4.2 Kondisi Kualitas Perairan Waduk Saguling .1 Parameter Fisika Perairan .1 Parameter Fisika Perairan
4.2.3 Parameter biologi Perairan .1 Klorofil a
Hasil olah data berupa rataan dan standar deviasi (Tabel 12) memperlihatkan bahwa kisaran nilai klorofil-a pada beberapa kedalaman pada setiap stasiun lebih besar dari 0,5 µg/l Hasil tersebut menunjukkan bahwa perairan Waduk Saguling dalam kondisi oligotrofik-mesotrofik jika ditinjau dari nilai klorofil-a. Nilai kisaran standar deviasi klorofil-a tertinggi adalah pada stasiun 4 yaitu sebesar 0,643 µg/l, hal ini disebabkan karena adanya masukan pencemar organik yang tinggi sehingga menyebabkan tersedianya unsur-unsur nutrien pertumbuhan fitoplankton dalam jumlah yang besar, hal ini diperlihatkan dari besarnya konsentrasi total fosfat (Tabel 10) dan total nitrogen (Tabel 9) pada stasiun ini. Kisaran nilai klorofil a mengindikasikan bahwa perairan
Waduk Saguling berada pada kondisi oligotrofik – mesotrofik. Menurut Yang et al.
(2008), konsentrasi klorofil-a berkolerasi negatif terhadap jarak dari keberadaan KJA. Sehingga pada daerah yang dekat dengan KJA akan memiliki konsentrasi klorofil a yang rendah.
Tabel 12. Kisaran nilai klorofil-a (µg/l) berdasarkan rataan dan standar deviasi (χ± sd)
stasiun 1 stasiun 2 stasiun 3 stasiun 4
0 m 0,28 ± 0,17 0,28 ± 0,04 0,21 ± 0,03 0,42 ± 0,22 1 m 0,31 ± 0,02 0,53 ± 0,28 0,23 ± 0,06 0,42 ± 0,06 2 m 0,36 ± 0,06 0,33 ± 0,09 0,25 ± 0,04 0,36 ± 0,02 3 m 0,37 ± 0,06 0,27 ± 0,07 0,22 ± 0,02 0,29 ± 0,07 4 m 0,30 ± 0,14 0,31 ± 0,05 0,16 ± 0,04 0,33 ± 0,02 5 m 0,36 ± 0,06 0,26 ± 0,05 0,16 ± 0,04 0,24 ± 0,03 Ket: Data dasar pada lampiran 1
Nilai klorofil-a di lokasi penelitian pada bulan Juli dan Oktober tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan diantara rentang waktu tersebut. Nilai klorofil a pada bulan Juli 2009 adalah 0,109 – 0,849 µg/l dengan nilai tertinggi berada pada stasiun 2 (Lampiran 1). Nilai klorofil a pada bulan Agustus 2009 adalah 0,218 – 0,455 µg/l dengan nilai klorofil a tertinggi berada pada stasiun 4.
Gambar 16 memperlihatkan nilai klorofil-a rata-rata pada stasiun 1, 2, dan 4 berada pada kisaran yang sama akan tetapi pada stasiun 3 nilai klorofil-a rata-rata pada ke-6 kedalaman memiliki nilai yang rendah dibandingkan stasiun lainnya dengan nilai klorofil-a terendah di bawah 0,2 µg/l.
Gambar 16. Grafik fluktuasi klorofil-a rata-rata pada kedalaman berbeda
4.2.3.2 Fitoplankton
Plankton adalah mikroorganisme yang hidup di perairan baik di sungai, danau, waduk maupun di laut. Mikroorganisme ini baik dari segi jumlah maupun jenisnya sangat banyak. Fitoplankton merupakan komponen utama dalam sistem mata rantai makanan
atau food chain. Fitoplankton berperan sebagai produsen primer dalam sistem mata rantai
makanan di perairan sehingga keberadaanya sangat mempengaruhi keberadaan organisme lainnya di perairan.
