BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Benign Prostate Hyperplasia (BPH)
2.2.2 Patofisiologi
Keluhan dari BPH diakibatkan oleh adanya obstruksi dan sekunder akibat dari respon kandung kemih. Komponen obstruksi juga dapat dibagi menjadi obstruksi mekanik dan dinamik. Pada hiperplasia prostat, obstruksi mekanik terjadi karena penekanan terhadap lumen uretra atau leher buli, yang akan mengakibatkan resistensi bladder outlet. Sebelum dilakukan pembagian zona klasifikasi dari prostat, ahli urologi membagi menjadi tiga lobus yaitu dua lobus lateral dan satu lobus medial. Ukuran prostat pada pemeriksaan rectal toucher (RT) memiliki korelasi yang kurang terhadap timbulnya gejala, karena pada RT lobus medial kurang atau tidak teraba. Komponen obstruksi dinamik menjelaskan berbagai jenis keluhan pada penderita. Stroma prostat terdiri dari otot polos dan kolagen, yang dipersyarafi oleh saraf adrenergik. Tonus uretra pars prostatika akan diatur secara autonom, sehingga penggunaan α-blocker menurunkan tonus ini dan menimbulkan disobstruksi (Tanagho et al., 2008)
2.2.3 Gejala Klinis
BPH mencakup terutama bagian dalam prostat, manifestasi yang paling sering adalah obstruksi saluran kemih bawah, sering dalam bentuk kesulitan memulai aliran urin (hesitancy) dan sewaktu kencing aliran urin terhenti intermiten. Gejala-gejala ini sering disertai rasa sangat ingin kencing (urgency), sering kencing dan nokturia, yang semuanya menunjukkan iritasi kandung kemih. Gejala serupa juga dapat disebabkan oleh striktur uretra atau akibat kontraktilitas otot detrusor kandung kemih yang terganggu baik pada laki-laki maupun perempuan. Pada sebagian laki-laki yang terkena, BPH dapat menimbulkan obstruksi urin total, sehingga mengakibatkan pembesaran kandung kemih yang nyeri dan apabila tidak diobati dengan memadai akan terjadi hidronefrosis (Aster, 2013).
BPH sendiri dapat meningkatkan kadar serum PSA dan tentu saja BPH adalah penyebab paling umum meningginya kadar PSA (Ming dan Cristina, 2007). Tanda klinis terpenting BPH adalah ditemukannya pembesaran konsistensi kenyal pada pemeriksaan colok dubur / digital rectal examination (DRE). Apabila
11
teraba indurasi atau terdapat bagian yang teraba keras, perlu dipikirkan kemungkinan prostat stadium satu dan dua (Roehborn dan Connel, 2010).
2.2.4 Faktor Resiko
Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya BPH adalah kadar hormon testosteron yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko BPH. Testosteron akan diubah menjadi androgen yang lebih efektif yaitu dihydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5α-reductase, yang memegang peran penting dalam proses pertumbuhan sel-sel prostat (Rizki, 2007). Pada usia tua terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan pada buli (otot detrusor) dan penurunan fungsi persarafan.
