• Tidak ada hasil yang ditemukan

Parameter fisika-kimia perairan estuari Berau

Dalam dokumen LAPORAN TEKNIS PENELITIAN (Halaman 67-128)

Hasil analisis data terhadap dominansi spesies (C) pada Februari 0,14, Mei 0,27, Agustus 0,19 dan Oktober 0,12 semuanya menunjukkan

IV.8.1.2. Parameter fisika-kimia perairan estuari Berau

Kondisi hidrodinamika perairan estuaria dipengaruhi oleh bentuk topografi dasar dan skala waktu (musim). Selama pasang naik air laut akan terdesak ke dalam sungai dan pada waktu surut massa air tersebut akan kembali ke laut. Nybakken (1992) menyatakan bahwa parameter-parameter fisika kimia di perairan estuari relatif lebih bervariasi dibandingkan perairan lainnya. Beberapa parameter yang perlu diperhatikan di perairan estuari adalah suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH dan kecerahan.

IV.8.1.2.1. Suhu

Suhu udara di peraian Estuari Berau pada bulan Maret berkisar antara 27 -

31oC sedangkan suhu permukaan perairan berau berkisar antara 27 - 32 oC untuk

66

32oC, suhu air berkisar antara 27 - 31oC. Untuk Bulan Agustus suhu udara berkisar

antara 28.5 – 31 oC sedangkan suhu perairan berkisar antara 30 - 32 oC dan Bulan

Oktober suhu lebih tinggi baik untuk suhu udara (29 - 33 oC) maupun suhu perairan

(29 - 31 oC) yang merupakan musim kemarau. Pada saat penelitian, bulan Maret

masih merupakan musim penghujan sedangkan bulan Mei mulai memasuki musim kemarau sampai pada bulan Oktober. Perairan estuaria bersifat dinamik sehingga kemungkinan terjadinya stratifikasi suhu menjadi kecil. Dari beberapa penelitian, suhu di Muara Sungai Cimandiri pada bulan Desember 1995 - Februari 1996 berkisar antara 25 - 30oC (Sriati 1998) dan pada bulan September 1999 berkisar

antara 26 - 32oC (Adriana, 2001). Berdasarkan hasil penelitian Triyanto et al., 2012,

kondisi suhu perairan estuari mangrove di Kabupaten Berau untuk suhu berkisar antara 28,6 - 33,9°C (Gambar 29).

Gambar 29. Suhu udara dan perairan estuari Berau berdasarkan stasiun dan bulan

IV.8.1.2.2. Salinitas

Berdasarkan Nontji (1987) salinitas adalah jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air yang dinyatakan dalam satuan per seribu (‰) atau per miligram per liter (ppt). Salinitas permukaan di estuari perairan