Komposisi Fitoplankton
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pada setiap stasiun di kedalaman 0 meter, 1 meter, 2 meter, 3 meter, 4 meter, dan 5 meter ditemukan 4 kelas fitoplankton (Gambar 17), yaitu Cyanophyceae sebesar 32%, Chlorophyceae sebesar 23 %, Bacillariophyceae sebesar 36 %, dan Dinophyceae sebesar 9 %. Tingginya jumlah genus pada kelas Bacillariophyceae sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cabencinha et al (2009) yang mengatakan, waduk yang mengandung konsentrasi nutrien tinggi akan memiliki keberagaman genus yang tinggi dari Kelas Bacilariophyceae. Dari tiap kelas fitoplankton yang ditemukan terdapat beberapa genera fitoplankton, yaitu Kelas Cyanophyceae
ditemukan 7 genera yaitu Anabaena, Microcystis, Merismopedia, Oscilatoria,
Phormidium, Agmenelum, dan Spirulina. Kelas Chlorophyceae ditemukan 5 genera yaitu
Cosmarium, Closterium, Scenedesmus, Pediastrum, dan Spirogyra. Kelas
0 0.2 0.4 0.6 0 m 1 m 2 m 3 m 4 m 5 m klorofil-a (mg/l)
Bacillariophyceae ditemukan 8 genera yaitu Fragillaria, Navicula, Surirella, Synedra, Nitzschia, Cymbella, Denticula, dan Gyrosigma. Kelas Dinophyceae ditemukan 2 genera yaitu Ceratium, dan Peridinium.
Gambar 17. Komposisi genera fitoplankton pada tiap kelas
Genera Microcystis, Oscilatoria, dan Merismopedia dari Kelas Cyanophyceae
merupakan penyusun utama komunitas fitoplankton di seluruh stasiun penelitian dan menyebar hampir pada seluruh lapisan kedalaman perairan. Penyusun komunitas
selanjutnya dari Kelas Bacillariophyceae yaitu genera Nitzschia dan Fragillaria.
Sedangkan dari Kelas Chlorophyceae adalah genera Cosmarium dan Scenedesmus.
Penyusun komunitas dari Kelas Dinophyceae adalah genera Ceratium dan Peridinium.
Dari sebaran jenis antar waktu pengamatan menunjukkan fitoplankton tersebut yang sering muncul di perairan (Lampiran 11 dan 12).
Tabel 13 memperlihatkan perbedaan komposisi genera fitoplankton antar stasiun dan kedalaman. Rata-rata jumlah genera tertinggi ada pada stasiun 4 yang merupakan inlet waduk yang pertama menerima masukan air dari luar waduk yaitu air dari sungai Citarum yang diduga membawa jenis fitoplankton tertentu sehingga memungkinkan di stasiun ini komposisi spesiesnya relatif tinggi. Hal ini sejalan dengan pendapat Soballe dan Kimmel (1987), bahwa jumlah jenis fitoplankton terbanyak ditemukan dibagian hulu, karena di bagian ini terjadi beban muatan hara dari luar dan dari dalam perairan, selain itu dimungkinkan membawa jenis-jenis fitoplankton dari luar. Komposisi genera fitoplankton pada stasiun 2 dan 3 lebih tinggi dibandingkan stasiun 1. Hal ini disebabkan
32% 23% 36% 9% Cyanophyceae Chlorophyceae Bacillariophyceae Dinophyceae
keberadaan stasiun 2 dan 3 yang berada pada lokasi padat KJA menyebabkan tingginya ketersediaan nutrien-nutrien pendukung pertumbuhan fitoplankton. Komposisi genera fitoplankton terendah berada pada stasiun 1, hal ini disebabkan keberadaan stasiun 1 yang berada di dam Waduk Saguling. Lokasi dam merupakan lokasi yang KJA sangat rendah sehingga ketersediaan nutrien bagi pertumbuhan fitoplankton lebih rendah dibandingkan dengan stasiun yang lain.
