• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan desain pembelajaran matematika menggunakan paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning untuk mahasiswa Pendidikan Matematika Kelas C angkatan 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengembangan desain pembelajaran matematika menggunakan paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning untuk mahasiswa Pendidikan Matematika Kelas C angkatan 2017"

Copied!
242
0
0

Teks penuh

(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA KELAS C ANGKATAN 2017. SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika. Disusun oleh : Chatarina Krisella Wibawaningrum NIM : 161414044. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2020.

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN MOTTO “ Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinganmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur ” (Filipi 4 : 6 – 7). “ Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum ” (Amsal 11 : 24 – 25). “Karena itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karenaa hari esok memiliki kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6 : 34). “ Bermimpilah seakan kau akan hidup selamanya. Hiduplah seakan kau akan mati hari ini ” (James Dean). “ Aku memilih untuk membuat sisa hidupku menjadi yang terbaik dalam hidupku ” (Louise Hay). “ Jumlah waktu setiap orang itu sama, yang membedakan adalah bagaimana cara kita menggunakannya ” (Jerome Polin). iv.

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN Dengan penuh syukur, kupersembahkan skripsi ini untuk : Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria atas segala berkat dan limpahan kasih-Nya dalam hidupku. Ayah saya “Theodorus Bowo Pribadi” dan Ibu saya “Theresia Rini Kristiani” yang senantiasa membimbing, mendoakan, menyayangi dan menasehatiku hingga saat ini. Kakak saya “Cyrilus Yoga Priatama” yang selalu memberikan motivasi dan inspirasi bagi saya. Kedua adik saya “Ignatius Yogi Priambodo” dan “Yohanes Kristianto Wibowo” yang selalu memberikan semangat kepada saya. Pakdhe saya “Romo Ignatius Heru Wihardono, Pr” dan Om saya “Romo Antonius Budi Wihandono, Pr” yang memberikan motivasi, doa, dan nasehat bagi saya. Seluruh keluarga besar dan teman-teman yang selalu memberikan dukungan kepada saya. Ibu dosen pembimbing skripsi Dra. Haniek Sri Pratini, M.Pd atas segala dukungan, arahan, dan bimbingan selama berproses bersama. Almamaterku, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. v.

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK. Wibawaningrum, Chatarina Krisella. 2020. Pengembangan Desain Pembelajaran Matematika Menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan Model Problem Based Learning Untuk Mahasiswa Pendidikan Matematika Kelas C Angkatan 2017. Skripsi. Yogyakarta : Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini merupakan penelitian yang mengembangkan desain pembelajaran tentang prinsip matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning pada materi barisan aritmetika dan barisan geometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pengembangan desain pembelajaran, mendeskripsikan keterlaksanaan desain pembelajaran, dan mengetahui respon mahasiswa terhadap proses pembelajaran tentang prinsip matematika yang telah dilaksanakan. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma yang mengambil mata kuliah pembelajaran matematika SMA dan SMK di kelas C. Penelitian ini menggunakan prosedur pengembangan Plomp yang meliputi: (1) Fase Investigasi Awal, (2) Fase Desain, (3) Fase Realisasi, (4) Fase Tes, Evaluasi dan Revisi dan (5) Fase Implementasi. Fase implementasi tidak dilakukan secara eksplisit tetapi terpadu dalam pelaksanaan penelitian, yaitu pada saat melakukan uji coba lapangan, karena keterbatasan situasi dan kondisi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes evaluasi, penyebaran angket, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Desain pembelajaran tentang prinsip matematika telah berhasil dikembangkan dengan menggunakan prosedur pengembangan Plomp, 2) Hasil observasi keterlaksanaan uji coba produk memperoleh hasil 96,67% dengan kategori sangat baik. Hasil tes evaluasi mahasiswa menunjukkan bahwa terdapat 4 mahasiswa berada pada kategori tinggi, 12 mahasiswa berada pada kategori sedang, dan 4 mahasiswa berada pada kategori rendah. 3) Hasil angket respon mahasiswa terhadap desain pembelajaran tentang prinsip matematika yang telah dilaksanakan memperoleh hasil 60,042 (dengan interval 20 – 80) termasuk dalam kategori baik. Mahasiswa merasa terinspirasi dengan pembelajaran yang telah dilaksanakan karena pembelajaran tentang prinsip matematika merupakan hal baru bagi mahasiswa. Kata Kunci: Desain pembelajaran, Paradigma Pedagogi Reflektif, Problem Based Learning, Barisan Aritmetika dan Barisan Geometri. viii.

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT. Wibawaningrum, Chatarina Krisella. 2020. Development of Mathematics Learning Design Using Reflective Pedagogical Paradigm with Problem Based Learning Model For Class C Mathematics Education Students 2017. Thesis. Yogyakarta : Mathematics Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University. This research is a research that develops learning design about mathematical principles using the Reflective Pedagogy Paradigm with Problem Based Learning model in arithmetic and geometric sequence material. This study aims to determine the learning design development procedures, describe the implementation of learning design, and determine student responses to the learning process about mathematical principles that have been implemented. The subjects of this research were students of Mathematics Education at Sanata Dharma University who took high school and vocational mathematics learning courses in class C. This reasearch uses the Plomp development procedure which includes: (1) Prelimenary investigation, (2) Design, (3) Realization/construction, (4) Test, evaluation, and revision, and (5) Implementation. The implementation phase is not done explicitly but is integrated in the conduct of reserach, that is when conducting field trials, due to limited circumstances and conditions. Data collection techniques used were observation, evaluation tests, questionnaires, and interviews. The result show that: 1) The learning design of mathematical principles was succesfully developed using the Plomp development procedure, 2) The results of observations of the implementation of product trials obtained 96,67% results with very good category. Student evaluation test results show that there are 4 students in the high category, 12 students in the medium category, and 4 students in the low category. 3) The results of the questionnaire responses of students to the learning design of mathematical principles that have been implemented obtained 60,042 results (with intervals of 20 – 80) included in either category. Students feel inspired by the learning that has been carried out because learning about mathematical principles is a new thing for students. Key words : Learning design, Reflective Pedagogical Paradigm, Problem Based Learning, Arithmetic sequence and Geometry sequence. ix.

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ........................................................................................................... i LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................................... ii LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................... iii HALAMAN MOTTO ........................................................................................................ iv HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................................ vi LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ......................................... vii ABSTRAK ....................................................................................................................... viii ABSTRACT......................................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................................ x DAFTAR ISI.................................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ............................................................................................................ xvi DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................. xviii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1 A.. Latar Belakang Masalah.......................................................................................... 1. B.. Identifikasi Masalah ................................................................................................ 9. C.. Pembatasan Masalah ............................................................................................. 10. D.. Rumusan Masalah ................................................................................................. 10. E.. Tujuan Penelitian .................................................................................................. 11. F.. Manfaat Penelitian ................................................................................................ 12. G.. Penjelasan Istilah .................................................................................................. 13. H.. Spesifikasi Produk ................................................................................................ 15. BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................... 17 Kajian Pustaka ...................................................................................................... 17. A. 1.. Pembelajaran Matematika ................................................................................. 17. 2.. Prinsip Pada Objek Matematika ........................................................................ 19. 3.. Paradigma Pedagogi Reflektif .......................................................................... 20. 4.. Problem Based Learning ................................................................................... 24. 5.. Penelitian dan Pengembangan .......................................................................... 27. 6.. Barisan Aritmetika dan Barisan Geometri ........................................................ 31 xiii.

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. B.. Penelitian yang Relevan ........................................................................................ 35. C.. Kerangka Berpikir ................................................................................................. 37. BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................... 41 A.. Jenis Penelitian...................................................................................................... 41. B.. Setting Penelitian .................................................................................................. 42 1.. Subjek Penelitian .............................................................................................. 42. 2.. Objek Penelitian ................................................................................................ 43. 3.. Tempat Penelitian ............................................................................................. 43. 4.. Waktu Penelitian ............................................................................................... 43 Design dan Prosedur Pengembangan .................................................................... 43. C. 1.. Fase Investigasi awal ........................................................................................ 44. 2.. Fase Desain ....................................................................................................... 45. 3.. Fase realisasi ..................................................................................................... 46. 4.. Fase tes, evaluasi, dan revisi ............................................................................. 46 Teknik Pengumpulan Data .................................................................................... 47. D. 1.. Observasi........................................................................................................... 47. 2.. Wawancara........................................................................................................ 47. 3.. Penyebaran Angket ........................................................................................... 48. 4.. Tes Evaluasi / hasil belajar................................................................................ 48 Instrumen Penelitian ............................................................................................. 48. E. 1.. Lembar observasi .............................................................................................. 48. 2.. Pedoman wawancara ......................................................................................... 51. 3.. Angket ............................................................................................................... 54. 4.. Soal Tes Evaluasi .............................................................................................. 55 Teknik Analisis Data............................................................................................. 56. F. 1.. Analisis data kualitatif ...................................................................................... 56. 2.. Analisis data kuantitatif .................................................................................... 58. BAB IV HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN, DAN KETERBATASAN ............... 66 A.. Hasil Penelitian ..................................................................................................... 66. 1.. Deskripsi Pelaksanaan Kegiatan ........................................................................... 66. 2.. Hasil Penelitian ..................................................................................................... 75 a.. Fase Investigasi Awal ....................................................................................... 75. b.. Fase Desain ....................................................................................................... 80. xiv.

