dan Demokrasi Sosial
3.4.2. Pecahnya Gerakan Buruh
Sudah sejak tahun 1890an, telah terjadi perdebatan dalam tubuh kubu sosia- demokrat. Perdebatan tersebut menyangkut soal teoretis: akankah kapitalisme terjerumus ke dalam krisis yang mengakhiri eranya, sehingga dengan demikian, dalam perjuangan kelas proletariannya gerakan buruh dapat menanggulangi kapitalisme dan mencapai sosialisme? Dan jika demikian, apakah artinya ini bagi strategi kubu sosial demokrat?
Secara garis besarnya, kubu resvisonis terbagi terutama ke dalam tiga kubu yang berbeda (bandingkan Euchner / Grebing dkk 2005: 168; Grebing 2007: 66–94). Satu kelompok di seputar Karl Kautsky dan August Bebel bahkan mengharap, dengan mayoritas di parlemen dan kaum buruh yang ter- organisir baik dapat mencapai masa peralihan ke sosialisme. Namun, kelompok tersebut menemukan kenyataan bahwa politik kekaisaran Jerman yang kian radikal dan mengarah ke peperangan demi nafsu imperialsimenya, bisa mensyaratkan perlunya perlawanan dan sebuah kebijakan parlemen jalanan lewat pemogokan massal. Sehingga, daya juang gerakan buruh dapat memaksa- kan peralihan ke sosialisme.
Di samping pandangan sejarah ini, berkembang kubu yang menama- kan dirinya revisionis, yang sangat dipengaruhi oleh Eduard Bernsten dan yang melakukan upaya pen- Karl Kautsky (1854-1938) adalah pendiri
dan penerbit harian Die neue Zeit yang teoreits dan berorientasi ke Partai Sosialdemokrat Jer- man. Kautzki punya andil besar, sehingga analisa masyarakat marxian tertanam dalam tubuh Par- tai Sosialdemokrat Jerman. Di samping Eduard Bernstein, Kautsky adalah penggagas utama Prgram Erfurt.
Eduard Bernstein (1850-1932) adalah salah satu wakil kaum „revisionis“ dalam sosial demo- krat yang paling berpengaruh. Dalam bukunya
Die Voraussetzungen des Sozialismus und die Auf- gaben der Sozialdemokratie terbitan tahun 1899,
77
Rosa Luxemburg
Dalam kesimpulannya, kubu revisionis berpendapat, bahwa reformasi di dalam masyarakat dan segala yang kapitalistik itu mungkin dilakukan. Lagipula, tak akan terjadi kebangkrutan kapitalisme dengan sendirinya; apalagi krisis-kirisis dalam kapitalisme bukanlah semakin sering, melainkan semakin jarang. Lewat pengu- atan serikat-serikat buruh dan koperasi-koperasi dapat dicapai reformasi dalam masyarakat, sehingga dengan demikian dapat mengembangkan sosialisme. Tokoh serikat buruh Adolph von Elm mengungkapkan secara pas prgrogam revisionis sebagai berikut:
„Lewat evolusi menuju revolusi – lewat demokratisasi dan sosialisasi badan-badan masyarakat secara berkelanjutan menuju ke perubahan total masyarakat kapi- talistik menjadi sosialistik. Kesimpulan tersebut, secara ringkasnya adalah posisi kaum revisionis dalam partai“ (dikutip dari nach Euchner / Grebing u. a. 2005: 171)
Rosa Luxemburg membantah pen- dapat Berstein. Menurutnya, kapi- talisme tunduk pada kontinuitas per- saingan para pemilik modal akibat struktur internalnya.
Cara produksi kapitalis senantiasa membutuhkan ekspansi dan pe-ngambilalihan tanah yang semula tidak termasuk ke dalam wilayah kapitalistik:
Maka, bagi sosial demokrasi mengorganisir perjuangan praktis sehari-hari adalah demi reformasi sosial, demi perbaikan nasib rakyat yang bekerja di dalam tatanan yang masih ada sekarang, agar perangkat-perangkat demokrasi diarahkan teru- tama ke satu-satunya jalan untuk memimpin perjuangan kelas yang proletaris dan bekerja menunju ke tujuan akhir, yakni merebut kekuasaan politik dan meniada- kan sistem pengupahan. Bagi sosial demokrasi, antara reformasi sosial dan revo- lusi sosial terdapat hubungan yang tak terpisahkan. Bagi kaum sosial demokrat menggunakan, perjuangan reformasi sosial adalah alat, namun perubahan sosial secara total merupakan tujuan.“ (Luxemburg 1899: 369)
Rosa Luxemburg (1871-1919) adalah salah seorang pendiri Partai Sosial Demokrat Polandia dan Litunia. Tahun 1899 ia ke Berlin. Ia adalah teori- tisi utama sayap kiri partai sosial demokrat jerman. Di antaranya adalah teori imperialisme. Tahun 1918 ia merupakan salah seorang pendiri partai komunis Jerman KPD. Tahun 1919 ia dibunuh oleh bebe- rapa perwira ‚Freikorps‘ (pasukan sukarelawan)
Pecahnya gerakan buruh
Dua „ Opsi“ sewaktu pembentukan negara 1919
Pemahaman sejarah- yang
Rosa Luxemburg juga tidak menolak kerja parlementaris. Namun menurutnya, hal tersebut tidaklah cukup guna mencapai sosialisme. Karenanya, Rosa Luxemburg menitikberatkan pada gerakan kaum buruh diluar parlemen.
