BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
Bagan 2.2 Paradigma Untuk Penelitian/Penilian Risiko/Manajemen Risiko
(NAS/NRC, 1983 dalam Kemenkes 2012)
Ada ambiguitas dalam penilaian terminologi risiko yang harus diidentifikasi. Misalnya, pertimbangan paparan akan terjadi di dua tempat dalam model penilaian risiko. Pada tahap identifikasi bahaya, paparan adalah komponen dari penelitian yang mendasari. Hal ini berbeda dari tahap penilaian risiko, di mana tingkat paparan dari penduduk (yang berisiko sedang ditandai) dengan bahaya yang diidentifikasi ditentukan.
Penelitian Risk Assesment Pengelolaan Risiko
Laboratorium Lapangan Klinik Tempat Kerja Epidemiologi Mekanisme toksisitas Pengembangan metode dan validasi Dosis ekstrapolasi dan spesies Observasi dan pengukuran lapangan Model riwayat dan perjalanan (agen risiko) di lingkungan Analisis Dose- Response/Karakteristik Bahaya Bagaimana kejadian tersebut dikaitkan dengan
efek kritis??
Identifikasi Bahaya Agen risiko (fisik, kimia,
biologi) apa saja yang dianggap berbahaya
Analisis Pajanan Siapa akan terpajan
oleh apa, kapan,dimana, berapa lama, dan melalui jalur pajanan yana mana??
Pengembangan opsi regulasi Pertimbangan ekonomi, social, politik dan teknologi Tujuan Keputusan dan Aksi Karakterisasi Risiko Bagaimana efeknya pada populasi??
Dalam arti yang sama, pertimbangan dosis-respons muncul di dua tempat. Salah satu kriteria bahaya adalah temuan dari hubungan dosis-respons dalam studi komponen. Selain itu dalam tahap dosis-respons penilaian risiko, tujuannya adalah untuk memastikan apakah ada hubungan dosis- respons dalam semua data yang tersedia, mengidentifikasi bentuk kurva dan memproyeksikan paparan atau tingkat dosis, di mana efek kesehatan yang dikurangi atau diyakini absen. Akhirnya, konsep kerentanan dapat beraksi throughtout model penilaian risiko. Dalam identifikasi bahaya gen- lingkungan interaksi atau efek modifikasi dapat dinilai, dan juga dalam dosis-respons tahap kepekaan dapat diperhitungkan. Akhirnya, pada tahap karakterisasi risiko, proyeksi risiko yang berbeda dapat ditentukan untuk berbagai subkelompok populasi diidentifikasi oleh faktor kerentanan.
Analisis Risiko merupakan sebuah proses untuk mengendalikan situasi atau keadaan dimana organisme, sistem, atau sub/populasi mungkin terpajan bahaya. Proses risk analysis meliputi 3 komponen yaitu penilaian risiko, pengelolaan risiko, dan komunikasi risiko. ARKL merupakan sebuah proses yang dimaksudkan untuk menghitung atau memprakirakan risiko pada kesehatan manusia, termasuk juga identifikasi terhadap keberadaan faktor ketidapastian, penelusuran pada pajanan tertentu, memperhitungkan karakteristik yang melekat pada agen yang menjadi perhatian dan karakteristik dari sasaran spesifik (IPCS, 2004 dalam Besmanto dkk )
Ciri ARKL dimana pajanan agen risiko yang diterima setiap individu dinyatakan sebagai intake atau asupan. Studi epidemiologi umumnya tidak
perlu memperhitungkan asupan individual ini, perhitungan asupan membutuhkan konsentrasi agen risiko di dalam media lingkungan tertentu, karakteristik antropometri (seperti berat badan dan laju inhalasi atau pola konsumsi ) dan pola aktivitas waktu kontak dengan risk agent dan risiko kesehatan oleh pajanan setiap risk agent dibedakan atas efek karsinogenik dan efek nonkarsinogenik dengan perhitungan yang berbeda.
ARKL tidak dimaksudkan untuk mencari indikasi, menguji hubungan atau pengaruh dampak lingkungan terhadap kesehatan (kejadian penyakit yang berbasis lingkungan), melainkan untuk menghitung atau menaksir risiko yang telah, sedang dan akan terjadi, besaran risiko pada ARKL dinyatakan sebagai RQ (Risk Quotient) untuk nonkarsinogenik dan ECR (Excess Cancer Risk) untuk karsinogenik serta kualitas risiko nonkarsinogenik dan karsinogenik digunakan untuk merumuskan pengelolaan dan komunikasi risiko secara spesifik, pada ARKL menawarkan pengelolaan risiko secara kuantitatif seperti penetapan baku mutu dan reduksi konsentrasi (Rahman, 2007).
2.2.2 Karakteristik EKL dan ARKL
ARKL masih jarang digunakan dalam kajian dampak lingkungan terhadap kesehatan masyarakat. Kebanyakan analisis dilakukan secara konservatif dengan studi epidemiologi. Memang, selama berabad-abad studi epidemiologi telah menjadi metoda investigasi penyakit infeksi di masyarakat (WHO 1983). Boleh jadi sebagian akademisi dan praktisi kesehatan masyarakat berpendapat bahwa epidemiologi merupakan satu- satunya metoda kajian dampak lingkungan terhadap kesehatan. Oleh karena
itu bisa difahami jika masih banyak salah persepsi dan pemertukaran EKL (Epidemiologi Kesehatan Lingkungan) dengan ARKL (Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan). Sekurang-kurangnya ada 6 ciri yang membedakan EKL dan ARKL, yaitu:
1.Dalam ARKL, pajanan risk agent yang diterima setiap individu dinyatakan sebagai intake atau asupan. Studi epidemiologi umumnya tidak (perlu) memperhitungkan asupan individual ini.
2.Dalam ARKL, perhitungan asupan membutuhkan konsentrasi risk agent di dalam media lingkungan tertentu, karakteristik antropometri (seperti berat badan dan laju inhalasi atau pola konsumsi) dan pola aktivitas waktu kontak dengan risk agent. Dalam EKL konsentrasi dibutuhkan tetapi karakteristik antropometri dan pola aktivitas individu bukan determinan utama dalam menetapkan besaran risiko.
3.Dalam ARKL, risiko kesehatan oleh pajanan setiap risk agent dibedakan atas efek karsinogenik dan efek nonkarsinogenik, dengan perhitungan yang berbeda. Dalam EKL, teknik analisis efek kanker dan nonkanker pada dasarnya adalah sama.
4.Dalam EKL, efek kesehatan (kanker dan nonkanker) yang ditentukan dengan berbagai pernyataan risiko (seperti odd ratio, relative risk atau standardized mortality ration) didapat dari populasi yang dipelajari. ARKL tidak dimaksudkan untuk mencari indikasi, menguji hubungan atau pengaruh dampak lingkungan terhadap kesehatan (kejadian penyakit yang berbasis lingkungan), melainkan untuk menghitung atau menaksir risiko yang telah, sedang dan akan terjadi. Efek tersebut, yang dinyatakan
sebagai nilai kuantitatif dosis-respon, harus sudah ditegakkan lebih dahulu, yang didapat dari luar sumber-sumber populasi yang dipelajari, bahkan dari studi-studi toksisitas uji hayati (bioassay) atau studi keaktifan biologis risk agent.
5.Dalam ARKL, besaran risiko (dinyatakan sebagai RQ untuk nonkarsinogenik dan ECR untuk karsinogenik) tidak dibaca sebagai kelipatan risiko melainkan sebagai besaran probalitias. Jadi misalnya, RQ = 2 tidak sama dengan OR = 2.
6.Kuantitas risiko nonkarsinogenik dan karsinogenik digunakan untuk merumuskan pengelolaan dan komunikasi risiko secara lebih spesifik. ARKL menawarkan pengelolaan risiko secara kuantitatif seperti penetapan baku mutu dan reduksi konsentrasi. Pengelolaan dan komunikasi risiko bukan bagian integral studi EKL dan jika ada, hanya relevan untuk populasi yang dipelajari.