century Schoolbook dengan

ukuran 12.

a. Judul Bab: jenis huruf DFPOP1-W9 ukuran 14pt

b. Isi Kata Pengantar, Penjelasan Isi Penggunaan Modul, dan Isi Daftar Isi: jenis huruf Franklin

Gothic Book (Body) dengan

ukuran 14pt

c. Tulisan Kegiatan dan Isi Materi: jenis huruf Century Schoolbook ukuran 14pt

d. Isi Daftar Pustaka: jenis huruf

Franklin Gothic Book (Body)

ukuran 10pt

e. Isi Data Penulis: jenis huruf

Times New Roman ukuran 12pt

Sampul Belakang

a. Tulisan deskripsi buku font Comic Sans MS ukuran 14 pt

b. Kata "MODUL" font

Grafipaint ukuran 16 pt

c. Tulisan "PRAMUKA SIAGA MULA" font KG

Blank Space Sketch

ukuran 13.5 pt d. Tulisan "BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF" font CHAWP ukuran 7.5 pt

e. Tulisan "Untuk Siswa Di Sekolah Inklusi" font

Grafipaint ukuran 11 pt

a. Tulisan deskripsi buku font Comic Sans MS ukuran 14 pt b. Kata "MODUL" font Grafipaint

ukuran 16 pt

c. Tulisan "PRAMUKA SIAGA MULA" font KG Blank Space

Sketch ukuran 13.5 pt

d. Tulisan "BERBASIS

PARADIGMA PEDAGOGI

REFLEKTIF" font CHAWP

ukuran 7.5 pt

e. Tulisan "Untuk Siswa Di Sekolah Inklusi" font Grafipaint ukuran 11 pt

(28)

1.6.2 Desain Modul

Tabel 1. 2 Spesifikasi Isi Modul

Aspek Modul Pembina Modul Siswa Keterangan

Desain Sampul Depan

Gradasi warna yang digunakan adalah coklat tua dan coklat muda dengan tujuan warna

coklat adalah

mencerminkan warna gerakan Pramuka Indonesia. Gambar yang menempati sampul adalah gambar 2 orang pembina, laki-laki dan perempuan yang meinpresentasikan ayah dan bunda, 2 karakter tersebut menjadi point of

view. Adapun gambar

pemanis sebagai

background adalah gambar tenda, pohon cemara, dan bukit yang meinpresentasikan alam terbuka.

Sampul modul siswa dominan berwarna hijau yang mencerminkan warna Pramuka Siaga di Indonesia. Gambar yang menempati sampul adalah gambar 2 anak yang memakai seragam Pramuka lengkap dengan membawa tongkat. Sampul modul pembina maupun Sampul modul siswa diharapkan memiliki logo Tunas Kelapa, logo Pandu Dunia, dan logo Universitas Sanata Dharma sebagai identitas bahwa buku yang akan dibuat adalah buku kepramukaan yang dibuat oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Alat desain yang digunakan untuk menggabungkan komponen-komponen gambar adalah applikasi Photoshop dan Corel Draw X7.

(29)

Halaman Isi Terdapat watermark gambar tunas kelapa sebagai ciri khas modul kepramukaan. Sampul Belakang Dituliskan manfaat buku pada sampul belakang modul. Isi

Isi modul berisi nama kegiatan sesuai buku SKU. Buku pembina berisi lengkap dengan langkah-langkah kegiatan dan lembar refleksi pembina. Sedangkan buku siswa, berisikan materi Pramuka dan lembar refleksi siswa, lembar aksi siswa dan lembar evaluasi siswa yang dilengkapi dengan tabel untuk tanda tangan pembina dan orangtua/wali. Buku siswa tidak dilengkapi langkah-langkah kegiatannya, hanya dituliskan instruksi penugasan.

Judul Modul

Modul Pramuka Siaga

Mula Berbasis

Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Pembina Di Sekolah Inklusi

Modul Pramuka Siaga Mula Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Untuk Siswa Di Sekolah Inklusi Kompon en Modul a. Nama Kegiatan b. Nomor SKU c. Alokasi waktu d. Media yang dibutuhkan e. Materi Pokok f. Tujuan Kegiatan

yang akan dicapai

a. Nama Kegiatan b. Nomor SKU c. Alokasi waktu d. Uraian Materi e. Refleksi f. Aksi siswa g. Evaluasi

h. Paraf pembina dan orang tua/wali

Setiap kegiatan dalam modul ini terdapat

pertanyaan refleksi

(30)

g. Langkah-langkah Kegiatan Pramuka (pembuka, inti, penutup) h. Pedoman Refleksi i. Pedoman Aksi

(31)

13 BAB II

LANDASAN TEORI

Bab ini mendeskripsikan tentang landasan teori, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan pernyataan penelitian.

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Gerakan Pramuka 2.1.1.1 Pramuka di Dunia

Bagian ini menjelaskan tentang riwayat hidup Baden Powell dan organisasi Pramuka dunia.