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. c.. Fase Realisasi .................................................................................................... 82. d.. Fase tes, evaluasi, dan revisi ............................................................................. 87 Pembahasan........................................................................................................... 90. B.. C.. 1.. Pengembangan Desain Pembelajaran ............................................................... 91. 2.. Keterlaksanaan Desain Pembelajaran ............................................................... 98. 3.. Respon Mahasiswa.......................................................................................... 123 Keterbatasan Penelitian ....................................................................................... 125. BAB V PENUTUP ......................................................................................................... 126 A.. Kesimpulan ......................................................................................................... 126. B.. Saran ................................................................................................................... 129. DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 130 LAMPIRAN.................................................................................................................... 136. xv.

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL. Tabel 3. 1 Kisi-kisi Lembar Observasi ............................................................................. 48 Tabel 3. 2 Kisi-kisi Pedoman Wawancara ........................................................................ 51 Tabel 3. 3 Kisi-kisi Angket Respon Mahasiswa ............................................................... 54 Tabel 3. 4 Kisi-kisi Lembar Tes Evaluasi ......................................................................... 55 Tabel 3. 5 Kategori Pengelompokan Mahasiswa Berdasarkan Hasil Tes Evaluasi .......... 57 Tabel 3. 6 Kriteria penskoran keterlaksanaan desain pembelajaran (Riduwan dan Akdon, 2009) ................................................................................................................................. 59 Tabel 3. 7 Kategori Kemampuan Mahasiswa Berdasarkan Hasil Tes Evaluasi ............... 61 Tabel 3. 8 Kategori Kemampuan Mahasiswa Berdasarkan Hasil Tes Evaluasi ............... 62 Tabel 3. 9 Pedoman Penskoran Angket Respon Mahasiswa ............................................ 63 Tabel 3. 10 Pedoman Kriteria Angket Respon ................................................................. 65 Tabel 4. 1 Revisi Desain Pembelajaran ............................................................................ 88 Tabel 4. 2 Jadwal Pelaksanaan Uji Coba Terbatas ........................................................... 90 Tabel 4. 3 Hasil Observasi Keterlaksanaan Desain Pembelajaran .................................... 98 Tabel 4. 4 Persentase Keterlaksanaan Desain Pembelajaran Prinsip .............................. 103 Tabel 4. 5 Penilaian Tes Evaluasi ................................................................................... 104 Tabel 4. 6 Hasil Analisis Tes Evaluasi ........................................................................... 105 Tabel 4. 7 Presentase Mahasiswa yang Termasuk dalam Kategori Tinggi, Sedang, dan Rendah ............................................................................................................................ 106 Tabel 4. 8 Banyak Mahasiswa dalam Kategori Tinggi, Sedang, dan Rendah ................ 107 Tabel 4. 9 Hasil Angket Respon Mahasiswa .................................................................. 123. xvi.

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR GAMBAR. Gambar 1. 1 Hasil Pekerjaan S1 (Sumber : Hardiyanti, 2016) ........................................... 4 Gambar 1. 2 Hasil Pekerjaan S3 (Sumber : Hardiyanti, 2016) ........................................... 4 Gambar 3. 1 Diagram Model Plomp (Sumber: Rochmad, 2012) ..................................... 42 Gambar 3. 2 Modifikasi Model Pengembangan Plomp .................................................... 44 Gambar 4. 3 Mahasiswa berdiskusi menyelesaikan permasalahan yang diberikan .......... 69 Gambar 4. 4 Mahasiswa mempresentasikan hasil diskusinya .......................................... 69 Gambar 4. 5 Mahasiswa menuliskan hasil refleksi ........................................................... 74 Gambar 4. 1 Hasil Pekerjaan S1 ....................................................................................... 77 Gambar 4. 2 Hasil Pekerjaan S3 ....................................................................................... 78. xvii.

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1 Hasil Scanning Lembar Validasi Instrumen Observasi ................... 136 Lampiran 2 Hasil Scanning Lembar Validasi Instrumen Pedoman Wawancara 139 Lampiran 3 Hasil Scanning Lembar Validasi Angket (Validator 1)................... 142 Lampiran 4 Hasil Scanning Lembar Validasi Angket (Validator 2)................... 145 Lampiran 5 Validitas Tes Evaluasi ..................................................................... 147 Lampiran 6 Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran (Observer 1) ............... 148 Lampiran 7 Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran (Observer 2) ............... 154 Lampiran 8 Hasil Tes Evaluasi ........................................................................... 159 Lampiran 9 Hasil Penghitungan Angket Respon Mahasiswa ............................. 160 Lampiran 10 Hasil Wawancara dengan Subjek M3 ............................................ 164 Lampiran 11 Hasil Wawancara dengan Subjek M14 .......................................... 173 Lampiran 12 Hasil Wawancara dengan Subjek M10 .......................................... 181 Lampiran 13 Hasil Wawancara dengan Subjek M16 .......................................... 190 Lampiran 14 Hasil Wawancara dengan Subjek M6 ............................................ 197 Lampiran 15 Hasil Wawancara dengan Subjek M13 .......................................... 204 Lampiran 16 Desain Pembelajaran Pertemuan I ................................................. 211 Lampiran 17 Desain Pembelajaran Pertemuan II................................................ 224. xviii.

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Menurut UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Perkembangan pendidikan di Indonesia, tidak lepas dari adanya perkembangan teknologi digital di era Industri 4.0 saat ini. Perubahan era ini tidak dapat dihindari oleh siapapun sehingga dibutuhkan penyiapan sumber daya manusia yang memadai, khususnya dalam bidang pendidikan. Menurut Lase (2019), keberhasilan suatu Negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0 turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti guru. Oleh karena itu, pembelajaran abad 21 merupakan tantangan bagi pendidik, dimana pendidik dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan dan kemampuan berpikir siswa. Yulianisa (2010). menyebutkan bahwa. kompetensi yang diperlukan di abad 21 yaitu communication (komunikasi), collaboration (kolaborasi), critical thinking and problem solving (berpikir kritis dan memecahkan masalah), cretivity and inovation (kreatif dan inovatif), yang dikenal dengan kompetensi 4C. Oleh sebab itu, peran guru dalam pembelajaran sangatlah penting, yaitu sebagai kunci keberhasilan belajar. 1.

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. peserta didik sehingga mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Menurut Priyati dkk (dalam Susilowati 2018) membelajarkan matematika tidak hanya sekedar sebagai sebuah pelajaran tentang fakta-fakta, tetapi harus dapat mengembangkan kemampuan penalaran. Guru tidak hanya memberikan materi untuk dihafal, namun juga sebagai fasilitator siswa dalam menemukan konsep atau prinsip dari materi yang diajarkan. Oleh karena itu, sebagai calon pendidik diharapkan memiliki keterampilan yang lebih terutama dalam pemahaman objek-objek matematika. Begle (dalam Ratumanan, 2016) membagi objek matematika atas fakta, konsep, operasi dan prinsip. Selaras dengan hal tersebut, Bell (dalam Ratunaman, 2016) membedakan objek matematika atas dua jenis yaitu objek langsung dan objek tak langsung. Objek langsung adalah objek matematika itu sendiri, sedangkan objek tidak langsung adalah hal-hal yang akan mengiringi perolehan dari belajar objek langsung seperti transfer belajar, kemampuan menemukan, kemampuan memecahkan masalah, disiplin diri, dan apresiasi terhadap struktur matematika. Objek tak langsung lainnya yang dapat diidentifikasi adalah kemampuan komunikasi matematika, kemampuan penalaran, kemampuan berpiki kritis, dan berpikir kreatif. Objek langsung dari matematika dibagi atas empat kategori, yakni fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip. Pembagian objek langsung matematika menurut Bell tersebut pada dasarnya tidak berbeda dengan pembagian menurut Begle. Berdasarkan penelitian dari Ratumanan dan Laurens (2016), tingkat penguasaan objek matematika lulusan SMA di provinsi Maluku masih tergolong sangat rendah..

