• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelabelan Penderita Penyakit Jiwa pada Pinasung

BAB II PEMBENTUKAN PENDERITA PENYAKIT

B. Stigmatisasi Pinasung

1. Pelabelan Penderita Penyakit Jiwa pada Pinasung

Secara resmi Pemerintah menanggapi tentang pemasungan ini pada tahun 1977 dengan diterbitkannya surat menerti dalam negeri no. PEM.29/6/15 tanggal 11 November 1977. Surat ditujukan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia, yang meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan pemasungan terhadap penderita gangguan jiwa dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menyerahkan perawatan penderita di Rumah Sakit Jiwa. Surat tersebut juga berisi instruksi untuk para Camat dan Kepala Desa agar secara aktif mengambil prakarsa dan langkah-langkah dalam penanggulangan pasien yang ada di daerah mereka.47

Lalu pada tahun 2002 masalah pasung secara eksplisit menjadi masalah kesehatan dengan dimasukkannya kebijakan-kebijakan untuk mengatasi pemasungan melalui dinas kesehatan. Surat keputusan KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 220 / MENKES / SK / III / 2002 memasukkan pemasungan sebagai masalah kesehatan Jiwa dalam rumpun

46www.arif.rahmawan.blogspot. Com pada tanggal 26 September 2010 mencatat terdapat sekira

54 Rumah Sakit Jiwa di Indonesia baik yang swasta maupun negeri.

47 Sayang, saya belum dapat menemukan sejauh mana penanganan atau langkah-langkah yang

diambil para gubernur pada tahun itu untuk mengatasi masalah ini, juga belum saya temukan, via internet tentang keputusan pemerintah dalam negeri ini. Keterangan ini saya dapat dari depkes.

masalah psiko-sosial. Psiko sosial didefinisikan sebagai masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial. Perkembangan inilah yang kemudian membuat dan mengarahkan orang-orang untuk membicarakan pasung melulu melalui wilayah medis.48

Pemerintah menjadi terbiasa mengkaitkan pemasungan dengan kesehatan jiwa, bahkan melulu begitu. Pemerintah menyebut pinasung sebagai ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) Karenanya, mereka memberi otoritas para dokter jiwa dengan pengetahuannya untuk “menyembuhkan” pinasung. Melalui

departemen kesehatan dan para dokter jiwa, pinasung disebut sebagai orang dengan masalah kejiwaan (yang disingkat ODMK) yang terlantar,49 karena tidak

“dirawatdi RSJ. Berdasarkan Undang-undang kesehatan, orang-orang yang telah divonis mengidap penyakit jiwa itu akan dirawat pemerintah.

Berbagai progam dibuat pemerintah dalam rangka agar tidak ada lagi pemasungan. Diantaranya adalah program Indonesia bebas pasung. Awalnya program ini dicetuskan dengan menyebut Indonesia bebas pasung 2010, lalu ternyata karena masih belum dapat dilaksanakan dengan maksimal dalam arti masih banyaknya orang yang dipasung maka pemerintah mengeluarkan program berupa Indonesia bebas pasung 2014. Program ini dilakukan dengan cara, selain melalui seminar-seminar, diskusi-diskusi, cara yang terekspos di media yang diterapkan pemerintah dengan cara dinas kesehatan mengambil langsung

48Baca KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 220 / MENKES / SK / III / 2002, masalah kesehatan dalam point b yang dimasukkan dalam masalah psiko-sosial.

pinasung dari rumahnya lalu ditempatkan ke rumah sakit jiwa.50 Cara seperti itu dianggap efektif mengeliminir pemasungan.

Dasar itulah yang dipakai berbagai media untuk memberitakan pinasung. Hampir semua media mengikuti stigma dengan menyatakan kalau pinasung itu orang yang menderita penyakit jiwa, penderita gangguan jiwa, gila, tak waras. Efeknya, kita menjadi terbiasa dan merasa bahwa yang menjadi masalah dalam pemasungan itu memang diri pinasung, bukan lainnya.

Undang-undang kesehatan jiwa menjadi dasar media dalam memberitakan pasung. Banyak media yang melihat pasung dari sisi tidak bertanggungjawabnya pemerintah pada pinasung. Padahal pemerintah wajib menjaga serta melindungi kesehatan warga. Ini berasal dari keyakinan para awak media kalau pinasung itu orang yang jiwanya sakit, karena itu yang perlu dianggap serius adalah bagaimana caranya supaya pinasung itu segera diatasi dengan menuntut pemerintah bertanggung jawab untuk segera memindahkan pinasung dari kurungan di rumahnya ke RSJ.

Setelah melabeli pinasung sebagai orang yang menderita penyakit, maka ukuran yang dipakai dalam menilai pinasungpun menggunakan kriteria yang dibuat pemerintah. Dengan melekatkan berbagai definisi tentang pinasung melalui ukuran-ukuran yang telah dibuat pemerintah dalam Undang-undang Kesehatan.

50 www.antara.com. Judul berita, Akhir 2009, Aceh Bebas Orang Terpasung, pada tanggal 15

Cara pandang pemerintah itu diikuti media-media, para dokter dan akhirnya menjadi persepsi umum dalam membaca pemasungan.

Cara dokter memandang pinasung sama dengan pandangan pemerintah. Hanya tentu dokter menggunakan kosa kata medis dalam mengklasifikasikan

pinasung, yang tidak mudah dipahami orang-orang yang tidak belajar

pengetahuan itu. Dalam pandangan dokter jiwa, pinasung adalah orang yang menderita Shizofrenia dan Gangguan Bipolar. Kedua penyakit itu disebut sebagai jenis penyakit jiwa berat. “Ciri-ciri orang yang diklasifikasikan menderita penyakit jiwa berat itu adalah orang mengalami gangguan dalam fungsi sosial dengan orang lain, serta dalam hal fungsi kerja sehingga tidak produktif," kata Dr Tun Kurniasih Bastaman, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Pernyataan tersebut sama dengan bunyi Undang –undang Kesehatan 2009 yang menyebutkan bahwa orang yang sehat jiwanya adalah orang yang sehat secara sosial dan produktif secara ekonomi.

