BAB II PEMBENTUKAN PENDERITA PENYAKIT
B. Stigmatisasi Pinasung
2. Pelabelan Gila dan Berbahaya pada Pinasung
Banyak orang melabeli pinasung dengan gila dan berbahaya. Jika gila sering disebut gangguan jiwa, penderita penyakit jiwa, maka berbahaya sering dikaitkan dengan perbuatan pinasung sebelum dipasung, yang sering disebut ngamuk.
Peristiwa yang selalu dikaitkan dengan pemasungan adalah tindakan
pinasung yang disebut ngamuk. Ngamuk sering disebut sebagai alasan pembenar
memasung. Ngamuk lalu sering orang katakan sebagai tindakan yang berbahaya, mengganggu keamanan, karenanya, orang-orang merasa sah memasung orang
lain, alasannya untuk menjaga keamanan, sebab dianggap akan membahayakan orang-orang sekitar jika tidak dipasung.
TV berita.com57menarasikan ngamuk sebagai berikut :
“Ujang endah, berumur 25 tahun adalah warga Pusaka Sari kecamatan
Cipaku, kabupaten Ciamis Jawa Barat ini, sudah 2 bulan harus tinggal di sebuah gubuk dengan perut diikat dengan rantai besar. Ujang terpaksa diasingkan akibat sering mengamuk dan menyerang beberapa warga. Bahkan pernah juga menyerang beberapa orang dengan menggunakan sebilah golok. Ujang yang terkena gangguan jiwa, yang ibunya meninggal dua tahun silam ini, setiap hari kondisinya semakin memburuk, terus membuat warga semakin khawatir. Bahkan beberapa bulan kebelakang, Ujang semakin bringas dan tak terkendali. Warung dan rumah warga banyak yang rusak jika Ujang sedang ngamuk. Yang membuat khawatir, jika mengamuk Ujang mulai berani menyerang warga bahkan hingga
menggunakan senjata tajam”.
Cara orang menafsirkan ngamuk sebagai sebuah tindakan yang berbahaya dan menganggu keamanan sosial itu memiliki sejarah panjang. Sebagai sebuah tindakan, pemaknaan kolektif mengenai ngamuk berubah-ubah sesuai dengan kepentingan kuasa pada periode tertentu. Cara kita memaknai orang yang ngamuk juga besar dipengaruhi pemaknaan kolonial.
Menarik mengetahui bahwa ngamuk adalah salah satu kata melayu yang diadopsi dalam bahasa barat. Dalam bahasa inggris Amok diartikan sebagai kondisi seseorang yang out of control. Ada kaitan erat adopsi kata ini dengan kolonialisasi Eropa.
Sejarah perubahan pemaknaan ngamuk atau amok menjadi sebuah tindakan individual yang mengancam atau berbahaya secara sosial mulai terbentuk pada abad ke-17. Abad ini adalah awal mula kompeni menaklukkan
Batavia. Sebagai pelabuhan internasional, penguasaan terhadap Batavia memiliki arti penting bagi para pedagang Belanda itu. Banyak pedagang dari berbagai bangsa datang ke Batavia untuk berdagang, bisa membeli atau menjual. Artinya, orang-orang yang dapat menguasai Batavia, mereka dapat pula menguasai perdagangan. Karenanya, jika kelompok tertentu ingin menguasai perdagangan, maka harus menaklukkan penguasa yang ada di tempat itu.58
Yang masih memberontak kompeni ketika itu adalah orang-orang jawa. Mereka adalah pasukan dari Mataram, Banten dan sejumlah hinterland di Krawang dan Cirebon, yang tidak mengakui kawasan Batavia sebagai kawasan mandiri orang barat dan mengobarkan perang gerilya melawan VOC. Perlawanan orang-orang jawa itu disebut amok. Dari sisi pribumi, tindakan itu bermakna sebagai strategi perang. Sedangkan pihak kolonial memaknainya sebagai sebuah tindakan subversif. Tindakan ini tentu mengganggu perdagangan VOC yang saat itu sedang membangun struktur untuk menguasai pelabuhan perdagangan internasional. Ketika itu, bagi para prajurit Mataram, Banten dan sebagainya, ngamuk itu berarti melawan sekelompok orang yang sedang merebut wilayah kekuasaan mereka. Jadi, tafsir amok saat itu berarti tindakan heroik, sebagai tindakan perlawanan.59
Baru pada abad ke-20, ngamuk dimasukkan dalam wilayah medis. Adalah Dr Van Wulfften Palthe, profesor psikiatri dan neurologi di Batavia yang
58Hendrik Niemeijer E.2012. Batavia, masyarakat Kolonial Abad XVII, Jakarta : Corts
melegitimasi ngamuk sebagai penyakit jiwa. Ini adalah awal mula pemaknaan ngamuk sebagai sebuah patologi sosial. Pemaknaan itu bukan saja dibentuk melalui peraturan-peraturan yang dibuat dalam wilayah territorial khusus, tetapi karena dianggap pentingnya mencegah ngamuk, Pemerintah Kolonial hingga merasa perlu memasukkan Amok dalam wilayah medis, agar kuat legitimasinya.
