• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PELAKSANAAN

II- 7 2.1.4 PDRB Per Kapita

Perkembangan nilai PDRB perkapita menunjukkan proporsi nilai tambah yang dihasilkan dalam satu tahun dibagi jumlah penduduk. Data BPS menunjukkan bahwa PDRB perkapita DKI Jakarta berdasarkan harga konstan tahun 2010 meningkat dari Rp.142,91 Juta pada tahun 2015 menjadi Rp157,68 juta pada tahun 2017. Sedangkan untuk PDRB perkapita DKI Jakarta berdasarkan harga berlaku dari Rp.195,43 juta pada tahun 2015 menjadi Rp.232,34 juta pada tahun 2017. PDRB per Kapita Provinsi DKI Jakarta memiliki tren yang cenderung meningkat. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat Provinsi DKI Jakarta sebagaimana terlihat pada tabel berikut.

Tabel 2.3 Nilai PDRB Perkapita Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015 s.d. 2017

No. Uraian Satuan 2015 2016 2017

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku Juta Rupiah 195,43 211,78 232,34 2. PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Konstan

Tahun 2010

Juta Rupiah 142,91 149,85 157,68

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta (2018)

2.1.5 Laju Inflasi

Laju inflasi DKI Jakarta dari tahun ke tahun berfluktuasi nilainya, karena sangat bergantung pada kondisi perekonomian, baik nasional maupun global. Apabila dibandingkan dengan inflasi nasional, inflasi Provinsi DKI Jakarta memiliki tren yang hampir sama. Hal tersebut menunjukkan tren kenaikan harga barang di Provinsi DKI Jakarta cukup dapat menggambarkan kenaikan harga barang secara nasional. Data terkini menunjukkan bahwa inflasi DKI Jakarta tahun 2017 adalah sebesar 3,72 persen dan inflasi nasional tahun 2017 adalah sebesar 3,61 persen. Rincian mengenai nilai inflasi DKI Jakarta sebagaimana dapat dillihat pada tabel berikut:

Tabel 2.4 Laju Inflasi Provinsi DKI Jakarta Tahun 2012 s.d. 20173 No. Uraian 2012 2013 2014 2015 2016 2017

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

1. Inflasi Nasional 4,3 8,38 8,36 3,35 3,02 3,61 2. Inflasi DKI Jakarta 4,52 8,00 8,95 3,30 2,37 3,72 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta

Laju inflasi Provinsi DKI Jakarta mengalami fluktuasi antara tahun 2012 hingga 2017. Inflasi terendah di Provinsi DKI Jakarta terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 2,37% dan tertinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 8,95%.

3 Ibid

II-8

Pada Bulan Juni 2018, harga-harga di DKI Jakarta tetap terkendali dengan laju inflasi sebesar 0,48 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata historis inflasi bulan Idul Fitri dalam tiga tahun terakhir, yaitu 0,69 persen (mtm). Terkendalinya inflasi DKI Jakarta juga tercermin dari pencapaian yang lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 0,59 persen (mtm). Dengan perkembangan ini, laju inflasi sejak awal tahun 2018 mencapai 1,90 persen (ytd) dan laju inflasi tahun ke tahun DKI Jakarta 3,31 persen (yoy). Stabilnya inflasi pada kelompok volatile food dan administered prices serta rendahnya inflasi kelompok inti mendukung terkendalinya inflasi pada bulan Juni 2018. Berbagai program TPID Provinsi DKI Jakarta dan koordinasi yang lebih baik lintas instansi dalam pengendalian harga, serta pembentukan ekspektasi positif masyarakat ikut berperan dalam menjaga kestabilan harga di Jakarta.

2.1.6 Investasi

Pada tahun 2017, pencapaian realisasi nilai investasi yang berasal dari PMA dan PMDN yaitu sejumlah Rp.108,6 triliun. Secara lebih rinci dapat disampaikan bahwa untuk nilai investasi yang berasal dari PMA berjumlah Rp.61,3 triliun sementara untuk nilai investasi yang berasal dari PMDN berjumlah Rp.47,3 triliun. Pencapaian nilai investasi tersebut meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2016 yang secara total berjumlah Rp.58,09 triliun yang terdiri dari PMA sejumlah Rp.45,87 triliun dan PMDN sejumlah Rp.12,21 triliun.

Selanjutnya berdasarkan publikasi BKPM Republik Indonesia, pada tahun 2017 jumlah proyek (PMDN/PMA) yang berada di DKI Jakarta yaitu sebanyak 6.980 dengan rincian 497 proyek PMDN dan 6.483 proyek PMA apabila dibandingkan dengan tahun 2016 mengalami penurunan yaitu sejumlah 7.214 dengan rincian 463 proyek PMDN dan 6751 proyek PMA.