Perubahan karena pengaruh usia tua menurunkan kemampuan buli-buli dalam mempertahankan aliran urin pada proses adaptasi oleh adanya obstruksi karena pembesaran prostat, sehingga menimbulkan gejala (Emi, 2012). Testis menghasilkan beberapa hormon seks pria, yang secara keseluruhan dinamakan androgen. Hormon tersebut mencakup testosteron, dihidrostestosteron dan androtenesdion. Testosteron sebian besar di konversikan oleh enzim 5-alfa-reduktase menjadi dihidrotestosteron yang lebih aktif secara fisiologis di jaringan sasaran sebagai pengatur fungsi ereksi (Vita, 2010). Orang dari ras kulit hitam memiliki risiko dua kali lebih besar untuk terjadi BPH dibanding ras lain. Orang-orang Asia memiliki insidensi BPH paling rendah. Riwayat keluarga pada penderita BPH dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi yang sama pada anggota keluarga yang lain. Semakin banyak anggota keluarga yang mengidap penyakit ini, semakin besar risiko anggota keluarga yang lain untuk dapat terkena BPH. Obesitas akan membuat gangguan pada prostat dan kemampuan seksual, tipe bentuk tubuh yang mengganggu prostat adalah tipe bentuk tubuh yang membesar di bagian pinggang dengan perut buncit, seperti buah apel. Beban di perut itulah yang menekan otot organ seksual, sehingga semakin lama organ seksual akan kehilangan kelenturannya, selain itu deposit lemak berlebihan juga
12
merupakan bahan baku DHEA (dehidroepianandrosteron) yang dapat memproduksi testosteron, tetapi bila berlebihan tentunya akan terjadi penumpukan lemak pada perut yang akan menekan otot-otot seksual dan mengganggu testis, sehingga kelebihan lemak tersebut justru dapat menurunkan kemampuan seksual. Akibat lebih lanjut adalah penurunan produksi testosteron, yang nantinya mengganggu prostat (Silva, 2013).Lalu aktivitas seksual kelenjar prostat adalah organ yang bertanggung jawab untuk pembentukan hormon laki -laki. BPH dihubungkan dengan kegiatan seks berlebihan dan alasan kebersihan.
Saat kegiatan seksual, kelenjar prostat mengalami peningkatan tekanan darah sebelum terjadi ejakulasi. Jika suplai darah ke prostat selalu tinggi, akan terjadi hambatan prostat yang mengakibatkan kelenjar tersebut bengkak permanen. Seks yang tidak bersih akan mengakibatkan infeksi prostat yang mengakibatkan BPH.
Aktivitas seksual yang tinggi juga berhubungan dengan meningkatnya kadar hormon testosterone (Rahardjo, 2010). Lalu kebiasaan merokok nikotin dan konitin (produk pemecahan nikotin) pada rokok meningkatkan aktifitas enzim perusak androgen, sehingga menyebabkan penurunan kadar testosterone (Walsh dan Patrick, 2010). Dan yang terakhir kebiasaan minum-minuman beralkohol.
Konsumsi alkohol akan menghilangkan kandungan zink dan vitamin B6 yang penting untuk prostat yang sehat. Zink sangat penting untuk kelenjar prostat.
Prostat menggunakan zink 10 kali lipat dibandingkan dengan organ yang lain.
Zink membantu mengurangi kandungan prolaktin di dalam darah. Prolaktin meningkatkan penukaran hormone testosteron kepada DHT (Emi, 2012).
2.2.5 Diagnosa
Digital Rectal Examination (DRE) atau pemeriksaan colok dubur adalah bagian evaluasi penting bagi seorang pria yang di diduga BPH. Saat pemeriksaan, ukuran dan permukaan prostat dapat dinilai, nodul dapat di evaluasi dan daerah yang mengalami keganasan dapat di deteksi. Kemudian pemeriksaan Laboratorium yaitu periksa urin menggunakan metode dipstik atau melaluli evaluasi sedimen disentrifugasi untuk menilai adanya darah, leukosit, bakteri, protein, atau glukosa. Lalu kultur urin, ini mungkin berguna untuk menyingkirkan
13
infeksi karena iritasi berkemih dan biasanya dilakukan jika ditemukan urinalisis awal yang menunjukkan adanya kelainan. Kemudian pemeriksaan Prostate spesific antigen, meskipun BPH tidak menyebabkan kanker prostat, pria yang beresiko BPH juga beresiko untuk penyakit ini dan harus disaring sesuai (meskipun screening untuk kanker prostat masih kontroversial). Juga pemeriksaan Elektrolit, Blood Urea Nitrogen, dan Kreatinin evaluasi ini adalah alat screening yang berguna untuk insufisiensi ginjal kronis pada pasien yang memiliki high postvoid residual (PVR) pada volume urinnyan namun, pengukuran serum kreatinin rutin tidak diindikasikan dalam evaluasi awal pria dengan gejala Lower Urinary Tract Syndrome (LUTS) (Deters, 2016).
