BAB III PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
C. Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan dan pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup merupakan proses penting untuk membentuk hakim lingkungan hidup yang kompeten, oleh karena itu semua aspek yang terkait dengan pelatihan harus memenuhi standar kualitas yang telah dirancang sebelumnya melalui perangkat aturan dan kebijakan yang dikeluarkan Mahkamah Agung.
Penyelenggaraan Pendidikan dan pelatihan sertifikasi hakim
lingkungan hidup, awalnya masih didukung anggaran
pengembangan kapasitas penegakan hukum lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup, sebagai wujud adanya Nota Kesepahaman pada tanggal 18 Juni 2009 antara Ketua Tim Pembaharuan Peradilan, Mahkamah Agung RI dan Deputi V Kementerian Negara Lingkungan Hidup Bidang Penaatan Hukum Lingkungan, tentang Penguatan Kapasitas Hakim Lingkungan dengan lingkup dan materi kerjasama meliputi:
Pembentukan Kelompok Kerja Hukum Lingkungan;
Penyusunan Pedoman Penanganan Perkara Lingkungan Untuk
Para Hakim;
Pelaksana pelatihan bagi hakim bersertifikat lingkungan
hidup.49
Kemudian dalam perkembangannya penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup telah dibiayai secara penuh dengan menggunakan anggaran Dipa Badan Litbang Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung.
Sampai dengan tahun anggaran 2015, telah dilakukan pendidikan dan pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup sebanyak 4 (empat) angkatan dengan jumlah hakim yang lulus
49 Sumber: Sertifikasi Hakim LH: Upaya Meningkatkan Efektivitas Penegakan Hukum Lingkungan, diunduh dari http://www.menlh.go.id/sertifikasi-hakim-lh-upaya-meningkatkan-efektivitas-penegakan-hukum-lingkungan/ diunduh 20 Oktober 2015.
pelatihan dan berhak mendapat sertifikat sebagai hakim lingkungan hidup sebanyak 329 orang hakim.
Standar kualitas sebuah pelatihan yang harus memenuhi unsur-unsur berupa: topik dan tema pelatihan, tujuan, materi, metode, jadwal, trainer, bahan peralatan dan perlengkapan, evaluasi
dan tindak lanjut.50 Kondisi tempat pelatihan yang dilengkapi sarana
dan prasarana diklat akan menjadi tolok ukur kualitas media pengajaran meliputi seperangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Hardware adalah alat-alat yang dapat mengantarkan pesan seperti overhead projector, radio, televisi dan sebagainya. Software adalah isi program yang mengandung pesan seperti informasi yang terdapat pada transparansi atau buku dan bahan-bahan cetakan lainnya, cerita yang terkandung dalam film atau materi yang disuguhkan dalam bentuk bagan, grafik, diagram, dan lain sebagainya. Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat pelajaran, perlengkapan training, dan lain sebagainya. Prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya penerangan, kamar kecil, pengeras suara dan lain-lain. Kelengkapan sarana dan prasarana akan membantu pengajar dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. Dengan demikian sarana dan prasarana merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran.
Sarana dan prasarana pelatihan yang dimiliki oleh Pusdiklat Mahkamah Agung telah memiliki kualitas baik, karena tersedianya ruang-ruang kelas yang dilengkapi dengan sarana audio video serta akses internet untuk proses belajar mengajar dengan model
e-learning yang sedikit sekali menggunakan bahan kertas (paper less)
50 Agus M. Hardjana, Training SDM Yang Efektif, Yogyakarta, Kanisius, 2001, hal. 43
sehingga sesuai pula dengan semangat pro natura pada pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup.
Sarana yang digunakan dalam Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup bagi hakim Peradilan Umum
dan Tata Usaha Negara Seluruh Indonesia adalah sebagai berikut:51
1) LCD proyektor 2) Laptop 3) Kertas Flipchart 4) Papan Tulis 5) Alat tulisl 6) Sound System 7) Internet
Selain sarana tersebut, dalam Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup bagi hakim Peradilan Umum dan Tata Usaha Negara Seluruh Indonesia juga tersedia prasarana yang memenuhi standar kualitas penyelenggaraan pelatihan, yaitu Ruang Kelas, Ruang Ibadah, Perpustakaan, Asrama, Ruang Makan, Fasilitas Olah Raga dan Unit Kesehatan.
