BAB I PENDAHULUAN
C. Model Pengembangan Program Takahsus Al-Qur’an
3. Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Implementasi kurikulum merupakan sebuah proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam bentuk tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap.81
Implementasi juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis (Written Curriculum) dalam bentuk pembelajaran, lebih lanjut dijelaskan bahwa implementasi kurikulum merupakan suatu penerapan konsep, ide, program atau tatanan kurikulum kedalam praktik pembelajaran atau
81
berbagai aktivitas baru, sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah.82
Dengan demikian implementasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan, sambil senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan intlektual, emosional serta fisiknya.
Pelaksanaan kurikulum di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan intrakulikuler maupun melalui kegiatan pengembangan diri. Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik dan pserta didik dengan mengacu pada perencanaan pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya. Sementara kegiatan pengembangan diri merupakan kegiatan yang dilakukan diluar jam pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pengetahuan, pengembangan. Serta pembiasaan siswa yang dilakukan untuk menunjang kemampuan dasar siswa.
Dengan adanya undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hal tersebut juga ditetapkan sejak adanya Kurikulum Tingat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2005, dimana tiap-tiap lembaga pendidikan memiliki kewenangan untuk mengembangkan kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lembaga serta kebutuhan masyarakat setempat.83
Selain itu, Freeman Butt dalam bukunya Cultural History of Wistern Education mengemukakan:
82Ibid,... hlm 238
83 Undang- Undang R.I Nomor 9 Tahun 2009. Badan Hukum Pendidikan,( Surabaya: Kesindo,2009) hlm 165
1. Pendidikan adalah kegiatan menerima dan memberikan pengetahuan, sehingga kebudayaan dapat diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya
2. Pendidikan adalah suatu proses. Melalui proses ini individu diajarkan kesetiaan dan kesediaan untuk mengikuti aturan. Melalui cara ini pikiran manusia dilatih dan dikembangkan
3. Pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan. Dalam proses ini individu dibantu mengembangkan bakat, kekuatan, kesanggupan dan minatnya.84
Direktorat Pembinaan SMP Kemendiknas menyebutkan bahwa pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilakukan mulai dari tahap pendahuluan, inti dan penutup. Inti. Sementara itu berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum pada kegiatan pengembangan diri, Muhaimin, dkk menyatakan bahwa kegiatan pengembangan diri adalah kegiatan pendidikan diluar mata pelajaran sebagai integral dari kurikulum sekolah.
Kegiatan ini merupakan upaya pembentukan watak kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui pelayanan konseling berkenaan dengan masalah – masalah pribadi dan kehidupan social, kegiatan belajar dan pengembangan karier, serta kegiatan ekstrakurikuler, yang bertujuan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, yaitu menjadi manusia yang mampu menata diri dan menjawab berbagai tantangan baik dirinya sendiri maupun dari lingkungan secara adiptif dan konstruksi baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.85
84 Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran,(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012), hlm 38
85
Adapun Ruang Lingkup Pengembangan diri meliputi:86 a) Kegiatan Terprogram
Kegiatan terprogram atau kegiatan yang direncanakan adalah kegiatan yang secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegiatan pengembangan diri secara terprogram dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual, kelompok atau klasikal melalui penyelenggaraan konseling dan kegiatan ekstrakulikuler.
b) Kegiatan Rutin, Spontan dan keteladanan
Kegiatan yang dilaksanakan secara langsung oleh pendidik dan tenaga kependidikan disekolah yang diikuti oleh semua peserta didik.Kegiatan tersebut meliputi: (1) Kegiatan Rutin, yakni kegiatan yang sifatnya pembentukan perilaku dan terjadwal seperti upacara, ibadah kegitan kebersihan, dan lain-lain. (2) Spontan, yakni perilaku terpuji pada kegiatan khusus misalnya, memberi salam, membuang sampah ada tempatnya, mendermakan uang sakunya kepada orang miskin, mengatasi masalah dan lain-lain. (3) Keteladanan, yakni perilaku yang dapat dijadikan contoh orang lain seperti: bepakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, datang tepat waktu.