67 Berau pada Trip pertama berkisar antara 0 - 30 ppt sedangkan salinitas permukaan berkisar antara 5 - 34 ppt. Salinitas pada stasiun paling hulu yaitu Pulau Besing 0 ppt dipermukaan dan 5 ppt di bagian dasar perairan. Salinitas tertinggi di Tanjung Ulungan yaitu 30 ppt di permukaan dan 34 ppt di bagian dasar perairan. pada pengamatan pertama salinitas tertinggi lainnya masing masingnya di stasiun 6 (Laut Mangkajang) dan stasiun 8 (Laut Patumbuk). Pada Trip ke dua salinitas permukaan berkisar antara 0 - 29 ppt sedangkan salinitas dasar berkisar antara 0 - 31 ppt. Salinitas tertinggi terdapat di stasiun 8 (Laut Patumbuk) yaitu 29 ppt di permukaan dan 30 ppt di dasar perairan. Salinitas 0 berada di stasiun paling hulu yaitu Pulau Besing baik di bagian dasar maupun di permukaan yang berarti terjadi percampuran massa air yang merata begitu juga di Muara Patumbuk Dalam percampuran massa air merata dengan salinitas 5 sampai ke dasar perairan. Gradien salinitas ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Nybakken, (1988) Keberadaan salinitas di estuaria mencirikan adanya gradien salinitas, mulai dari dominasi air laut sampai ke dominasi air tawar di hulu estuaria. Gradien salinitas tersebut berubah secara dinamik, sesuai dengan perubahan debit air sungai, pasang surut serta arus perairan pantai. Pernyataan ini dilengkapi oleh Odum (1993) yang menyatakan gambaran salinitas di estuaria dapat berfluktuasi dan tergantung pada musim, topografi, pasang surut serta jumlah air tawar. Berdasarkan Effendie (2003), Salinitas menggambarkan padatan total dalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh klorida, dan semua bahan organik telah dioksidasi. Salinitas perairan tawar adalah kurang dari 0,5‰, perairan payau berkisar antara 0,5 sampai dengan 30‰ dan perairan laut antara 30 sampai dengan 40‰. Selanjutnya Wibisono (2005) menyatakan salinitas merupakan salah satu faktor kandungan substansi dalam air muara yang sudah umum keberadaannya (conservative constituent) dan oleh sebab itu, konsentrasinya tidak dipengaruhi oleh proses bio-geo-chemical, tetapi hanya dipengaruhi oleh proses pencampuran serta disebabkan oleh curah hujan lokal, proses evaporasi dan/atau pembekuan yang bisa mengakibatkan menurunnya salinitas.

Pada Gambar 30 terlihat bahwa gradien salinitas sangat bervariasi pada bulan Maret dan mulai membentuk pola yang sama pada bulan Mei – Agustus yang merupakan musim kemarau yaitu semakin ke muara salinitas semakin tinggi. Pada stasiun paling hulu tetap nol dan salinitas mulai meningkat menuju kea rah muara

yaitu berkisar antara 25,7 - 30,5‰ di bagian muara dan di depan muara sungai

68 sampai ke bagian muara menyebabkan Delta Berau banyak ditemui tambak-tambak udang sampai mendekati Pulau Besing. Salintas yang tinggi di Delta Berau dipengaruhi oleh perairan pesisir Berau yang luas berupa terumbu Karang yang terletak didepan muara Sungai Berau. Meskipun di bagian depan muara Sungai Berau memiliki salinitas tinggi, namun warna air dan tumbuhan mangrove yang ada disekitarnya mencirikan bahwa perairan ini masih berupa estuari yang sifat fisik dan kimia perairannya tidak sama dengan laut dan perairan tawar. Ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Clark (1974) bahwa fluktuasi salinitas yang tinggi merupakan salah satu ciri yang membedakan antara perairan estuari dengan perairan tawar. Selanjutnya Menurut Nybakken (1988) Salinitas di daerah estuaria

berkisar antara 7 – 32‰ yang bervariasi akibat adanya air tawar yang masuk ke

perairan estuari. Selanjutnya Kennis (1994) menyatakan bahwa salinitas di estuari

berkisar antara 0,5 - 35‰ dimana salinitas ini dapat bervariasi baik secara vertical

maupun horizontal tergantung dari perbandingan antara limpasan air dari darat, masukan air hujan dan penguapan. Berdasarkan hasil penelitian Triyanto et al., 2012, kondisi kualitas air perairan mangrove di Kabupaten Berau dicirikan salinitas antara 10,41 - 27,3 ppt.

