• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik Wacana Kegilaan pada Agung Tri Subagyo

BAB III WACANA PEMASUNGAN MASYARAKAT ATAS DIRI AGUNG TR

A. Pengetahuan Kegilaan Pada Agung Tri Subagyo

1. Praktik Wacana Kegilaan pada Agung Tri Subagyo

Edan itu bahasa jawa. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan gila.

Warga Sri Gentan menyebut Agung edan, gendeng melalui ingatan-ingatan mereka tentangnya sebelum dipasung dan dari kondisi fisik saat Agung di pasungan.

Saya awali bagaimana masyarakat menyebut Agung edan dari kenangan tentangnya saat masih kecil. Muhajari, tetangga sekaligus saudara jauh, mengenang saat Agung kecil sebagai “ Maaf…itu mbak, seperti itu lho…anak ‘IQnya rendah..kayak itu...anak idiot” katanya. Ia mengatakannya sebab sewaktu

kecil Agung tidak lulus SD dan MI. Ia sekolah hingga kelas dua SD. Sedangkan sekolah MI hanya sampai kelas empat. Kala itu anak-anak sebayanya mengikuti dua sistem pendidikan yaitu SD (sekolah dasar) dan MI (Madrasah ibtidaiyah), SD pagi hari, MI siangnya. Konon yang menyebabkannya tak bisa lulus adalah karena tidak bisa membaca dan menulis.69

Ada dua hal yang Muhajari pandang sebagai penyebab Agung menjadi seperti itu. Pertama, karena kurangnya perhatian keluarga. Ketidakharmonisan hubungan orang tua, membuat Agung tak terurus sampai kemudian membuatnya tak bisa melanjutkan sekolah. Kedua, ia menganggap bahwa ada yang salah dengan syaraf otak Agung.70

Syaraf otak

Hal lain yang membuat Muhajari memandang Agung edan adalah kenangan saat Agung berumur sekira sembilan tahun. Konon, Agung sering duduk-duduk sendirian di jalan gang desa berjam-jam. Biasanya, ia duduk dari pagi hingga siang, menunggu adiknya, Ika, pulang sekolah. Sambil duduk-duduk, ia celingukan, melihat kiri kanan, seperti orang gelisah menunggu. Barulah setelah adiknya terlihat dari jauh, ia akan lega dan senang. Kemudian ia akan berjalan 69Wawancara dengan Muhajari pada 05 Mei 2013

mengikuti adiknya dari belakang menuju rumah. Jarak jalan yang ditempati Agung duduk-duduk dengan rumahnya tidak begitu jauh, hanya sekira 300 meter.71

Sejak kecil Agung sering ke kuburan. Ketika anak-anak lain menghabiskan waktu untuk sekolah dan bermain, kadang ia ke kuburan, setelah sholat di Masjid. Biasanya ia menyapu dan membersihkan kuburan. Intensitasnya lebih sering pasca ayahnya meninggal. Keduanya meninggal saat ia masih berumur sekira 10 tahun. Sesudah adik dan bapaknya meninggal, kuburan seperti rumah keduanya, bisa seharian penuh di sana; dari pagi hingga pagi lagi. Jika sebelumnya ia sholat di Masjid yang hanya berjarak sekira 50 meter dari kuburan, lama-lama ia juga sholat di atas pusara. Setelah menyapu pusara, ia melebarkan sajadah di atasnya dan setelah itu sholat. Sajadah itu juga ia pakai sebagai alas tidur.72

Hal itu nampak aneh jika dilihat dari kebiasaan umum. Biasanya, masyarakat hanya datang ke kuburan pada saat-saat tertentu. Misalnya, mereka ke kuburan saat mengantarkan jenazah atau ziarah ke kuburan keluarganya menjelang lebaran. Biasanya, mereka hanya sebentar berada di tempat itu, berdoa untuk arwah keluarganya, paling lama dua jam. Dalam masyarakat jawa, fenomena orang lebih sering ke kuburan juga dilakukan orang-orang yang tirakat. Orang-orang yang tirakat itu biasanya ke kuburan lebih lama dari orang-orang biasanya.

