BAB II KAJIAN TEORI
C. Pekerjaan Rumah ( Homework )
dituntut. Secara khusus, yang dimaksud dengan prestasi belajar fisika
dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan dan pencapaian standar
kompetensi yang dimiliki siswa kelas XI IPA SMA Frater Makassar
setelah mengikuti pelajaran fisika pada pokok bahasan kinematika gerak
lurus dan gerak parabola dengan analisis vektor, yang diukur dengan
menggunakan tes berupa seperangkat soal yang memuat Kompetensi
Dasar (KD) sebagaimana ditentukan dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP).
C. Pekerjaan Rumah (Homework) 1. Pengertian Pekerjaan Rumah
Beberapa pendapat tentang pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah
merupakan kegiatan di luar kelas yang merupakan perluasan dari tugas di
kelas (Kurniawan, 2008). Pekerjaan rumah merupakan salah satu metode
mengajar yang berguna untuk mengatasi kelemahan metode-metode lain
seperti ceramah dan diskusi (Caray, 2008). Pekerjaan rumah merupakan
salah satu bentuk tugas (Oloan, 2011). Pekerjaan rumah merupakan salah
satu instrumen yang dipergunakan guru dalam pembelajaran (Wibowo,
2011). Jadi, pekerjaan rumah secara umum adalah tugas berupa sejumlah
soal yang diberikan oleh guru dari sekolah kepada siswa untuk dikerjakan
di rumah.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pekerjaan
19
dalam pembelajaran berupa tugas (soal-soal) yang diberikan kepada siswa
untuk dikerjakan di rumah sebagai latihan lanjutan setelah siswa belajar di
kelas. Jadi, pekerjaan rumah yang dimaksud di sini bukanlah sebagai alat
ukur, tetapi sebagai model pembelajaran atau instrumen pembelajaran.
2. Jenis-jenis Pekerjaan Rumah
Le Conte (1981) dalam Kurniawan (2011) menggolongkan pekerjaan
rumah menjadi tiga macam yaitu:
a. Practice assignments (tugas latihan), yang menguatkan keterampilan atau pengetahuan yang baru saja diterimanya.
b. Preparation assignment (tugas mempersiapkan), yang dimaksud untuk memberikan latar belakang tentang topik tertentu.
c. Extension assignment (tugas perluasan), yang dirancang untuk mempraktekkan bahan yang sudah pernah dipelajari atau memperluas
pengetahuan siswa dengan mendorong mereka untuk melakukan lebih
banyak penelitian tentang subjek yang dimaksud setelah topik
dipelajari di kelas.
Berdasarkan penjelasan jenis-jenis pekerjaan rumah di atas, jenis
pekerjaan rumah yang digunakan pada penelitian ini adalah practice assignments (tugas latihan). Siswa akan diberi soal-soal latihan untuk dikerjakan di rumah. Soal- soal tersebut merupakan kelanjutan dari
20 3. Model Pekerjaan Rumah
Jenis pekerjaan rumah practice assignments dibedakan menjadi dua model. Pembedaan ini didasarkan pada format penyajiannya. (Bao &
Stonebraker, 2008) menyebutkan ada dua metode pekerjaan rumah yaitu
traditional homework method dan flexible homework method. a. Traditional Homework
Traditional homework diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia artinya pekerjaan rumah tradisional. Pengertian
pekerjaan rumah secara umum adalah tugas berupa sejumlah soal yang
diberikan oleh guru dari sekolah kepada siswa untuk dikerjakan di
rumah. Sedangkan pengertian tradisional menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sikap dan cara berpikir serta
bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan
yang ada secara turun temurun. Jadi, traditional homework dapat diartikan sebagai sikap dan cara berpikir serta tindakkan guru dalam
memberikan tugas kepada siswa berupa sejumlah soal yang tetap
berpegang teguh pada kebiasaan yang ada secara turun temurun.
Karakteristik traditional homework adalah sebagai berikut:
1) Soal-soal dibuat oleh guru atau diambil dari buku teks dalam
jumlah tertentu. Soal-soal tersebut diberikan kepada siswa
untuk dikerjakan di rumah. Siswa diharuskan untuk
21
2) Tanggal jatuh tempo pengumpulan biasanya satu minggu
setelah soal-soal tersebut diberikan atau bisa kurang dari satu
minggu.