69 Gambar 30. Nilai salinitas berdasarkan bulan

IV.8.1.2.3. Kedalaman perairan

Kedalaman perairan yang diteliti pada saat pengamatan Maret berkisar antara 5 - 7,8 m sedangkan pada pengamatan Bulan Mei berkisar antara 4,0 - 10 m. Bulan Agustus 2,1 – 9,4 m dan Oktober berkisar antara 2,3 – 8,0 m (Gambar 31). Herry (1998) menyebutkan bahwa ada hubungan antara kedalaman dan kecerahan perairan. Kekeruhan dapat disebabkan akibat adanya pengadukan oleh energi ombak yang erat hubungannya dengan kedalaman, dimana perairan yang lebih dangkal akan lebih terpengaruh oleh gerakan ombak dibandingkan perairan yang lebih dalam. Butet (1997) menjelaskan hubungan antara kedalaman perairan dengan distribusi vertikal larva yaitu bahwa stadia awal (early stage) larva cenderung berada di permukaan kolom perairan, sedangkan stadia akhir (late stage) larva mendekati atau berada di dekat dasar perairan. Perbedaan distribusi berdasarkan kedalaman ini mungkin disebabkan oleh fungsi pada stadia larva yang berkaitan dengan berat jenisnya. Larva yang lebih muda memiliki berat jenis yang lebih rendah daripada air laut, sedangkan berat jenis dari larva yang lebih dewasa lebih besar (Manning & Whaley, 1954 in Butet, 1997).

70

Gambar 31. Kedalaman perairan estuari Berau pada Maret dan Mei 2015

IV.8.1.2.4. Oksigen terlarut

Menurut Effendi (2003) Kadar oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan ketinggian (altitude) serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin kecil. Kandungan oksigen terlarut mempengaruhi keanekaragaman organisme dalam suatu ekosistem perairan. Nilai oksigen terlarut

(DO) cukup tinggi di perairan estuari Berau yaitu berkisar antara 5,37 – 8,67 pada

Maret 4,85 – 8,08, Mei 8,1 – 9,7, Agustus 7,22 – 9,16 dan Oktober 7,09 – 9,28 mg/l. Nilai oksigen terlarut ini hampir sama dengan penelitian Triyanto et al., 2012, yang mengemukakan bahwa di perairan mangrove Berau kadar oksigen terlarut berkisar antara 4,22 - 7,47 mg/L (Gambar 32). Effendi (2003) mengemukakan bahwa perairan yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan sebaiknya memiliki kadar oksigen yang tidak kurang dari 5 mg/l dan McNeely et al., 1979 dalam Effendie (2003) kadar oksigen terlarut pada perairan biasanya kurang dari 10 mg/l. Berdasarkan pernyataan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa perairan estuari Sungai Berau memiliki kandungan oksigen yang cukup baik untuk kehidupan

71 Gambar 32. Oksigen terlarut berdasarkan bulan

IV.8.1.2.4. Kecerahan

Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk. Kecerahan suatu perairan dipengaruhi oleh kekeruhan dan warna perairan tersebut, semakin tinggi kecerahan suatu perairan maka akan semakin tinggi daya penetrasi cahaya matahari sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung dalam lapisan yang tebal. Pada perairan alami kecerahan sangat erat hubungannya dengan fotosintesis. Kecerahan dapat digunakan untuk menentukan tingkat produktifitas primer suatu perairan (Odum, 1971). Kecerahan perairan estuari Berau berkisar antara 0 - 340 cm (Gambar 33). Kecerahan sampai nol cm terdapat di stasiun Muara Patumbuk. Hal ini disebabkan Sungai Patumbuk merupakan daerah pertambakan dan terdapat banyak anak-anak sungai yang memasuki Sungai Patumbuk dan buangan-buangan air dari pertambakan.

72 IV.8.1.2.4. Kekeruhan

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh bahan organik dan anorganik seprti plankton dan mikroorganisme lainnya (APHA, 1976; Davis & Cornwell in Effendi 2003).

Menurut Ewusie (1980) in Tussulus (2003) kekeruhan itu penting dari segi biologi, karena melibatkan juga bahan terlarut dan sebagai perangkap zat makanan terbentuk, dimana kadar garam anorganiknya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di lautan bebas ataupun sungai yang mengalir masuk. Hasil pengamatan terhadap

Co2 berdasarkan bulan disajikan pada Gambar 34.

