Bab V merupakan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian ini yang terdiri
DI BALAI HARTA PENINGGALAN MEDAN
B. Pelaksanaan Keadaan Diam (Standstill) Dalam Pengurusan Dan Pemberesan Harta Pailit Di Balai Harta Peninggalan Medan
Dalam masa keadaan diam (standstill) dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit di Balai Harta Peninggalan sebagai kurator, kurator dapat melakukan penjualan asset pailit dengan cara penjualan dibawah tangan untuk hal-hal tertentu seperti biaya-biaya kepailitan, biaya pajak, biaya perawatan asset pailit, biaya penjagaan/pengamanan asset pailit atau untuk mencari keberadaan asset-asset. Sepanjang untuk meningkatkan harta pailit pada masa standstill kurator juga dapat menjual barang-barang atau terhadap asset yang mudah rusak karena memiliki batas waktu/kedaluwarsa misalnya untuk bahan-bahan makanan, minuman, susu, juga terhadap bahan-bahan bangunan yang dapat rusak oleh cuaca seperti semen, kayu, dan lain-lain setelah mendapat ijin Hakim Pengawas.
Setelah berlakunya Undang Kepailitan yang baru yaitu Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, maka perkara Kepailitan yang masuk ke Pengadilan Niaga Medan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 sebanyak 7 (tujuh) perkara, dengan perincian sebagaimana yang disebutkan dalam tabel berikut ini :
Tabel 1 : Jumlah Perkara Kepailitan Yang Pengurusan Dan Pemberesannya Dilakukan Oleh Balai Harta Peninggalan Medan Dari Tahun 2005 Sampai Dengan Tahun 2010
No Tahun Debitor Kreditor Pailit
1. 2005 1. PT. Aneka Surya Agung Jln. Industri No. 54/09 Kebun
Sayur Deli Serdang. Berdasarkan putusan
Pengadilan Niaga No.2
Pailit/2005/PN Niaga Tanggal 23 Desember 2005.
1. Kreditor Istimewa 1. BNI 46 Cab. Medan 2. Mantan Buruh PT. ASA
2. Kreditor Konkuren
l. PT. PLN Cab. L. Pakam 2. PT. Lautan Luas
3. Budi Sumarlin
4. UD. Naga Mas Tj. Morawa
2. Ispara Sakti Nasution/ Lucky Jln. Suka Indah No.9 Kelurahan Suka Maju Kecamatan medan Johor Kota Medan.
Berdasarkan putusan Pengadilan Niaga No. 3 Pailit/2005/PN Niaga tanggal 18 Januari 2005.
Tidak diketahui Kreditornya Harta Nihil
2. 2006 CV. Widya Mandiri Jln. Brigadir Jenderal Katamso No. 5 Medan.
Berdasarkan putusan Pengadilan Niaga No.
2/Pailit/2006/PN Niaga Medan tanggal 16 Agustus 2006. 1. Kreditor Istimewa 1. PT. Bank Mandiri 2. Kreditor Konkuren 1. RM.Yunus 2. Ernie 3. M.Nur 4. Kok Pe Giang
3. 2007 PT. Prana Reksa Karya Jln. Candi Prambanan No. 2 Medan.
Berdasarkan putusan Pengadilan Niaga No.
01/Pailit/2007/PN Niaga Medan tanggal 19 April 2007.
1. Kreditor Istimewa PT. Bank Mandiri
2. Kreditor Konkruen
1. H. Irfan Yahya Matondang 2. CV. Agung Lestari
3. CV. Tri Bases 4. PT. Aneka Gas
5. PT. Asia Sinar Inti Abadi
4. 2008 1. To Seng Kiang/Wilsen Wijaya
Jln. Perbatasan No. 2 Medan.
Berdasarkan putusan Pengadilan Niaga No.
2/Pailit/2007/PN Niaga Medan tanggal 7 Agustus 2007.
PT. Bank Mandiri
2. Kreditor Konkuren 1. The Pik Suan/Asun 2. Lasma Monica Silalahi 3. Ahau
4. PT. Aneka Gas 5. PT. Bank Niaga
2. Benny Jono/Abeng Pengadilan Niaga No. 04/Pailit/2007/P.N Niaga Medan Tanggal 28 Januari 2009.
1. Kreditor Istimewa 1. Bank Mandiri 2. Bank Danamon
5. 2009 PT. Sumatera Rotanindo Jln. K.L.Y. Sudarso Km. 10,5 Medan (Kawasan Industri Medan).