2.1.7 Indeks Pembangunan Manusia

IPM merupakan indeks yang mengukur pencapaian keseluruhan pembangunan non fisik suatu daerah yang direpresentasikan oleh tiga dimensi, yakni umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kualitas hidup yang layak. Dengan pengukuran IPM ini, setidaknya ada 3 manfaat yang diperoleh, diantaranya adalah: i) IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk); ii) IPM dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara; dan iii) IPM juga dapat digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU).

Sejak tahun 2010 BPS telah menggunakan metode baru dalam penentuan IPM. Perubahan tersebut mencakup data yang digunakan dan metode perhitungan. Dengan mengganti angka melek huruf dengan rata-rata lama sekolah dan angka harapan lama

II-9

sekolah, dapat diperoleh gambaran yang lebih relevan dalam pendidikan dan perubahan yang terjadi. Sementara itu dari sisi pendapatan PNB per kapita menggantikan PDB per kapita karena lebih menggambarkan pendapatan masyarakat pada suatu wilayah. Selain itu dengan menggunakan rata-rata geometrik dalam menyusun IPM dapat diartikan bahwa capaian satu dimensi tidak dapat ditutupi oleh capaian di dimensi lain. Hal tersebut menunjukkan dalam mewujudkan pembangunan manusia yang baik, ketiga dimensi harus memperoleh perhatian yang sama besar karena sama pentingnya.

Gambar 2.2 Perbandingan IPM Provinsi dan Nasional Dengan Menggunakan Metode Baru Tahun 2012-2017

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2018

Capaian IPM Provinsi DKI Jakarta sendiri dari tahun 2012-2017 dengan menggunakan perhitungan baru meningkat dari 77,53 pada tahun 2012 menjadi 80,06 pada tahun 2017.

Dengan metode perhitungan baru ini, IPM Provinsi DKI Jakarta memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan 33 provinsi lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas hidup masyarakat DKI Jakarta dapat dikatakan lebih baik dibandingkan 33 provinsi lainnya di Indonesia. Nilai IPM DKI Jakarta dan perbandingannya dengan Nasional dapat dilihat pada gambar berikut ini.

2.1.8 Indeks Gini

Indeks Gini adalah salah satu ukuran yang paling sering digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh dalam suatu daerah. Ukuran kesenjangan Indeks Gini berada pada besaran 0 (nol) dan 1 (satu). Nilai 0 (nol) pada indeks gini menunjukkan tingkat pemerataan yang sempurna, dan semakin besar nilai Gini maka semakin tinggi pula tingkat ketimpangan pengeluaran antar kelompok penduduk berdasarkan golongan pengeluaran.

77.53 78.08 78.39 78.99 79.60 80.06

67.70 68.31 68.90 69.55 70.18 70.81

60.00 64.00 68.00 72.00 76.00 80.00 84.00

2012 2013 2014 2015 2016 2017

IPM DKI Jakarta IPM Nasional

II-10

Gambar 2.3 Perkembangan Indeks Gini Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2018

Gambar 2.3 memperlihatkan perkembangan Indeks Gini Provinsi DKI Jakarta. Dari gambar tersebut terlihat bahwa Indeks Gini DKI Jakarta mengalami tren yang menurun dari tahun 2014 hingga tahun 2016 dan mengalami peningkatan pada tahun 2017, kemudian mengalami penurunan kembali pada bulan Maret 2018. Indeks Gini Provinsi DKI Jakarta pada Maret 2018 adalah sebesar 0,394, turun 0,015 poin dari 0,409 pada September 2017.

Namun bila dibandingkan dengan Maret 2017 (0,413) turun sebesar 0,019 poin. Hal ini menunjukkan ketimpangan yang semakin rendah. Selanjutnya untuk melihat secara lebih lengkap mengenai persentase pendapatan kelompok penduduk di DKI Jakarta, maka hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Indeks Gini dan Tingkat Ketimpangan Provinsi DKI Jakarta No. Tahun Indeks

Gini

Tingkat Ketimpangan

Kelompok Penduduk 40%

Terendah

40%

Menengah

20% Teratas

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1. 2014 0,436 Sedang 14,83 31,83 53,34

2. 2015 0,421 Sedang 16,57 33,48 49,95

3. 2016 0,397 Sedang 16,49 37,29 46,22

4. 2017 0,409 Sedang 17,16 34,30 48,54

5. 2018

(Maret) 0,394 Sedang 17,16 36,03 46,81

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, 2018 0.431

0.436

0.431 0.421

0.411

0.397

0.413

0.409

0.394

Mar-14 Sep-14 Mar-15 Sep-15 Mar-16 Sep-16 Mar-17 Sep-17 Mar-18

II-11