L.1.1 Penanaman Rumput Gajah Mini
a. Tanah digemburkan dengan cangkul dan dibalikan dengan kedalaman 20cm setelah itu ratakan. b. Rumput dicacah menjadi potongan lebih kecil sekitar 3cm-5cm. Benamkan rumput ketanah yang
sudah digemburkan sampai seluruh akarnya tertimbun. Pola penanamanya dibuat secara zig-zag untuk memaksimalkan pertumbuhan agar lebih rapat dan rapi.
c. Perkuat posisi rumput dengantanah ddengan memukul pelan permukaan rumput agar akarnya kokoh didalam tanah.
d. Ratakan permukaan rumput dengan tanah menggunakan balok kayu atau batu bata. Biarkan selama seminggu untuk melihat pertumbuhan akarnya.
e. Taburkan Pupuk urea dan NPK secara merata setelah dua minggu kemudian.
f. Kemudian siram dengan air dengan menggunakan gembur atau ceret dengan lubang kecil dan banyak. Jangan mengunakan gayung atau sejenisnya untuk menghindari penumpukan genangan air yang bia membuat busuk akar rumput
L.1.2 Penanaman Bungan Iris
a. Pastikan menanam bunga iris dalam area yang terkena sinar matahari secara langsung. Jika ditempatkan dalam area yang teduh, tanaman ini tidak akan berbunga. Hanya daunnya saja yang tumbuh lebat.
b. Tanaman ini tidak perlu ditancapkan terlalu dalam ke tanah, karena sistem perakarannya tidak tumbuh ke dalam tanah, melainkan di bawah permukaan tanah saja.
c. Pemupukan juga tidak perlu terlalu banyak. Cukup sekali dalam setahun diberi pupuk kandang, pada akhir musim hujan. Penyiraman pun tidak perlu setiap hari. Cukup dijaga agar tanah tetap lembab. d. Untuk mengendalikan bentuk tanaman dan peremajaan, lakukan pemangkasan setiap 2 bulan.
Potong sekitaar 5 cm di atas akar simpang. Hal ini akan merangsang pertumbuhan tunas yang lebih besar, sehingga akan berbunga lebih banyak pada musim berikutnya.
e. Perbanyakan bunga iris dapat dilakukan dengan menggunakan akar simpang yang menjalar. Namun jika dilakukan dengan menggunakan biji, kemungkinan kegagalan lebih besar. Lebih baik dilakukan pada akhir musim kemarau. Ambil batang dan potong, lalu tanam di tempat lain. Benih ini akan segera tumbuh di musim hujan dan dalam jangka waktu setahun, telah siap untuk berbunga
L.1.3 Penananman Heleconia
a. Benih siap tanam di kebun bila telah memiliki tiga lembar daun yang membuka penuh, dengan ketinggian rata-rata mencapai 25 cm;
b. Tanam satu benih tanaman dalam satu lubang dengan jarak tanam heliconia ukuran kecil 50 cm x 50 cm, dan jarak antartanaman 100 cm. Adapun jarak tanam untuk heliconia ukuran besar adalah 200 cm x 100 cm, dengan jarak antartanaman 300 cm;
c. Bila menggunakan benih dari polibag, lepaskan benih dengan hati-hati; d. Lakukan penyiraman tanah hingga cukup basah (lembab).
65
L.1.4 Penanaman Tanaman Pucuk Merah
a. Memilih biang tanaman pucuk merah yang berkualitas bagus
b. Merendam pucuk merah potongan yang akan dijadikan bibit dengan disinfektan, dan perangsang akar
c. Menanam bibit pucuk merah di media tanam dari tanah merah murni di yang dimasukkan polybag ukruan 10, memasukkan ke ruang sungkup selama 40 hari
d. Memindahkan yang hidup ke kantong 18 dengan media campuran tanah merah dan sekam mentah e. Siapkan tanaman pucuk merah yang akan di gunakan untuk penyetekan.
f. Memotong pucuk pucuk dari tanaman menggunakan pisau cutter .Potong tanaman pucuk merah sekitar 15-20 cm yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalau tua.
g. Pangkas daun bahan yang mau di stek dan sisahkan beberapa helai daunn. Tujuan penyisaan daun ini adalah untuk memudahkan dalam mengontrol tanaman masih hidup atau sudah mati.
h. Tanam bahan stek pada posisi miring atau tegak,dan beri zat pengatur perangsang tumbuh untuk merangsang pertumbuhan akar. Letakkan tanaman yang sudah di stek ke tempat yang teduh, sehingga mengurangi penguapan dan stres pada tanaman.
L.2 Pekerjaan Paving Block
L.2.1 Pemasangan Paving
a. Pertama dilakukan pemeriksaan kepadatan tanah dasar, baik galian / timbunan, sebagai dasar perletakan lapisan pondasi
b. Kemudian dilakukan pekerjaan lapis pondasi diatas tanah dasar ( lapisan base dan sub base ). c. Setelah itu pasang beton penyokong yang diikuti beton pembatas dan tambahkan adukan beton
pada bagian belakang / punggung beton pembatas tsb
d. Pasang pasir alas dg ketebalan 5 - 6 cm, ratakan dengan jidar kayu (Pasir alas adalah pasir dg ketebalan tertentu sebagai alas perletakan paving block).
e. Pasang benang pembantu searah & tegak lurus / 45° terhadap jalan / area kerja.
f. Pemasangan paving block dilakukan setelah penentuan arah dan bentuk pola dengan menggunakan benang pembantu, pemasangan paving blok dimulai dari satu arah.
g. Lakukan pemadatan dengan plat getar / stamper plate / vibro, supaya terjadi penguncian akibat pengisian celah dari pasir alas yang terdesak ke atas & pasir pengisi yang dipasang bersamaan dengan vibro.
h. Pasang pasir pengisi, ratakan dg sikat ijuk dan penggetar / vibro secara bersamaan.
i. Pemasangan paving dilakukan secara diagonal dari pinggir, setelah 3–4 baris dapat dilakukan simultan di beberapa bagian.
