• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN IMAN ANAK

A. Paroki St. Martinus Weleri

(uraian mengenai Paroki St. Martinus Weleri, penulis menggunakan referensi dari

Siswarjono, 2012).

1. Sejarah Paroki St. Martinus Weleri

Wilayah Weleri secara resmi dijadikan sebagai stasi dari paroki

Gedangan pada tahun 1953. Romo Sutopanitro yang pada waktu itu memimpin

paroki Gedangan banyak berperan dalam perkembangan umat di Weleri. Dalam

merayakan misa. Jumlah umat yang bertambah banyak menimbulkan suatu

kebutuhan baru yakni kebutuhan akan adanya tempat ibadat. Dengan bantuan dari

berbagai pihak dan jasa dari Romo Knetsch yang pada waktu itu berkarya di Weleri,

berdirilah Gereja Katolik Weleri yang kurang lebih bisa menampung 400 umat.

Dibangunnya Gereja Katolik di Weleri memberikan kemungkinan bagi umat di

Weleri untuk membentuk paroki tersendiri. Tahap demi tahap Gereja Weleri

memisahkan diri secara administratif dari paroki Gedangan dan membentuk paroki

tersendiri dengan pelindung Santo Martinus pada tanggal 17 Februari 1954.

Setelah Weleri melepaskan diri dari paroki Gedangan dan membentuk

paroki tersendiri yang berpusat di Weleri dan Gereja Weleri dijadikan pusat paroki

Weleri, para umat yang letaknya cukup jauh dari paroki Weleri merasa jauh dari

pusat paroki dan akhirnya wilayah bagian timur yaitu Kendal dan Kaliwungu serta

Sukorejo yang merupakan wilayah bagian selatan, memisahkan diri dari paroki

Weleri dan menjadi paroki tersendiri.

2. Profil Paroki St. Martinus Weleri

Paroki St. Martinus Weleri terletak sekitar 18 Km sebelah barat kota

Kendal dan berbatasan langsung dengan kabupaten Batang. Paroki Weleri memiliki

umat 1.060 jiwa yang meliputi 5 kecamatan yang masuk dalam wilayah teritorial

paroki Weleri.

a. Sebelah Utara:

Lingkungan St. Petrus-Tawang masuk wilayah kecamatan Rawasari

b. Sebelah Timur:

Terdiri dari 2 lingkungan yaitu lingkungan SPM Bunda

Penolong-Cepiring masuk kecamatan Penolong-Cepiring berjarak sekitar 12 Km dari paroki, memiliki

jumlah umat 20 KK dan lingkungan Santo Yusuf-Gemuh masuk kecamatan Gemuh

berjarak sekitar 8 Km dari paroki, memiliki jumlah umat 29 KK.

c. Sebelah Barat:

Lingkungan St. Antonius-Sambongsari yang antara lain sebagian umat

masuk wilayah kecamatan Gringsing kabupaten Batang, berjarak sekitar 2 Km dari

paroki dan memiliki jumlah umat 47 KK.

d. Sebelah Selatan:

Lingkungan St. Yusuf - Besokor berjarak 3 Km dari paroki dan memiliki

jumlah umat 22 KK.

1) Lingkungan lain yang berada dalam kota Weleri di antaranya:

a) Lingkungan St. Maria-Weleri memiliki jumlah umat 40 KK.

b) Lingkungan St. Yohanes-Nawangsari memiliki jumlah umat 43 KK.

c) Lingkungan St. Ignatius-Penaruban memiliki jumlah umat 30 KK.

d) Lingkungan St. Christopurus-Penyangkringan memiliki jumlah umat 60

KK. Lingkungan ini mengalami pemekaran menjadi 2 lingkungan yakni

lingkungan St. Christopurus atas dan lingkungan St. Chritopurus

2) Sekolah-sekolah Katolik yang berada di wilayah Paroki St. Martinus Weleri

antara lain:

a) TK Sanjaya Padma di Weleri berdiri pada tahun 1956 diprakarsai oleh

Rm. PC. Sutopanitro, SJ.

b) TK St. Theresia di Besokor

c) SD Kanisius Brana di Weleri berdiri pada tahun 1950

d) SMP Kanisius Budhi Murni di Weleri berdiri pada tahun 1963

e) SMU Theresiana di Weleri berdiri pada tahun 1974

Di Paroki St. Martinus Weleri terdapat 1 (satu) konggregasi yaitu Abdi

Kristus yang berada di Besokor. Seperti paroki-paroki yang lain, di paroki St.

Martinus Weleri juga terdapat kelompok-kelompok kategorial seperti pasukris,

PDKK, WKRI, OMK, paguyuban guru Katolik dan kelompok CU (Credit Union).

Sejak Paroki St. Martinus Weleri berdiri sampai sekarang, banyak

perkembangan yang dialami salah satunya dalam usaha pengembangan umat.

Perkembangan yang telah dicapai oleh paroki tidak lepas dari jasa-jasa para Romo

yang bertugas dari awal perjuangan wilayah Weleri menjadi paroki tersendiri pada

tahun 1954 sampai sekarang. Berikut romo-romo yang pernah bertugas di paroki St.

Martinus Weleri antara lain:

Tahun Pastor

1954-1963 Petrus Chrisologus Sutopanitro, SJ 1963-1968 Sebastianus Hardoparmoko, SJ

1969 Fredericus Knetsch, SJ 1969-1972 Constantinus Harsosuwito, SJ

3 Situasi Umat Paroki St. Martinus Weleri

Umat paroki St. Martinus Weleri sebagian besar merupakan warga

pendatang dan didominasi etnis Tionghoa. Mereka berlatar belakang sebagai

pedagang (pengusaha) yang berada di lingkungan-lingkungan dalam kota sekitar 30

%, pegawai negeri/swasta (sebagian besar guru) 45 %, 25 % lainnya adalah

karyawan swasta, buruh tani dan buruh lepas. Situasi geografis kota Weleri yang

merupakan daerah pegunungan dan terletak di wilayah PANTURA (pantai utara),

memberikan tantangan tersendiri bagi umat karena jarak dan medan antar lingkungan

yang cukup jauh dan kondisi jalan yang rusak dan berliku, membuat umat sering

absen dalam pertemuan-pertemuan rutin terlebih pada malam hari dan musim

penghujan. Selain itu, mayoritas warga kota Weleri yang notabene beragama muslim 1973-1974 Gerbrandus Schoonhoff, SJ 1974-1975 C. Widayaputranto, SJ 1975-1976 Julianus Sunarko, SJ 1977-1980 Chistophorus Dureau, SJ 1981-1984 Antonius Lamers, SJ 1985-1990 Tarcisius Widyana, SJ 1990-1991 Yoshepus Wiharjono, SJ 1991-1996 FX. Widyatmaka, SJ 1996-2005 JB. Suyitno, SJ 2003-2004 FX. Arko Sudiono, SJ 2006-2009 Antonius Dadang Hermawan, Pr 2006-2012 BYL. Subagio Atmodiharjo, Pr 2009-2012 Petrus Tri Margana, Pr

2012 Raymundus Sugihartanto, Pr 2012 Simon Atas Wahyudi, Pr

membawa dampak bagi perkembangan iman umat dan dampak konkret yang

sekarang ini masih menjadi keprihatinan adalah banyak terjadi nikah beda agama dan

kawin campur bahkan banyak juga yang pindah agama.

Kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung dalam dunia

pendidikan mengakibatkan jumlah kaum muda yang aktif di paroki St. Martinus

Weleri sangat sedikit. Hal itu dikarenakan banyak kaum muda yang studi di luar kota

dan jarang pulang. Meskipun kaum muda di paroki St. Martinus tidak begitu banyak,

tetapi banyak kegiatan yang dilaksanakan dan diikuti oleh para kaum muda misalnya

pertemuan rutin OMK, kepanitian dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di paroki,

week end rohani OMK antar paroki dll.

Meskipun aktivitas umat sangat tinggi, tetapi mereka tidak melupakan

tugas dan tanggungjawab mereka sebagai orang Katolik. Hal ini sangat nampak

ketika umat terlibat dalam berbagai kegiatan yang sudah terjadwal pada agenda

masing-masing lingkungan maupun paroki. Contohnya seperti tugas koor antar

lingkungan, kegiatan doa di lingkungan dan di paroki, ulang tahun paroki, natal, misa

imlek dll, semua umat saling bekerjasama dan terlibat dalam pembagian tugas.

Dokumen terkait