3) Soal-soal tersebut dijadikan sebagai alat ukur untuk mengukur
tingkat pemahaman siswa terhadap kompetensi dasar tertentu
sesuai dengan yang diajarkan.
4) Hasil pekerjaan siswa akan dinilai dan dikembalikan kepada
siswa sesuai dengan waktu yang ditentukan guru sendiri.
5) Nilai pekerjaan rumah yang diperoleh siswa, memberi
sumbangan terhadap nilai akhir (nilai rapor) dengan persentase
jumlah yang ditentukan guru.
6) Bila jumlah siswa dalam kelas terlalu banyak, biasanya hasil
pekerjaan siswa dikoreksi secara bersama-sama dalam kelas.
7) Bila jumlah soal terlalu banyak, guru biasanya mengoreksi
pekerjaan siswa hanya pada nomor-nomor tertentu saja.
Nomor-nomor lain yang belum dikoreksi, dibuatkan pedoman
jawabannya (kunci jawaban) agar siswa dapat mengoreksinya
sendiri.
Tentang traditional homework, Alfi Kohn dalam bukunya The Homework Myth: Why Our Kids Get Too Much of a Bad Thing, menyatakan bahwa traditional homework (pekerjaan rumah yang lama) tidak menunjang dan memperkuat pemahaman yang didapat
22
dengan prestasi belajar siswa terutama di sekolah dasar. Kalaupun
ada korelasinya, itupun hanya kecil dan hanya di sekolah menengah.
Hasil penelitian yang dilakukannya gagal menunjukkan, bahwa
traditional homework memberikan manfaat bagi siswa. Tidak ditemukan data yang mendukung bahwa traditional homework dapat membangun karakter, meningkatkan prestasi, meningkatkan disiplin
pribadi, mengajarkan kebiasaan belajar yang baik, dan lain-lain. Yang
terjadi justru sebaliknya, dampak dari pekerjaan rumah dapat membuat
siswa frustrasi, kelelahan, dan kehilangan waktu untuk
mengekspresikan dirinya.
Khon menambahkan, ada tiga alasan mengapa traditional homework tetap diberikan kepada siswa. Pertama, guru tidak mempercayai siswa. Apa yang dilakukan siswa di luar jam sekolah
dicurigai. Misalnya, siswa tidak belajar atau siswa hanya bermain
ketika berada di rumahnya. Karena itu harus diberikan pekerjaan
rumah. Kedua, ada nilai simbolik dibalik pemberian pekerjaan rumah.
Bahwa dengan memberikan banyak pekerjaan rumah, seolah-olah
ingin menunjukkan bahwa sekolah tersebut berkualitas, sehingga
terkesan menampilkan kualitas sekolah yang lebih baik. Ketiga,
kurangnya pemahaman mengenai sifat dasar pembelajaran. Sebagian
besar guru masih memiliki pemahaman bahwa makin banyak waktu
yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah akan
23
siswa cenderung menyelesaikan pekerjaan rumah secepat mungkin
agar terbebas dari tekanan.
Lei Bao dan Stonebraker (2008) dalam artikel A flexible homework method mengungkapkan bahwa sebagian besar pengajar mempertimbangkan pekerjaan rumah menjadi sebuah bagian penting
dari proses pembelajaran. Diharapkan dengan melakukan pekerjaan
rumah para mahasiswa akan mendapatkan praktek dalam
memecahkan masalah, menerapkan pengetahuan mereka pada situasi
yang baru, memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan lebih
kuat akan konsep-konsep penting, dan mungkin mengembangkan skill
yang diperlukan untuk memecahkan persoalan di dunia riil yang
mungkin mereka hadapi di tempat kerja mereka di masa mendatang.
Diharapkan pula bahwa penugasan pekerjaan rumah ini dengan tanggal
jatuh tempo yang teratur membantu para mahasiswa berjalan seiring
dengan instruksi.
