KETUA RAPAT:
F- PDIP (INA AMMANIA): Terima kasih
Wabillahittaufiq Wal Hidayah.
Wassalamu'alaikum Warahmattullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Wa'alaikumussalam Warahmattullahi Wabarakatuh.
Terima kasih Bu Diah dari Fraksi PDIP.
Kita kedepan Ibu Ina Ammania dari PDIP juga, Jatim VII, Pacitan dan kawan-kawannya.
Silakan.
F-PDIP (INA AMMANIA): Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmattullahi Wabarakatuh.
Yang terhormat Pimpinan dan rekan-rekan Komisi VIII, Pak Menteri beserta jajarannya,
Ketika bencana datang Kemensos yang dicari pasti, karena kemarin ada wabah Covid dengan adanya PSBB tidak bisa bekerja diluar rumah bantuan yang bisa diterima masyarakat pasti dari Kemensos karena langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. Karena Kemensos dengan perangkat yang dimiliki dapat langsung bekerja seperti pendamping PKH, TKSK, TAGANA dan banyak lagi penyuluh-penyuluh yang didaerah.
Namun saya perlu garis bawahi Pak Menteri tidak dimaksimumkan perangkat yang dimiliki oleh Kemensos ini karena ketika carut marut penerimaan di daerah, TKSK pendamping semuanya kemana? Padahal mereka sudah mempunyai data satu pendamping KPM itu 250, TKSK juga. Tapi ketika di kelurahan-kelurahan, ketika saya di Dapil ya kita cari itu mereka bukan tugas saya, bukan tugas saya, mungkin ini sebagai note dan catatan apapun yang direkrut sebagai pendamping mereka harus mempunyai jiwa
sosial. Harus itu,jadi kreterianya harus mempunyai jiwa sosial bukan orang yang ditaruh disana sehingga cuma memenuhi kuota.
Tadi sama dengan kebatinan saya dengan Pak Ketua bahwa data kemiskinan bisa tuntas kalau bisa satu tahun atau dua tahun Pak saya juga tidak tahu ini Covid ini sampai kapan, sehingga tadi yang saya sudah utarakan tidak ada carut marutnya didaerah.
Saya sama pendapat dengan Pak Nurhasan sudah tidak ada lagi, Pak Nurhasan ketika Pak lurahnya itu bermain kita mengawalnya sulit Pak. Karena begini, didepan kalau mau mengasih sembako seperti amal saja tidak usah ditunggu sampai selesai pembagian, taruh saja nanti kita yang ini. Ketika itu kamu jual saya beli, saya tungguin Pak sampai magrib, ternyata betul yang depan itu yang kira-kira cuma 25 orang itu memang yang layak mendapatkannya, apa kakinya buntung ya pokoknya miskin banget. Ketika nanti jam 2, jam berapa itu Pakai motor triel, Pakai mobil, Pakai apa, terus saya bilang Pak ini bisa tidak saya ambil lagi semua, oh tidak bisa Bu, data kan sudah masuk ke Kemensos kemarin, berarti Ibu yang korupsi dong, karena lho bukan, jadi berdebat kusir disana.
Karena saya tidak mau ribut karena ada Covid dan kita semua juga menghargai usaha dari sekelilingnya sudah datang saya serahkan. Cuma ini sebagai catatan Pak, mungkin nanti dalam ferivikasi data dan validasi data yang benar-benar Pak. Sakit juga Pak kalau umpama yang datang Pakai motor, motornya mungkin jelek tidak.
Mengenai BPMT Pak, tadi sudah disebutkan yang saya baca disini, bahwa dinaikkan dari 150 menjadi 200. Di Ngawi Pak mustinya meningkat telornya 20, ayamnya satu, berasnya 10 itu malah turun Pak. Jadi telornya cuma 8 saya hitung, jadi saya rendem, saya rendem saya datang, nah suatu ketika saya tanya, saya tanya Pak kapan ini disalurkan? O nanti ibu saya beri tahu, giliran saya datang sudah tiga hari yang lalu disalurkan, jadi kaya kucing-kucingan.