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Berdasarkan penelitian tersebut, tingkat penguasaan konsep matematika memperoleh skor 31,61 tingkat penguasaan operasi matematika memperoleh skor 27,02 sedangkan untuk tingkat penguasaan prinsip matematika hanya memperoleh skor 22,26. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat penguasaan prinsip matematika pada lulusan SMA provinsi Maluku masih tergolong rendah dibandingkan dengan penguasaan konsep dan operasi. Selaras dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Sulistyowati dan Sujadi (2015) menunjukkan bahwa jenis kesalahan yang paling banyak dilakukan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Mlati Kabupaten Sleman dalam menyelesaikan soal sudut, luas, dan keliling segitiga adalah kesalahan penerapan konsep dan prinsip matematika, dengan presentase 52,34%. Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan Nur dkk (2018), mengungkapkan bahwa kesalahan prinsip siswa dalam menyelesaikan materi barisan dan deret aritmetika diantaranya kesalahan menuliskan rumus, kesalahan pada proses mensubstitusi dan memperoleh hasil akhir, dan kesalahan dalam menuliskan kesimpulan akhir. Penyebab kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi barisan dan deret aritmetika yaitu kurangnya pemahaman siswa terhadap simbol-simbol dan rumus pada barisan dan deret aritmetika, siswa kurang teliti dalam mengerjakan soal, serta siswa sering tidak memperhatikan prasyarat dalam mengggunakan rumus, teorema, atau definisi. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak ditemukan siswa yang melakukan kesalahan pada bagian prinsip. Selaras dengan hal tersebut, Hardiyanti (2016) melakukan penelitian.

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. terhadap kesulitan siswa kelas IX SMP dalam menyelesaikan soal pada materi barisan dan deret.. Gambar 1. 1 Hasil Pekerjaan S1 (Sumber : Hardiyanti, 2016). Berdasarkan hasil pekerjaan siswa di atas, terlihat bahwa siswa masih salah dalam menentukan rumus suku ke-n dari barisan aritmetika. Siswa hanya memasukkan nilai b dari yang diketahui ke rumus umum suku ke-n tanpa ada langkah untuk menyederhanakan bentuk suku ke-n. Dugaan kesulitan siswa menurut Hardiyanti (2016) tersebut adalah siswa tidak dapat menentukan rumus 𝑈𝑛 dalam bentuk yang lebih sederhana.. Gambar 1. 2 Hasil Pekerjaan S3 (Sumber : Hardiyanti, 2016). Kemudian pada soal barisan geometri, ditemukan kesulitan seperti gambar di atas. Siswa salah dalam menentukan nilai 𝑈𝑛 dan 𝑈10 . Berdasarkan hasil pekerjaan tersebut, siswa mencari suku ke-10 dan ke-n dari barisan geometri menggunakan rumus barisan aritmetika. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa belum paham mengenai konsep dan prinsip dari barisan aritmetika.

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. dan barisan geometri. Siswa tidak dapat membedakan antara barisan aritmetika dan barisan geometri, sehingga tidak dapat menentukan rumus yang tepat untuk menyelesaikan soal tersebut. Kondisi ini perlu menjadi perhatian khusus bagi mahasiswa calon pendidik, sehingga jika kelak menjadi seorang guru mampu memberikan pembelajaran yang. bukan hanya sekedar hafalan, tetapi. menekankan kepada proses dan pemahaman yang benar mengenai prinsip matematika. Berdasarkan beberapa permasalahan di atas, menunjukkan bahwa menjadi seorang pendidik tidaklah mudah, karena dibutuhkan kompetensi pendidik abad 21 yang mampu berinovasi dalam pembelajaran, salah satunya adalah pembelajaran yang menekankan pada pemahaman objek-objek matematika khususnya prinsip. Selain itu, berdasarkan penelitian dari Hartanto (2016), tidak semua mahasiswa yang mengambil jurusan pendidikan murni ingin menjadi seorang guru. Faktor sebagai batu loncatan, paksaan, salah memilih, dan sebagainya menjadi alasan bagi mereka yang tidak berminat menjadi guru. Hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat kompetensi pendidik yang diharapkan, karena guru yang memiliki komitmen yang rendah biasanya kurang memberikan perhatian kepada murid, demikian pula waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang tidak maksimal. Peneliti melakukan penyebaran angket kepada seluruh mahasiswa pendidikan matematika angkatan 2017, untuk melihat latar belakang mahasiswa serta minat mahasiswa menjadi seorang guru. Berdasarkan dari data penyebaran angket tersebut, diketahui bahwa presentase keinginan mahasiswa di kelas C.

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. untuk menjadi seorang guru masih rendah dibandingkan dengan kelas lainnya, yaitu hanya sebesar 55%. Untuk itu, peneliti memilih mahasiswa kelas C yang mengambil mata kuliah pembelajaran matematika SMA dan SMK sebagai subjek penelitian untuk menerapkan desain pembelajaran yang lebih mengutamakan pada objek-objek matematika khususnya prinsip. Kemudian, berdasarkan hasil pengamatan dari simulasi pembelajaran prinsip yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa program studi pendidikan matematika angkatan 2017 kelas C, masih ada beberapa kegiatan yang kurang dalam menekankan prinsip dari materi yang sedang diajarkan. Simulasi pembelajaran dilakukan seperti halnya pembelajaran microteaching, jadi ada beberapa kelompok mahasiswa yang bertindak menjadi seorang guru dan ada yang bertindak menjadi seorang siswa. Mahasiswa yang bertindak menjadi seorang guru disebut sebagai mahasiswa praktikan. Pada saat simulasi pembelajaran, mahasiswa. praktikan. masih. cenderung. memberikan. soal-soal. yang. menekankan pada keterampilan peserta didik dalam menyelesaikan soal, belum menekankan pada pemahaman prinsip dari materi yang sedang diajarkan. Selain itu, beberapa mahasiswa masih kurang dalam pemanfaatan media pembelajaran seperti alat peraga, sehingga kegiatan pembelajaran terkesan monoton dan seperti menggunakan metode ceramah. Kemudian mahasiswa praktikan juga kurang memotivasi siswa, sehingga pembelajaran matematika menjadi kurang menarik. Mahasiswa praktikan langsung menggunakan simbol-simbol tertentu tanpa adanya penjelasan atau perjanjian dari simbol-simbol yang digunakan. Tentu saja apabila kondisi ini dibiarkan secara terus menerus akan berakibat.