Lalu pemeriksaan ultrasonography (perut, ginjal, transrectal) berguna untuk membantu menentukan kandung kemih , ukuran prostat dan tingkat hidronefrosis (jika ada) pada pasien dengan retensi atau tanda-tanda insufisiensi ginjal kemih.Umumnya ultrasonography tidak diindikasikan untuk evaluasi awal pada gangguan Lower Urinary Tract Syndrome (LUTS).Kemudian bisa juga dilakukan endoskopi saluran kemih bawah yaitu cystoscopy yang dapat diindikasikan pada jadwal pasien untuk pengobatan invasif atau jika dicurigai ada keganasan. Selain itu, endoskopi dapat diindikasikan pada pasien dengan riwayat penyakit menular seksual misalnya gonokokal uretritis, kateterisasi berkepanjangan, atau trauma.
Dan juga tingkat keparahan BPH dapat ditentukan dengan International Prostate Symptom Score (IPSS) / American Urological Association Gejala Index (AUA-SI) ditambah dengan pertanyaan kualitas penyakit-spesifik hidup Quality of life (QOL). Pertanyaan pada AUA-SI BPH sebagai berikut: Frekuensi, Intermittency, Urgensi, Aliran lemah, Straining, Nokturia (Deters, 2016).
Kemudian dapat juga dilakukan pemeriksaan test lainnya seperti Flow rate yang berguna dalam penilaian awal dan untuk membantu menentukan respon pasien terhadap pengobatan. Volume urine PVR yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan dekompensasi kandung kemih dapat diperoleh invasif dengan
14
kemampuan kontraksi kandung kemih (detrusor underactivity) dari BOO. Dan yang terakhir adalah pemeriksaan sitologi urin : untuk mempertimbangkan pasien dengan gejala dominan iritasi berkemih (Deters, 2016).
2.2.6 Tatalaksana
Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup pasien.
Terapi yang ditawarkan pada pasien tergantung pada derajat keluhan, keadaan pasien, maupun kondisi obyektif kesehatan pasien yang diakibatkan oleh penyakitnya. Pilihannya adalah mulai dari: (1) tanpa terapi (watchful waiting), (2) medikamentosa, dan (3) terapi intervensi. Di Indonesia, tindakan Transurethral Resection of the prostate (TURP) masih merupakan pengobatan terpilih untuk pasien BPH (Rizki, 2010).
2.2.7 Komplikasi
Dilihat dari sudut pandang perjalanan penyakitnya, hiperplasia prostat dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut : Inkontinensia, batu kandung kemih, hematuria, sistitis, pielonefritis, retensi urin akut atau kronik (Laksmi dan Imelda, 2012).
2.2.8 Patologi Anatomi
Gambaran makroskopisnya akan ditemukan pembesaran nodular prostat. BPH biasanya melibatkan zona transisi. Menurut defenisi, spesimen diperoleh melalui transurethral resection of the prostate (TURP) dapat didiagnosis menjadi hiperplasia,karena operasi telah ditunjukkan pada gejala obstruktif saluran kemih.
Gambaran mikroskopisnya terjadi proliferasi dari tiap-tiap sel stroma murni atau kedua epitel dan sel stroma (Ming dan Cristina, 2007). Prostat yang terkena membesar, sampai beratnya antara 60gr sampai 100gr dan mengandung banyak nodulus berbatas tegas yang menonjol pada penampang (Aster, 2013). Komponen kelenjar terdiri dari asinus kecil dan besar dengan papillary infolding dan projections. Epitel secretory luminalnya terdiri dari tall columnar cell dengan sitoplasma granular yang pucat. Sel basal mudah di deteksi dan umumnya
15
hyperplastik. Limfosit dan sel plasma sering terdapat di kelenjar hyperplastik (Ming dan Cristina, 2007).
2.3 ADENOKARSINOMA PROSTAT
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang menyerang kelenjar prostat, dimana sel-sel kelenjar prostat tumbuh secara abnormal tak terkendali sehingga mendesak dan merusak jaringan sekitarnya (Wiwin et al., 2015). Kanker prostat merupakan kanker yang paling sering didiagnosis pada pria dengan perkiraan 233.000 kasus baru pada tahun 2014. Deteksi dini untuk kanker prostat menggunakan PSA dalam serum sebagai awal skrining. Meskipun jauh dari ideal, skrining PSA merupakan salah satu metode yang sering digunakan untuk skrining oncological di tempat-tempat praktek kesehatan (Klap dan Loughin, 2014).