Akhirnya saya bukan Dapil Jakarta saya ke Setya Budi pada tanggal 10 kemarin saya foto ada Pak fotonya itu saya cek semua memang saya nota pas ya paling tidak kurang 7.000 masih 192, 189, masih relevanlah.
Maksud saya, minta tolong dari Bapak-Bapak yang ada didepan saya ini, peningkatan SDM-SDMnya ketika memberi penugasan kepada Dinas yang didaerah. Karena Dinas saya tadi sesuai apa setuju dengan teman saya tapi sudah tidak ada, Dinas ini semaunya Pak karena saya tidak tegak lurus dengan Menteri, jadi saya tidak mau ngasih data Ibu. Lho bukan begitu Pak, BPMT dan TKSK itu saya yang mengalokasikan karena saya DPR RI yang Komisi VIII mengawal. O tidak bisa yang saya apa, yang saya patuhi adalah Bupati, jadi akhirnya saya sudah lapor dengan Pak Sekjen, dengan kemarin Pak Mirza Pak ya saya minta datanya yang kekeh ini tidak mau menemui saya Pak. Saya minta datanya untuk pembagian BPMT, sama ya, nah saya tadi setuju Pak dengan SKB, dengan Kepala Daerah, validasi data dan
verifikasi data karena kalau umpama ada SKB ada gayung bersambutnya didaerah itu tidak disalahkan Kemensos saja, atau disalahkan siapa yang Pak Mirza atau yang lainnya, tetapi sama-sama bahwa disitu ada MoU, sama juga dengan Kemendes. Jadi tidak tumpang tindihnya didaerah mereka saling mengawasi.
Ini tadi yang saya maklumi bahwa realisasi data semua di bawah ya Pak ya, jadi mungkin tadi dengan pendamping PKH, TKSK mungkin dengan penambahan anggaran ini kembali lagi seperti normal, new normal sehingga saya bisa memberikan pengawasan lebih apa namanya? Lebih nyaman lagi tidak seperti kemarin semua kucing-kucingan Pak. Mana ini pendamping-pendamping semua ngumpet tiarap?
Jadi itu, yang satu lagi Pak mengenai kartu untuk BPMT disini kan Rp.28 triliun kalau tidak salah, karena tidak ada halamannya saya bingung ini. Tadi dimana ya halamannya?
Ada aduh halamannya tidak ada Pak, tadi ada yang saya baca untuk kartu itu, itu yang bayar dari Kemensos atau banknya? Karena kan seperti kartu kredit saya karena kemarin mengawasi seharian di setya budi sehingga saya tahu bahwa itu ada tulisannya juga disitu ada BNI. Itu untuk kartu kreditlah kalau saya bilang, ATM atau apa itu dari Kemensos karena disini ada anggaran apa dari BNI?
Terus ini tidak ada halamanya ini bingung juga saya ini. KETUA RAPAT:
Bisa dipersingkat Bu? F-PDIP (INA AMMANIA):
Saya pikir sedikit lagi Pak. KETUA RAPAT:
Ya kalau panjang tidak diperpanjang namanya Bu. F-PDIP (INA AMMANIA):
Sebentar-sebentar ini, ini kube-kube.
Saya mohon ini Pak dengan new normal, dengan penambahan anggaran, saya mohon pendamping kube satu yang berjiwa sosial.
Kedua, yang punya jiwa wirausaha jadi bisa mengawal. Kalau punya jiwa wirausaha dan saya kemarin di Dapil Pak selesai Pak jualan mie Pak, karena semua orang saya kasih ajar bagaimana jualnya mungkin Bapak kalau bisa datang ke Dapil saya ada grobak-grobak yang saya ajari untuk mereka
berdagang. Nah maksudnya untuk pendamping kube ini jangan ngasal, kuota oh ini temannya, oh ini saudaranya, oh ini pernah teman kecil SMP pernah ini langsung ditaruh disitu sementara dia tidak bisa kerja nantinya menjadi beban dari Kementerian Sosial. Itu yang saya mohon dipertimbangkan pendamping kube dan PKH.
Gitu saja Pak cuma sedikit nambahnya. Wabillahi Taufiq Wal Hidayah.
Wassalamu'alaikum Warahmattullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Wa'alaikumussalam Warahmattullahi Wabarakatuh
Terima kasih Ibu Ina Jatim VII dari Fraksi PDI Perjuangan, saya kira satu Partai sama Pak Menteri. Dan saya yakin Pak Menteri tidak ngusulin telor, biasanya yang pinter ngurusi telor itu ya ibu-ibu biasanya. Ya jadi harap maklum saja Pak.
Silakan Pak Kyai Bukhori Yusuf dari Fraksi PKS Dapil Jateng I. F-PKS (K.H. BUKHORI YUSUF, Lc., MA.):
Terima kasih Pak Ketua.
Ini saya sahabatnya Pak Menteri jadi sudah paham beliau, iya. Bapak/Ibu sekalian yang Saya hormati,
Pimpinan Komisi VIII dan Anggota yang Saya hormati, Pak Menteri dan seluruh jajaran yang Saya hormati,
Pertama saya kira saya perlu memberikan apresiasi karena juga kerja keras itu kalau dalam kaedah Islam itu Pak man lam yus khurinnas lam
yaskhurilla, kalau anda tidak bisa berterima kasih dengan manusia lebih sulit
lagi anda berterima kasih kepada Tuhan.
Jadi bagaimanapun juga yang diupayakan oleh Pak Menteri dan seluruh jajaran ini juga perlu kita apresiasi apalagi tadi merupakan Kementerian yang memiliki pagu tertinggi dan juara satu sebagai kementerian yang bisa merealisasikan terhadap anggarannya. Terima kasih sekali saya juga berikan apresiasi.
Yang kedua meski demikian Pak ini juga banyak catatan-catatan ini sebelum saya masuk kepada anggaran. Memang yang paling menjadi krusial dari awal sampai akhir dan bahkan sejak saya masuk di Komisi VIII sampai hari ini adalah terkait di Kementerian Sosial itu masalah pendataan. Saya kira memang variabelnya sangat banyak, sangat kompleks dan persoalannya juga
bermacam-macam, berbeda daerah berbeda wilayah, berbeda-beda. Tidak bisa digeneralisasi, nah oleh karena itu saya setuju memang tahun ini bisa dijadikan sebagai tahun pendataan Pak.
Saya mengusulkan kepada Ketua Komisi VIII, sebaiknya perlu ada rapat bersama dengan kementerian terkait Pak. Kalau kemarin kita sudah rapat bersama dengan eselon I nya, disitu ada Kementerian Sosial, ada Kementerian Desa, kemudian ada Kementerian Dalam Negeri, maka saya kira saya usulkan supaya rapat bersama dari menteri terkait dalam rangka terhadap penyelesaian tuntas terhadap pendataan ini. tetapi sebelum itu saya mengusulkan kepada Pak Ketua Panja Ferivali supaya Ketua Panja Ferivali ini oh bukan Pak Ace Pak Ace dan Pak Moekhlaslah berdua, saya juga termasuk anggota, maksud saya Panja harus kemudian juga memberikan satu alternative, bagaimana system pola alur yang kemudian bisa menyelesaikan berbagai persoalan tadi. Walaupun saya yakin alur seperti apapun ketika tidak dibangun dengan mental kenegarawanan terus terang tidak selesai.
Terus terang Pak memang yang paling mendasar utama bukan sistem di pusat, dan juga bukan persoalan person, tetapi memang mentalitas, mental steakholder yang ada yang memiliki kewenangan-kewenangan terkait itu memang harus dibangun, yaitu mental negawaran. Maksud saya apa?
Maksud saya dimana disitu ada makhluk yang namanya manusia, dan memenuhi kreteria seorang miskin maka seharusnya mata kita, kita tutup, telinga kita tutup masuk kedalam data, jangan kemudian diperdalam oh ini fulan, ini kelompok fulan, oh ini dari partai anu, ini menjadi problem itu problem yang paling mendasar menurut saya. Jadi saya kira mentality harus juga kemudian dibangun, sekaligus ini merupakan suatu rekomendasi kepada tim Ferivali atau Panja Ferivali. Nah itu terkait dengan masalah pendataan.
Kemudian yang kedua karena data inilah Pak saya yakin Pak Menteri sudah sekerasnya, tetapi dalam survey terkait dengan masalah kepuasan public terhadap masalah bantuan sosial, lebih khusus lagi penanganan pemerintah terhadap Covid ini sangat rendah. Di survey terakhir sampai tanggal 27 Mei 2020 oleh LKSP itu ada 89% yang menyatakan tidak puas. Dan diantara variable 89% itu adalah bantuan sosial 10,35%, dan kalau kita runut walaupun ini menunjukkan satu nilai kebaikan, karena sebelumnya 6 Mei 2020 itu di dua survey survey MSRC, maupun survey indikator itu ketidakpuasan terhadap bantuan sosial itu sampai mencapai 60% hingga 50%. Artinya Bapak sudah bekerja sebenarnya, berarti itu adalah awal Mei kondisinya demikian, tetapi kemudian ada perbaikan, tapi kemudian menjelang akhirpun masih ada. Nah tadi persoalannya memang persoalan mentalitas itu yang kemudian belum disentuh lebih mendasar ya.
Jadi oleh karena itu survey ini juga perlu menjadi salah satu alat untuk kita memperbaiki kedepan. Lha saya tadi setuju dengan teman-teman sebelumnya karena itu memang perlu ada semacam satu FGD Pak, FGD pendalaman nanti kemudian antara Komisi VIII dengan Kementerian Sosial,
untuk kemudian merumuskan bagaimana sih menyelesaikan mendiskusikan, mengurai persoalan-persoalan terkait dengan masalah kemiskinan tadi.
Saya ingin memberikan gambaran Pak jadi, saya juga termasuk Anggota Pak daripada Panja Omny Buslow dan cipta kerja. Saya bisa merasakan betapa sesungguhnya kalau kemudian kurang lebih sekitar yang terdampak inikan luar biasa besar. Dan kalau kemudian yang terdampak masyarakat ini hingga 97% itu artinya yang terdampak sekali cuma hanya 3% dari 257 juta. Artinya ada sejumlah besar meskipun kelas dampaknya berbeda-beda, lah tetapi yang paling besar terdampaknya itu adalah yaitu masyarakat bawah yang dalam berbagai macam survey itu untuk tingkat pendidikan SMA sampai SD atau tidak sekolah. Ini mereka termasuk juga dalam bantuan sosial 30% mereka itu kemudian yang terdampak karena kemudian tidak puas terhadap masalah bantuan sosial yang carut-marut dibawah tadi itu.
Oleh karena itu Pak saya melihat kedepan ini, kalau kita lihat misalnya kemarin kami sudah membahas tentang BAB I, BAB II atau BAB III khususnya terkait dengan masalah mendorong UMKM.
Nah UMKM sebenarnya kemarin saya juga sedang apa namanya menerima usulan dan juga audiensi dengan kelompok-kelompok UMKM, khususnya kecil dan mikro, mikro dan juga kemudian ultra mikro, nah saya kira kita harus berani bagaimana kemudian mengevaluasi kube kita?
Saya melihat kube kita ini menurut saya masih konstan ya, kan semestinya kube itu dalam rangka untuk meningkatkan kelas yang mikro atau ultra mikro menjadi mikro. Tapi kemudian akhirnya prakteknya tidak demikian, prakteknya bahwa kube ini kemudian bagi-bagi uang. Nah saya pikir ini memang harus kemudian nanti disinkronkan, bahwa kube ini memang harus merupakan atau mencerminkan dari ultra mikro yang merupakan usaha-usaha kecil Pak, usaha-usaha ibu-ibu, Bapak-Bapak yang kemudian tukang bakso dipinggir jalan itu kemudian yang semestinya apa namanya terbantu. Kalau itu tersentuh, saya punya satu harapan besar bahwa pertumbuhan ekonomi kita untuk 2021 bahwa sampai akhir 2000 periode Pak Jokowi saya optimis diatas 5%, tetapi kalau itu tidak disentuh akan berat. Kenapa demikian? Karena catatannya menarik bahwa sesungguhnya penyumbang terbesar daripada PDB negara ini adalah 60 juta UMKM itu, yang penyumbangnya 60% dan 97% daripada tenaga kerja yang nyerap adalah UMKM.
Nah kalau kemudian ini tidak diserap, nah saya melihat ini perlu ada in line banyak program-program Kementerian Sosial khususnya terkait dengan kube dan teman-temannya ini khususnya terkait dengan peningkatan pemberdayaan UMKM itu saya kira perlu diselaraskan kedepan.
Makanya sekali lagi saya setuju tadi usulan perlu adanya suatu FGD untuk pendalaman dalam konteks ini, termasuk kemudian juga saya setuju Pak Menteri memang perlu perluasan KPM terhadap PKH, BLT, BST saya kira masih perlu. Karena ini sampai akhir tahun dan bahkan sampai awal
tahun 2021 kami melihat atau diberbagai macam para pengamat ekonomi dan Pak Menteri saya kira lebih tahu sangat tahu, itu kondisi kita juga masih kondisi yang sangat berat, bahkan kemudian apa namanya peningkatan atau pertumbuhan ekonomi kita BI juga hanya berani sampai akhir 2020 dia 0,21 atau 0,2 tidak sampai 1% tidak minus itu sudah untung. Kalau Pak Menteri tadi menyinggung bahwa kita anggaran kita sudah minus 3,8% ini artinya sebenarnya sudah masuk ke dalam waktu warning yang sebenarnya kalau masuk kedalam tahapan awal terhadap apa yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 tadi itu.
Jadi yang kemudian berikutnya saya setuju Pak. KETUA RAPAT:
Bisa dipersingkat Pak.
F-PKS (K.H. BUKHORI YUSUF, Lc., MA.): Iya baik.
Termasuk kemudian pendamping nah ini juga diperluas Pak, karena memang pendamping selain yang disampaikan Bu Ina itu juga saya menemukan memang terlalu berat juga, pendamping satu orang menangani 300 itu juga suatu 250 itu suatu yang sangat berat ini. lalu kemudian yang tarakhir ini Pak Menteri terima kasih saya kemarin membaca satu laporan dari BPK ini Pak. Laporan dari BPK ini ada temuan yang cukup besar menurut saya, kalau saya total kurang lebih sekitar 1,1 triliun anggaran pada semester II, laporan semester II tahun 2019, yang dinyatakan oleh BPK dianggap banyak berbagai macam ini dianggap tidak sesuai.
Nah saya kira ini juga perlu perhatian bagi kita semuanya karena baiknya Pak Menteri adalah baiknya komisi kita semua, dan kemudian ketika ada kekurangan juga kita semuanya.
Saya kira itu Pak jadi intinya saya menyetujui Pak dengan apa namanya penambahan-penambahan usulan penambahan anggaran tadi, dan saya berpesan setuju dengan yang disampaikan oleh bu Endang, bu Endang memang perlu ada pendalaman terkait daripada revitalisasi ini supaya kita lebih tahu petanya yang lebih jelas terkait penggunaan dari dana yang cukup besar, karena jumlah kenaikannya itu kurang lebih Rp.29,8 triliun. ini suatu anggaran yang sangat spektakuler, tapi tentu saya sebagai Anggota Komisi VIII justru semakin bangga, karena ketika komisi Kementerian Sosial ini tidak saja kementerian yang menyantuni tapi sangat strategis di khususnya disaat-saat sekarang tidak ada persoalan dan tidak fokus dalam pekerjaan pemerintah hari ini, kecuali dia berkenaan dengan masalah Kementerian Sosial.
Wassalamu'alaikum Warahmattullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Wa'alaikumussalam Warahmattullahi Wabarakatuh.
Saya kasih tahu Pak Kyai Bukhori bicaranya 10 menit makanya saya ingatkan tadi Pak.
Lanjut Bu Selly dari PDIP, Dapil Jabar VIII. F-PDIP (SELLY ANDRIANY GANTINA, A.Md):
Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmattullahi Wabarakatuh. Oom swastyastu namo budaya.
Salam kebajikan.
Yang Saya hormati dan Saya banggakan kawan-kawan Pimpinan dan Anggota Komisi VIII,
Bapak Menteri Sosial beserta jajaran,
Terima kasih banyak atas pemaparannya apresiasi saya sampaikan kepada seluruh jajaran Kementerian Sosial dalam rangka Covid 19 sudah memberikan yang terbaik untuk masyarakat dan rakyat indonesia. Bagaimanapun juga Covid 19 ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bisa lebih baik dalam rangka memberikan program-program yang tepat sasaran dalam langkah yang cepat.
Pak Menteri dari kejadian Covid 19 ini bukan hanya kita tetapi ada tiga komponen yang menjadi catatan saya, pertama Covid 19, paska Covid 19 membuat kita pertama lebih fokus untuk melakukan revitalisasi fasilitas kesehatan dan pola hidup sehat. Kemudian yang kedua yang menjadi catatan saya jaring pengaman sosial yang tepat guna, yang ketiga adalah masalah stimulus ekonomi berbasis titik ekonomi gotong royong, semuanya itu adanya di Kementerian Sosial. Maka sudah sangat tepat kalau misalnya kita juga bersama-sama bukan misalnya tapi kita mempunyai keinginan yang sama dan menjadikan catatan kita dan diimbangi pula dengan langkah yang cepat, langkah yang tepat, data yang tepat kemudian penganggaran yang tepat dan bersinergi dengan instansi yang tepat. Kalau itu semua bisa dilakukan in sya allah semua program-program Kementerian Sosial bisa berjalan seperti yang kita harapkan.
Khusus mengenai DTKS sudah kita bahas bersama kemarin di langsung oleh Pak Sekjen dan mungkin sudah dilaporkan kepada Pak Menteri dan sama seperti yang disampaikan oleh rekan-rekan dari Komisi VIII saya memahami perlu ada peningkatan keseriusan kita untuk betul-betul mengolah data DTKS tadi menjadi data terpadu, dan seperti yang
disampaikan pula oleh Deputi Menpan RB, kita ini beruntung Kementerian Sosial dijadikan wali data dari semua kementerian. Kemudian didalamnya ada BPS sebagai suporting data-data sekunder yang menjadi pembina terhadap wali data tadi.
Kemudian ada Kementerian Dukcapil untuk memverifikasi dan memvalidasi mempadupadan NIK terkait dengan para penerima data DTKS. Diluar itu juga ada Kemendes yang sudah menyiapkan sarana prasarana untuk mensuport kegiatan pendataan, dan yang paling terakhir adalah perbankan, dimana perbankan juga menjadi bagian untuk memferivali terkait dengan rekening para penerima.
Nah ini semua sebetulnya bisa bersinergi karena Kementerian Sosial memiliki mitra yang sangat kompeten didaerah, yaitu Dinas Sosial. Tetapi seperti kita pahami bahwa Kementerian Sosial mempunyai sumber daya yang sangat mumpuni, tetapi didaerah terkadang birokrasi Dinas Sosial ini juga bukan sesuatu yang gampang untuk kita lakukan koordinasi. Sehingga kalau saran saya Dinas Sosial ini bukan bawahan tetapi mitra kita untuk sama-sama memperbaiki kondisi yang memang sudah terjadi saat ini terkait dengan DTKS.
Maka saya juga setuju apabila Pak Menteri tadi berbicara ada penambahan untuk Puskesos dan SLRT karena tadi Pak, pada saat penambahan Puskesos, kemudian bersinergi dan selaras dengan adanya program SLRT di kabupaten/kota maka yang namanya DTKS ini juga bisa lebih sempurna. DTKS yang ideal di tahun 2024 itu mungkin bisa 80% bisa kita pergunakan, tetapi yang tadi harus ada suport anggaran yang tidak kecil dan memang harus kita bahas bersama-sama.
Saya setuju Pimpinan untuk membicarakan lebih detailnya lagi kita lakukan FGD khusus mengenai sinkronisasi DTKS, kemudian sistem apa yang akan kita bangun, tata kelola seperti apa, dan apa yang harus kita golkan untuk terkait dengan data DTKS?
Kemudian Pimpinan saya juga mensuport apa yang disampaikan oleh Pak Menteri bahwa Kementerian Sosial ini bukan hanya berbicara mengenai data saja, tetapi ada korelasi yang menyangkut dengan ekonomi diawal tadi saya sudah sampaikan bahwa masalah stimulus ekonomi berbasis ekonomi