2.1.1.1.1 Sejarah Baden Powell

Baden Powell memiliki nama asli Lord Robert Baden Powell of Gilwell yang lahir di London, Inggris pada tanggal 22 Februari 1857 dari pasangan HG Baden Powell dan Henriette Grace. Ayahnya seorang professor geometri di Universitas Oxford bernama Baden Powell meninggal ketika Stephenson berusia 3 tahun. Oleh karena itu, ia mendapatkan didikan watak dan aneka keterampilan dari ibunya. Sejak kecil, ia sudah dikenal sebagai anak yang cerdas gembira dan humoris sehingga banyak disukai teman-temannya. Ia juga berbakat di bidang aktor, musik (bermain piano dan biola), menyanyi, berenang, berkemah, menggambar, mengarang dan bahkan melawak.

Beranjak dewasa, Baden Powell bergabung dalam ketentaraan Inggris dan Ia pun sering ditugaskan di luar Inggris. Berbagai pengalaman selama menjadi tentara, ditorehkannya dalam sebuah tulisan dan membentuk sebuah buku berjudul ‘Aids to Scouting’ pada tahun 1899. Buku yang telah laris terjual tersebut ditulis ulang oleh Baden Powell untuk menyesuaikan pembaca yang bukan dari ketentaraan. Pada tahun 1908 terbitlah buku berjudul ‘Scouting of Boys’ yang merupakan buku panduan gerakan kepanduan yang kemudian menyebar ke seluruh dunia dengan berbagai bahasa lalu menjadi panduan dalam kepramukaan di seluruh dunia (Firmansyah, 2014: 19-20).

(32)

2.1.1.1.2 Organisasi Pramuka Dunia

Pada masa hidup Baden Powell mendapat gelar Lord atas dedikasinya mengembangkan pendidikan melalui gerakan kepanduan. Ia memiliki semangat untuk memberikan inovasi-inovasi kepada anak muda dalam mengembangkan diri. Lord Baden-Powell mendesain kegiatan kepanduan berada di luar ruangan atau alam terbuka (Hillcourt dalam Baden Powell. 1958: 347-349).

Seiring berjalannya waktu, kegiatan kepanduan meningkat anggotanya di berbagai negara. Para anggota kepanduan dunia melakukan upaya untuk mewadahi para anggota kegiatan kepanduan dengan membentuk organisasi kepanduan yang sifatnya mendunia bernama World Organisation of the Scout

Movement atau disingkat WOSM. Organisasi ini adalah organisasi yang tidak

mencari keuntungan, tidak dicampuri oleh urusan politik, ideologi, bahkan suku dan agama (Kristiadi, 2014: 8-9).

Pada tahun 1910, Baden Powell pensiun dari tentara kemudian mencurahkan seluruh waktunya untuk Pramuka, berkeliling dunia untuk menginspirasi lebih banyak anak muda untuk bergabung dengan kepanduan. Di London tahun 1924, Jambore pertama dilaksanakan dan di sana pula Baden Powell diakui sebagai Bapak Pramuka Dunia. Sebelum Ia meninggal dunia pada 8 Januari 1941 karena kesehatannya yang menurun, Ia telah menghabiskan tahun terakhirnya di Kenya (Firmansyah, 2014: 21).

2.1.1.2 Pramuka di Indonesia

Kepanduan dikenal di Indonesia dengan istilah Scouting, dikembangkan oleh Lord Baden Powell. Ia telah mengajarkan bagaimana membina kepramukaan secara intensif terhadap kaum muda sebanyak 21 orang di Inggris yang terlibat dalam kekerasan dan kejahatan dengan cara berkemah di Pulau Brownsea selama 8 hari pada tahun 1907 (Muflihin, 2019: 33). Pengalaman Baden yang sukses di Brownsea tertulis dalam buku berjudul "Scouting for Boy". Melalui buku "Scouting

for Boy", Pramuka berkembang termasuk di Indonesia (Firmansyah, 2014: 22).

Kepramukaan memiliki jenjang Pendidikan seperti yang tercantum dalam isi UU No. 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka pasal 11 dan pasal 12

(33)

yang menyebutkan bahwa: “Pendidikan kepramukaan dalam Sistem Pendidikan Nasional termasuk jalur pendidikan nonformal yang diperkaya dengan pendidikan nilai-nilai gerakan Pramuka dalam pembentukan kepribadian yang berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dan memiliki kecakapan hidup”; dan “jenjang Pendidikan dalam kepramukaan adalah sebagai berikut: siaga, penggalang, penegak, dan pandega.”. Pendidikan kepramukaan dilaksanakan dengan menanamkan nilai luhur bangsa dan kecakapan hidup dalam rangka membentuk kepribadian dan karakter kaum muda sehingga dirancang dengan seuasana menyenangkan, menantang, dan mengandung Pendidikan supaya tujuan Gerakan Pramuka dalam pembentukan karakter tersebut dapat tercapai tanpa melakukan kegiatan yang membosankan (Muflihin, 2019).