Gambar 34. Nilai karbondioksida (CO2) di stasiun pengamatan berdasarkan bulan Kekeruhan merupakan sifat fisik air yang tidak hanya membahayakan ikan tetapi juga menyebabkan air tidak produktif karena menghalangi masuknya sinar matahari untuk fotosintesa. Kekeruhan ini disebabkan air mengandung begitu banyak partikel tersuspensi sehingga merubah bentuk tampilan menjadi berwarna dan kotor. Adapun penyebab kekeruhan ini antara lain meliputi tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil tersuspensi lainnya. Tingkat kekeruhan air di perairan mempengaruhi tingkat kedalaman pencahayaan matahari, semakin keruh suatu badan air maka semakin menghambat sinar matahari masuk ke dalam air. Pengaruh tingkat pencahayaan matahari sangat besar pada metabolisme makhluk hidup dalam air, jika cahaya matahari yang masuk berkurang maka makhluk hidup dalam air terganggu, khususnya makhluk hidup pada kedalaman air tertentu, demikian pula sebaliknya

73 (Hardjojo & Djokosetiyanto, 2005; Alaerts & Santika, 1987 in Hartami, 2008). Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung yang terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil daripada sediment, seperti tanah liat, bahan organik tertentu, sel-sel mikroorganisme dan lain sebagainya (Hardjojo and Djokosetiyanto, 2005 in Hartami, 2008). Padatan tersuspensi dan kekeruhan memiliki korelasi positif yaitu semakin tinggi nilai padatan tersuspensi maka semakin tinggi pula nilai kekeruhan. Akan tetapi, tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan. Air laut memiliki nilai padatan terlarut yang tinggi, tetapi tidak berarti kekeruhannya tinggi pula (Effendi, 2003).

IV.8.1.2.5. Konsentrasi nitrat (NO3)

Nitrat adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan. Nitrifikasi merupakan proses oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung pada kondisi aerob. Oksidasi amonia menjadi nitrit dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas, sedangkan oksidasi nitrit menjadi nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrobacter. Keduanya adalah bakteri kemotrofik, yaitu bakteri yang dapat mendapatkan energi dari proses kimiawi. Menurut Novotny & Olem (1994) in Effendi (2003)

Kadar nitrat diperairan estuari Berau Bulan Maret yaitu berkisar antara 0,159 - 0,445, terendah pada bulan Mei yaitu berkisar antara 0,0003 - 0,0474, merupakan yang tertinggi selama penelitian yaitu pada Bulan Agustus berkisar antara 0,1743 -2,0526 dan bulan Oktober berkisar antara 0,072 - 0,4621 Gambar 35).

74 Kadar nitrat pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0,1 mg/l. Kadar nitrat lebih dari 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktifitas manusia dan tinja hewan. Kadar nitrat melebihi 0,2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan, yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). Nitrat dapat digunakan untuk mengelompokkan tingkat kesuburan perairan. Perairan oligotrof memiliki kadar nitrat antara 0 – 1 mg/l, perairan mesotrof memiliki kadar nitrat antara 1 – 5 mg/l, dan perairan eutrof memiliki kadar nitrat yang berkisar antara >5 – 50 mg/l (Vollenweider, 1969 in Nontji, 1984).

IV.8.1.2.5. Ortofosfat (O-PO4)

Ortofosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik. Setelah masuk ke dalam tumbuhan, misalnya fitoplankton, fosfat anorganik mengalami perubahan menjadi organofosfat. Fosfat

yang berikatan dengan ferri (Fe2(PO4)3) bersifat tidak larut dan mengendap di dasar

perairan. Pada saat terjadi kondisi anaerob, ion besi valensi tiga (ferri) ini mengalami reduksi menjadi ion besi valensi dua (ferro) yang bersifat larut dan melepaskan fosfat ke perairan (Brown, 1987 in Effendi, 2003). Keberadaan fosfor di perairan alami biasanya relatif kecil, dengan kadar yang lebih sedikit daripada kadar nitrogen; karena sumber fosfor lebih sedikit dibandingkan dengan sumber nitrogen di perairan. Sumber alami fosfor di perairan adalah pelapukan batuan mineral. Selain itu, fosfor juga berasal dari dekomposisi bahan organik. Sumber antropogenik fosfor adalah limbah industri dan domestik, yakni fosfor yang berasal dari deterjen. Limpasan dari daerah pertanian yang menggunakan pupuk juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi keberadaan fosfor (Effendi, 2003). Keberadaan fosfor secara berlebihan yang disertai dengan keberadaan nitrogen dapat menstimulir ledakan pertumbuhan algae di perairan (algae bloom). Algae yang melimpah ini dapat membentuk lapisan pada permukaan air, yang selanjutnya dapat menghambat penetrasi oksigen dan cahaya matahari sehingga kurang menguntungkan bagi ekosistem perairan (Boney, 1989 in Effendi, 2003).