Amok yang awal mulanya berarti strategi perang dengan banyak orang yang terlibat dengan pengetahuan yang rasional dan logis, diubah menjadi sebuah patologi individual. Tidak lagi sebagai taktik penyerangan. Berikut narasi Psikiater Belanda itu tentang seorang pelayan yang ngamuk, Ali Musa :
"Tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, tanpa ada isyarat yang mencurigakan, ia melompat, meraih senjata, klewang atau pisau dan berjalan dalam keadaan gila dari rumahnya ke jalan. Ia memiliki keterampilan yang mengagumkan dan dia tahu mematikan orang; menusuk dan memukul dan tidak jarang mengamuk dalam waktu yang sangat singkat. Yang menyebabkan lima orang tewas atau cedera serius”. 60 Cara psikiater Hindia Belanda menarasikan orang ngamuk ini, jika kita perhatikan,ada unsur sama dengan cara wartawan, seperti telah saya uraikan di atas, dalam menggambarkan ngamuk. Pertama, tindakan itu digambarkan sebagai sesuatu yang tiba-tiba saja terjadi. Seakan-akan tidak ada faktor-faktor tertentu yang menjadi latar belakang tindakan orang tersebut. Kedua, tindakan itu selalu dideskripsikan dengan gambaran orang tersebut membawa senjata tajam dengan menyerang warga. Ketiga, efek buruk tindakan itu. Jika pada kasus Ujang
60 javapost.com, diunduh pada tanggal 26 Februari 2013,Geestesziek in Nederland Indie, Sakit
digambarkan tindakan-tindakan itu membuat orang lain takut dan merasa terancam hingga menyebabkan kematian.
Dari sudut pandang saya, seorang pelayan yang marah karena perlakuan majikannya adalah hal yang wajar. Bisa saja anggota keluarga majikannya itu memperlakukan Ali Musa dengan sangat buruk. Apalagi di era itu, posisi pelayan jauh lebih direndahkan daripada sekarang. Lalu saat ada kesempatan, pelayan itu membalasnya. Singkatnya, ngamuknya Ali adalah tindakan balas dendam, dan semua orang bisa melakukannya. Saat itu memang hal yang tabu ketika ada pelayan yang dapat ngamuk hingga berani membunuh tuannya.
Trauma Pemerintah Kolonial Belanda pada penduduk jawa di Batavia masih juga berlanjut, meskipun Mataram, Banten sudah tunduk pada Pemerintah Kolonial Belanda. Karena itu, salah satu cara untuk mengamankan perasaan takut kolonial pada orang-orang jawa tersebut, dilakukan dalam bentuk keamanan kolektif dengan menangkap ramai-ramai orang yang ngamuk. Salah satu cara adalah dengan mengatur para penjaga gardu61 agar membunyikan kentongan sebanyak tiga kali sebagai tanda bahaya kolektif ketika ada penduduk yang ngamuk. 62 Ketika itulah, masyarakat mulai mengartikan ngamuk sebagai sesuatu
61 Di sini fungsi Gardu tidak hanya untuk mengamankan penduduk dari ancaman luar
tetapi juga ‘ancaman’ dari dalam . Mengenai tindakan apa yang dianggap mengancam sosial itu tentu sangat subjektif, tergantung kepentingan pemerintah kolonial hindia belanda saat itu. Menurut Abidin Kusno, Gardu merupakan tempat yang juga berfungsi memproduksi siapa yang disebut patologi, yaitu orang-orang luar kampung, dengan orang-orang normal, termasuk anggota kampung itu. lihat, Abidin Kusno, Penjaga Gardu di Perkotaan Jawa, Januari, , Guardian of Memories: Gardu in Urban Java, Terj. Chandra Utama. Yogyakarta: Ombak, 2007.
62Vries J.J de. Jakarta Tempo Doeloe, Tr dan disusun: Abdul Hakim, Jakarta: Pustaka
yang dapat mengancam diri mereka. Ngamuk bergeser artinya. Tidak lagi dipandang sebagai sebuah tindakan subversif pada kekuatan jahat, tetapi dianggap sebagai kegilaan yang membahayakan. Untuk orang-orang semacam ini, pemerintah kolonial akan ‘mengurung’ dan menahannya, atau kadang dengan terapi kerja.63
Dengan demikian, klasifikasi itu jelas-jelas menguntungkan para borjuis. Di sinilah kesehatan menjadi alat efektif untuk mengontrol tubuh kelas bawah. Dengan mengklasifikasikan ngamuk sebagai patologi individual, berarti melanggengkan kekuasaan kaum borjuis kolonial untuk mengontrol penduduk pribumi agar tidak memberontak, baik pemberontakan kolektif maupun individual.
Definisi jiwa yang sehat berdasarkan undang-undang kesehatan adalah jiwa yang sehat dari segi ekonomi dan sosial. Orang-orang yang tidak bekerja, yang tidak diterima oleh lingkungannya, (tidak ada penjelasan kenapa tidak diterima, yang penting masyarakat tidak menerimanya) berarti sah disebut sebagai orang yang jiwanya sakit. Untuk orang-orang dengan kriteria semacam itu, menurut pemerintah, harus diobati. Tidak perlu penjelasan dari orang yang divonis itu, ketika ada dua kriteria itu berarti dimasukkan pada orang-orang yang menderita penyakit jiwa. Bahkan ketika individu sudah divonis menderita penyakit jiwa berat maka pemerintah memberi kuasa pada dokter untuk
63 Kevin O Browne. 2001. Lanskap Hasrat dan Kekerasan. Terj. Apri Danarto, Sigit
melakukan tindakan apapun pada orang tersebut. Seorang yang gila itu tidak punya hak untuk menolak.64