2.3.1 Etiologi
Faktor genetik dan lingkungan adalah beberapa yang terlibat dalam karsiogenesis prostat. Usia, riwayat keluarga dan ras merupakan faktor resiko yang pasti. Riwayat keluarga memberikan resiko yang lebih tinggi pada karsinoma prostat. Lalu latar belakang ras, dengan kulit hitam Amerika memiliki insiden yang memiliki insiden yang lebih tinggi yang mungkin berhubungan dengan berbagai genetik dan faktor lingkungan. Kemudian diet lemak dan kadar hormon seks memungkinkan untuk faktor-faktor terkena karsinoma prostat. Juga asupan lemak tinggi, terutama daging merah sangat terkait untuk pengembangan karsinoma prostat. Hormon seks juga memainkan peran penting dalam pengembangan dan pertumbuhan karsinoma prostat. Testosteron akan dikonversi menjadi Dihidritestosteron yang lebih kuat (DHT) oleh enzim 5α–reduktase.
Testosteron dan DHT kemudian mengikat reseptor androgen (AR) yang merupakan faktor transkripsi yang mengatur androgen-dependent pertumbuhan sel. Lalu polimorfosis genetik pada 5α–reduktase dan gen AR akan
16
2.3.2 Gejala klinis
Penderita adenokarsinoma prostat selalu menunjukkan gejala lokal seperti retensi urin (20-25%), nyeri pinggang dan tungkai (20 -40%), hematuria (10-15%), sering miksi (38%), penurunan aliran urin (23%). Akan tetapi 47% pasien tidak menunjukkan gejala klinis, sehingga pasien mungkin didiagnosa dengan adenokarsinoma prostat stadium lanjut tanpa adanya gejala. Selain gejala lokal, dapat dijumpai gejala-gejala metastasis, seperti penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, nyeri pada tulang dengan atau tanpa fraktur patologis, nyeri dan bengkak pada tungkai bawah, gejala uremik dapat muncul akibat obstruksi uretra dan retroperitoneal adenopathy (Laksmi dan Imelda, 2012).
2.3.3 Faktor Resiko
Sampai saat ini penyebab dari kanker prostat belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker prostat, antara lain: Lebih dari 65% kejadian kanker prostat terdeteksi pada pria berusia diatas 65 tahun. Ras Afro-Amerika memiliki risiko lebih tinggi daripada ras Kaukasia untuk terkena kanker prostat. Sedangkan ras Asia yang tinggal di benua Asia memiliki risiko paling rendah. Kemudian riwayat keluarga/genetic, seorang pria dengan anggota keluarga terdekatnya terkena kanker prostat memiliki resiko terkena kanker prostat dua kali lebih besar daripada yang tidak. Risiko ini akan meningkat bila anggota keluarganya tersebut didiagnosa kanker prostat pada usia lebih muda kurang dari 55 tahun. Juga bagi yang tinggal di Amerika risiko terkena kanker prostat adalah 17%, sedangkan yang tinggal di dataran Cina risiko sebesar 2%. Tetapi bila pria Asia beralih kebudayaan barat, risikonya akan meningkat.
Dan terakhir, perubahan prostat tertentu yaitu pria dengan prostatic intraepithelial neoplasia (PIN) juga akan meningkat risikonya terkena kanker prostat (Edward, 2016).
17
2.3.4 Patogenesis
Diduga adanya perubahan endokrin pada usia lanjut merupakan penyebab kelainan ini. Sel epitel yang neoplastik , seperti dengan bentuk normal, memiliki reseptor steroid (androgen dan estrogen) yang berpengaruh terhadap hormon -hormon itu. Androgen diperlukan untuk mempertahankan epitel prostat yang kemudian diubah oleh zat -zat yang belum dikenal (Wiwin et al., 2015).
2.3.5 Diagnosa
Kanker prostat stadium awal hampir selalu tanpa gejala. Kecurigaan akan meningkat dengan adanya gejala lain seperti: nyeri tulang, fraktur patologis ataupun penekanan sumsum tulang. Untuk itu dianjurkan pemeriksaan PSA usia 50 tahun, sedangkan yang mempunyai riwayat keluarga dianjurkan untuk pemeriksaan PSA lebih awal yaitu 40 tahun. Pemeriksaan utama dalam menegakkan kanker prostat adalah anamnesis perjalanan penyakit, pemeriksaan colok dubur, PSA serum serta ultrasonografi transrektal/transabdominal (Amirul, 2010). Pemeriksaan colok dubur, kebanyakan kanker prostat terletak di zona perifer prostat dan dapat dideteksi dengan colok dubur jika volumenya sudah >
0.2 ml. Jika terdapat kecurigaan dari colok dubur berupa: nodul keras, asimetrik, berbenjol-benjol, maka kecurigaan tersebut dapat menjadi indikasi biopsi prostat.
Delapan belas persen dari seluruh penderita kanker prostat terdeteksi hanya dari colok dubur saja, dibandingkan dengan kadar PSA. Penderita dengan kecurigaan pada colok dubur dengan disertai kadar PSA > 2ng/ml mempunyai nilai prediksi 5-30%. Pemeriksaan kadar prostate specific antigen (PSA) adalah serine-kalikrein protease yang hampir seluruhnya diproduksi oleh sel epitel prostat. Pada prakteknya PSA adalah organ spesifik namun bukan kanker spesifik. Maka itu peningkatan kadar PSA juga dijumpai pada BPH, prostatitis, dan keadaan non-maligna lainnya. Kadar PSA secara tunggal adalah variabel yang paling bermakna dibandingkan colok dubur atau TRUS. Sampai saat ini belum ada persetujuan
18
(Amirul, 2010). Kemudian Transrectal ultrasonography (TRUS) dan biopi prostat adalah gambaran klasik adanya zona peripheral prostat yang tidak akan selalu terlihat (Laksmi dan Imelda, 2012). Gray-scale dari TRUS tidak dapat mendeteksi area kanker prostat secara adekuat. Maka itu biopsi sistematis tidak perlu digantikan dengan biopsi area yang dicurigai. Namun biopsi daerah yang dicurigai sebagai tambahan dapat menjadi informasi yang berguna (Amirul, 2010).
2.3.6 Tatalaksana
Tindakan yang dilakukan terhadap pasien kanker prostat tergantung pada stadium, umur harapan hidup, dan derajat diferensiasi. Pertama dilakukan observasi ditujukan untuk pasien dalam stadium T1 dengan umur harapan hidup kurang dari 10 tahun. Lalu prostatektomi radikal ditujukan untuk pasien yang berada dalam stadium T1-2 tindakan ini berupa pengangkatan kelenjar prostat bersama dengan vesikula seminalis. Beberapa penyulitnya antara lain perdarahan, disfungsi ereksi, dan inkontinensia. Kemudian radiasi ditujukan untuk pasien tua atau pasien dengan tumor loko-invasif dan tumor yang telah mengalami metastasis,pemberian radiasi eksterna biasanya didahului dengan limfadenektomi.
Dan yang terakhir dengan terapi hormonal jenis obat untuk terapi hormonal antara lain estrogen (anti androgen), LHRH agonis (kompetisi dengan LHRH), antiandrogen non steroid (menghambat sintesis dan aktivitas androgen), dan blokade androgen total (menghilangkan sumber androgen dari testis maupun dari kelenjar suprasternal) (Dian, 2011).
2.3.7 Prognosis
Indikator yang paling penting untuk prognosis kanker prostat adalah sistem Gleason, tingkat volume tumor, dan adanya penetrasi kapsul atau positif marjin pada saat prostatektomi. HGPIN dan grading Gleason 4 dan 5 berkaitan dengan temuan patologi yang merugikan pasien. Sebaliknya LGPIN bisa juga menyebabkan prognosis yang buruk. Lebih dari 90% pasien dengan lesi stadium T1 atau T2 bertahan hidup 10 tahun atau lebih (Dian, 2010).
19
2.3.8 Patologi Anatomi
Gambaran makroskopis yang ditemukan berbentuk solid, warnanya mulai dari putih-abu abu ke kuning-orange. Gambaran mikroskopisnya terdapat architectural features; Susunan kelenjarnya tidak beraturan dan ada juga pertumbuhan ilfiltratif.
Biasanya kelenjarnya kecil dengan perbatasan luminal yang lurus. Fitur cytologic nya memiliki sitoplasma amophilic yang pucat dan tidak ada pigmen lipofucin.
Fitur nuclear nya terdapat pembesaran, hyperchromasia, nukleolus menonjolnya dapat berubah-ubah. Mitosis dan apoptosis tubuh dapat hadir. Pada fitur intraluminalnya kristaloid, mucin biru,dan keluarnya amorf merah muda. Fitur spesifik kanker; mucinous fibroplasia; pembentukan glomeruloid; invasi perineural (Ming dan Cristina, 2007).
2.4 PROSTATE SPESIFIC ANTIGEN (PSA)
Untuk deteksi awal kanker prostate, pada pria berusia lebih dari 50 tahun dianjurkan melakukan pemeriksaan PSA total (Prostate Specific Antigen) dan pemeriksaan Digital Rectal Examination atau DRE setiap setahun sekali. Bila ada keluarga yang menderita kanker prostat, skrining dianjurkan sejak usia 40 tahun (Erlangga, 2012). Pada tahun 1986, PSA telah disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat sebagai marker untuk monitoring pasien kanker kelenjar prostat, dan pada tahun 1994, PSA telah disahkan sebagai marker untuk mendeteksi kanker. Selain itu, PSA merupakan suatu tumor marker yang paling penting saat ini untuk deteksi dini dan menentukan stadium. Pengukuran kadar PSA dapat dipakai untuk meramalkan prognosis dan memantau hasil terapi dari kanker kelenjar prostat. PSA memiliki struktur dan fungsi yang sama dengan kelenjar kallikrein, sehingga gen PSA dikode sebagai KLK3 (kallikrein related peptidase 3) dan lokasi gen pada lengan panjang kromosom 19 (19q13.2-q13.4).
Menurut hasil penelitian, seseorang yang memiliki genotip GG beresiko 5 – 7 kali lipat menderita kanker kelenjar prostat. Polymorphism 158A (rs266882) dan
G-20
dengan alpha-2-makroglobulin (A2M-PSA), dengan berat molekul 780 kDa, (c) PSA yang terikat dengan alpha-anti-chymotrypsin (ACT), dengan berat molekul 90 kDa. PSA bebas memiliki berat molekul yang rendah, sehingga dapat dikeluarkan melalui ginjal. A2M dan ACT merupakan suatu inhibitor protease ekstraseluler yang disintesis oleh hati. Selain itu, dalam jumlah sedikit PSA juga terikat dengan alpha-1-antitrypsin dan interalpha trypsin inhibitor, namun tidak terlalu memberikan pengaruh klinis yang besar (Nash dan Melezinel, 2010).
Kelenjar prostat maupun cairan semen banyak mengandung PSA (Chodijah, 2011). PSA adalah tumor marker yang paling penting saat ini untuk deteksi dini, menentukan staging, dan monitoring pada penderita kanker prostat (Budi, 2010).
PSA terdiri dari protein yang diproduksi oleh sel prostat untuk menjaga viskositas cairan semen (Erlangga, 2012). Kadar serum PSA adalah indikator yang baik untuk proliferasi kelenjar prostate dan dapat digunakan sebagai penanda untuk memeriksa perkembangan kanker prostate (Ingle et al., 2013). Oleh karena itu, PSA saja tidak dapat digunakan sebagai biomarker untuk deteksi kanker.
Peningkatan kadar PSA tidak menunjukkan kanker tetapi semakin tinggi tingkat PSA, semakin banyak kesempatan untuk terkena kanker prostat (Shahana et al., 2017). PSA pertama dideteksi di cairan vesikula seminalis pada tahun 1971. PSA diproduksi baik dalam sel prostat yang sehat maupun pada sel maligna prostat dengan jumlah yang lebih banyak (Erlangga, 2013).