Pelaksanaannya dapat bekerja sama dengan organisasi kepramukaan setempat dengan mengacu pada Pedoman dan Prosedur Operasi Standar Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler wajib. Oleh karena itu, kepramukaan menjadi ekstrakurikuler wajib dilaksanakan di sekolah dasar (Damanik, 2014). Perkembangan Gerakan Pramuka mengalami pasang surut dan pada kurun waktu tertentu. Akan tetapi, kurang dirasakan pentingnya oleh kaum muda, akibatnya pewarisan nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Pancasila dalam pembentukan kepribadian kaum muda yang merupakan inti dari pendidikan kepramukaan tidak optimal. Menyadari hal tersebut maka pada peringatan Hari Ulang Tahun Gerakan Pramuka ke-45 Tahun 2006, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka dengan menerbitkan kebijakan pemantapan organisasi Gerakan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di semua jenjang pendidikan yang tertulis dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.

Junaedi (2018) mengatakan bahwa pendidikan kepramukaan merupakan cara mengembangkan diri secara utuh bagi kaum muda dengan proses belajar mandiri yang progresif. Permendikbud RI Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013, lampiran III menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka pada satuan pendidikan adalah untuk: (1) meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor pada peserta didik, (2) membina

(34)

peserta didik menjadi pribadi yang seutuhnya melalui pengembangan bakat dan minat peserta didik. Masuknya Pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib dalam kurikulum 2013 merupakan salah satu sarana dalam pembentukan karakter siswa. Adapun 18 nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam kegiatan kepramukaan adalah sebagai berikut: Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikasi, Cinta Damai, Gemar Membaca dari sumber terpercaya, Peduli Lingkungan dan sosial, serta Tanggung Jawab.

2.1.1.3 Tujuan Pramuka

2.1.1.3.1 Tujuan Pramuka di Indonesia

Menurut anggaran dasar Gerakan Pramuka Bab II Pasal 3 dinyatakan bahwa tujuan Pramuka adalah membentuk dan menyiapkan siswa yang sebagai berikut (Muflihin, 2019):

1. Memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia 2. Memiliki jiwa patriotik, taat hukum dan disiplin

3. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani dan rohani;

4. Menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila, setia, dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyaraakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan.

2.1.1.4 Dasar Pendidikan Pramuka

Pramuka memiliki nilai, metode kepramukaan, prinsip dasar, dan kode kehormatan sebagai dasar pelaksanaannya. Kode kehormatan yang digunakan Pramuka adalah satya dan darma Pramuka (UU No.12 Pasal 6 ayat 2 tahun 2010). Dengan menjalankan Satya dan Darma Pramuka maka siswa telah mencapai tujuan dari Pendidikan kepramukaan. Bunyi satya yang harus dijalankan adalah sebagai

(35)

berikut, “Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadadp Tuhan Yang Maha Esa dan negara Kesatuan Republik Indonesia, ikut serta membangun masyarakat, serta menepati Darma Pramuka.”. Kemudian, bunyi Darma Pramuka yang harus ditepati dan dijalankan sebagaimana isi dalam Satya Pramuka adalah demikian:

1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Cinta alam dan kasih saying sesama manusia 3. Patriot yang sopan dan ksatria

4. Patuh dan suka bermusyawarah 5. Rela menolong dan tabah 6. Rajin, terampil, dan gembira 7. Hemat, cermat dan bersahaja 8. Disiplin, berani dan setia

9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya 10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan

2.1.1.5 Metode Pengajaran Pramuka

Berdasarkan pendapat Muflihin (2019:29-32) ada 3 kemampuan yang harus dikuasai untuk dapat dikatakan sebagai pembina profesional, yaitu sebagai berikut:

1. Merencanakan Program Kegiatan

Seluruh aktivitas dalam setiap kegiatan kepramukaan tidak lepas konsep sebagai sarana pembentukan jati diri peserta didik.

2. Melaksanakan Kegiatan Latihan

Rangkaian kegiatan dalam kepramukaan antara lain sebagai berikut: a. Presensi

Adanya pengecekan kehadiran jumlah anggota tiap kelompok yang diikuti dengan adanya pemerikasaan kerapian

b. Apel Pembukaan

Upacara pembukaan latihan sebagai upaya menanamkan jiwa nasionalisme anggota terhadap tanah air Indonesia

(36)

c. Kegiatan Inti

Praktik latihan penguasaan pengetahuan d. Apel Penutupan

Upacara penutupan latihan sebagai sarana review dan perenungan terhadap kegiatan Pramuka yang telah dilaksanakan

3. Cara Meningkaatkan Profesionalisme Diri

a. Menempuh pendidikan formal sebagai tenaga pendidik

b. Membaca buku-buku tentang psikologi, komunikasi, dan buku manajemen konflik maupun buku-buku lain sebagai referensi dalam mengajar dan membina

c. Mengikuti pendidikan formal kepramukaan

d. Melakukan kegiatan pengembangan di gugus depan secara terprogram dan berkesinambungan

e. Mengikuti kegiatan karang Pamitran baik di tingkat ranting, cabang, daerah maupun nasional

f. Mengikuti pitaran pelatih untuk melatih jiwa kepembinaan dan kepelatihan sehingga dapat menambah daya ingat dan daya juang dalam melakukan pembinaan terhadap peserta didik.