Ika menduga kebiasaan Agung ke kuburan itu terkait dengan ‘ngangsu

71Wawancara dengan Muhajari pada 05 Mei 2013 72Wawancara dengan Dewi pada 07 Mei 2013

ilmu’ yang sedang dijalankannya. Menurutnya, kakaknya itu sering ke orang pintar untuk menuntut ilmu. Ia pernah mendapat laporan dari tetangganya, kalau kakaknya itu sering pergi dengan teman-temannya untuk menuntut ilmu ke orang pintar.73

Tingkah laku yang menandakan edan itu semakin mencolok saat Agung mengoleksi bunga orang yang meninggal. Ia mengambil bunga yang diletakkan di atas keranda. Seluruh bunga yang diletakkan di atas keranda itu ia ambil. Lalu, ia membawa pulang bunga setaman, yang berwarna merah, hijau, kuning, dengan daun pandan dan digantungkan di ruang tamu rumahnya. Dewi menceritakan,

“Jadi…bunga yang dilonce (dirangkai) yang ditaruk di atas peti itu yang diambil. [seberapa banyak yang diambil?), sangat banyak mbak. Itu… semuanya.”

Biasanya, Agung membiarkan bunga itu mengering hingga ada bunga baru dari mayit yang baru saja dimakamkan. Keluarga mendiamkan hal itu. Dewi tidak

berani bertanya pada Agung tentang alasan tindakan Agung tersebut. “Emang Agung aneh,” tutur Dewi.74

Masyarakat juga mengenali keedanan Agung dari tindakan-tindakan

‘kriminal’ yang pernah dilakukannya. Dulu, ia pernah mengambil sepeda motor

Mega Pro di depan kantor polisi Borobudur. Cara mengambil dengan mendorong, tidak dinaiki. Belum luput dari jarak pandang polisi, sang pemilik sudah memergoki dan melaporkannya ke polisi. Lalu, polisipun mengintrogasinya. Hasilnya, ketika polisi bertanya siapa komplotan atau rombongannya, ia menyebut hampir semua tetangga lelaki yang dikenalnya. Sumaryanta mengisahkan 73Wawancara dengan Ika, adik Agung, tanggal 19 Juli 2011

peristiwa itu sebagai sebuah peristiwa yang memalukan. Begini ceritanya:

“Agung waktu itu nyuri motor, tapi ya…mencurinya kayak gitu, karena

dia itu wong edan jadi cara mencurinya ya seperti itu, itu mbak ditenteng

(didorong) sepeda motornya. Ya…ndak jauh dari kantor polisi. Ya..ketauan. Saya

ingat, waktu itu polisi datang ke desa dan kami semua dipanggil. Kami yang lelaki, diangkut semua. Itu mbak pakek tepak (mobil bak terbuka), Wong waktu

itu… mobil polisi sampai penuh. Kami semua dibawa ke kantor polisi. Bikin

malu aja.”75

Agung juga pernah mencuri mic di Masjid. Jarak antara rumah Agung dengan masjid sekira 500 meter. Konon, ia sering adzan subuh di Masjid itu. Ia mengambil mic pada malam hari ketika orang sedang tidur. Keluarga Agung tidak mengetahui saat ia mengambil mic. Saat takmir masjid mau adzan subuh (sholat subuh dilakukan pada pagi hari pukul 04.00 WIB) dan tidak mendapatkan mic di tempat, ia segera tahu kalau yang mencuri mic itu Agung. Karenanya, ia langsung ke rumah Agung. Dewi menceritakan, Agung sendiri yang memberikan mic itu pada takmir masjid. Agung memberikan mic itu tanpa marah. Biasa saja.76

Ia juga pernah mencuri kelapa dan pepaya para tetangga.77 Dia mengambil saat rumah orang yang diambil itu sedang sepi. Tetapi bukan berarti orang lain tidak ada yang tahu. Karena mengambil pada siang hari, saat orang bisa melihat dengan gamblang, dengan mata kepala mereka sendiri. Emy menuturkan Agung mengambil pepaya itu dengan getek (kayu panjang untuk mengambil buah pepaya), buah kelapa ia ambil sendiri dengan memanjat. Tinggi pohon kelapa sekira 20 meter, orang-orang di desa Agung sudah terbiasa memanjat pohon kelapa yang sangat tinggi semacam itu. Ia mengambil buah itu dengan