Setiap peserta dalam Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup untuk menunjang proses pendidikan dan pelatihan, mendapat pembagian bahan-bahan penunjang secara individual berupa buku panduan, buku catatan (block note), pulpen,
soft copy makalah pengajar, tas, tanda pengenal dan flashdisk.
Metode yang diterapkan untuk proses pembelajaran pada Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup, dengan metode pembelajaran orang dewasa (active learning), perbandingan penyampaian materi secara ceramah sebesar 30% dan selebihnya adalah kegiatan aktif berupa role play, diskusi dan studi kasus. Metode pembelajaran tersebut meliputi kegiatan sebagai
51 Balitbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI, Laporan & Evaluasi
Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup Bagi Hakim Peradilan Umum Dan Tata Usaha Negara Seluruh Indonesia Tahun 2014,
berikut: 1. Ceramah
Dengan melakukan transfer pengetahuan dari pengajar kepada peserta pelatihan yang bertujuan untuk peningkatan pemahaman serta pendalaman pengetahuan peserta tentang hukum lingkungan hidup serta materi-materi bukan hukum yang relevan dan bersifat aplikatif dengan lingkungan hidup.
2. Diskusi
Tujuan diskusi adalah untuk pendalaman materi yang
berhubungan dengan permasalahan-permasalahan yang
dihadapi para hakim lingkungan hidup dalam melaksanakan tugasnya.
3. Studi Kasus
a. Peserta dihadapkan pada suatu peristiwa nyata atau peristiwa yang pernah terjadi, mencari penyebab terjadi kasus tersebut dan mencarikan solusi dan pemecahan secara tepat.
b. Peserta dihadapkan pada suatu perkara nyata yang sudah dimodifikasi nama dan tempatnya, kemudian peserta mengembangkan keterampilan dan kecakapan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi dengan memanfaatkan referensi yang telah dipelajari.
4. Studi lapang (field trip)
Observasi langsung ke kondisi nyata dari salah satu obyek di luar kelas atau Pusdiklat, dengan pendampingan dari ahli atau pengajar di bidang yang sesuai dengan materi yang akan dilakukan observasi, kemudian dilakukan diskusi dari hasil observasi tersebut.
Salah satu contoh obyek yang dilakukan observasi adalah unit instalasi pengolahan limbah pada pabrik tekstil di wilayah Kabupaten Bogor.
Materi yang diajarkan pada Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup terdapat 17 materi ajar, yaitu:
NO MATERI
1. Peran hakim dalam penegakan hukum lingkungan hidup dan sumber daya alam.
2. Judicial Activism
3. Paradigma Pembangunan Berkelanjutan dalam Hukum Lingkungan Internasional dan Nasional
4. Pemetaan Kebijakan dan Pertanggungjawaban Hukum dalam Konteks Perubahan Iklim
5. Penataan Ruang dan Penerapannya dalam Perlindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam
6. Politik Hukum Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 7. Keterkaitan Penegakan Hukum Administrasi, Hukum Pidana dan Hukum
Perdata dalam Penegakan Hukum Lingkungan
8. Perizinan, Pengawasan dan Penegakan Sanksi Administrasi di Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
9. Aspek Prosedural dan Substansial Hukum TUN/Administrasi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam
10. Aspek Prosedural dan Substansial Hukum Pidana Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam
11. Aspek Prosedural dan Substansial Hukum Perdata Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam
12. Observasi Lapangan (field trip) ke instalasi pengolah limbah pada Pabrik Textile Unitex Bogor, atau tempat lain yang representatif.
13. Pembuktian Ilmiah dalam Aspek Pencemaran dan atau Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Kebakaran Hutan dan atau Lahan
14. Pembuktian Ilmiah dalam Aspek Pencemaran dan atau Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Pembalakan Liar
15. Pembuktian Ilmiah dalam Aspek Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Kegiatan Pertambangan
16. Pembuktian Ilmiah dalam Aspek Pencemaran dan atau Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Kegiatan Industri
D. Metode Penilaian dan Kelulusan Diklat Sertifikasi Hakim