Terdapat banyak format untuk menugaskan dan menilai pekerjaan
rumah. Pada pengantar matakuliah fisika, merupakan hal yang biasa
bagi para pengajar untuk menugaskan soal-soal kira-kira sepuluh buku
untuk satu minggu kemudian. Pekerjaan rumah ini dinilai dan
dikembalikan minggu berikutnya. Untuk kelas besar penilai akan
mengevaluasi hanya beberapa soal secara rinci. Pedoman jawaban
untuk semua soal disediakan sehingga mahasiswa dapat mengevaluasi
24
Stonebraker menyebut model ini sebagai model “tradisional” dalam
penugasan dan penilaian pekerjaan rumah.
b. Flexible Homework
Flexible homework diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia artinya pekerjaan rumah yang fleksibel. Pengertian
fleksibel menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
luwes; mudah menyesuaikan diri. Sedangkan pengertian pekerjaan
rumah secara umum adalah tugas berupa sejumlah soal yang
diberikan oleh guru dari sekolah kepada siswa untuk dikerjakan di
rumah. Jadi, flexible homework dapat diartikan sebagai tugas berupa sejumlah soal yang telah disesuaikan dengan keadaan siswa sehingga
siswa mengerjakannya di rumah dengan tanpa tekanan.
Karakteristik model flexible homework adalah sebagai berikut: 1) Soal-soal dibuat oleh guru atau dapat juga diambil dari buku teks
dalam jumlah tertentu, biasanya ≥ 10 nomor. Soal-soal tersebut dikelompokkan berdasarkan tingkat kesulitannya menurut
taksonomi kognitif Benyamin Bloom (1956) yaitu soal
pengetahuan (knowledge), soal pemahaman (comprehension), soal aplikasi (application), soal analisis (analysis), soal sintesis
(syntesis), dan soal evaluasi (evaluation). Soal-soal tersebut diberikan kepada siswa untuk dikerjakan di rumah.
25
2) Flexible homework dipandang bukan sebagai alat ukur tetapi sebagai model atau instrumen pembelajaran.
3) Siswa tidak harus mengerjakan semua soal yang diberikan, tetapi
boleh memilih beberapa soal saja seturut yang hendak
dikerjakannya. Namun demikian, tidak membatasi siswa yang
ingin mencoba mengerjakan semua soal.
4) Sebelum tanggal jatuh tempo pengumpulan, dilakukan pembahasan
beberapa soal seturut yang diminta siswa. Pembahasan soal-soal
tersebut dilakukan pada jam pelajaran bidang studi yang
bersangkutan.
5) Siswa diberi pedoman jawaban (kunci jawaban) dari soal-soal
tersebut. Guru dapat memberi pedoman jawaban untuk semua soal
atau dapat pula hanya pada soal nomor genap atau nomor ganjil
saja.
6) Hasil pekerjaan siswa akan dinilai berdasarkan nomor-nomor soal
yang dikerjakannya. Nilai flexiblehomework yang diperoleh siswa tidak memberi sumbangan secara langsung terhadap nilai akhir
(nilai rapor) tetapi bila siswa mengerjakannya dengan
sungguh-sungguh maka dipastikan akan mendapat nilai akhir yang
maksimal karena soal-soal pada tes akhir akan diambil secara acak
26
Tentang flexible homework Astuti (2011:17), menulis ada dua unsur dasar yang harus dipenuhi dalam pembelajaran dengan model
flexible homework. Kedua unsur tersebut adalah sebagai berikut: 1) Siswa dalam dirinya harus menyadari bahwa mereka adalah
pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab sehingga mereka
mau berusaha untuk memahami materinya dan mendapatkan nilai
yang baik.
2) Siswa harus mempunyai asumsi bahwa pekerjaan rumah bukan
dipandang sebagai alat ukur tetapi sebagai model dan instrumen
pembelajaran.
c. Tujuan Pembelajaran dengan Model Flexible Homework
Tujuan utama dari model pembelajaran dengan flexible homework adalah untuk meningkatkan fungsi pekerjaan rumah sebagai instrumen
pembelajaran yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan
motivasi dan prestasi belajar siswa.
d. Keunggulan dan Kelemahan Model Flexible Homework
1) Keunggulan model flexible homework
a) Siswa mengerjakan pekerjaan rumah dengan tidak merasa
dipaksa atau terpaksa. Siswa lebih bebas mengekspresikan
27
b) Disediakan pedoman jawaban sebagai petunjuk bagi siswa bila
mengalami kebuntuan dalam mengerjakan soal-soal tersebut.
Pendoman jawaban diberikan untuk maksud mengganti peran
tutor atau guru privat.
2) Kelemahan model flexible homework
Siswa dapat dengan begitu saja menyalin semua jawaban
yang diberikan.
e. Hasil Penelitian Sejenis
Penelitian sejenis pernah dilakukan di The Ohio State University. Penelitian pertama dilaksanakan pada musim semi tahun 2002 di kelas fisika modern berbasis kalkulus untuk siswa teknik
tahun pertama (85 mahasiswa). Setiap pekerjaan rumah terdiri dari
30 soal dari buku teks. Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih
10 soal yang akan dikerjakan dan kemudian dikumpulkan. Skor dari
pekerjaan rumah ini memberikan sumbangan 7% dari nilai siswa.