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. pada rendahnya tingkat kompetensi pendidik dan rendahnya pemahaman siswa terhadap objek matematika khususnya prinsip. Menurut Andar dan Ikman (2016), seorang siswa dinyatakan telah mampu memahami suatu prinsip jika siswa tersebut ingat rumus atau prinsip yang bersesuaian, memahami seberapa konsep yang digunakan serta lambang atau notasinya, dan dapat menggunakan rumus atau prinsip yang bersesuaian pada situasi yang tepat. Mendapati keadaan tersebut, tentu saja diperlukan solusi agar terjadi peningkatan dalam hal pembelajaran prinsip matematika pada materi SMA. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti ingin mengembangkan desain pembelajaran tentang prinsip matematika pada materi barisan yang dikhususkan pada barisan aritmetika dan barisan geometri, agar dapat dijadikan sebagai gambaran dan inspirasi bagi mahasiswa calon pendidik untuk merancang suatu pembelajaran prinsip, sehingga kompetensi pendidik dan pemahaman siswa mengenai objek-objek matematika dapat meningkat. Salah satu hal yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan pada materi tersebut adalah siswa belum dapat menyelesaikan hal-hal yang bersifat abstrak. Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran diperlukan suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan dapat membantu atau memfasilitasi siswa untuk menghubungkan materi pelajaran yang sekiranya masih abstrak dengan hal-hal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurut hasil penelitian dari Lestari dkk (2018), menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman relasional mahasiswa. Menurut Skemp (dalam Syarifah, 2017) pemahaman relasional.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. merupakan kemampuan untuk menggunakan aturan matematis beserta alasan penggunaannya. Berdasarkan uraian diatas, maka model pembelajaran yang dirasa tepat adalah model Problem Based Learning (PBL). Selain model pembelajaran yang tepat, diperlukan pula pendekatan yang tepat agar siswa dapat lebih mudah dalam memahami konsep-konsep matematika, sehingga siswa menjadi lebih tertarik untuk mempelajari matematika dan mendapatkan makna dalam proses pembelajarannya. Oleh sebab itu, pendekatan yang dirasa tepat adalah pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR). Tujuan utama dari PPR adalah menciptakan manusia-manusia muda yang sungguh unggul dan berkarakter secara manusiawi. Menurut Suparno (dalam Pratini, 2016) pembelajaran dengan paradigma pedagogi reflektif terdapat 5 tahapan, yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi.. Proses pembelajaran. dirancang sedemikan rupa dengan mengembangkan aspek competence (kompetensi), conscience (hati nurani), dan compassion (bela rasa) sehingga menuntun mahasiswa untuk mengalami sendiri segala hal yang dipelajari (jika ada keterkaitan antara ilmu yang dipelajari mahasiswa dengan situasi kehidupan yang nyata dalam kesehariannya). Penerapan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) ini diharapkan agar mahasiswa mampu merefleksikan pengalaman belajar yang diberikan dan selanjutnya melakukan aksi nyata Selain pendekatan dan model pembelajaran, peneliti juga memilih model pengembangan yang dirasa tepat, yaitu model pengembangan Plomp. Model ini memiliki langkah-langkah yang sederhana dan terdapat proses pengembangan pada setiap langkahnya. Model Plomp yang digunakan untuk.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. mengembangkan desain pembelajaran dalam penelitian ini adalah model Plomp, yang terdiri dari fase investigasi awal (prelimenary investigation), fase desain (design), fase realisasi/konstruksi (realization/construction), fase tes, evaluasi dan revisi (test, evaluation and revision), dan fase implementasi (implementation). Pada penelitian ini, fase implementasi tidak dilakukan, karena keterbatasan waktu dan kondisi. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis membuat judul “Pengembangan Desain Pembelajaran Matematika Menggunakan Pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan Model Problem Based Learning untuk Mahasiswa Pendidikan Matematika Kelas C Angkatan 2017”. Penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan atau meningkatkan kemampuan atau pemahaman calon pendidik dalam menciptakan proses pembelajaran yang menekankan pada pemahaman prinsip peserta didik.. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut : 1.. Masih banyak ditemukan siswa yang melakukan kesalahan pada bagian prinsip matematika.. 2.. Berdasarkan simulasi pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa pendidikan matematika yang mengambil mata kuliah pembelajaran matematika SMA dan SMK, mahasiswa yang bertindak sebagai pendidik (mahasiswa praktikan) belum memanfaatkan media pembelajaran dengan.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. baik, sehingga pembelajaran yang dilakukan cenderung monoton, kurang memotivasi dan seperti menggunakan metode ceramah. 3.. Mahasiswa praktikan masih cenderung memberikan soal-soal yang menekankan pada keterampilan peserta didik dalam menyelesaikan soal, belum menekankan pada pemahaman prinsip dari materi yang sedang diajarkan. C. Pembatasan Masalah Adapun batasan masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut : 1.. Penelitian ini menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning, pada mahasiswa angkatan 2017 kelas C Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.. 2.. Kajian dalam penelitian ini hanya terbatas pada pembelajaran prinsip materi barisan aritmetika dan barisan geometri tingkat SMA.. D. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian singkat diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1.. Bagaimana. pengembangan. desain. pembelajaran. tentang. prinsip. matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning pada materi barisan aritmetika dan barisan geometri?.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. 2.. Bagaimana keterlaksanaan pembelajaran tentang prinsip matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning pada materi barisan aritmetika dan barisan geometri?. 3.. Bagaimana respon mahasiswa mengenai pembelajaran prinsip matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning pada materi barisan aritmetika dan barisan geometri?. E. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan : 1.. Untuk mengetahui prosedur pengembangan desain pembelajaran tentang prinsip matematika pada materi barisan aritmetika dan barisan geometri menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning.. 2.. Untuk. mengetahui. keterlaksanaan. pembelajaran. tentang. prinsip. matematika pada materi barisan aritmetika dan barisan geometri menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif. dengan model Problem. Based Learning. 3.. Untuk mendeskripsikan respon mahasiswa mengenai proses pembelajaran tentang prinsip matematika pada barisan aritmetika dan barisan geometri menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning..

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. F. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan, pengalaman dan bekal bagi peneliti dalam mengajarkan pemahaman prinsip matematika saat peneliti memasuki dunia kerja sebagai pendidik.. 2.. Bagi Guru a.. Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan dalam perbaikan dan pengambilan tindakan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah.. b.. Dengan adanya evaluasi, guru diharapkan dapat lebih memahami dan menguasai pembelajaran yang menekankan pada objek-objek matematika khususnya prinsip matematika.. c.. Guru. diharapkan. dapat. lebih. kreatif. dalam. memilih. dan. mengembangkan pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan siswa. 3.. Bagi Mahasiswa Calon Pendidik Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar mahasiswa calon pendidik terutama dalam memahami objek-objek matematika khususnya prinsip. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikna motivasi dan inspirasi bagi mahasiswa calon pendidik dalam menerapkan pembelajaran tentang prinsip matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dan model Problem Based Learning..

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. G. Penjelasan Istilah Adapun penjelasan istilah penelitian ini yaitu sebagai berikut : 1.. Penelitian dan Pengembangan (R&D) Penelitian dan pengembangan (Research and Development) adalah suatu metode penelitian yang menghasilkan suatu produk tertentu serta menguji validitas dan keefektifannya.. 2.. Pembelajaran Matematika Pembelajaran matematika adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang untuk pembangunan makna dan pemahaman yang melibatkan siswa secara aktif, untuk membantu siswa dalam mencapai perubahan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan tentang matematika.. 3.. Prinsip Matematika Prinsip matematika adalah objek matematika yang didalamnya terdapat hubungan antara objek lain seperti fakta, konsep, maupun keterampilan atau operasi.. 4.. Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah sudut pandang atau cara pandang terhadap proses pembelajaran yang masih bersifat umum.. 5.. Model Pembelajaran Model pembelajaran adalah suatu rencana dalam merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing kegiatan pembelajaran, yang didalamnya berisi sintaks-sintaks kegiatan yang dilakukan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan..

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. 6.. Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) PPR adalah suatu pola pikir atau sudut pandang dalam proses pembelajaran untuk mendidik siswa menjadi pribadi yang utuh, cerdas dalam kognitif maupun dalam bersikap.. 7.. Problem Based Learning (PBL) PBL adalah strategi pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang harus diselesaikan agar siswa dapat melatih kemampuan dalam berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah, dan memperoleh pengetahuan atau konsep dari materi yang sedang dipelajari.. 8.. Barisan Barisan adalah daftar urutan bilangan yang mempunyai karakteristik atau pola tertentu.. 9.. Barisan Aritmetika Barisan aritmetika adalah barisan bilangan yang nilai pembeda antara dua suku yang berurutan selalu tetap. 10. Barisan Geometri Barisan geometri adalah barisan bilangan yang nilai pembanding antara dua suku yang berurutan selalu tetap.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. H. Spesifikasi Produk Dalam penelitian ini, produk yang dihasilkan berupa desain pembelajaran. Berikut adalah penjelasan spesifikasi produk yang dikembangkan oleh peneliti: 1.. Desain Pembelajaran Desain pembelajaran dirancang menggunakan paradigma pedagogi reflektif dan mengakomodasi model pembelajaran problem based learning. Desain pembelajaran ini dikhususkan pada pembelajaran prinsip pada materi barisan aritmetika dan barisan geometri. Dalam penelitian ini, komponen dari PPR dan model PBL dikemas dalam 3 tahap kegiatan pembelajaran, yakni pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup..

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. DESAIN PEMBELAJARAN Mata Kuliah. : Pembelajaran Matematika SMA dan SMK. Kelas/Semester. : C/5. Materi Pokok. : Barisan Aritmetika dan Barisan Geometri. Alokasi Waktu. : 1 × 70 menit. A. Capaian Akhir Pembelajaran B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Competence (Pengetahuan) 2. Conscience (Suara Hati) 3. Compassion (Bela Rasa) C. Tujuan Pembelajaran 1. Competence (Pengetahuan) 2. Conscience (Suara Hati) 3. Compassion (Bela Rasa) D. Materi Pembelajaran E. Metode Pembelajaran F. Media Pembelajaran G. Sumber Belajar H. Langkah-langkah Pembelajaran 1. Kegiatan Pendahuluan -. Konteks. 2. Kegiatan Inti (Mengakomodasi model Problem Based Learning) -. Pengalaman. 3. Kegiatan Penutup -. Refleksi. -. Aksi. -. Evaluasi. I. Penilaian 1. Penilaian Teman Sebaya.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II LANDASAN TEORI. A. Kajian Pustaka 1.. Pembelajaran Matematika Slameto (dalam Latif dan Akib, 2016) mendefinisikan pembelajaran matematika adalah suatu proses dalam mengajarkan matematika untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa tentang matematika agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Selaras dengan hal tersebut, Mandasari (2018) menjelaskan bahwa pembelajaran matematika merupakan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan melalui kegiatan pendidikan yang menggunakan matematika. Berdasarkan pasal 1 butir 20 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran merupakan kegiatan yang terjadi karena adanya interaksi antara pendidik, peserta didik, dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar. Kemudian, Hudojo (dalam Jumrotun, 2018) pembelajaran matematika merupakan pembelajaran tentang konsep matematika dan mencari hubungan yang ada didalamnya. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006, pembelajaran matematika bertujuan untuk:. 17.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. a.. Memahami. konsep. matematika,. menjelaskan. keterkaitan. antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. b.. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.. c.. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.. d.. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.. e.. Memiliki. sikap. menghargai. kegunaan. matematika. dalam. kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam memperlajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang untuk pembangunan makna dan pemahaman yang melibatkan siswa secara aktif, untuk membantu siswa dalam mencapai perubahan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan tentang matematika..