Penguasaan terhadap struktur dan metodologi pembelajaran yang harus dimiliki seorang pembina profesional tentunya juga memiliki indicator

esensial pada setiap bagian kompetensi yang akan dicapai. Adapun indikator

esensial adalah sebagai berikut:

a. Memahami materi yang ada dalam kurikulum kepramukaan, memahami struktur, konsep dan metode pembelajaran yang menaungi materi ajar, memahami hubungan konsep antar materi, menerapkan konsep-konsep kepembinaan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam mengenai pengetahuan /materi bidang latihan.

(37)

2.1.1.6 Golongan Pramuka 2.1.1.6.1 Pramuka Siaga

Menurut Muflihin (2019), anggota Pramuka yang berusia 7 sampai 10 tahun dinamakan sebagai “Siaga” sehingga masuk dalam golongan Pramuka Siaga. Nama “Siaga” diambil dari kiasan dasar romantika perjuangan Indonesia dalam “menyiagakan” rakyat Indonesia untuk menghadapi penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan. Beberapa tingkatan golongan Pramuka Siaga sebagai berikut: 1. Siaga Mula mengiaskan tingkatan kecakapan awal yang dimiliki Siaga.

2. Siaga Bantu mengiaskan tingkatan kecakapan siaga yang dapat membantu pekerjaan-pekerjaan tertentu.

3. Siaga Tata mengiaskan tingkat kecakapan Siaga sudah diikutsertakan untuk menata karya kesiagaan. Artinya, Siaga dapat Menyusun dan mengatur pekerjaan dengan rapi dan bersih.

Pramuka siaga memiliki kode kehormatan yang diucapkan dan harus dilaksanakan yaitu Dwi Satya dan Dwi Dharma. Berikut adalah isi kode kehormatan siaga Dwi Satya dan Dwi Dharma dalam Syarat Kecakapan Umum (SKU) Golongan Siaga:

1. Dwi Satya

1) Aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menurut aturan keluarga.

2) Setiap hari berbuaat kebaikan 2. Dwi Darma

1) Siaga patuh kepada ayah dan ibundanya 2) Siaga itu berani dan tidak putus asa 2.1.1.6.2 Pramuka Penggalang

Muflihin (2019) menuliskan bahwa Penggalang memiliki anggota Pramuka dengan rentang usia 11 sampai 15 tahun. Nama “Penggalang” diambil dari kiasan dasar Gerakan Pramuka yang bersumber pada romantika heroik perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan dalam cengkraman penjajahan Belanda dan bangsa asing lainnya. Satuan terkecil dalam golongan penggalang

(38)

adadlah “Regu” dengan pemberian nama yang berorientasi pada nama hewan. Kode kehormatan yang digunakan oleh golongan penggalang adalah Tri Satya dan Dasa Darma.

2.1.1.6.3 Pramuka Penegak

Muflihin (2019) menuturkan bahwa nama “Penegak” diambil dari kiasan dasar romantika perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Golongan Penegak beranggotakan Pramuka berusia 16 sampai 20 tahun. Tingkat yang dimiliki oleh golongan penegak hanya ada dua, yaitu Bantara dan Laksana dengan kode kehormatan yang digunakan adalah Tri Satya dan Dasa Darma.

2.1.1.6.4 Pramuka Pandega

Muflihin (2019) mengatakan bahwa Pramuka Pandega berusia 21 sampai dengan 25 tahun. Kegiatan Pramuka yang dilakukan mengarah pada upaya menjadi pelopor membangun bangsa karena kata “Pandega” yang di gunakan sebagai istilah Pramuka di rentang usia tersebut diambil dari romantika rakyat Indonesia dalam memandegani segala macam kegiatan. Satuan terkecil pada golongan pandega adalah “Reka” yang berarti rekan.

2.1.1.7 Pramuka di Sekolah Inklusi 2.1.1.7.1 Sekolah Inklusi

Pendidikan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi setiap manusia, tidak terkecuali bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) karena dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 31 ayat 1 diamanatkan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Penyelenggaraan Pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak reguler dalam satu sekolah yang sama disebut sebagai Sekolah Inklusi. Inklusi dalam Bahasa Ingris berarti Inclusion yang berarti penyatuan. Penyatuan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak reguler di satu sekolah tersebut dilakukan dengan cara-cara yang realistis dan komperhensif dalam kehidupan Pendidikan yang menyeluruh (Smith, 2013).

(39)

Penyelenggaraan pendidikan inklusif di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur DIY No. 21 tahun 2013 pada pasal 3 ayat 1 yang mengamanatkan bahwa setiap satuan pendidikan wajib menerima peserta didik berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, kepala sekolah bersama dengan guru-guru di sekolah inklusi di Indonesia dituntut untuk menyusun pogram pendidikan yang dapat diterima oleh anak-anak berkebutuhan khusus, di mana semua perencanaan telah tersusun di dalam program (Wati. 2014). Model pengajaran yang dapat membantu meningkatkan keberhasilan kelas inklusif yang dikemukakan oleh Smith (2013), meliputi :

1. Pengajaran langsung yang dapat dilakukan di kelas dengan menggunakan sumber daya secara efisien dan struktur kegiatan yang ringan.