Berdasarkan putusan Pengadilan Niaga No. 02/Pailit/2008/P.N. Niaga Medan Tanggal 03 Februari 2009.
1. Kreditor Istimewa
1. PT. Bank CIMB NIAGATbk 2. Siti Asnah 3. Paiten 2. Kreditor Konkuren 1. PT. Industri Internasional (PT. IPI) 2. PT. Warnatama Cemerlang 4. PT. Maridian Makmur Mandiri 5. PT. Bintang Parsindo/LSA 6. PT. Power Indo Foam 7. PT. Kansalindo Sumatera 8. PT. Nipsea Paint and
Chemical
9. PT. Cendana Harapan 10. CV. Manao Sumatera 11. Toko Surya Cemerlang 12. Toko Santana Lucky Jaya 13. Toko UD Sinar Lestari 14. Toko Rejeki Makmur 15. Panglong Saudara Jaya 16. A Hock
17. Azliderianto 18. Sunarto 19. Sunaryo
20. Riana Situmorang 21. Rasidi
22. Ahmad Abidin Situmorang 23. Kelana Putra
24. Sarinah 25. Ganda
Sumber : Balai Harta Peninggalan Medan 2010.
Berdasarkan tabel tersebut di atas, maka dapat dilihat bahwa pengurusan dan pemberesan Harta Pailit yang dilakukan oleh Balai Harta Peninggalan Medan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 adalah sebanyak 7 (tujuh) perkara yaitu : masing-masing sebanyak 2 (dua) perkara untuk tahun 2005, serta untuk tahun 2006 sampai dengan tahun 2007 masing-masing 1 (satu) perkara saja. Untuk tahun 2008 sebanyak 2 (dua) perkara dan untuk tahun 2009 sebanyak 1 (satu) perkara. “Namun
untuk di tahun 2005 yang debitornya "Ispara Sakti Nasution/Lucky" ditolak pengurusan dan pemberesannya oleh Balai Harta Peninggalan Medan, karena setelah diteliti, harta pailit dari debitor sudah tidak ada lagi atau nihil”.130
Daftar pembagian yang dilakukan oleh kurator terhadap daftar tagihan para kreditor hanya sedikit saja yang dapat diberikan kepada kreditor dari hasil penjualan asset-asset debitor. rata-rata uang dari penjualan asset pailit yang diterima oleh kreditor hanya sekian persen saja dari total jumlah tagihan para kreditor sepakat kepailitan untuk diakhiri dan debitor tidak ada yang meminta untuk di rehabilitasi.131 Dari ke 6 (enam) kepailitan yang ditangani Balai Harta Peninggalan Medan tersebut kepailitan telah selesai pengurusan dan pemberesannya, sesuai dengan Penetapan dari Hakim Pengawas.
Setelah melihat tabel dan penjelasannya yang telah diutarakan di atas, tindakan pengurusan dan pemberesan yang dilakukan oleh Balai Harta Peninggalan Medan dalam suatu kepailitan adalah :
a. Pada Tahap Pengurusan Dalam Kepailitan
Pengurusan adalah mengumumkan ikhwal kepailitan, melakukan penyegelan harta pailit, pencatatan/pendaftaran harta pailit, melanjutkan usaha debitor, membuka surat-surat telegram debitor pailit, mengalihkan harta pailit, melakukan penyimpanan
130
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 18 April 2010.
131
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 12 Juli 2010.
harta pailit, mengadakan perdamaian guna menjamin suatu perkara yang sedang berjalan atau mencegah timbulnya suatu perkara, melakukan pemanggilan kepada kreditor, mendaftarkan tagihan para kreditor, menghadiri rapat pencocokan piutang dan memberitahukan hasil rapat pencocokan piutang kepada kreditor.132
1. Mengumumkan ikhwal kepailitan
Setelah memperoleh Putusan/Penetapan kepailitan dari Pengadilan Niaga, Kurator memulai tugas yang pertama yaitu mengumumkan kepailitan dalam Berita Negara RI dan paling sedikit 2 (dua) surat kabar harian yang ditetapkan oleh Hakim Pengawas, mengenai ikhtisar putusan pernyataan pailit yang memuat hal-hal sebagai berikut:
a) Nama, alamat dan pekerjaan debitor. b) Nama Hakim Pengawas.
c) Nama, alamat dan pekerjaan kurator.
d) Nama, alamat dan pekerjaan anggota panitia kreditor sementara, apabila ditunjuk, dan
e) Tempat dan waktu penyelenggara rapat pertama kreditor.