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. 2.. Prinsip Pada Objek Matematika Begle (dalam Ratumanan dan Laurens, 2016) membagi objek matematika atas fakta, konsep, operasi, dan prinsip. Sedangkan Ruseffendi (dalam Evianti, 2019) mengemukakan bahwa, dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh siswa yakni objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah sendiri, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana mestinya belajar. Sedangkan objek langsung adalah objek matematika itu sendiri yang terdiri dari fakta, konsep, prinsip dan keterampilan. Menurut Soedjadi (dalam Evianti dkk, 2019) prinsip merupakan objek matematika yang kompleks. Prinsip dapat terdiri dari fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi. Sedangkan, Sudjana (dalam Evianti dkk, 2019) mendefinisikan prinsip sebagai pola hubungan fungsional antar konsep, sehingga ditentukan bahwa mempelajari prinsip sama dengan konsep. Selain itu, Riyandiarto dkk (2015) mendefinisikan aturan atau prinsip adalah objek yang bersifat abstrak, berupa sifat-sifat atau teorema. Menurut Andar dan Ikman (2016), seorang siswa dinyatakan telah mampu memahami suatu prinsip jika siswa tersebut: a.. Mampu mengingat rumus atau prinsip yang bersesuaian. b.. Memahami beberapa konsep yang digunakan serta lambang atau notasinya.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. c.. Dapat menggunakan rumus atau prinsip yang bersesuaian pada situasi yang tepat. Sedangkan menurut Armiati (dalam Evianti dkk, 2019) seseorang. dikatakan telah mempelajari prinsip, bila ia dapat mengidentifikasi konsep-konsep yang termuat dalam prinsip, menempatkan konsepkonsep dalam hubungan yang benar antara satu dengan lainnya, dan mengaplikasikan prinsip dalam situasi nyata. Berdasarkan pendapat beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa prinsip adalah objek matematika yang didalamnya terdapat hubungan antara objek lain seperti fakta, konsep, maupun keterampilan atau operasi.. 3.. Paradigma Pedagogi Reflektif Menurut Suparno (dalam Pratini, 2016), paradigma pedagogi reflektif adalah cara dalam mendampingi mahasiswa agar dapat berkembang menjadi pribadi yang kompeten (competence), memiliki hati nurani (conscience), dan memiliki kepedulian (compassion) kepada sesama.. Sedangkan. menurut. Subagya. (dalam. Printina,. 2019). pembelajaran berpola PPR adalah pembelajaran yang menyatukan pembelajaran. bidang. studi. dengan. pengembangan. nilai-nilai. kemanusiaan. Pembelajaran bidang studi disesuaikan dengan konteks mahasiswa,. sedangkan. pengembangan. nilai-nilai. kemanusiaan. ditumbuh-kembangkan melalui dinamika pengalaman, refleksi, dan aksi, serta dikawal dengan evaluasi..

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. Kemudian, menurut tim penerbit kanisius (2008) paradigma pedagogi reflektif merupakan pola pikir dalam mengembangkan pribadi siswa menjadi pribadi kristiani/kemanusiaan. Pola pikirnya : dalam membentuk pribadi, siswa diberikan pengalaman akan suatu nilai kemanusiaan, kemudian siswa difasilitasi dengan pertanyaan agar merefleksikan pengalaman tersebut, dan berikutnya difasilitasi dengan pertanyaan aksi agar siswa membuat niat dan berbuat sesuai dengan nilai tersebut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa PPR adalah suatu pola pikir atau sudut pandang dalam proses pembelajaran untuk mendidik siswa menjadi pribadi yang utuh, cerdas dalam kognitif maupun dalam bersikap. Sudut pandang atau titik tolak terhadap proses pembelajaran ini dapat disebut sebagai pendekatan (Rusman, 2013). Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Menurut Lutvaidah (2015), pendekatan pembelajaran merupakan aktifitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran adalah sudut pandang atau cara pandang terhadap proses pembelajaran yang masih bersifat umum. Setiap pendekatan pembelajaran mempunyai karakteristik yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan fungsi dan tujuan tiap pendekatan. Pemilihan pendekatan dalam proses pembelajaran tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dan tujuan yang akan dicapai dalam perencanaan pembelajaran. Maka dari.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. itu, pada penelitian ini Paradigma Pedagogi Reflektif dipandang sebagai suatu pendekatan/sudut pandang mengenai pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga dapat menjadi pribadi yang cerdas dalam kognitif maupun dalam bersikap. Menurut Suparno (dalam Pratini, 2016), pembelajaran dengan paradigma pedagogi reflektif terdapat 5 tahapan, yaitu : konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. a.. Konteks Sebagai seorang pendidik, diharapkan mampu untuk mengetahui pengalaman hidup peserta didik, serta harus mengetahui sebanyak mungkin konteks tempat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Pendidik perlu memahami latar belakang dari peserta didiknya, misalnya cara hidup keluarga, teman-teman, kebudayaan, ekonomi keluarga, dan banyak hal lain yang berdampak bagi peserta didik. Oleh sebab itu, pendidik harus mampu menciptakan hubungan yang saling terbuka dengan peserta didik, sehingga dapat menumbuhkan sikap saling percaya dan menghargai. Konteks belajar yang perlu diperhatikan salah satunya adalah pengertian, pendapat, dan pemahaman yang telah mereka peroleh melalui pengalaman, studi sebelumnya, maupun lingkungan tempat mereka dibesarkan. Selain itu perasaan, sikap, dan nilai-nilai mengenai mata pelajaran yang akan dipelajari juga merupakan konteks nyata dari proses belajar peserta didik..