2. Intervensi strategi yang merupakan penekanan pada kemampuan pengajaran seperti: mendengar, mencatat, pertanyaan mandiri (refleksi), tes lisan dan tindakan (aksi), dan pemantauan kesalahan (evaluasi).

3. Tim asistensi dilakukan oleh guru dengan maksud saling membantu dalam mengatur sikap siswa dan pertanyaan mengenai kesulitan akademis.

4. Guru sebagai konsultan, artinya guru dilatih sebagai pembimbing anak-anak berkebutuhan khusus dalam berinteraksi dengan anak-anak reguler. Hal ini juga melatih profesionalitas guru.

2.1.1.7.2 Pramuka di Sekolah Inklusi

Pendidikan khusus dan reguler dengan satu ‘tanggung jawab bersama’ akan tercipta anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Will dalam Smith, 2013). Melalui ekstrakurikuler Pramuka di sekolah inklusi, anak-anak berkebuthuan khusus akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengekspresikan dirinya terlebih mendapatkan dukungan dari anak-anak reguler. Oleh karena itu, untuk mencapai intervensi strategi belajar di sekolah inklusi, guru harus mengintegrasikan kegiatan Pramuka dengan langkah-langkah yang relevan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan tanpa mengesampingkan anak-anak reguler.

(40)

2.1.1.7.3 Tujuan Pramuka di Sekolah Inklusi

Tujuan Pramuka di sekolah inklusi adalah mengajak siswa berkebutuhan khusus dapat berinteraksi dengan siswa reguler di satu sekolah yang sama. Keuntungan ekstrakurikuler Pramuka di Sekolah Inklusi adalah siswa berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhannya. Kegiatan Pramuka dapat mengembangkan sikap (spiritual, sosial, dan keterampilan), kecakapan, bakat dan potensi yang telah dikembangkan oleh siswa dapat tersalurkan melalui penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah dengan harapan menjadi warga negara yang berkualitas melalui kegiatan Pramuka. Sedangkan, keuntungan bagi siswa reguler yang melakukan kegiatan Pramuka bersama siswa berkebutuhan khusus adalah untuk memupuk rasa tanggung jawab dalam mengolah sikap bela rasa yang dimilikinya. Setiap sekolah dapat memodifikasi kegiatan Pramuka sesuai dengan kondisi sekolah dengan syarat tetap berlandaskan Syarat Kecakapan Umum untuk mencapai tujuan Pramuka yang sesungguhnya (Mulyani, 2017: 372).

2.1.2 Paradigma Pedagogi Reflektif

2.1.2.1 Pengertian Paradigma Pedagogi Reflektif

Paradigma Pedagogi Reflektif adalah pola pikir manusia yang mempunyai tujuan menumbuhkembangkan tindakan setiap pribadi manusia melalui refleksi diri dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari (Tim Kanisius, 2008: 39). Paradigma Pedagogi Reflektif juga merupakan pola pembelajaran yang mengintegrasikan pemahaman tentang masalah dunia, kehidupan dan perkembangan nilai-nilai kemanusiaan dalam satu proses yang terintegrasi sehingga nilai-nilai tersebut muncul dari kesadaran dan kemauan siswa melalui refleksi yang menuntunnya sampai pada kedalaman kehidupan beriman, yaitu hubungannya dengan Tuhan (aspek vertikal), sedangkan pada aspek horizontal adalah hubungannya dengan manusia (Pranyoto, 2014). Paradigma Pedagogi Reflektif dapat menyatukan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam setiap materi ajar. Paradigma Pedagogi Reflektif memiliki 5 langkah yang dilakukan secara beruntun dan terus-menerus, yaitu (1) konteks, (2) pengalaman, (3) refleksi, (4) aksi, dan (5)

(41)

evaluasi. Inti dari Paradigma Pedagogi Reflektif itu ada di tahap refleksi (Hartana, 2016: 765-769).

Dalam berefleksi, siswa memilih dan menimbang pengalaman-pengalamannya untuk menemukan dirinya yang otentik sehingga siswa dapat mengambil keputusan dan bertindak dengan nilai yang luhur. Setiap langkah dalam dinamika Paradigma Pedagogi Reflektif memiliki relasi yang saling membutuhkan sehingga tidak dapat dipisahkan. Kita dapat memahami Paradigma Pedagogi Reflektif sebagai pengembangan pribadi manusia secara utuh menjadi “Men and

Women -for and with- Other” yang berarti “Manusia untuk dan bersama Orang

Lain” (P3MP, 2008: 5-6). Proses pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif bertujuan pada keseimbangan strategi belajar dengan melakukan penekanan sisi kognitif (competence), sisi hati nurani (conscience) dan sisi bela rasa terhadap sesama (compassion) pada proses pembelajaran (Hartana, 2016: 766).