2. Melakukan Tindakan Penyegelan Terhadap Harta Pailit
Dalam hal ini, pihak kurator dapat meminta untuk dilakukannya penyegelan kepada pihak Pengadilan berdasarkan alasan untuk mengamankan harta pailit, melalui Hakim Pengawas. Penyegelan dilakukan oleh pihak juru sita di tempat
132
Bismar Nasution dan Sunarmi, Diktat Kepailitan di Indonesia, Medan, Program Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2007, hlm. 82-85.
harta pailit tersebut berada dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi yang salah satu di antaranya Wakil dari Pemerintah Daerah setempat.133
3. Membuat Inventarisasi harta kekayaan pailit/pendaftaran budel pailit.
Pendaftaran harta kekayaan si pailit oleh kurator dapat dibuat secara di bawah tangan atau dengan akta otentik jika memang kebenaran harta sudah benar-benar di cek dengan jelas dengan disaksikan/dihadiri oleh Panitia Sementara Kreditor, jika telah dibentuk (Pasal 100 UUKPKPU).
Di dalam prakteknya kehadiran dari si pailit (debitor) sebenarnya akan sangat membantu kurator dalam melaksanakan pendaftaran harta kekayaan tersebut, karena debitor yang lebih mengetahui apa-apa yang menjadi harta kekayaannya.
Secara umum dikatakan bahwa kekayaan debitor adalah segala kebendaan baik barang bergerak maupun barang yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan.
Usaha lain dari kurator untuk memperoleh keterangan mengenai harta kekayaan debitor, kurator dapat meminta keterangan kepada Kantor Pertanahan setempat apakah atas nama debitor ada terdaftar sesuatu hak atas tanah. Demikian
133
Pasal 99 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Dan dalam Penjelasan Pasal 99 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang dimaksud “Wakil dari Pemerintah Daerah setempat” adalah Lurah atau Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain.
juga kurator dapat menanyakan kepada kantor-kantor Bank Pemerintah maupun swasta, apakah debitor memiliki simpanan pada bank tersebut. “Namun pada kenyataannya, kurator sangat sulit mendapatkan keterangan mengenai simpanan debitor di bank. Hal ini justru bertentangan dengan Pasal 12 KUHD”,134 yang menyatakan :
Tiada seorang pun dapat dipaksa akan memperlihatkan buku-bukunya, melainkan untuk keperluan mereka yang langsung berkepentingan terhadap buku-buku itu sebagai waris, sebagai yang berkepentingan dalam suatu persatuan, sebagai persero, sebagai pengangkat seorang pengurus atau wakil dan akhirnya dalam hal kepailitan.
4. Melanjutkan Usaha Debitor
Jika dipandang perlu, kurator juga berwenang atas persetujuan panitia kreditor sementara atau bila tidak ada panitia kreditor sementara maka diperlukan izin dari Hakim Pengawas walaupun ada kasasi atau peninjauan kembali dapat melanjutkan usaha (going concern) debitor, jika hal tersebut dipandang akan menguntungkan pada harta pailit.135 Langkah ini merupakan langkah yang sangat strategis, khususnya jika debitor pailit adalah Perseroan Terbatas.
Sebelum kurator memutuskan untuk melanjutkan usaha si pailit, maka harus mempertimbangkan bahwa dengan dilanjutkannya usaha debitor akan mendatangkan pendapatan yang lebih dari ongkos operasionalnya serta mempertimbangkan dari
134
Hasil wawancara dengan M. Sueb Soeparno, Mantan Ketua Balai Harta Peninggalan Jakarta, pada tanggal 4 Agustus 2010.