L.2.2 Pemasangan Kansten Dan Beton Penyokong
Beton pembatas atau biasa disebut beton kanstin adalah salah satu bagian perkerasan block beton terkunci yang fungsinya menjepit dan menahan lapisan paving block agar tidak tergeser pada waktu menerima beban, sehingga blok tetap saling mengunci. Beton pembatas harus terpasang sebelum penebaran pasir alas. Bentuk beton pembatas bermacam-macam dan proses pembuatannya beraneka-ragam ada yang dari beton pracetak, beton cor ditempat, baik secara manual atau dengan alat slipform. Untuk perkerasan paving blok
66 mutu beton pembatas yang berhubungan dengan jalur lalu lintas kendaraan minimum fc’ 25,0 MPa. Bilamana digunakan beton pembatas dari beton pracetak, beton pembatas harus dipasang di atas beton penyokong agar terjadi ikatan yang baik antara beton pembatas dan pondasisehingga tidak mudah tergeser. Untuk itu dilakukan hal sebagai berikut :
a. tebarkan selapis beton penyokong setebal minimum 7 cm;
b. pasang beton pembatas di atas beton penyokong tersebut sewaktu masih dalam keadaan basah, sehingga ketinggian dan kelurusaan beton pembatas sesuai dengan benang pembantu; c. tambahkan adukan beton pada bagian belakang beton pembatas;
d. setelah beton penyokong dalam keadaan setengah kering, barulah ditimbun dengan tanah, mutu beton penyokong minimum fc’ 17,5 MPA;
e. beton pembatas sering dikombinasikan dengan tali air dan mulut air sebagai saluran untuk membuang air hujan; apabila pertemuan antara beton pembatas dan lapisan blok tidak diberi tali air biasanya beton pembatas mudah terkena gesekan roda kendaraan.Penebaran Pasir Alas Pasir alas adalah pasir dengan ketebalan tertentu sebagai alas perletakan paving blok. Pasir alas harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Butiran pasir alas adalah pasir kasar dengan besar butir maksimum 9,5 mm seperti pasir beton, tajam, keras dan bersih dari lumpur, garam atau kotoran lain;
Pada saat penebaran harus dalam keadaan kering atau kadar air kurang dari 10% dan bersifat gembur;
Tebal pasir berkisar antara 5 sampai 6 cm dan setelah dipadatkan tidak boleh lebih 5 cm; untuk mendapatkan ketebalan yang seragam, agar menggunakan alat perata yaitu jidar kayu dengan mengikuti rel pembantu dari blok beton yang disusun sejajar memanjang ; selain itu juga dapat digunakan benang pembantu sebagai referensi. Pasir alas ini tidak boleh digunakan untuk mengisi lubang-lubang pada pondasi untuk
memperbaiki tinggi pondasi;
Lapis atas pondasi di bawah pasir alas harus diratakan dan diperbaiki sebelum penebaran pasir alas dimulai Untuk jalan dengan lebar kurang dari 3 m, beton pembatas yang dipasang dapat berfungsi sebagai rel pembantu;
Untuk jalan dengan lebar lebih dari 3 m, perataan pasir alas dilaksanakan secara tahap; Sebaiknya pasir alas diletakkan secara gundukan kecil di daerah lokasi pemasangan
agar sewaktu menarik jidar tidak terlalu berat dan dapat memudahkan pelaksanaan; Pasir alas yang sudah dirataakan dijaga agar tidak terganggu seperti terinjak atau
dipakai menumpuk bahan;
Setiap tahap, luas maksimim adalah 30 m2 dengan demikian pada sore hari dapat tertutup seluruhnya oleh paving blok;
Untuk pekerjaan yang akan dilanjutkan maka pasir alas disisakan 1 m dari baris terakhir paving blok;
Pasir alas yang belum sempat ditutup oleh paving blok, keesokan harinya agar digemburkan dan diratakan kembali;
volume pasir yang diperlukan sebagai pasir alas setebal 50 mm adalah ± 5 m3 setiap 100 m2 paving blok.
67
L.2.3 Filler / pengisi nat
Pengisian nat tidak penuh memungkinkan paving akan mudah bergerak dan air lebih mudah masuk ke dalam sela-sela paving sehingga mengakibatkan abu batu jenuh air. Jika abu batu jenuh air akan membuat permukaan paving bergelombang dan mudah bergerak / bergeser.
L.2.4 Sand bedding / abu batu / pasir di bawah paving
Ketebalan abu batu padat untuk alas paving di atas beton tidak boleh lebih dari 3–5 cm. Abu batu padat adalah setelah paving di atas abu batu dipadatkan, bukan karena abu batu dipadatkan terlebih dahulu sebelum paving dipasang. Saat paving dipasang abu batu digelar dengan ketebalan 4-6 cm, dan akan menjadi 3–5 cm setelah paving dipadatkan. Tujuannya agar tidak ada penurunan lagi setelah perkerasan paving block menerima beban atau dilintasi kendaraan.
68