Pelaksanaan kurikulum harus menunjukkan adanya kegiatan pembelajaran, yaitu upaya guru untuk membelajarkan peserta didik baik disekolah melalui tatap muka maupun kegiatan diluar sekolah melalui kegiatan
86
terstruktur dan mandiri. Dalam konteks inilah guru dituntut untuk menggunakan berbagai metode mengajar serta media dan sumber belajar.87
Menurut Muhaimin yang menyebutkan bahwa kompetensi guru dalam penguasaan materi sangat dibutuhkan untuk memudahkan siswa dalam mencapai kompetensi yang direncanakan dalam satu bidang studi. Guru dengan penguasaan materi yang baik akan memudahkan dalam mengorganisasikan materi, memilih materi yang prioritas ataupun kurang prioritas. Pemilihan ini menjadi penting karena proses pembelajaran disekolah atau madrasah dibatasi oleh waktu, sehingga tidak mungkin bagi guru membelajarkan semua materi yang ada dalam satu bidang studi, namun harus dipilih materi – materi yang memang mengarah pada pencapaian kompetensi yang diharapkan.88
Pengusaan strategi dan metode pembelajaran pada dasarnya adalah upaya guru untuk membelajarkan siswa, sehingga materi yang tadinya dipahami siswa sebagai suatu yang abstrak dapat dipahami sebagai suatu yang konkret. Sehingga siswa dapat memahaminya dan kemudian menerapkannya atau mancari bentuk lain yang sama atau mengkritisinya, atau bahkan mengembangkannya. Ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan strategi atau metode pembelajaran yang tepat akan mempercepat pencapaian kompetensi siswa.89
Faktor yang juga dapat mempercepat pencapaian kompetensi adalah dengan menggunakan atau memanfaatkan sumber belajar dan media pebelajaran, pemilahan sumber belajar dan media pebelajaran yang tepat oleh
87 Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembnagan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011) ,hlm 92
88 Muhaimin, dkk, Pengembangan Model Kurikulum….29
guru akan memudahkan siswa dalam mencapai kopetensi yang dipersyaratkan.90 Dalam system pembelajaran tradisional penggunaan sumber belajar atau media pembelajaran terbatas pada informasi yang diberikan guru,dan beberapa diantaranya ditambah dengan buku sumber. Bentuk sumber belajar yang lain cenderung kurang mendapat perhatian, sehingga aktivitas belajar peserta didik kurang berkembang.91
Dari beberapa sumber belajar atau media pembelajaran yang ada dan yang mungkin di gunakan dalam pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:92
a) Manusia (People), yaitu orang yan menyampaikan pesan pelajaran secara langsung
b) Bahan (Material), yaitu segala sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran baik berupa buku, film, video dan sebagainya.
c) Lingkungan (Setting) yaitu ruang dan tempat ketika sumber-sumber dapat berinteraksi dengan peserta didik.
d) Alat dan peralatan (Tools and Equipment) yaitu sumber belajar untuk produksi dan memainkan sumber-sumber lain.
e) Aktivitas (Aktivities) Yaitu sumber belajar yang merupakan kombinasi antara suatu teknik dengan sumber lain untuk memudahkan fasilitas belajar.
Aspek yang tak kalah penting yang harus dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat kompetensi yang telah dicapai oleh peserta didik adalah
90 Ibid,… 30
91 Zainal Arifin…Konsep dan Model kurikulum…93
92 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Belajar Kreatif dan
dengan melakukan evaluasi terhadap pembelajaran baik yang bersifat intrakulikulrer maupun ekstra kurikuler.
Muhaimin dkk, menyatakan bahwa evaluasi harus dilakukan untuk mengukur tiga wilayah kompetensi yaitu: Knowledge (Kognitif), Skill (Psikomotorik), dan Attitude (Afektif). Untuk melaksanakan evaluasi yang sesuai dengan wilayah kompetensi tersebut, diperlukan kemampuan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai instrument evaluasi. Pemilihan instrument evaluasi disesuaikan dengan wilayah kompetensi yang akan dievaluasi, apakah itu kognitif, afektif bahkan psikomotorik. Proses penilaian tergambar dalam skema berikut ini.
KD Jenis Kompetensi: 1. Kognitif 2. Afektif 3. Psikomotorik Indikator Pen ila ia n Tes 1. Tes Tulis Bentuk Objectif BentukTes Tertulis 2. Tidak Tertulis Kinerja, Penugasan, Hasil Karya 1. Observasi Sikap, Portofolio, Life Skil 2. Tes Sikap 3. Dan Lain - lain
Gambar: 2.2
Proses Evaluasi Aspek Kognitif, Afektif dan Psikomotorik (Sumber: Muhaimin, dkk, 2009:31)