Kandungan ortopospat di estuari Berau berkisar antara 0,0005 - 0,014 pada bulan Maret, bulan Mei 0,001 0,012, bulan Agustus berkisar antara 0,001 -0,012 dan yan tertinggi terjadi pada bulan Oktober yaitu berkisar antara 0,006 - 0,259 (Gambar 36). Kisaran yang tertinggi ini terdapat di perairan Patumbuk yang merupakan areal pertambakan. Vollenweider in Wetzel (1975) menyatakan bahwa kandungan fosfor dalam air menggambarkan karakteristik kesuburan perairan.

75 Berdasarkan kadar ortofosfat, perairan diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: perairan

oligotrof yang memiliki kadar ortofosfat 0,003 – 0,001 mg/l, perairan mesotrof yang

memiliki kadar ortofosfat 0,011 – 0,003 mg/l, dan perairan eutrof yang memiliki

kadar ortofosfat 0,031 – 0,01 mg/l.

Gambar 36. Nilai kadar ortopospat (O-PO4) berdasarkan bulan

Berdasarkan hasil penelitian Triyanto et al., 2012, kondisi kualitas air perairan mangrove di Kabupaten Berau dicirikan oleh pH berkisar antara 7,14 - 8,15, kadar oksigen terlarut antara 4,22 - 7,47 mg/L dan nilai BOD5 mencapai 1,04 - 7,32 mg/L, temperature berkisar antara 28,6 - 33,9°C, salinitas antara 10,41 - 27,3 ppt dan status kesuburan perairan berdasarkan nilai TP adalah 0,061 mg/L, TN adalah 3,285 mg/L dengan nilai maksimum ammonium mencapai 0,200 mg/L.

Kandungan klorofil-a mencapai 6,774 mg/m3. Tipe substrat perairan ada dua

kategori yaitu substrat berpasir dan lumpur berliat, dengan kandungan C substrat berkisar antara 0,11 - 4,26% dan N substrat berkisar antara 0,01 - 0,31%.

76 V. Kesimpulan dan Saran

V.1. Kesimpulan

1. Biota hasil tangkapan dari empat kali pengambilan contoh (Februari, Mei, Agustus dan Oktober) teridentifikasi sebanyak 111 spesies yang meliputi 51 famili

2. Perairan estuari Berau memiliki kualitas air yang cukup layak bagi kehidupan ikan dan biota perairan lainnya. Perairan ini memiliki salinitas yang cukup tinggi dengan

kisaran 0 - 46‰ sehingga perairan ini merupakan sumber penangkapan udang

ekonomis penting. Disamping itu di perairan Berau berkembang budidaya tambak

3. Biodiversitas ikan cukup tinggi yaitu dengan ditemukannya 111 jenis ikan, beberapa jenis diantaranya merupakan ikan ekonomis penting antara lain Ikan Kerapu (Epinephelus coioides), Ikan Putih (Pomadasys kaakan) dan Ikan Kakap (Lutjanus malabaricus). Keberadaan ikan-ikan ini di perairan estuari Berau adalah untuk mencari makan

4. Dari pengamatan stok ikan dengan menggunakan akustik didapatkan dugaan

biomassa ikan di perairan estuari Berau sebanyak 1,3 ton per km2. Jeni-jenis ikan

yang teridentifikasi tersebut sebagian besar berupa anak-anak ikan yang belum tumbuh besar/ dewasa. Hal ini dibuktikan dengan percobaan penangkapan menggunakan alat tangkap pukat tarik dan data dari hasil tangkapan nelayan sehingga dapat disimpulkan bahwa perairan estuari Berau merupakan habitat anakan ikan dan udang yang induk-induknya merupakan ikan laut