135
Pasal 104 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
manakah modal kerja tersebut akan didapat, apakah harus melakukan utang baru ataukah tidak.136 Jika pertimbangan tersebut tidak cukup memadai maka pihak kurator tidak boleh melanjutkan usaha debitor dan sebaliknya harus segera atau secepat mungkin untuk melepaskan atau menjual usaha debitor tersebut dengan nilai tinggi.137
Mengenai melanjutkan usaha debitor tersebut sangatlah penting karena mengingat banyaknya prospek usaha debitor yang cukup prospektif, akan tetapi sedang menghadapi kendala likuiditas sementara sehingga jika diperlukan untuk dilanjutkan usaha debitor tersebut akan sangat menguntungkan harta pailit.138
5. Membuka Surat-Surat dan Telegram Debitor Pailit
Kurator mempunyai wewenang dalam membuka surat dan telegram yang dialamatkan kepada debitor pailit. Surat dan telegram yang tidak berkaitan dengan harta pailit harus segera diserahkan kepada debitor pailit. Perusahaan pengiriman surat dan telegram memberikan kepada kurator surat dan telegram yang dialamatkan kepada debitor pailit. Semua surat pengaduan dan keberatan harta pailit ditujukan kepada kurator.139
6. Mengalihkan Harta Pailit
136
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 18 April 2010.
137
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 18 April 2010.
138
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 18 April 2010.
139
Pasal 105 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Pengalihan harta pailit dapat dilakukan sepanjang itu diperlukan untuk menutupi biaya kepailitan atau apabila penehanannya akan mengakibatkan kerugian kepada harta pailit meskipun ada kasasi dan peninjauan kembali.
7. Melakukan Penyimpangan
Kurator mempunyai hak dan wajib melakukan penyimpanan terhadap uang, perhiasan, efek dan surat berharga milik dari debitor pailit kecuali ditentukan lain oleh Hakim Pengawas. Uang tunai wajib disimpan di bank. 140 Yang dimaksud dengan “disimpan oleh kurator sendiri” dalam pengertian telah mengurangi efek atau surat berharga tersebut disimpan oleh custodian, tetapi tanggung jawab tetap atas nama debitor pailit.
8. Melakukan Pemanggilan kepada Kreditor.
Dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari setelah putusan pernyataan pailit diterima kurator dari Pengadilan Niaga, kurator wajib memberitahukan penyelenggaraan rapat kreditor pertama paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal putusan pailit kepada kreditor yang dikenal dengan surat tercatat atau melalui kurir, dan dengan iklan paling sedikit dalam 2 (dua) surat kabar harian, dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimasud dalam Pasal 15 ayat (2) (Pasal 86 UUKPKPU). “Akan tetapi dalam kenyataannya sering terjadi putusan pailit tidak
140
Pasal 108 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
tepat waktu ketangan kurator sehingga bisa disangsikan bisa menimbulkan kerugian terhadap para kreditor misalnya penyimpangan asset.141
9. Mendaftarkan Tagihan Para Kreditor
Setelah para kreditor memasukkan tagihan-tagihannya maka kurator akan mencocokkan dengan catatan yang telah dibuat sebelumnya oleh kurator sendiri yang berasal dari keterangan debitor pailit. Jika terjadi perselisihan atau keberatan terhadap penagihan yang diterima kreditor dari kurator maka hal tersebut akan dirundingkan kembali untuk mendapatkan hasil yang maksimal.142 Tagihan-tagihan yang disetujui akan dimasukkan ke dalam sebuah daftar yang disebut dengan “Daftar Piutang Yang Sementara Diakui”. Sedangkan tagihan yang dibantah oleh kurator akan dimasukkan ke dalam daftar yang lain atau tersendiri yang disertai dengan alasan-alasannya.143 Daftar tagihan tersebut juga dibubuhkan catatan apakah termasuk ke dalam katogori piutang yang diistimewakan atau yang dijamin dengan gadai, fidusia, Hak Tanggungan, hipotek, hak agunan atas kebendaan lainnya atau hak untuk menahan benda bagi tagihan yang bersangkutan dapat dilaksanakan.144 Daftar tagihan tersebut oleh kurator diletakkan pada papan pengumuman selama 7 (tujuh) hari untuk dapat
141
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 18 April 2010.
142
Pasal 116 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
143
Pasal 117 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
144
Pasal 118 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
dilihat oleh yang berkepentinan atau siapapun yang menghendakinya.145 Peletakan daftar tagihan-tagihan tersebut diberitahukan oleh kurator kepada semua kreditor yang dikenal dan juga menghadiri Rapat Pencocokan Piutang (Rapat Verifikasi) serta pemberitahuan jika debitor ada memasukkan rencana perdamaian kepada kurator.146 10. Mengadakan rapat pencocokan piutang/rapat verifikasi.