Ketiga aliran dalam gerakan buruh tersebut dan partai sosial demokrat Jerman masih dapat bekerjasama sebagai akibat tekanan berat kekaisaran Jerman. Sebagai konsekuensi persetujuan mayoritas partai sosial demokrat Jerman SPD terhadap kredit perang dan terpecahnya USPD dengan SPD serta dengan berakhirnya perang dunia pertama yang berkaitan masalah pembentukan masyarakat yang demokratis, akhirnya gerakan buruhpun terpecah.
1919 dan pembentukan Rapublik Weimar
Pada tahun 1919, partai sosial demokrat Jerman SPD memegang pemerintahan pertama Republik Weimar – menghadapi perlawanan kubu konservatif, nasionalis dan reaksioner, serta juga kubu komunis. Peluang historis kubu kiri ini, untuk per- tama kalinya secara politis bisa menerapkan cita-citanya, muncul di sana-sini dalam diskusi-diskusi sosialistis.
Sementara kubu komunis dan sebagian kubu sosialis bekerja untuk pembentukan negara dengan dewan-dewan buruh dan prajurit, maka di pihak lain kubu sosial- demokrat terutama terlibat dalam pembentukan satu demokrasi keterwakilan dan kemudian membangunnya sampai tahun 1920 serta pada tahun-tahun berikutnya. Bagi argumentasi sosial demokrat, Fritz Naphtali merumuskannya dengan pas: „Dalam periode ketika kapitalisme masih bebas sepenuhnya, tampaknya tak ada tawaran alternatif lain terhadap kapitalisme yang tak terorganisir selain organisasi ekonomi secara menyeluruh yang sosialistis (…) Akhirnya diketahui, bahwa struktur kapitalisme itu bisa merobah dirinya. Sebelum ambruk, kapitalisme itu juga dapat dibengkokkan.“ (Naphtali 1929; dikutip dari Euchner / Grebing u. a. 2005: 305).
Secara ringkas bias dikatakan bahwa polemik terjadi disebabkan oleh perbedaan antara revolusi dan reformasi. Di satu sisi (revolusioner), untuk meraih sebuah
79
Sosialisme demokratis sebagai ide
kat yang sesuai jamannya dengan konstitusi negara hendaknya dikembangkan menuju ke sosialisme yang demokratis.
Perbedaan-perbedaan gagasan ini tercerminkan juga dalam beragam model- model negara:
Gambar : Sistem dewan dan „kapitalisme terorganisir“reformasi
„Sosialisme yang demokratis“, yang dilontarkan oleh Partai Sosial Demokrat Jerman sebagai gagasan, berangkat dari demokrasi parlementer dan pemi- sahan antara wilayah politik dan ekonomi. Di dalam kedua wilayah itu – baik politis maupun ekonomis—hendaknya dicapai demokratisasi sesuai dengan kehendak kaum pekerja dan serikat-serikat buruh. Dalam kaitan ini, „sosialisme yang demokratis“ berarti, satu pelengkap yang kompleks dan hubungan tim- bal balik dari ekonomi sosialistik dengan kaum buruh sebagai aktor-aktor uta- manya (serikat-serikat buruh, partisipasi satuan usaha dan perusahaan) serta demokrasi parlementer.
Sistem dewan „kapitalisme yang terorganisir”
pemisahan kekuasaan berdasarkan demokrasi representatif/keterwakilan ekonomi sebagai wilayah tersendiri, di mana tertanamkan partisipasi satuan usaha/perusahaan dan Pemilihan dewan lewat
satuan-satuan basis Dewan duduk sebagai pejabat-pejabat publik urusan legislasi, pengadilan, pemerintah dan mengawasi produksi ekonomi Pemegang mandat terikat pada kehendak pemilih Diterapkan setelah perang dunia pertama di beberapa kota Jerman sebagai „dewan buruh dan prajurit“.
Pemahaman negara terkait revolusi atau kapitalisme yang terorganisir
Program Godesberg 1959: „Persaingan Sejauh mungkin – Perencanaan Sejauh dibutuhkan!“ Berpisah dari Marxisme
Tahun 1959, Program Godesberg dari Partai Sosial Demokrat Jerman SPD telah menemukan dalil utamanya untuk „pasar bebas“. Katanya, „persaingan sebebas mungkin dan perencanaan sejauh yang dibutuhkan“ (Dowe / Klotzbach 2004: 332). Di sini diformulasikan satu posisi yang mengatakan hendak berpegang teguh pada „sosialisme yang demokratis“ sebagai sebuah tatanan ekonomi dan sosial yang baru, namun bersamaan dengan itu menerima kapitalisme pasar yang tunduk pada bentuk pengendalian dibawah primat politik. Dengan demikian, kubu sosial demokrasi memisahkan dirinya dari ekonomi terencana seperti yang ditertapkan di Uni Soviet.