Setiap soal diberi label A, B atau C yang menunjukkan tingkat
kesulitannya. Mahasiswa diberitahukan bahwa jika mereka dapat
menyelesaikan soal level A dengan usaha mereka sendiri maka
mereka mempunyai kemungkinan untuk mendapat nilai A di
kelasnya. Selain itu, mahasiswa juga diberitahukan bahwa 30% -
40% soal ujian mirip atau bahkan identik dengan soal-soal
28
meningkatkan motivasi mahasiswa untuk mengerjakan pekerjaan
rumah dan setiap orang yang mengerjakan semua soal (sekitar 360
soal untuk satu mata kuliah) akan sangat berhasil di dalam kelas.
Peneliti mendapatkan bahwa banyak mahasiswa yang mengerjakan
lebih dari yang diminta untuk dikumpulkan.
Penelitian kedua dilaksanakan pada triwulan musim gugur tahun
2002 dalam kelas pengantar mekanika berbasis kalkulus untuk
mahasiswa reguler tahun pertama (sekitar 350 mahasiswa).
Sebagian desain, tujuan dan pemberitahuan pada mahasiswa sama
dengan yang dilakukan pada penelitian pertama.
Pada penelitian ini, setiap pekerjaan rumah terdiri dari 20 soal
dari buku teks yang dibagi sama banyaknya dalam dua grup.
Pedoman jawaban dari soal-soal dalam grup I diberikan tiga sampai
empat hari sebelum tanggal jatuh tempo dikumpulkan. Pedoman
jawaban yang lengkap untuk soal-soal dalam grup II, tidak
diberikan sampai pekerjaan rumah ini diserahkan.
Untuk minggu-minggu genap, peneliti memberikan petunjuk
penyelesaian untuk semua soal grup II. Untuk minggu-minggu
ganjil tidak ada petunjuk yang diberikan. Mahasiswa diminta untuk
menyerahkan sepuluh soal setiap minggu, yang setidaknya lima di
antaranya berasal dari grup II. Seperti dalam penelitian pertama ,
soal-soal juga diberi label A, B atau C. Pembagian soal ke dalam
29
kedua grup tersebut memiliki hubungan yang dekat dalam isi dan
konteks. Idenya adalah untuk mendorong siswa mempelajari
soal-soal grup I dengan benar dan kemudian menggunakan apa yang
mereka pelajari untuk menyelesaikan soal-soal grup II.
Penelitian ketiga dilakukan pada triwulan pertama musim gugur
tahun 2003, dalam mata kuliah pengantar fisika berbasis kalkulus
untuk mahasiswa teknik (total sekitar 230 mahasiswa).
Penerapannya hampir sama dengan penelitian kedua. Dalam
penelitian ketiga ini, tidak diberikan pedoman jawaban. Peneliti
memasukkan konteks yang kaya soal yang serupa dengan yang
dikembangkan oleh grup penelitian pendidikan fisika di Universitas
Minnesota. Soal-soal yang dikembangkan tersebut memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
Soal-soal tersebut cukup menantang sehingga satu orang siswa
merasa sulit menyelesaikannya tetapi tidak begitu manantang jika
dikerjakan bersama-sama.
1) Soal-soal tersebut terstruktur sehingga dalam kelompok siswa
dapat menentukan arah penyelesaian soal tersebut.
2) Soal-soal tersebut relevan dengan kehidupan siswa.
3) Soal-soal tersebut tidak bergantung pada kemampuan siswa
untuk memikirkan trik-trik tertentu dan juga tidak
30
Peneliti menggunakan beberapa metode untuk menyelidiki
reaksi mahasiswa terhadap metode pekerjaan rumah fleksibel,
yaitu wawancara, survei melalui web, dan statistik pekerjaan
rumah. Wawancara memberikan banyak informasi mengenai
komentar siswa tentang metode pekerjaan rumah tradisional dan
metode pekerjaan rumah fleksibel. Hasil wawancara ini digunakan
untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan
pada saat survey untuk memperoleh data statistik yang banyak.
Hasil ujian dan survey konseptual juga digunakan sebagai data
dalam analisis, (Bao,L & Stonebraker 2002).