Dari hasil penelitian kadar PSA dalam deteksi dini karsinoma prostat pada pria yang berusia> 50 tahun ditemukan bahwa sensitivitas PSA adalah 75% dan spesifisitasnya 87%. Diamati juga dalam suatu penelitian bahwa test tahunan PSA dan DRE pada semua pria diatas 50 tahun dan diikutin dengan pengobatan yang tepat telah menurunkan jumlah kematian yang disebabkan oleh kanker prostat.
Namun disarankan agar hasil PSA harus ditafsirkan dengan hati-hati karena dapat meningkat pada kasus prostatitis, infark prostat, pembentukan lithiasis, dan abses (Ingel et al., 2013). Serum PSA dapat dipakai untuk meramalkan perjalanan penyakit dari BPH, dalam hal ini jika kadar PSA tinggi berarti: (a) pertumbuhan volume prostat lebih cepat, (b) keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek, dan (c) lebih mudah terjadinya retensi urine akut (Rizki, 2010).
21
PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer (Rizki, 2010). Specific Prostat Spesifik Antigen (PSA) merupakan suatu glikoprotein rantai tunggal dengan 237 asam amino dan berat molekul sekitar 33 kDa. Merupakan suatu serine protease yang berperan sebagai enzim proteolitik.
Memiliki 5 ikatan disulfida dan sekitar 8% merupakan karbohidrat yang memiliki bentuk rantai samping N-linked oligosaccharida. Pada plasma semilunaris PSA dapat menunjukkan 5 bentuk isoform, tetapi hanya 2 bentuk yang secara biologis dalam bentuk aktif. Antigen ini hanya dihasilkan oleh epitel saluran kelenjar prostat dan dikeluarkan bersamaan dengan cairan semen dalam jumlah yang banyak. PSA menjaga viskositas cairan semen melalui proses hidrolisis semenogelin sehingga cairan semen menjadi cair. Antigen ini pertama sekali dideteksi di cairan vesikula seminalis pada tahun 1971 oleh Hara dkk, dan berhasil diisolasi dari jaringan prostat pada tahun 1979 oleh Wang dkk. PSA diproduksi baik dalam sel kelenjar prostat yang sehat maupun pada sel malignan kelenjar prostat dengan jumlah yang lebih banyak. Selain dapat ditemukan pada cairan vesikula seminalis, PSA juga dapat keluar dan ditemukan di dalam serum darah (Nash dan Melezinek, 2010).
Prostat Spesifik Antigen memiliki nilai normal ≤ 4ng/ml. Kadar PSA pada plasma seminularis sekitar 0,2 – 5 mg/ml. Kadar ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan pada serum darah, yang normalnya 0,2 – 4 ng/ml. Telah dilakukan penyempurnaan dalam interpretasi nilai PSA yaitu PSA velocity atau perubahan laju nilai PSA, densitas PSA dan nilai rata – rata PSA, yang nilainya bergantung kepada umur penderita. Pasien yang memiliki kadar PSA lebih dari 10 ng/mL biasanya menderita kanker kelenjar prostat. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa hanya 2% laki – laki yang menderita BPH yang memiliki kadar PSA lebih dari 10 ng/mL. Sedangkan dari 103 pasien dengan semua stadium kanker prostat, 44% memiliki kadar PSA lebih dari 10 ng/mL . Kadar PSA meningkat pada hipertropi prostat hingga rata – rata 3,4 ng/ml. Kadar PSA meningkat pada kanker
22 memantau hasil terapi dari kanker prostat (Wiwin et al., 2015). Dengan demikian jelaslah bahwa ada hubungan antara peningkatan PSA dengan stadium kanker prostat (Deters, 2016).
2.5 HUBUNGAN PSA (PROSTATE SPESIFIC ANTIGEN) DENGAN BPH DAN ADENOKARSINOMA PROSTAT
Pada penelitian tahun 2015 didapatkan 30 pasien dengan 21 pasien
Pada penelitian tahun 2015 didapatkan 30 pasien dengan 21 pasien