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23. b.. Pengalaman Menurut Ignatius (dalam Hartana dkk, 2016) pengalaman berarti “mengenyam sesuatu hal dalam batin”. Pengalaman tidak melulu tentang pemahaman intelektual saja, namun keseluruhan pribadi, budi, perasaan, dan kemauan masuk dalam pengalaman belajar peserta didik. Seorang pendidik diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang menuntun peserta didik untuk mengalami sendiri kejadian atau kegiatan yang dilakukan oleh setiap individu, sehingga peserta didik mampu untuk lebih memahami materi dan menemukan makna yang mendalam dari materi yang dipelajari.. c.. Refleksi Refleksi dalam (P3MP-LPM USD, 2012) merupakan proses menuju pada perubahan individu yang dapat mempengaruhi perubahan lingkungan sekitarnya. Melalui proses refleksi, diharapkan peserta didik mampu menangkap arti dan makna dari pengalaman yang telah dilaksanakan, dan menemukan hubungan antara pengetahuan dan kegiatan insani, serta memahami implikasinya dalam kehidupan.. d.. Aksi P3MP-LPM USD (2012) mengemukakan tindakan (aksi) adalah praktik dalam kehidupan nyata yang merupakan hasil dari memaknai pembelajaran yang telah dilakukan. Menurut Pratini (2016), aksi adalah tindakan yang berupa sikap diri yang berubah menjadi lebih baik maupun tindakan nyata yang dapat dilihat dan dirasakan leh.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. orang lain, yang dilakukan sebagai hasil refleksi dari pengalaman belajarnya. e.. Evaluasi Evaluasi merupakan proses pengambilan keputusan atas hasil dari pembelajaran yang digunakan untuk menilai atau mengetahui sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang sudah dikuasai oleh peserta didik. Selain itu, kegiatan evaluasi juga digunakan untuk mengetahui apakah ada kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki serta mempertimbangkan tiap-tiap peserta didik apakah memerlukan perbaikan dalam cara belajar mereka. Hal ini dilakukan untuk menilai apakah proses pembelajaran berjalan dengan baik, sehingga aspek-aspek competence (kompetensi), conscience (hati nurani), dan compassion (bela rasa) dapat berkembang.. 4.. Problem Based Learning Menurut Joyce dan Weil (dalam Rusman, 2010) model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola atau rencana yang digunakan dalam proses pembelajaran dalam merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Sedangkan menurut Trianto (dalam Afandi dkk, 2013), model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. adalah suatu rencana dalam merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing kegiatan pembelajaran yang didalamnya berisi sintakssintaks kegiatan yang dilakukan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. Pada penelitian ini, model pembelajaran yang digunakan adalah model Problem Based Learning (PBL). Model Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang memberikan masalah dalam kehidupan nyata dan harus dipecahkan dengan menerapkan konsep yang telah dipelajari sehingga siswa dapat berpikir tingkat tinggi, mandiri dan terampil dalam memecahkan masalah (Lestari, 2018). Selain itu, menurut Sofyan (2016), Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)..adalah strategi pembelajaran yang “menggerakkan” siswa..belajar secara aktif memecahkan..masalah yang kompleks dalam..situasi kehidupan sehari-hari. Kemudian menurut Nurhadi (dalam Sofyan, 2016) pembelajaran berbasis masalah (Problembased. Learning)..juga. merupakan. strategi. pembelajaran. yang. menggunakan masalah dunia nyata sebagai..suatu konteks bagi siswa untuk belajar cara berpikir kritis dan..keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep dari materi..yang dipelajari. Selaras dengan hal tersebut, Arends (2012) menyatakan bahwa pembelajaran dengan model problem based learning membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. masalah, dan keterampilan intelektualnya, mempelajari peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya melalui berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan dan menjadi siswa yang mandiri dan otonom. Tan Onn Seng (dalam Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, 2018) juga mendefinisikan model pembelajaran berbasis masalah sebagai pembelajaran yang menggunakan kemampuan berpikir kritis dari peserta didik untuk memecahkan suatu permasalahan, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna, relevan, dan kontekstual. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa PBL merupakan strategi pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang harus diselesaikan agar siswa dapat melatih kemampuan dalam berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah, dan memperoleh pengetahuan atau konsep dari materi yang sedang dipelajari. Adapun langkah-langkah PBL menurut Kunandar (dalam Suhendar dan Ekayanti, 2018) adalah sebagai berikut : a.. Orientasi peserta didik kepada masalah Mahasiswa diberi suatu masalah sebagai titik awal untuk menemukan atau memahami suatu konsep dari materi yang dipelajari.. b.. Mengorganisasi peserta didik Langkah ini membiasakan mahasiswa untuk belajar menyelesaikan permasalahan.. c.. Membimbing penyelidikan individu dan kelompok.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. Langkah ini menuntut mahasiswa untuk belajar bekerja sama dalam kelompok maupun individu untuk menyelidiki permasalahan yang diberikan. d.. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya serta memamerkannya Mahasiswa dilatih untuk mengomunikasikan pemecahan masalah yang telah ditemukan.. e.. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Langkah ini dapat membiasakan mahasiswa untuk melihat kembali hasil penyelidikan yang telah dilakukan dalam upaya menguatkan pemahaman yang telah diperoleh.. 5.. Penelitian dan Pengembangan Menurut Borg and Gall (dalam Purnama, 2013) yang dimaksud dengan model..penelitian dan pengembangan adalah usaha untuk memvalidasi dan mengembangkan produk-produk..yang digunakan dalam proses pembelajaran. Sedangkan menurut Sugiyono (2009) metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) adalah metode penelitian yang menghasilkan produk tertentu dan digunakan untuk menguji keefektifan produk tersebut. Selaras dengan hal tersebut, Hanafi (2017) mendefinisikan Research and Development adalah metode penelitian yang menghasilkan produk untuk diuji keefektifan dan validitasnya dalam proses pembelajaran. Dari ketiga pendapat ahli tersebut, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. penelitian dan pengembangan (Research and Development) adalah suatu metode penelitian yang menghasilkan suatu produk tertentu serta menguji validitas dan keefektifannya. Pada penelitian ini, model pengembangan yang digunakan adalah model. yang. dikemukakan. oleh. Plomp. yang. disebut. model. pengembangan Plomp. Model Plomp terdiri dari 5 fase, yaitu fase investigasi awal (prelimenary investigation), fase desain (design), fase realisasi/konstruksi (realization/construction), fase tes, evaluasi dan revisi (test, evaluation and revision), dan implementasi (implementation) (Rochmad, 2012). Uraian penjelasan kegiatan yang terkandung dalam setiap fase disajikan sebagai berikut: a.. Fase Investigasi Awal (Prelimenary Investigation) Kegiatan pendahuluan dilakukan pada tahap ini untuk mengetahui informasi atau masalah yang terjadi. Jika masalah yang ditemukan merupakan kondisi ketidakseimbangan antara apa yang terjadi dan situasi yang diinginkan, maka diperlukan penyelidikan yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan tersebut dan menjelaskannya dengan hati-hati. Plomp dan Van de Wolde (dalam Rochmad, 2012) menyatakan kegiatan investigasi merupakan kegiatan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi, definisi masalah dan rencana lanjutan dari produk yang akan dikembangkan. Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap (1) kondisi siswa yang meliputi: kemampuan, dan kemauan belajar, (2) analisis kurikulum.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. yaitu, analisis materi (mengidentifikasi, merinci, dan menyusun konsep secara sistematis untuk pengorganisasian materi pelajaran), dan merumuskan kompetensi dasar dan kriteria kinerja. b.. Fase Desain (Design) Kegiatan pada fase ini bertujuan untuk mendesain solusi dari masalah yang ditemukan pada fase investigasi awal. Desain pemecahan masalah nantinya akan menghasilkan rencana kerja atau rencana. tertulis,. yang. akan. direalisasikan. pada. fase. realisasi/konstruksi (Arianatasari, 2018). Plomp (dalam Rochmad, 2012) menyatakan karakteristik dalam fase ini adalah generasi dari semua. bagian-bagian. pemmecahan,. membandingkan. dan. mengevaluasi solusi-solusi yang ditemukan, menghasilkan pilihan desain yang terbaik untuk direalisasikan. c.. Fase Realisasi/Konstruksi (Realization/Construction) Fase ini merupakan tahapan dalam proses pengembangan produk. Tahapan ini sebagai lanjutan kegiatan pada tahap perancangan. Pada tahap ini dihasilkan prototipe 1 (awal) sebagai realisasi hasil perancangan model. Kegiatan pada tahap ini adalah pembuatan desain pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya.. d.. Fase Tes, Evaluasi dan Revisi (Test, Evaluation, and Revision) Solusi yang telah dikembangkan harus diuji dan dievaluasi terlebih dahulu sebelum diuji cobakan. Pada fase ini terdapat kegiatan evaluasi yang merupakan proses pengumpulan dan.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30. mengalisis informasi secara sistematik untuk memperoleh produk yang layak diuji cobakan. Plomp dan Van den Wolde (dalam Rochmad, 2012) menyatakan bahwa tanpa adanya evaluasi, maka pemecahan masalah atau solusi tidak dapat ditentukan dengan baik. Berdasarkan pada data yang terkumpul dapat ditentukan solusi manakah yang dianggap paling baik untuk digunakan dan manakah yang masih perlu dikembangkan. Ini berarti perlu adanya perbaikan pada kegiatan sebelumnya, yang disebut siklus balik ( feedback cicle). Siklus dilakukan berulang kali hingga solusi yang diinginkan tercapai. Pada tahapan ini dilakukan 2 kegiatan utama, yaitu (1) kegiatan validasi, dan (2) melakukan uji coba lapangan prototipe model hasil validasi. e.. Implementasi (Implementation) Setelah dilakukan evaluasi dan diperoleh produk yang valid, praktis, dan efektif; maka produk dapat diimplementasikan untuk wilayah yang lebih luas. Pada penelitian ini, pengembangan hanya dilakukan sampai pada. fase tes, evaluasi, dan revisi, fase implementasi tidak dilakukan secara gamblang tetapi terpadu dalam pelaksanaan penelitian, yaitu pada saat melakukan uji coba lapangan desain pembelajaran di lingkup yang menjadi subjek penelitian. Implementasi dalam lingkup yang..lebih luas tidak dilakukan dalam penelitian ini, karena..keterbatasan situasi dan kondisi..pelaksanaan penelitian.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31. 6.. Barisan Aritmetika dan Barisan Geometri Barisan bilangan adalah rangkaian bilangan yang disusun menurut aturan atau pola tertentu. Setiap bilangan dalam susunan bilangan tersebut disebut suku. Secara umum, barisan bilangan dapat ditulis sebagai berikut. 𝑈1 , 𝑈2 , 𝑈3 , … . 𝑈𝑛−1 , 𝑈𝑛 Dengan. 𝑈1 merupakan suku ke-1 𝑈2 merupakan suku ke-2 𝑈3 merupakan suku ke-3 𝑈𝑛−1 merupakan suku ke- (𝑛 − 1) 𝑈𝑛 merupakan suku ke- (𝑛). Barisan Aritmetika Barisan aritmetika adalah barisan bilangan yang beda setiap dua suku yang berurutan sama (Manullang dkk, 2017) Beda, dinotasikan “b” memenuhi pola berikut. b = 𝑈2 − 𝑈1 = 𝑈3 − 𝑈2 = 𝑈4 − 𝑈1 = ⋯ = 𝑼𝒏 − 𝑼𝒏−𝟏 Berdasarkan definisi di atas, diperoleh bentuk umum barisan aritmetika sebagai berikut. 𝑈1 , 𝑈2 , 𝑈3 , 𝑈4 , 𝑈5 , … . , 𝑈𝑛 Setiap dua suku yang berurutan pada barisan aritmetika memiliki beda yang sama, maka diperoleh :.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32. Barisan Aritmetika merupakan suatu barisan bilangan 𝑈1 , 𝑈2 , 𝑈3 , … . 𝑈𝑛 jika selisih dua suku berurutan 𝑈𝑛+1 − 𝑈𝑛 adalah suatu bilangan konstanta (tetap) yang disebut dengan beda. Sehingga b = 𝑈2 − 𝑈1 = 𝑈3 − 𝑈2 = 𝑼𝒏 − 𝑼𝒏−𝟏 𝑈1 = 𝑎 𝑈2 = 𝑈1 + 1. 𝑏 𝑈3 = 𝑈2 + 𝑏 = 𝑈1 + 2. 𝑏 𝑈4 = 𝑈3 + 𝑏 = 𝑈1 + 3. 𝑏 𝑈5 = 𝑈4 + 𝑏 = 𝑈1 + 4. 𝑏 ...... 𝑼𝒏 = 𝑼𝟏 + (𝒏 − 𝟏)𝒃. Jika. 𝑼𝟏 , 𝑼𝟐 , 𝑼𝟑 , 𝑼𝟒 , 𝑼𝟓 , … . , 𝑼 𝒏. merupakan suku-suku barisan. aritmetika. Suku ke-n barisan tersebut dinyatakan sebagai berikut: 𝑼𝒏 = 𝑼𝟏 + (𝒏 − 𝟏)𝒃 𝑎 = 𝑈1 = suku pertama barisan aritmetika, 𝑏 = beda barisan aritmetika Contoh Soal : Pada bulan Januari 2017, Pak Anggoro menabung di bank sebesar Rp 200.000,00. Pada bulan berikutnya Pak Anggoro menabung lagi sebesar Rp 400.000,00; Rp 600.000,00; Rp 800.000,00; demikian seterusnya sampai bulan Desember 2016. Berapa besar Pak Anggoro menabung pada bulan Juli dan Desember? Jawab :.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33. Uang yang di tabung Pak Anggoro pada bulan Januari, Februari, Maret, April, sampai bulan Desember dapat disajikan dalam daftar berikut. Januari. Rp 200.000,00. = 𝑈1. Februari. Rp 400.000,00. = 𝑈2. Maret. Rp 600.000,00. = 𝑈3. April. Rp 800.000,00. = 𝑈4. Mei. .... = 𝑈5. Juni. .... = 𝑈6. Juli. .... = 𝑈7. Agustus. .... = 𝑈8. September. .... = 𝑈9. Oktober. .... = 𝑈10. November. .... = 𝑈11. Desember. .... = 𝑈12. Dari daftar menunjukkan bahwa karakteristik masalah berkaitan dengan model matematika yang berbentuk barisan Aritmetika dengan suku pertama dan beda sebagai berikut. 𝑎 = Rp 200.000,00 𝑏 = 𝑈2 − 𝑈1 = Rp 400.000,00 − Rp 200.000,00 = Rp 200.000,00 Bulan Juli berarti suku ke-7 dan bulan Desember berarti suku ke-12 𝑈𝑛 = 𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏 𝑈7 = Rp 200.000,00 + (7 – 1) Rp 200.000,00 = Rp 200.000,00 + (6) Rp 200.000,00.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34. = Rp 200.000 + Rp 1.200.000,00 = Rp 1.400.000,00. 𝑈12 = Rp 200.000,00 + (12 – 1) Rp 200.000,00 = Rp 200.000,00 + (11) Rp 200.000,00 = Rp 200.000 + Rp 2.200.000,00 = Rp 2.400.000,00 Jadi, besar Pak Anggoro menabung pada bulan Juli dan Desember adalah Rp 1.400.000,00 dan Rp 2.400.000,00. Barisan Geometri Barisan geometri adalah barisan bilangan yang nilai pembanding (rasio) antara dua suku yang berurutan selalu tetap (Manullang, 2017) Rasio, dinotasikan 𝑟 merupakan nilai perbandingan dua suku berdekatan. 𝑈. 𝑈. 𝑈. 𝑼𝒏. Nilai 𝑟 dinyatakan: 𝑟 = 𝑈2 = 𝑈3 = 𝑈4 = ⋯ = 𝑼 1. 2. 3. 𝒏−𝟏. Jika 𝑼𝟏 , 𝑼𝟐 , 𝑼𝟑 , … . 𝑼𝒏 merupakan susunan suku-suku barisan geometri, dengan 𝑈1 = 𝑎 dan 𝑟 = rasio, maka suku ke-𝑛 dinyatakan 𝑈𝑛 = 𝑎𝑟 𝑛−1. 𝑛 adalah bilangan asli. Contoh Soal : Selembar kertas dipotong menjadi dua bagian. Setiap bagian dipotong menjadi dua dan seterusnya. Jumlah potongan kertas pada potongan kelima adalah?.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35. Pembahasan : Diketahui : a = 1 r=2 Ditanya :. 𝑈5 ?. Jawab : 𝑈𝑛 = 𝑎𝑟 𝑛−1 𝑈5 = 1.25−1 𝑈5 = 1.24 𝑈5 = 16 Jadi, jumlah potongan kerta pada potongan kelima adalah 16. B. Penelitian yang Relevan Berikut. ini. adalah. beberapa. jurnal. yang. berkaitan. dengan. pengembangan pembelajaran prinsip menggunakan pendekatan PPR dan model pembelajaran PBL : 1. Penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Barisan dan Deret Bilangan Pada Siswa Kelas IX E SMPN 1 Kalidawir” oleh Prayitno (2018). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa penerapan pembelajaran barisan dan deret bilangan melalui metode problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX E SMP Negeri 1 Kalidawir Tulungagung dan dapat mempermudah siswa dalam menyelesaikan persoalan barisan dan deret bilangan. Penelitian tersebut relevan dengan.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36. penelitian ini, yaitu dalam menggunakan model Problem Based Learning dan materi yang digunakan yaitu barisan. 2. Penelitian. yang. berjudul. “Kemampuan. Pemahaman. Relasional. Matematis Antara Siswa yang Menggunakan Model Problem Based Learning dan Model Discovery Learning” oleh Lestari dkk (2018). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemahaman relasional matematis antara siswa yang menggunakan model Problem Based Learning dan Discovery Learning. Pemahaman relasional matematis siswa yang menggunakan model Problem Based Learning lebih tinggi dari siswa yang menggunakan model Discovery Learning, sehingga model Problem Based Learning cocok diterapkan untuk meningkatkan pemahaman relasional matematis siswa. Relevansi penelitian ini adalah penggunaan model Problem Based Learning. 3. Implementasi Paradigma Pedagogi Reflektif dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Competence, Conscience, dan Compassion Mahasiswa oleh Haniek Sri Pratini Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada aspek competence, terdapat peningkatan kelulusan, yaitu dari 80,43% menjadi 97,83%. Aspek conscience, menunjukkan bahwa terdapat peningkatan skor rata-rata pada sikap-sikap: tangguh, tekun, berani, tanggungjawab, jujur, mandiri, disiplin, terbuka, dan nilai hidup, yaitu dari 3,77 (rentang 1-5) menjadi 4,07. Aspek compassion, menunjukkan bahwa terdapat.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37. peningkatan skor rata-rata pada sikap-sikap: kerjasama, terlibat, berbagi, dan peduli, yaitu dari 3,98 menjadi 4,09. Implikasi hasil penelitian ini adalah penerapan PPR dapat mengembangkan mahasiswa secara utuh, baik dari aspek kompetensi, hati nurani, maupun berbela rasa. Penelitian tersebut relevan dengan penelitian ini yaitu menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dimana di dalamnya memuat sikap tanggung jawab, kerjasama, dan peduli.. C. Kerangka Berpikir Pembelajaran abad 21 merupakan tantangan bagi pendidik, dimana pendidik. dituntut. untuk. dapat. mengembangkan. keterampilan. dan. kemampuan berpikir siswa. Pendidik dituntut untuk tidak hanya memberikan materi sebagai hafalan, namun juga sebagai fasilitator siswa dalam menemukan konsep atau prinsip dari materi yang diajarkan. Maka dari itu, sebagai calon pendidik diharapkan memiliki keterampilan yang lebih terutama. dalam. pemahaman. objek-objek. matematika.. Kemudian,. berdasarkan hasil pengamatan dari simulasi pembelajaran tentang prinsip matematika yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa program studi pendidikan matematika angkatan 2017 kelas C, masih ada beberapa kegiatan yang kurang dalam menekankan prinsip dari materi yang sedang diajarkan. Simulasi pembelajaran dilakukan seperti halnya pembelajaran microteaching, jadi ada beberapa kelompok mahasiswa yang bertindak menjadi seorang guru dan ada yang bertindak menjadi seorang siswa. Mahasiswa yang bertindak.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38. menjadi seorang guru disebut sebagai mahasiswa praktikan. Pada saat simulasi pembelajaran, mahasiswa praktikan masih cenderung memberikan soal-soal yang menekankan pada keterampilan peserta didik dalam menyelesaikan soal, belum menekankan pada pemahaman prinsip dari materi yang sedang diajarkan. Selain itu, beberapa mahasiswa masih kurang dalam pemanfaatan media pembelajaran seperti alat peraga, sehingga kegiatan pembelajaran terkesan monoton dan seperti menggunakan metode ceramah. Kemudian mahasiswa praktikan juga kurang memotivasi siswa, sehingga pembelajaran matematika menjadi kurang menarik. Mahasiswa praktikan langsung menggunakan simbol-simbol tertentu tanpa adanya penjelasan atau perjanjian dari simbol-simbol yang digunakan. Tentu saja apabila kondisi ini dibiarkan secara terus menerus akan berakibat pada rendahnya tingkat kompetensi pendidik dan rendahnya pemahaman siswa terhadap objek matematika khususnya prinsip. Mendapati keadaan tersebut, tentu saja diperlukan solusi agar terjadi peningkatan dalam hal pembelajaran prinsip matematika pada materi SMA. Oleh sebab itu, peneliti mengembangkan desain pembelajaran prinsip menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning. Tujuan utama dari PPR adalah menciptakan manusia-manusia muda yang sungguh unggul dan berkarakter secara manusiawi. PPR memiliki tahapan yang menerapkan nilai-nilai hidup yang berkesinambungan, yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi. Proses pembelajaran dirancang sedemikan rupa dengan mengembangkan aspek competence.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39. (kompetensi), conscience (hati nurani), dan compassion (bela rasa) sehingga menuntun mahasiswa untuk mengalami sendiri segala hal yang dipelajari (jika ada keterkaitan antara ilmu yang dipelajari mahasiswa dengan situasi kehidupan yang nyata dalam kesehariannya). Penerapan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) ini diharapkan agar mahasiswa mampu merefleksikan pengalaman belajar yang diberikan dan selanjutnya melakukan aksi nyata. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Plomp yang dimodifikasi yang terdiri dari empat fase, yaitu fase investigasi awal (prelimenary investigation), fase desain (design), fase realisasi/konstruksi (realization/construction), dan fase tes, evaluasi dan revisi (test, evaluation and revision)..