5. Dari pengamatan plankton didapatkan kelimpahan plankton berkisar antara 12 –

123 individu/ liter dan jumlah ini selalu berbeda antara bulan Maret, Mei, Agustus dan Oktober. Adanya perbedaan ini disebabkan adanya perubahan musim. Indeks

keanekaragaman plankton berkisar antara 0,83 – 2,29 dengan kategori rendah

hingga sedang

6. Kepadatan makrozoobentos berkisar antara 0 – 5000 individu per m2 dengan

kepadatan yang lebih tinggi ke arah laut. Hasil perhitungan Indeks keanekaragaman makrozoobentos berkisar antara 0 – 2,9 dengan kategori rendah sampai sedang

77 V.2. Saran

Untuk lanjutan penelitian ini diperlukan penelitian biologi beberapa jenis ikan dan udang. Selain itu pengamatan menggunakan akustik terhadap biota perairan lainnya tetap dilanjutkan.

78 DAFTAR PUSTAKA

Afriansyah, A., 2009. Konsentrasi Kadmium (Cd) dan Tembaga (Cu) dalam air, seston, kerang dan fraksinasinya dalam sedimen di Perairan Delta Berau, Kalimantan Timur. Skripsi. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor. 88 hal.

Aksornkoae S.1993. Ecology and management of mangroves. Bangkok. IUCN. 176 p. Arifin, Z., S.P. Situmorang & K. Booij, 2010. Geochemistry og heavy metals (Pb, Cr and

Cu) in sediment and benthic communities of Berau Delta, Indonesia. Coastal

Marine Science 34 (1): 205-211.

Barnes, R.S.K. & R.N. Hughes, 1999. An Introduction to Marine Ecology. 3rd Edition. Blackwell Science Ltd. London.

Bengen, D.G., 2000. Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik Sumberdaya

Pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Fakultas Perikanan dan

Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. 86 pp.

Bengen, D.G., 2001. Sinopsis: Ekosistem dan sumberdaya alam pesisir dan laut serta prinsip pengelolaannya. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisisr dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 61 hlm.

Bengen, D.G., 2003. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. PKSPL. IPB. Bogor.

Bengen, D.G., 2004. Pedoman teknis pengenalan dan pengelolaan ekosistem mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisisr dan Lautan, Institut Pertanian Bogor.Bogor. BPS, 2010. Berita Resmi Statistik. No. 45/07/th XIII. 1 Juli 2010.

Brower, J.E., J.H. Zar & C.N.V. Ende, 1990. Field and Laboratory Method for General

Ecology. 3rd Wim. C. Brown Co Publisher. Dubuque, Lowa. 237 p.

Butet, N.A., 1997. Distribution of Quahog Larvae Along A North – South Transect in

Naragansett Bay [tesis]. University of Rhode Island. Kingston. Rhode Island. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. Pedoman Pengelolaan Ekosistem

Mangrove.DepartemenKelautandanPerikanan(DKP).Jakarta.123 hlm.

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, 2013. Kegiatan Penyusun Rencana Zonasi Wilayah Pesisir & Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Kalimantan Timur. Bidang Kelautan dan Pulau-Pulau Kecil dan Pengawasan SDI. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan

Perairan. Kanisius. Yogyakarta. 258 hal.

Effendi, H., 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. 258 hal.

79 Effendie, M.I., 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. 163 pp.

Gayanilo, F.C. & D. Pauly, 1997. FAO-ICLARM stock assessment tools. Reference manual. FAO Computerized information series fisheries. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome. 261 p.

Handayani, S. & Patria, M.P, 2005. Komunitas Zooplankton di Perairan Waduk Krenceng, Cilegon, Banten. Makra sains Vol.9. No.2: 75-80.