Paling lambat 14 (empat belas) hari setelah putusan pernyataan pailit diucapkan, Hakim Pengawas harus menetapkan :
1. Batas akhir pengajuan tagihan;
2. Batas akhir verifikasi pajak untuk menentukan besarnya kewajiban pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan;
3. Hari, tanggal dan tempat rapat kreditor untuk mengadakan pencocokan piutang (Pasal 113 ayat (1) UUKPKPU)
Setelah diadakan pencocokan piutang, kurator paling lambat 5 (lima) hari setelah penetapan wajib memberitahukan penetapan tersebut kepada semua kreditor yang alamatnya diketahui dengan surat dan mengumumkannya paling sedikit dalam 2 (dua) surat kabar harian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4), (Pasal 114 UUKPKPU).
Kehadiran debitor dalam Rapat Pencocokan Piutang adalah sangat penting sekali, karena debitor yang dapat memberikan keterangan tentang kebenaran dari
145
Pasal 119 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
146
Pasal 120 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
piutang-piutang kreditor kepadanya, siapa-siapa yang menjadi kreditor dalam kepailitannya dan berapa besar masing-masing tagihan kreditor. Pada umumnya kreditor sudah tidak berada di tempat atau melarikan diri, guna mempermudah pengurusan dan pemberesan harta pailit Hakim Pengawas dapat melihat dari bukti-bukti tagihan yang secara hukum dapat dipertanggung jawabkan, Misalnya kwitansi tagihan yang belum berstempel lunas.147
Hakim Pengawas akan membacakan mengenai “Daftar Tagihan yang Diakui” dan “Daftar Tagihan yang Diakui Sementara”, sedangkan kurator akan memberikan keterangan-keterangan tentang status dari pada kreditor, mengapa dinyatakan sebagai kreditor separatis, preferent maupun konkuren.
Jelasnya hasil akhir dari Rapat Pencocokan Piutang adalah merupakan seleksi terhadap para kreditor, jumlah tagihan sebenarnya dan merupakan penentuan status dari masing-masing kreditor kepailitan.
11. Menberitahukan Hasil Rapat Pencocokan Piutang (Rapat Verifikasi) Kepada Kreditor
Setelah berakhirnya pencocokan piutang, kurator wajib memberikan laporan mengenai harta pailit dan selanjutnya memberikan keterangan maupun hasil laporan kepada kreditor. Laporan mengenai harta pailit beserta berita acara Rapat Pencocokan
147
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 12 Juli 2010.
Piutang wajib disediakan di Kepaniteraan dan kantor kurator agar dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan.148
b. Pada Tahap Pemberesan Dalam Kepailitan
Pemberesan adalah penguangan aktiva untuk pembayaran atau pelunasan utang.149 Tahap Pemberesan adalah tahap dimana kurator melakukan pelelangan atau mengeksekusi asset untuk dijual dan dibagikan kepada kreditor sesuai dengan daftar tagihan.
Maksud dari tindakan hukum kepailitan secara umum dapat diartikan sebagai tindakan melikuidasi seluruh harta kekayaan pailit, guna membayar klaim-klaim dari para kreditor.
Adapun tugas-tugas Balai Harta Peninggalan dalam tahap pemberesan suatu kepailitan, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Mengusulkan dan Melaksanakan Penjualan Harta Pailit:
Pihak kurator harus memulai melakukan penberesan dan penjualan semua harta pailit tanpa memperoleh persetujuan atau bantuan debitor dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 15 ayat (1) dengan ketentuan apabila150
148
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 12 Juli 2010.
149
Penjelasan Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
150
Pasal 184 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
(a) Usulan untuk mengurus perusahaan debitor tidak diajukan dalam jangka waktu yang telah ditentukan atau usul tersebut telah diajukan tetapi ditolak, atau
(b) Pengurusan terhadap perusahaan debitor dihentikan
Pembiayaan terhadap tindakan-tindakan pengurusan dan pemberesan termasuk jasa untuk kurator diperlukan dana dan dana tersebut hanya dapat diperoleh dari hasil penjualan harta kekayaan pailit dari debitor, baik barang-barang bergerak maupun barang-barang tidak bergerak.
Terhadap semua harta kekayaan pailit tersebut harus dijual dimuka umum sesuai dengan tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.151 Dalam hal penjualan dimuka umum tidak dapat tercapai, maka dapat dilakukan penjualan dibawah tangan dengan izin dari Hakim Pengawas. 152
Pelaksanaan penjualan harta pailit tersebut harus memenuhi beberapa hal, antara lain153 :
1) Pihak kurator terlebih dahulu harus mendapat izin dari Hakim Pengawas. 2) Izin dari Hakim Pengawas tersebut dituangkan dalam suatu penetapan.
151
Pasal 185 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
152
Pasal 185 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
153
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 12 Juli 2010.
3) Izin penetapan diperoleh setelah kurator terlebih dahulu mengajukan permohonan untuk melakukan penjualan harta pailit dan dapat dilakukan secara lelang didepan umum maupun secara dibawah tangan.
Sebelum berlakunya Perpu No. I/1998 jo. No. 37 Tahun 2004, Balai Harta Peninggalan merupakan satu-satunya kurator dalam kepailitan untuk melaksanakan penjualan atas harta kekayaan pailit hal ini dilakukan dengan cara penjualan di bawah tangan, atau penjualan dengan akta jual beli oleh Notaris dengan alasan kepada Hakim Pengawas penjualan secara lelang akan menyita banyak waktu dan dalam pelaksanaannya diperlukan lagi dana yang dibebankan kepada harta kekayaan pailit.154
2. Membuat daftar pembagian (Pasal 189 UU No. 37/2004):
Untuk pelaksanaan pembayaran klaim dari para kreditor kepailitan. Selanjutnya kurator harus mempersiapkan suatu daftar yang disebut daftar pembagian. Daftar pembagian ini dapat dibuat cukup satu kali dapat pula dibuat lebih dari satu kali, melihat kebutuhan dalam proses suatu kepailitan, melihat situasi dan kondisi apakah sudah disetujui oleh kreditor. Apabila ada asset yang ditemui belakangan maka dapat dibuat kembali daftar pembagian.155 Daftar pembagian ini memuat Nama dan Alamat Kreditor, Status Kreditor, Jumlah Tagihan, jumlah yang dapat dibayarkan dan berapa persen yang diterima dari tagihannya.
154
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 12 Juli 2010.
155
Hasil Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum pada Balai Harta Peninggalan Medan, pada tanggal 16 Juli 2010.
Daftar pembagian ini harus disetujui dan disahkan oleh Hakim Pengawas, kemudian diletakkan dipapan pengumuman Pengadilan Niaga dan kurator untuk dapat dilihat oleh para kreditor berapa besar jumlah uang akan diterimanya dari klaim yang telah diajukannya.
Tenggang waktu lamanya peletakan daftar pembagian tersebut ditentukan oleh Hakim Pengawas, tentang adanya peletakan daftar pembagian diumumkan oleh kurator dalam surat kabar umum dan Berita Negara RI.
Apabila ada keberatan-keberatan yang diajukan oleh kreditor atas daftar pembagian yang telah disetujui dan disahkan oleh Hakim Pengawas tersebut, kreditor dapat mengajukan keberatannya kepada Pengadilan Niaga. Kemudian Pengadilan Niaga harus memberikan penetapan berikut dengan alasan-alasannya.
Jika ternyata daftar pembagian yang telah disetujui dan disahkan oleh Hakim Pengawas tersebut tidak memperoleh keberatan-keberatan dari para kreditor kepailitan selama tenggang waktu yang ditentukan, kurator harus segera melaksanakan pembagian kepada masing-masing kreditor kepailitan berdasarkan daftar pembagian yang telah disetujui dan disahkan oleh Hakim Pengawas, dengan persetujuan dari Ketua Balai Harta Peninggalan maka Ketua Balai Harta Peninggalan memerintahkan Bendahara Balai Harta Peninggalan, berdasarkan surat perintah bayar (Opdracht Tot Uitbetaling/O.T.U) bendahara melakukan pembayaran kepada
kreditor,156 baik secara tunai ataupun dengan memberikan cheque157. Kreditor
diundang untuk datang ke Balai Harta Peninggalan. Apabila jumlah tagihan jumlahnya hanya sedikit maka pembayaran dilakukan secara tunai kepada kreditor. Jika jumlah uang yang akan dibayarkan dalam jumlah yang besar maka pembayaran dilakukan dengan cheque. Jumlah tagihan yang diberikan kepada masing-masing kreditor tergantung pada keadaan, jika jumlah bersih setelah dikurangi biaya-biaya kepailitan maka uang yang untuk dibagikan maka para kreditornya dibagi sesuai dengan porsi tagihannya masing-masing. Untuk keadaan yang sering dihadapi