2.1.2.2 Langkah belajar Paradigma Pedagogi Reflektif

Langkah belajar Paradigma Pedagogi Reflektif merupakan interaksi terus menerus dari 3 unsur pokok, yaitu pengalaman, refleksi dan aksi dalam proses pembelajaran. Tiga unsur tersebut kemudian dilengkapi dengan adanya konteks yang menjadi tempat pengalaman dan adanya evaluasi setelah melakukan sebuah aksi (Hartana, 2016: 769). Dalam Pedoman Model Pembelajaran Berbasis Pedagogi Ignasian-P3MP (2008: 8), pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif dirumuskan dalam sebuah sistem yang memiliki unsur-unsur pokok: context (konteks) –

experience (pengalaman) – reflection (refleksi) – action (aksi) –evaluation

(evaluasi). Sistem tersebut menekankan langkah-langkah beruntun (dari context kembali ke context) yang secara singkat dapat dilihat gambar siklusnya pada Gambar 2.1 dan uraian singkatnya di bawah ini.

(42)

1. Konteks

Konteks merupakan tahap pertama dalam Paradigma Pedagogi Reflektif yang memiliki 3 tahapan untuk menumbuhkembangkan Pendidikan, antara lain sebagai berikut: Pertama, Guru harus memahami lingkungan belajar siswa untuk dapat menjadi fasilitator dan motivator yang memiliki nilai-nilai kehidupan seperti: solidaritas, menghargai, tanggung jawab, kerja keras, dan nilai-nilai lain semacam itu dengan cara menaati nilai-nilai kehidupan tersebut (Korth, 2008). Kedua, Guru menjadi role model mengenai penghayatan nilai-nilai sehingga siswa cenderung melihat, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai yang berlaku. Dan yang ketiga adalah guru membangun keakraban dengan siswa melalui percakapan, saling menghormati dan bekerja sama (Tim Kanisius, 2008). Jadi, dalam konteks, guru memfasilitasi setiap siswa untuk mencermati pelbagai konteks dalam hidupnya dengan tujuan supaya lebih cermat dalam mendeteksi potensi yang mendukung atau menghambat siswa dalam proses pembelajaran. Pada

(43)

hakikatnya, konteks merupakan semua faktor yang mendukung atau menghambat setiap siswa dalam proses pembelajaran (Hartana, 2016: 769).

Berikut adalah konteks yang harus dipahami oleh guru untuk dapat memberikan nilai-nilai kehidupan (Tim Kanisius, 2014: 45-48):

1) Konteks nyata dari kehidupan siswa

Guru harus memperhatikan orang-orang terdekat dengan siswa termasuk cara-cara hidupnya. Orang-orang terdekat, seperti keluarga, teman, adat, tekanan sosial, dan hal lain yang berdampak pada dunia siswa dan mempengaruhinya ke arah baik atau buruk. Apabila siswa memilih ke arah buruk, maka siswa akan kehilangan percaya diri dalam proses belajar sehingga siswa merasa tertekan dalam belajar dan tidak dapat memaknai pembelajaran. Untuk menghindari hal tersebut, refleksi diri dilakukan sebagai upaya mengolah diri dan memilih pilihan positif dalam hidup.

2) Konteks sosio-ekonomik, politis, dan kebudayaan

Menurut P3MP (2008: 9), lingkungan hidup siswa dapat mempengaruhi perkembangan siswa “sebagai manusia bagi orang lain” (men and women for other). Guru mempunyai kewajiban untuk memperhatikan kondisi ekonomi siswa karena mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Kemiskinan menjadi ancaman bagi siswa karena dapat menyebabkan putus sekolah sehingga nilai kehidupan yang akan siswa bawa sebagai pengalaman terhambat dalam pengembangannya (Tim Kanisius, 2014: 45).

3) Suasana Lingkungan Belajar

Siswa yang berhasil dalam proses belajar tentunya tak luput dari lingkungan kelas dan mutu guru. Selain itu, sekolah dengan lingkungan yang damai, seperti menjalin hubungan yang baik antara sesama warga sekolah dan patuh terhadap norma-norma yang berlaku di lingkungan sekitar dapat memicu siswa untuk belajar lebih giat dan mendapatkan nilai-nilai luhur yang lebih bermutu. P3MP (2008: 10) menegaskan bahwa konteks ini perlu dipahami karena relasi tersebut menciptakan

(44)

atmosfir kehidupan yang mendukung pembentukan pribadi siswa menuju komitmen pada nilai-nilai luhur.

4) Pengertian yang dibawa ketika memulai proses belajar.

Kegiatan belajar siswa diawali dengan mengumpulkan pendapat-pendapat dan pemahaman-pemahaman yang sudah didapatkan melalui pengalaman belajar sebelumnya. Kegiatan tersebut disebut sebagai penggalian pengetahuan. Kemudian guru perlu memperhatikan ketika siswa mempraktikkan pengertian yang mereka pahami selama proses belajar melalui sikap, nilai, dan perasaan siswa terhadap pengetahuan yang pernah didapatkan sebelumnya.