Hannachi, M. S., L. B. Abdallah, & O. Marrakchi. 2004. Acoustic Identification of Small

Pelagic Fish Species: Target Strength Analysis and School Descriptor Classification. MedSudMed Technical Documents No.5.

Herry, 1998. Struktur Populasi Anadara spp. Secara Spasial dan Hubungannya dengan Gradien Lingkungan di Perairan Teluk Lada, Desa Mekarsari, Pandeglang, Jawa Barat.

Hutabarat, S & S.M. Evans., 1983. Pengantar Oseanografi. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Jakarta. James, P.S.B.R., 1984. Leiognathidae. In W. Fischer and G. Bianchi (eds.) FAO species

identification sheets for fishery purposes. Western Indian Ocean (Fishing Area 51). Vol. 2. FAO, Rome. pag. var.

Kailola, P.J., 1987. The fishes of Papua New Guinea: a revised and annotated checklist. Vol.II Scorpaenidae to Callionymidae. Research Bulletin No.41, Research Section, Dept. of Fisheries and Marine Resources, Papua New Guinea.

Kennish, M.J., 1994. Practical Handbook of Marine Science, Second Edition. CRC. Press. Inc. Boca Raton.

Kompas, 2008. Kabupaten Berau. http//:www.kompas.com/kabupaten_berau.htm [25 Mei 2008].

Kompas. Com. 2003. 4.000 Hektar Hutan Mangrove Delta Berau Habis Dibabat.

http://www. kompas.com/kompas-cetak/0310/21/daerah/636741.htm (diunduh

tanggal 28 Agustus 2011).

Krebs, C.J., 1972. Ecology the Experimental Analysis of Distribution and Abudance. New York: Harper and Row Pubication.

Krebs, C.J., 1989. Ecological Methodology. Harper Collins Publisher. Inc. New York. 654 p.

Krebs, C.S., 1989. Ecology: The Experimental Analysis of Distribution and Abundance. Harper and Row Publication. New York. 694 p.

Kusmana C,S. Wilarso, I. Hilwan, P. Pamoengkas, C. Wibowo, T. Tiryana, A. Triswanto, Yunasfi & Hamzah, 2003. Teknik Rehabilitasi Mangrove. Fakultas Kehutanan. IPB.

80 Latuconsina, H., M.N. Nessa & R.A. Rappe, 2012. Komposisi Spesies dan Struktur Komunitas Ikan Padang Lamun di Perairan Tanjung Tiram – Teluk Ambon Dalam. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.4. No.1, Juni 2012. Hal. 35-46.

MacLennan, D.N & Simmonds. 1992. Fisheries Acoustic. Chapman and Hall.London. 325 p.

Magurran, A.E., 1988. Ecological Diversity and its measurements. Princeton University Press. 179 pp.

Nasir, N.A., 2000. The food and feeding relationships of the fish communities in the inshore waters of Khor Al-Zubair, northwest Arabian Gulf. Cybium 24(1):89-99. Natsir, M., B. Sadhotomo, & Wudianto. 2005. Pendugaan biomassa ikan pelagis di

perairan Teluk Tomini dengan metode akustik bim terbagi. Jurnal Penelitian

Perikanan Indonesia. 11 (6): 101-107.

Nontji, A., 1984. Biomassa dan Produktivitas Fitoplankton di Perairan Teluk Jakarta Serta Kaitannya dengan Faktor-Faktor Lingkungan [disertasi]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nontji, A., 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Nontji, A., 2005. Laut Nusantara. Edke-4. Djambatan. Jakarta. 356 hlm.

Nybakken, J.W., 1986. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. Diterjemahkan oleh: M. Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen, Malikusworo dan Sukristrijono. Cetakan Pertama. PT. Gramedia Jakarta.

Odum, E.P., 1971. Fundamentals of Ecology. Third Edition. W.B. Sounders Co. Philadelphia and London. 574 p.

Odum, E.P., 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Diterjemahkan oleh T. Samingan.

Dalam dokumen LAPORAN TEKNIS PENELITIAN (Halaman 67-128)

Dokumen terkait