Para dokter jiwa kemudian memiliki legitimasi untuk menjadikan

pinasung sebagai objek pengetahuan medis. Diantaranya, pernyataan Dr. Tun

yang menyebut pinasung terkena gangguan Jiwa Berat, dengan gejala biasanya juga diikuti gejala dengan efek kuat misalnya Delusi, Halusinasi, Paranoid, ketakutan berat, yang biasanya disebut gejala psikosis. Untuk mengatasi orang dengan gangguan itu, pemerintah membuat obat, yang disebut three in one pils: CPZ (chlorpromazine), Halo (haloperidol) and THF (Trihexiphenidyl) (Tyas, 2008: 44).

Untuk membentuk pribadi yang sehat dari segi ekonomi maupun sosial, pemerintah bertugas memproduksi para ahli di bidang ini. Karena itulah, sekolah- sekolah kedokteran, RSJ terus dibangung. Para psikiater, psikolog juga terus diproduksi melalui institusi-institusi pendidikan kesehatan. Sebab itu, posisi dokter adalah sebagai medium pemerintah untuk merawat serta menyembuhkan

pinasung agar dapat diterima masyarakat dan bekerja. Bahkan pemerintah

memberikan otoritas penuh pada sang dokter untuk melakukan intervensi pada orang gila yang didiagnosis dokter telah menderita penyakit jiwa berat. Jika pasien menolak tindakan dokter, dokter berhak memaksa pasien tersebut. Karena

pinasung dimasukkan dalam kategori OMDK yang berat, maka dokter berhak

memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan padanya.51

Alasan pemerintah memasukkan seseorang ke rumah sakit jiwa selalu, dikatakan, demi kepentingan ketertiban dan keamanan umum. Jika masyarakat merasa ada orang gila seperti itu, maka pihak berwenang di desa, pejabat keamanan berhak memasukkan orang-orang tersebut ke rumah sakit jiwa.52

Ada tiga institusi kesehatan yang telah disiapkan pemerintah untuk melaksanakan tugas melayani pinasung. Institusi ini dirancang secara legal formal untuk menjalankan visi pemerintah menjamin kesehatan jiwa penduduk. Pertama adalah Puskesmas. Puskesmas merupakan institusi kesehatan yang pertama menjadi rujukan penduduk untuk mendeteksi serta mengobati jiwa pinasung. Diah Setia Utami, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan,

mengungkapkan Kemenkes telah memberikan pelatihan kepada para dokter di puskesmas agar siap dan berani menangani kasus-kasus skizofrenia dan gangguan jiwa lainnya termasuk kondisi gawat darurat. "Mereka sudah dilatih dalam waktu lima hari, bagaimana penanganan dan tanggap darurat terhadap kondisi-kondisi tersebut," kata Diah.53 Jika puskesmas masih belum mampu menangani, maka pasien dibawa ke Rumah Sakit Umum. Tetapi jika RSU tidak mampu, maka akan dirujuk ke rumah sakit jiwa.

Pemerintah membuat program yang diberi nama Indonesia Bebas Pasung yang awalnya telah dibuat sejak 2010, kemudian karena masih banyak ketidakmampuan pemerintah maka kemudian diperpanjang dengan program Indonesia bebas pasung 2014.54 Program ini dijalankan dengan cara dinas kesehatan masing-masing daerah menjemput langsung pinasung, lalu melepaskan pasungan, kemudian membawa pinasung ke rumah sakit jiwa.55 Aksi ini berarti memindahkan otoritas penanganan. Saat dipasung, pinasung sepenuhnya di bawah pengawasan dan kontrol keluarga, ketika dibawa ke RSJ berada dalam pengawasan dan kontrol dokter jiwa.

Metode mekanik yang ditawarkan dan selalu dijadikan solusi dalam masalah pasung ini ialah dengan cara mendisiplinkan pemasung ke RSJ. Ini berawal dari keyakinan pemerintah bahwa penyebab utama orang dipasung itu karena ketidakmampuan keluarga membiayai biaya RSJ. Banyak media yang

53

health.liputan6.com/read/654297/apa-pun-yang-terjadi-pasung-penderita-gangguan-jiwa. pada tanggal 03 September 2013

54 Kegiatan ini dilakukan telah dimulai sejak tahun 2009, yaitu ketika Indonesia menjadi tuan

rumah

mengikuti pandangan itu. Ini manandakan bahwa tanggung jawabkesehatan itu dianggap sebagai tanggung jawab individual. Karena komodifikasi penyakit jiwa itu berakibat pada keharusan mengakses RSJ dengan hanya menggunakan uang, maka pemerintah berdiri seolah sebagai pihak yang melindungi yang miskin ini. Caranya, membuat proyek yang diberi nama program jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) dan Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah). Khusus untuk

pinasung yang tidak memiliki Jamkesmas maupun Jamkesda, pemerintah

menetapkan memberi kemudahaan pelayanan dengan cara keluarga memperlihatkan, KK, KTP serta keterangan miskin dan pinasung, katanya, maka orang itu akan mendapatkan pelayanan gratis.56 Bukan pemiskinannya yang diselesaikan, tetapi masalah yang diakibatkan pemiskinan yang seolah diselesaikan dengan proyek-proyek.