2. Pengalaman

Istilah pengalaman menurut Ignatius adalah untuk menunjukkan keaktifan siswa secara kognitif pada materi yang sedang dipelajari (Hartana, 2016: 770). Pada tahap pengalaman, guru menjadi fasilitator untuk memotivasi siswa dalam mempergunakan imajinasi mereka dan mempelajari suatu kejadian yang pernah dialami (Tim Kanisius, 2008). Guru dapat memotivasi siswa dengan cara menciptakan kegiatan yang menarik dan tetap menyesuaikan informasi terkini yang relevan dengan Pendidikan supaya pengalaman yang digambarkan siswa pun relevan dengan materi yang akan dipelajari (Korth, 2008).

Hartana (2016: 770) berpendapat bahwa setiap pengalaman yang diperoleh akan ada data dan fakta diserap secara kognitif oleh siswa. Ia juga mengatakan bahwa pengalaman mempunyai dua macam, yaitu pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. Pengalaman langsung adalah pengalaman yang secara langsung dialami oleh siswa melalui pengalaman intrapersonal, diskusi kelompok, atau penelitian laboratorium. Sedangkan, pengalaman tidak langsung adalah pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan membaca berita, mendengarkan audio, dan melihat media elektronik secara visual.

(45)

3. Refleksi

Hartana (2016: 769-770) mengatakan bahwa refleksi merupakan unsur yang sangat sentral pada pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif. Dengan kata lain, Refleksi merupakan inti dalam proses siklus pembelajaran. Refleksi merupakan jembatan yang menghubungkan antara pengalaman dan tindakan. Dalam berefleksi, terdapat pertimbangan yang seksama dengan menggunakan daya ingat, pemahaman, imajinasi, dan perasaan yang menyangkut bidang ilmu, pengalaman, ide, dan tujuan yang diinginkan atau reaksi spontan untuk menangkap nilai yang dipelajari (P3MP, 2008: 8). Tahap refleksi ini bertujuan membentuk suara hati para siswa sehingga siswa menemukan gerak batin yang mendasari tindakan ke arah yang lebih baik atau ke arah yang buruk (Tim Kanisius, 2014: 54). Selain itu, refleksi bertujuan menemukan keterkaitan antar pengetahuan dengan realitasnya serta memahami implikasi pengetahuan dan seluruh tanggung jawabnya (P3MP, 2008: 15).

Istilah refleksi juga dapat menangkap makna dalam pengalaman dengan beberapa cara berikut ini: (1) memahami kebenaran yang dipelajari secara lebih baik, (2) mengerti sumber-sumber perasaan dan reaksi yang dialami, (3) memperdalam pemahaman temtang implikasi-implikasi yang telah dimengerti, (4) berusaha menemukan makna bagi diri pribadi tentang kejadian-kejadian, ide-ide, kebenaran, atau pemutarbalikan dari kebenaran, dan (5) mulai memahami siapa dirinya dan bagaimana seharusnya sikapnya terhadap orang lain (Tim Kanisius, 2014:55-56).

4. Aksi

Menurut Hartana (2016: 770), aksi merupakan praktik dalam kehidupan nyata yang dilakukan oleh siswa berdasarkan hasil pembelajaran dengan pikiran dan hati nurani untuk mewujudkan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam Paaradigma Pedagogi Reflektif, aksi diterapkan dalam bentuk proyek, pemecahan masalah, pembuatan business-plan, dll. Dalam P3MP (2008: 16) dijelaskan bahwa aksi merupakan pertumbuhan batin yang mencakup dua tahap, yaitu hasil dari refleksi pengalaman (batin) dan perwujudtan nyata yang dapat dipertanggungjawabkan (lahir). Dalam tahap batin bermakna

(46)

mempertimbangkan pengalamannya dari sudut pandang pribadi dan manusiawi. Pengalaman baru yang didapatkannya dipahami secara kognitif disertai dengan perasaan afektif (positif atau negatif). Kemudian dalam tahap aksi yang dinyatakan secara lahir, artinya, nilai-nilai kehidupan yang didapatkan selama kegiatan telah menjadi bagian dari dirinya sehingga siswa beraksi secara konsisten dan yakin. Jika nilai itu positif, siswa akan meningkatkan keadaan yang menimbulkan pengalaman positif tersebut. Namun, apabila nilai pengalamannya negatif, siswa akan berusaha memperbaiki, mengubah, mengurangi, atau bahkan menghindari hal-hal yang menimbulkan pengalaman negatif itu. (Tim Kanisius, 2014:61-62).