Tabel 13. Komposisi genera fitoplankton
Kedalaman Kelas Juli Agustus
(m) st.1 st.2 st.3 st.4 st.1 st.2 st.3 st.4 Cyanophyceae 6 6 7 7 5 5 7 6 0 m Chlorophyceae 5 4 4 3 5 3 4 3 Bacillariophyceae 7 8 7 7 7 6 6 8 Dinophyceae 2 2 1 2 2 2 2 2 Jumlah 20 20 19 19 19 16 19 19 1 m Cyanophyceae 6 7 7 7 5 7 7 6 Chlorophyceae 4 5 5 4 4 4 4 4 Bacillariophyceae 6 8 8 8 7 8 8 8 Dinophyceae 1 2 1 2 1 2 2 2 Jumlah 17 22 21 21 17 21 21 20 2 m Cyanophyceae 7 7 7 7 5 6 7 6 Chlorophyceae 4 4 4 5 3 5 4 3 Bacillariophyceae 7 8 8 8 8 8 7 8 Dinophyceae 0 2 2 2 2 2 2 2 Jumlah 18 21 21 22 18 21 20 19 3 m Cyanophyceae 7 7 7 7 6 7 6 6 Chlorophyceae 4 4 4 4 4 4 4 5 Bacillariophyceae 7 7 8 8 8 8 8 8 Dinophyceae 1 2 1 2 2 2 2 2 Jumlah 19 20 20 21 20 21 20 21 4 m Cyanophyceae 7 7 7 7 7 7 5 5 Chlorophyceae 4 3 4 3 2 4 3 3 Bacillariophyceae 6 6 6 7 7 7 8 8 Dinophyceae 1 1 1 1 2 2 2 2 Jumlah 18 17 18 18 18 20 18 18 5 m Cyanophyceae 7 6 7 7 5 5 6 6 Chlorophyceae 2 4 3 3 2 3 3 2 Bacillariophyceae 7 7 7 7 6 7 6 6 Dinophyceae 1 1 2 1 1 2 2 2 Jumlah 17 18 19 18 14 17 17 16
Tingginya komposisi genera fitoplankton dari Kelas Cyanophyceae (32%) dan Bacillariophyceae (23%) mengindikasikan bahwa perairan Waduk Saguling dalam
kondisi eutrofik. Menurut Ptanick et al. (2008), fitoplankton dari Kelas Cyanophyceae dan Bacillariophyceae merupakan indikator terjadinya eutrofikasi dalam suatu perairan. Perbedaan komposisi fitoplankton diakibatkan oleh adanya perbedaan karakteristik dan kemampuan tiap-tiap kelas fitoplankton di perairan. Kelas Cyanophyceae yang memiliki komposisi terbesar di perairan Waduk Saguling keberadaanya terdapat dalam bentuk unicellular maupun berkoloni serta beberapa genera dari Kelas Cyanophyceae mampu mengikat nitrogen dari udara seperti anabaena sp dan Nostoc sp, sehingga dapat ditemukan walaupun dalam keadaan nitrogen yang rendah. Kelimpahan Fitoplankton
Kelimpahan Fitoplankton pada kedua bulan pengamatan menunjukkan kelimpahan yang berbeda baik pada setiap stasiun maupun pada berbagai kedalaman. Kelimpahan fitoplankton berdasarkan stasiun dan kedalaman dapat dilihat pada Lampiran
11 dan 12. Jumlah individu dari masing-masing fitoplankton yang ditemukan jumlahnya
berbeda baik berdasarkan kedalaman maupun pada bulan pengamatan. Pada bulan Juli, kelimpahan fitoplankton tertinggi berada pada kedalaman permukaan di stasiun 3 yaitu sebesar 44670 sel/liter, kemudian diikuti pada kedalaman 1 meter di seluruh stasiun yaitu berkisar antara 12420 – 43710 sel/liter. Kelimpahan terendah pada bulan Juli adalah pada stasiun 1 pada kedalaman 5 meter (Lampiran 11).
Nilai kelimpahan fitoplankton pada bulan Agustus memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan pada bulan Juli. Kelimpahan fitoplankton bulan Agustus tertinggi berada pada stasiun 2 pada kedalaman 1 meter yaitu sebesar 36570 sel/liter, diikuti pada kedalaman 0 meter dengan kisaran nilai kelimpahan fitoplankton sebesar 10530 - 35700 sel/liter. Sedangkan Kelimpahan fitoplankton terendah bulan Agustus berada di stasiun 1 pada kedalaman 5 meter yaitu sebesar 4860 sel/liter (Lampiran 12).