75

Wawancara dengan Sumaryanta, tetangga Agung, pada tanggal 18 Juli 2011 76Wawancara dengan Triyani pada 28 Juli 2013

77Hampir semua rumah memiliki pohon kelapa dan pepaya di rumahnya. Kedua tanaman ini

memanjatnya. Setelah itu, membawa buah kelapa dan pepaya itu dengan

ngenteng-ngenteng, membawa tanpa ditutupi plastik atau tidak disembunyikan

dari orang lain. Jadi, para tetangga juga bisa melihat ketika Agung mengambil pepaya dan kelapa tersebut dan juga tahu saat dia membawanya. Di dusun Sri Gentan, hampir setiap rumah mempunyai pohon kelapa dan pepaya. Pemilik juga tahu saat Agung mengambil buah pohon tersebut. Triyani mengisahkan saat itu orang-orang terusik dengan tindakan Agung tersebut, tetapi tidak ada yang menegur langsung, hanya diam. Beberapa orang mengambil pepaya dan kelapa ke rumahnya. Dan, meski Agung tahu orang-orang itu mengambil pepaya dan kelapa itu, dia diam saja. Ia hanya mengambil beberapa untuk dijual di pasar Gayu. Hasil penjualan digunakan untuk membeli ikan sebagai bahan makan kucing kesayangannya. Dewi mengisahkan Agung menyimpan ikan itu di slorokan ( semacam laci meja), diberikan ke kucing kesayangannya sedikit demi sedikit. Saat itu Rufiah protes dan melarang Agung mencuri. Ia takut tetangga- tetangganya menyangka kalau dia yang menyuruh Agung melakukannya. Sayangnya, saat dia bertanya alasan mencuri itu, Agung menjawab “Koyok onok wong wedok seng ngongkon (seperti ada seorang perempuan yang menyuruhku mencuri)” Rufiah menyebut sosok itu dengan jin. Dan, saat Agung menjawab

seperti itu, ia tak bisa mengucapkan apa-apa lagi.78

Bukan hanya tindakan mencuri semacam itu yang membuat warga menganggap Agung semakin edan, saat usianya sudah beranjak dewasa, Agung sering ngoyak (mengejar dengan mengikuti dari belakang) perempuan muda,

tetangganya. Menurut Lia, dulu sewaktu Agung dewasa, ada dua perempuan yang sering dioyak atau diikuti Agung dari belakang. Perempuan yang dioyak itu ajeg (tetap orang-orang tertentu), hanya itu-itu saja. Dua perempuan yang diingat Lia pernah dikejar Agung, satu sudah meninggal dan satunya lagi merantau. “Medeni mbak…lek Agung ngoyak. Apalagi lek iku lho…lek peteng. Itu nakutin mbak

(menakutkan kalau ngejar-ngejar seperti itu, apalagi pada malam hari. Itu

menakutkan)”. Kata Lia. Konon perempuan itu sampai lari terbirit-birit jika

Agung kejar. Bahkan seringkali perempuan itu harus ngumpet di rumah orang lain supaya Agung tak melihatnya.

Puncaknya, orang-orang semakin yakin bahwa Agung itu edan lan

nyamari (gila dan menakutkan) saat membawa golok sambil mengumpat-ngumpat

dengan menyebut semua nama binatang. Misalnya, umpatan-umpatan itu seperti;

asu, babi dan sebagainya. Di dusun Sri Gentan tidak ada orang yang berani

berteriak-teriak mengumpat-ngumpat. Bahkan ketika berbicara dengan orang lain, yang lebih tua atau untuk menghormati orang lain, penduduk selalu menggunakan bahasa kromo. Agung bahkan berteriak-teriak sambil membawa golok dan mengancam akan membunuh ibunya. Lia mengenang ketika itu semua orang menutup rumahnya. Semua anggota keluarga yang perempuan dan anak kecil tidak berani keluar rumah.

Ibu Agung yang dikejar-kejar, dengan Ika yang tinggal serumah dengannya saat itu harus mengungsi di rumah tetangga-tetangga terdekat. Muhajari mengatakan keduanya pernah menginap di rumahnya, ketika Agung marah-marah seperti itu. Tidak ada yang berani keluar rumah. Ketika Agung tidak

teriak-teriak dan marah-marah lagi barulah orang berani keluar rumah, itupun mereka harus memastikan tidak akan berpapasan dengan Agung. Tetapi ketika Agung kumat, berteriak-teriak dan mengumpat-ngumpat orang dengan nada keras, orang-orang akan cepat-cepat menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Mereka akan memasang telinga dari dalam rumah, untuk mengetahui bagaimana kondisi Agung. Tindakan Agung berteriak-teriak sambil mengumpat-ngumpat itu bukan hanya sekali dilakukannya, sudah beberapa kali hal itu ia lakukan. Tetapi yang membawa golok, sambil mengancam ibunya memang baru sekali.

Tingkah Agung yang dibahasakan masyarakat sebagai keedanan juga disimpulkan warga dari kondisi Agung selama di pasungan. Keluarga dan beberapa orang yang tak sengaja melihat Agung dari jalan mengatakan bahwa Agung terlihat segar bugar, tidak sakit sama sekali. Padahal ia tinggal di luar, tanpa selimut dengan baju seadanya. Cuaca di dusun Sri Gentan masih semilir di siang hari, malam hari suhunya juga masih sangat dingin, bahkan masih ada kabut di pagi hari. Karenanya, orang-orang tidur dengan selimut tebal. Tetapi bertahun-tahun sudah Agung tidur di atas tanah tanpa sehelaipun selimut. Karpet karet yang diletakkan di gubuk untuknya sudah sobek-sobek, hingga bertahun- tahun ia tidur tanpa alas. Baru tahun 2013 ada alas tidur, itupun terbuat dari semen, yang untuk ukuran orang biasa tentu sangat dingin. Nyatanya, yang keluarga lihat, Agung tetap segar bugar. Ia tetap gemuk dan sehat. Ini disimpulkan keluarga karena Agung tidak pernah mengeluh tubuhnya sakit.

Ada beberapa faktor yang tetangga maupun keluarga sebut sebagai penyebab Agung edan. Irfan, kakak Agung, menyebut penyebabnya adalah

karena terlalu tinggi nama Agung. Nama lengkap Agung adalah Agung Tri Subagyo. Nama itu artinya anak laki-laki ketiga yang Agung dan bahagia. Pemberian nama orang tua pada anaknya adalah sebuah harapan. Irfan memaknai bahwa pemberian nama pada Agung itu terlalu tinggi, sehingga Agung ‘kabotan jeneng’ (kebesaran nama).

Dalam masyarakat jawa, nama seseorang biasanya menunjukkan strata sosial. Misalnya, kelas bawah atau rakyat jelata memakai nama seperti Paimin, Paijo. Sedangkan keturunan ningrat menggunakan nama yang lebih panjang, yang diartikan lebih tinggi. Misalnya, keturunan ningrat akan mendapatkan nama yang memiliki arti kebesaran atau menunjukkan keagungan seseorang dibandingkan dengan orang lainnya. Nama Agung merujuk pada orang yang memiliki strata tinggi. Nama itu memang sesuai dengan strata keluarga Agung di dusun Sri Gentan.

Secara sosial, posisi keluarga Agung di desa Sri Gentan adalah keturunan kelas dhuwur (atas). Konon kelas Dhuwur berasal dari garis keturunan orang- orang ningrat. Mereka adalah keturunan tuan tanah di desa tersebut. Mereka keturunan mbah Abdurrahman, sang pemilik tanah yang luas.

Secara geografis, kelas atas merujuk pada mereka yang tinggal di dataran lebih atas daripada kelas bawah. Dari segi ekonomi, kelas atas, sesuai namanya, rata- rata berpenghasilan lebih tinggi. Mereka bekerja sebagai guru, pegawai negeri sipil di departemen pemerintah. Mereka juga memiliki tanah yang cukup luas dengan kebun-kebun serta pekarangan maupun sawah yang diwarisi secara turun temurun.

Kentalnya perbedaan kelas ini mencolok dari cara kelas bawah memanggil anak-anak kelas atas. Orang-orang kelas bawah akan memanggil mas pada anak- anak kelas atas, baik lelaki maupun perempuan, tua, muda, kecil. Jika bertamu ke rumah kelas atas, kelas bawah datang lewat pintu belakang, tidak berani melalui pintu depan. Di rumah-rumah kelas atas, biasanya memiliki dua pintu. Satu pintu depan langsung menuju ke ruang tamu, sedangkan pintu belakang dekat dengan dapur.

Banyak rumah di kelas atas ini yang tertutup pintu depannya. Aktifitas keluarga sering dilakukan di ruang tengah, untuk menonton TV ataupun di dapur yang biasanya terletak di belakang dari struktur bangunan rumah. Ruang depan hanya akan dibuka jika ada tamu. Antara ruang depan dengan ruang tengah terpisah dan sulit dipantau dari tengah apalagi dari belakang. Ada ketakutan jika tiba-tiba ada orang masuk. Pengontrolan orang keluar masuk dilakukan melalui pintu depan.

Sedangkan kelas ngisor, selain letak tempat tinggalnya yang lebih rendah datarannya dari kelas atas, dari modal ekonomi, jarang dari kelas bawah yang memiliki sawah maupun kebun yang luas. Karenanya, letak rumah mereka saling berdekatan, bahkan berdempetan. Kelas bawah bekerja sebagai buruh-buruh pabrik, pekerja rumah tangga, buruh tani, maupun pembuat batu bata. Ada beberapa orang dari kelas bawah yang bekerja sebagai buruh tani atau pekerja rumah tangga pada kelas atas. Yang lelaki biasanya sebagai buruh tani dari kelas atas dan yang perempuan menjadi pembantu rumah tangga di kelas atas.

Pembedaan strata semacam itu juga terlihat dengan sangat jelas kalau kita perhatikan dari nama-nama kelas masing-masing. Misalnya, nama kelas ngisor itu misalnya; Markisah, Pariah, Triyani, sedangkan nama kelas Dhuwur misalnya; Dewi Sri Utami, Nurul Mariatul Khusniah, Emi Lestari Handayani dan sebagainya.

Faktor lain yang dianggap menyebabkan Agung edan adalah karena kemasukan makhluk halus. Makhluk halus itu bersemanyam dalam tubuhnya. Dewi, kakak Agung, menyebut roh itu lelembut, Rufiah menyebutnya jin, syetan, atau berdasarkan pernyataan Agung sendiri seorang perempuan, seorang perempuan yang bernama Ruwatinin. Triyani menyebut mahluk itu ingon-ingonan bapake.

Sejak kecil, Agung telah kehilangan sosok ayah. Ayahnya meninggal ketika ia masih seumuran anak SD. Emy, tetangga Agung, menuturkan ayah Agung memiliki ingon-ingonan. Katanya, sebelum meninggal, bapaknya berpesan kalau Agung tidak boleh ke pusaranya hingga empat puluh hari pasca meninggal. Tetapi titah itu dilanggar. “Sopo seng iso nglarang Agung?”. kata Emy. Peristiwa pelanggaran itulah, yang disangka menyebabkan ingon-ingonan itu masuk ke dalam tubuh Agung dan mewujud dalam tindakan-tindakan yang jahat.79

Dewi menyatakan kalau suatu hari, melihat Agung seperti tengah bersemedi di dalam kamarnya. Agung diam saja. Kemudian saat ia berjalan ke

dapur tiba-tiba melihat kaki seribu berwarna orange bersih. Dewi merasa ada yang aneh dengan warna kaki seribu itu, sebab biasanya kaki seribu berwarna merah gelap, lalu ia menjeri dan, tanpa basa basi, Agung membunuh kaki seribu itu. “Kata ibu, kaki seribu itu ingon-ingonane bapak.” tutur Dewi. 80 Ingon- ingonan bapak Agung inilah yang dianggap Dewi masuk ke dalam tubuh Agung.

Senada dengan pernyataan itu, Triyani juga menyakini kalau Agung itu

keblonan (kemasukan), ingon-ingonan ayah dan mbahnya. Kakek Agung adalah

seorang yang hebat. Ia ramempan dibacok (tidak terluka meski dilukai dengan benda tajam) dan bisa ngilang (menghilang tiba-tiba). Cerita tentang kehebatannya terjadi di era kolonial. Pada saat tentara kolonial mengepung kakeknya Agung, ia bisa ngilang. Kalau ada musuh yang mengepung, langsung bisa ngilang (menghilang).81