Dalam proses pembelajaran, aksi adalah bagaimana cara siswa memaknai hasil belajar dengan pikiran dan hati nurani untuk mewujudkan pengetahuannya ke dalam kehidupan sehari-hari (P3MP, 2008:16). Guru mengajak siswa untuk melakukan kegiatan nyata yang sesuai dengan nilai yang sudah didapatkan setelah melakukan refleksi (Korth, 2008). Dalam melakukan aksi, guru memfasilitasi siswa dengan pertanyaan aksi agar siswa terbantu untuk membangun niat dan bertindak sesuai hasil refleksinya (Tim Kanisius, 2008:44). Pangkal dalam mengambil keputusan mengenai tindakan-tindakan yang akan siswa lakukan adalah dengan memperhatikan nilai-nilai yang terkandung karena aksi merupakan implementasi setelah melakukan refleksi dengan tujuan “merasakan dan mengenyam” pengalamannya (Tim Kanisius, 2014:59-60).

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir pada Paradigma Pedagogi Reflektif yang tidak hanya mengukur kemampuan siswa dalam bidang akademik tetapi juga pada aspek kemanusiaan (Hartana, 2016: 771). Pada tahap evaluasi guru mengajak siswa untuk melakukan penegasan materi yang sudah dikuasai dengan penugasan (Korth, 2008). Selain penugasan, evaluasi dapat dilakukan dengan tes atau praktikum. Adapun alat evaluasi lain yang dapat digunakan adalah penggunaan waktu luang dan melayani orang lain secara sukarela (Tim Kanisius, 2014: 62-63).

(47)

Tahap evaluasi mengajarkan bagaimana cara melayani sesama manusia sekaligus untuk mempertahankan pengamalan nilai kehidupan dalam aksi nyata yang sudah dilakukan. Evaluasi memiliki tujuan untuk menumbuhkan bela rasa siswa secara menyeluruh sebagai pribadi yang penuh kasih. Pada tahap evaluasi inilah hubungan saling percaya dan saling menghargai antara siswa dan pengajar menentukan suasana pembelajaran. Evaluasi tidak hanya dialami oleh siswa, melainkan oleh guru yang wajib mengevaluasi diri supaya dapat memberikan umpan balik kepada diri sendiri sehingga dapat menemukan gaya mengajar dan pola pendampingan yang baru kepada siswa (Perdana, 2020: 32). 2.1.2.3 Kelebihan Paradigma Pedagogi Reflektif

Berdasarkan Tim Kanisius (2014: 67-70), Paradigma Pedagogi Reflektif memiliki kelebihan dalam penerapannya apabila dilakukan secara konsisten. 1. Paradigma Pedagogi Reflektif dapat diterapkan pada semua kurikulum bahkan

kurikulum yang ditentukan pemerintah karena Paradigma Pedagogi Reflektif merupakan pendekatan yang taat asas dan harus mendasari seluruh pengajaran. 2. Paradigma Pedagogi Reflektif menjadi fundamental untuk proses belajar mengajar. Selain dapat diterapkan pada disiplin akademik, Paradigma tersebut juga dapat diterapkan pada ranah non-akademik, seperti kegiatan ekstrakurikuler. Jika Paradigma ini dipakai secara konsisten maka akan membantu pembentukan kebiasaan berefleksi sebelum bertindak.

3. Paradigma Pedagogi Reflektif menjamin para pembelajar menjadi lebih baik karena membantu para pembelajar memotivasi para siswa dengan mengajak mereka menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan pengalaman mereka. 4. Paradigma Pedagogi Reflektif mendorong semangat para pembelajar dalam merefleksikan makna dari apa yang dipelajari melalui proses belajar mengajar. 5. Paradigma Pedagogi Reflektif menekankan dimensi sosial dalam belajar dan mengajar melalui refleksi yang mengantar siswa untuk mempunyai sifat toleransi yang tinggi terhadap hidup orang lain. Paradigma ini memperhatikan struktur yang menunjang atau mrnghalangi pengembangan dan pertumbuhan sebagai sesama manusia.

Gambar

Tabel 1. 1 Spesifikasi Bentuk Modul
Tabel 1. 2 Spesifikasi Isi Modul
Gambar 2. 1 Siklus Paradigma Pedagogi Reflektif
Gambar 3. 1 Desain Penelitian Model ADDIE dan tahapannya
+7

Referensi

Dokumen terkait

menggunakan model pembelajaran yang berbasis Paradigma Pedagogi reflektif maka peneliti memilih model PPR untuk meningkatkan kesadaran akan nilai demokrasi pada

menggunakan model pembelajaran yang berbasis Paradigma Pedagogi reflektif maka peneliti memilih model PPR untuk meningkatkan kesadaran akan nilai demokrasi pada

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika berbasis paradigma pedagogi reflektif pada materi teorema Pythagoras di kelas VIII SMP Kanisius Panembahan Senopati

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika berbasis paradigma pedagogi reflektif pada aspek nilai kemanusiaan dengan materi

Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif dengan materi Teorema Pythagoras di kelas VIIIA SMP Kanisius Tirtomoyo,

(1) Aktivitas belajar siswa yang terjadi dalam pembelajaran matematika berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk topik sistem persamaan linear di kelas X-2 SMA Kanisius

Dengan pembelajaran berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif diharapkan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran sejarah akan lebih mudah dan berhasil disampaikan karena p

Penelitian ini merupakan penelitian yang mengembangkan desain pembelajaran tentang prinsip matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning