TINJAUAN PUSTAKA
B. Pasar Efisien
Stock split dan reverse stock split merupakan salah satu informasi yang akan mempengaruhi harga saham. Teori yang menghubungkan antara informasi dan harga saham sering dinyatakan sebagai hipotesa pasar yang efisien. Para ahli ekonomi sering mengdefinisikan tiga level efisiensi pasar ini, yang dibedakan atas dasar tingkat informasi yang direfleksikan dalam harga saham. (Ahmad Rifa’i dan Rudi Handoko, 2005).
Level pertama, bahwa harga saham merupakan refleksi atas informasi harga saham masa lalu, atau dengan kata lain harga saham sekarang dapat diketahui dari
harga saham masa lalu. Hal ini sering disebut dengan efisiensi pasar bentuk lemah.
Level kedua, menyatakan bahwa harga saham tidak hanya mencerminkan harga saham sebelumnya, tetapi juga mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan. Informasi yang dipublikasikan ini misalnya, informasi dari Bursa Efek Jakarta, Emiten, Laporan Keuangan, maupun dari media-media keuangan lain. Hal ini sering disebut dengan efisiensi pasar bentuk setengah kuat.
Jika pasar saham efisien dalam bentuk setengah kuat ini, maka harga saham akan segera disesuaikan segera setelah adanya informasi yang dipublikasikan, misalnya pengumuman laba perusahaan, pengumuman rencana stock split dan
reverse stock split, rencana pengeluaran saham baru, dan sebagainya. Dalam pasar yang efisien bentuk setengah kuat, maka tidak ada investor atau grup dari investor yang dapat menggunakan informasi yang dipublikasikan untuk mendapatkan keuntungan tidak normal dalam jangka waktu yang lama.
Level yang ketiga, yang dikenal sebagai efisiensi pasar bentuk kuat, menyatakan bahwa harga saham mencerminkan semua informasi yang ada di pasar, baik informasi tersebut dipublikasikan maupun informasi yang tidak dipublikasikan.
Bentuk efisiensi pasar tersebut bila ditinjau dari ketersediaan informasinya saja disebut dengan efisiensi pasar secara informasi (informationally efficient market), sedangkan bila ditinjau dari kecanggihan pelaku pasar dalam mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia disebut dengan efisiensi pasar secara keputusan (decisionally efficient market).
Dalam pasar efisien, jika harga saham merefleksikan semua informasi yang tersedia, maka perubahan harga saham berarti merefleksikan adanya suatu informasi baru. Oleh karena itu, dapat diamati bahwa pentingnya suatu peristiwa (event) atau informasi dapat diteliti dari perubahan harga saham selama periode dimana peristiwa tersebut terjadi.
Bodie, et.al. (2002) dalam Achmad Rifai’i dan Rudi Handoko (2005) mengatakan bahwa studi peristiwa (event study) merupakan suatu teknik penelitian keuangan empiris yang memungkinkan peneliti untuk menilai pengaruh suatu peristiwa tertentu terhadap harga saham perusahaan.
Studi peristiwa dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (sinyal) dari suatu peristiwa. Kandungan informasi (sinyal) dari suatu peristiwa dapat diketahui dari ada tidaknya abnormal return sebagai reaksi pasar terhadap suatu peristiwa. (Jogiyanto, 2003 dalam Achmad Rifai’i dan Rudi Handoko, 2005). Studi peristiwa memiliki parameter sebagai berikut: event, announcement date, estimation window, investigation window, dan estimation model.
Event dalam penelitian ini adalah suatu peristiwa dimana perusahaan mempublikasikan kepada public mengenai informasi rencana perusahaan untuk melakukan kebijakan tertentu.
Announcement date merupakan tanggal yang dianggap event pengumuman kebijakan tersebut. Tanggal ini dianggap sebagai t0.
Estimation window, atau periode estimasi adalah periode sebelum suatu event
investigation windows, atau periode investigasi adalah periode yang diteliti sebagai akibat adanya suatu event.
Estimation model adalah model statistik yang digunakan untuk memperoleh return wajar (expected return) yang akan digunakan untuk menghitung abnormal return.
Penelitian ini berkaitan dengan efisiensi pasar bentuk setengah kuat secara informasi, karena penelitian ini, berusaha mengetahui apakah peristiwa pengumuman rencana stock split dan reverse stock split oleh manajemen memiliki kandungan informasi (sinyal) bagi investor, yang dapat diketahui dengan reaksi pasar (adanya abnormal return) pada periode sekitar pengumuman pemecahan saham tersebut dan seberapa cepat pasar bereaksi terhadap suatu peristiwa tersebut. Oleh karena itu, dalam penelitian digunakan metode studi peristiwa.
Berkaitan dengan efisiensi pasar setengah kuat, Suad Husnan (2003) dalam Achmad Rifa’i dan Rudi Handoko (2005) meneliti perilaku harga saham di pasar perdana selama tahun 1990 menyimpulkan bahwa pasar modal di Indonesia belum efisien bentuk setengah kuat. Demikian juga Affandi dan Siddarta (1998) dalam Achmad Rifa’i dan Rudi Handoko (2005), penelitiannya tentang uji efisiensi pasar bentuk setengah kuat terkait dengan informasi pengumuman laba menyimpulkan bahwa pasar modal di Indonesia, khususnya Bursa Efek Jakarta belum efisien bentuk setengah kuat.
C. Likuiditas
Definisi likuiditas menurut Van Horne (1980) dalam Ade Wirman (2002) adalah: Liquidity may be defined as ability to realize value in money the most liquid of assets. Pembatasan yang lebih khusus diberikan oleh Robinson dan Wrightsman (1981) dalam Ade Wirman (2002) kutipan berikut ini:
A major dimension of the wealth allocation process is the adjustment of
liquidity. Liquidity measures the nearest of a financial asset to cash, which
itself is financial assets differing from all others in that only cash is used
as medium of change. The liquidity of a given financial asset is gauged by
the ability to convert the asset into cash at any time without taking loss.
Tanpa membedakan pengertian likuiditas, Tinic dan West (1979) dalam Ade Wirman (2002) memandang likuiditas dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Berikut ini adalah definisi likuiditas yang diberikan oleh mereka:
The word liquidity should be reserved for the circumstances that call a definition of marketability plus the absence of price risk.
Dari semua definisi yang disampaikan oleh para ahli tersebut, dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian likuiditas. Likuiditas adalah tingkat kemampuan suatu aktiva financial berubah menjadi kas atau sebaliknya pada setiap saat diinginkan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dan dengan resiko kerugian yang paling minimum.
Kesimpulan terhadap pengertian likuiditas tersebut jika dikaitkan dengan salah satu variable dalam penelitian ini-likuiditas saham-maka saham merupakan salah satu jenis aktiva financial. Dalam kesimpulan atas definisi likuiditas tersebut
disebutkan bahwa likuiditas aktiva financial adalah sesuatu hal yang amat diinginkan oleh investor.
Dengan demikian, definisi likuiditas saham adalah tingkat kemampuan saham untuk dapat diubah menjadi kas atau sebaliknya setiap saat diinginkan dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan dengan tingkat resiko yang paling minimum.
Likuiditas dapat diukur dengan beberapa variabel yang mempengaruhinya, antara lain execution cost dan volume perdagangan. Execution cost (biaya pelaksanaan) adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengubah suatu sekuritas menjadi kas atau sebaliknya. Ada dua macam execution cost, pertama, biaya komisi broker dan kedua, bid-ask spread dimana spread ini ditentukan oleh dealer. Semakin besar persentase spread-nya, semakin rendah likuiditas dan sebaliknya. (Wang Sutrisno, 2000).
Dalam penelitian ini, likuiditas saham diukur dengan volume perdagangan. Semakin tinggi volume perdagangan suatu saham, maka saham tersebut semakin likuid. Volume perdagangan merupakan indikator likuiditas yang relatif banyak dipergunakan. Pengertian dari volume perdagangan sendiri adalah jumlah satuan unit saham yang diperjualbelikan dalam suatu periode tertentu, biasanya harian.
Selain karena kesederhanaannya dan kemudahannya untuk dipahami, indikator tersebut lebih mudah didapatkan di pasar modal. Namun kelemahan dari indikator ini adalah tidak bisa digunakannya indikator ini manakala jumlah saham yang beredar di pasar mengalami perubahan. Walaupun demikian, peneliti dan analisis pasar modal biasanya melakukan penyesuaian (adjustment) dengan
membaginya dengan jumlah saham yang beredar. Pendekatan ini menghasilkan indikator yang disebut dengan trading volume activity (TVA). Pendekatan lainnya adalah dengan memilih adjusted volume, yaitu volume yang telah disesuaikan dengan penambahan dan pengurangan saham beredar. Penelitian ini menggunakan
trading volume activity (TVA)sebagai indikator likuiditas.