Tingginya nilai kelimpahan fitoplankton di stasiun 2 dan 3 disebabkan ketersediaan nutrien yang melimpah pada lokasi tersebut, tingginya ketersediaan nutrien disebabkan pada lokasi ini adalah lokasi padat KJA dimana nutrien berupa fosfor dan nitrogen bersumber dari sisa pakan dan sisa metabolisme ikan budidaya KJA, hal ini ditunjukkan dengan tingginya nilai total nitrogen dan total fosfor pada kedua stasiun ini yaitu berkisar antara 0.706 – 0.820 mg/l untuk total nitrogen dan 0.0537 – 0.1051 mg/l untuk total fosfor. Pada stasiun 4, tingginya nilai kelimpahan fitoplankton disebabkan
masukan air Sungai Citarum yang membawa berbagai nutrien. Nilai kelimpahan fitoplankton cenderung berfluktuasi berdasarkan kedalaman. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan penetrasi cahaya yang masuk pada berbagai kedalaman serta ketersediaan nutrien yang berada di perairan. Cahaya matahari yang masuk ke dalam badan perairan semakin berkurang di lapisan yang lebih dalam. Faktor kekeruhan juga berpengaruh terhadap penetrasi cahaya di perairan karena akan menghalangi cahaya yang masuk ke dalam perairan yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap aktivitas fotosintesis fitoplankton. Hal ini dibuktikan pada penelitian ini, dimana kelimpahan fitoplankton terendah pada bulan Juli dan Agustus berada pada kedalaman 5 meter di sebagian besar stasiun pengamatan. Penetrasi cahaya yang masuk pada lapisan permukaan mendukung proses fotosintesis secara optimal bagi fitoplankton yang berada di bagian badan perairan teratas.
Berdasarkan kelas, kelimpahan fitoplankton pada bulan Juli tertinggi adalah pada Kelas Cyanophyceae di stasiun 4 dengan kelimpahan sebesar 173250 sel/liter, dan terendah pada Kelas Dinophyceae di stasiun 1 dengan kelimpahan sebesar 450 sel/liter (Lampiran 11). Kelimpahan kelas fitoplankton pada bulan Agustus tertinggi pada Kelas Cyanophyceae di stasiun 2 dengan kelimpahan sebesar 137880 sel/liter dan terendah pada Kelas Dinophyceae di stasiun 1 dengan kelimpahan sebesar 540 cel/liter (Lampiran 12).
Grafik pada Gambar 18 memperlihatkan bahwa sebagian besar stasiun memiliki pola yang sama yaitu menurunya kedalaman diikuti dengan menurunnya kelimpahan fitoplankton, menurunya fitoplankton terlihat ketika dibawah kedalaman 1 meter hal ini disebabkan berkurangnya cahaya matahari pada kedalaman dibawah 1 meter, hal ini sejalan dengan rendahnya nilai kecerahan yaitu sekitar 0,5 – 1,56 meter. Kelimpahan fitoplankton terendah pada stasiun 1, hal ini disebabkan karena terbatasnya nutrien yang dibutuhkan fitolankton pada stasiun ini.
Genera Microcystis merupakan genera yang ditemukan hampir pada setiap
kedalaman dan stasiun serta memiliki kelimpahan tertinggi dibandingkan dengan genera
lainnya. Menurut Xiangcan et al. (2006), Microcystis sp dari Kelas Cyanophyceae
merupakan indikator bagi perairan yang mengalami eutrofikasi. Kelimpahan Microcystis
sp pada Waduk Saguling termasuk tinggi jika dibandingan dengan kelimpahan genera-genera fitoplankton yang lainnya yaitu sebesar 24390 – 64920 sel/liter.
Gambar 18. Grafik kelimpahan rata-rata fitoplankton (sel/liter)