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40. Bagan Prosedur Pengembangan Model Plomp. Fase Investigasi Awal Konteks. -. Analisis Mahasiswa Analisis Materi. Fase Desain Pengalaman. Analisis Topik. Fase Realisasi / Konstruksi Penyusunan Desain Pembelajaran. Aksi. Fase Tes, Evaluasi, dan Revisi. Validasi Ahli. Tidak Valid. Refleksi dan Evaluasi Valid. Uji Coba Lapangan. Keterangan : = Urutan = Siklus jika perlu. PBL. Revisi.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB III METODE PENELITIAN. Bab ini akan membahas tentang metode penelitian diantaranya jenis penelitian, setting penelitian, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, dan analisis validitas. A. Jenis Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengembangkan desain pembelajaran prinsip matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning, maka jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau Research dan Development. Van den Akker dan Plomp (dalam Hanafi, 2017) mendeskripsikan penelitian pengembangan berdasarkan dua tujuan, yakni pengembangan prototipe produk dan perumusan saran-saran metodologis untuk pendesainan dan evaluasi prototipe produk tersebut. Sugiyono (2015) mengemukakan bahwa metode penelitian dan pengembangan dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk meneliti, merancang, memproduksi dan menguji validitas produk yang telah dihasilkan. Sebagai penelitian pengembangan, produk yang dikembangkan berupa desain pembelajaran tentang prinsip matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan model Problem Based Learning. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model Plomp, karena model ini memiliki langkah-langkah yang sederhana dan terdapat proses pengembangan pada setiap langkahnya. Menurut Rochmad (2012), model Plomp dipandang lebih. 41.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42. luwes dan fleksibel dikarenakan pada setiap langkahnya memuat kegiatan pengembangan yang dapat disesuaikan dengan karakteristik penelitiannya. Berikut merupakan model umum pemecahan masalah dalam bidang pendidikan yang dikemukakan oleh Plomp (dalam Rochmad, 2012).. Gambar 3. 1 Diagram Model Plomp (Sumber: Rochmad, 2012). B. Setting Penelitian Setting penelitian dibagi menjadi empat bagian yaitu subjek, objek, tempat dan waktu penelitian. 1.. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah mahasiswa. program. studi Pendidikan. Matematika Universitas Sanata Dharma angkatan 2017 yang mengambil mata kuliah Pembelajaran Matematika SMA dan SMK di kelas C, dengan jumlah 20 orang..

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43. 2.. Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah desain pembelajaran tentang prinsip matematika pada materi barisan aritmetika dan barisan geometri menggunakan paradigma pedagogi reflektif dengan model problem based learning.. 3.. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Jl. Paingan, Maguwoharjo, Depok, Krodan, Kabupaten Sleman.. 4.. Waktu Penelitian Peneliti melaksanakan penelitian ini selama 6 bulan. Penelitian dimulai dari observasi awal, pada bulan November 2019 dan berakhir pada bulan Mei 2020.. C. Design dan Prosedur Pengembangan Model pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan desain pembelajaran dalam penelitian ini adalah model Plomp. Model pengembangan yang dikemukakan oleh Plomp terdiri dari lima fase pengembangan, yaitu (1) fase investigasi awal (prelimenary investigation), (2) fase desain (design), (3) fase realisasi / konstruksi (realization / construction), (4) fase tes, evaluasi, dan revisi (test, evaluation, and revition), dan (5) fase implementasi (implementation). Pada penelitian ini, pengembangan hanya dilakukan sampai pada fase tes, evaluasi, dan revisi, fase implementasi tidak dilakukan secara eksplisit tetapi terpadu dalam pelaksanaan penelitian, yaitu pada saat.

Gambar

Gambar 1. 1 Hasil Pekerjaan S1 (Sumber : Hardiyanti, 2016)
Gambar 3. 1 Diagram Model Plomp (Sumber: Rochmad, 2012)
Gambar 3. 2 Model Pengembangan Plomp yang Dilaksanakan
Tabel 3. 1 Kisi-kisi Lembar Observasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

pembelajaran menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) yang mengakomodasi teori Van Hiele mirip dengan kurikulum 2013 tetapi kurikulum 2013 tidak menggunakan

Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan untuk perangkat pembelajaran pada materi garis dan sudut, dengan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif

(1) Aktivitas belajar siswa yang terjadi dalam pembelajaran matematika berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk topik sistem persamaan linear di kelas X-2 SMA Kanisius

Penelitian ini memiliki tujuan, untuk (1) Mendeskripsikan kegiatan guru dalam memfasilitasi pembelajaran matematika berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif di Kelas IV SD

Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif dengan materi Teorema Pythagoras di kelas VIIIA SMP Kanisius Tirtomoyo,

(1) Aktivitas belajar siswa yang terjadi dalam pembelajaran matematika berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk topik sistem persamaan linear di kelas X-2 SMA Kanisius

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk topik sistem persamaan linear di kelas X2 SMA Kanisius

Tulisan keempat berjudul “Pengembangan Modul Antisipasi Perilaku Bullying di Sekolah Dasar dalam Konteks Paradigma Pedagogi Reflektif” yang ditulis oleh Elisabeth Desiana