BAB II PENGADILAN KHUSUS LINGKUNGAN
B. Pengadilan Khusus Lingkungan Hidup di
5. The Municipal and Regional Trial Courts
Mahkamah Agung Filipina sejak tahun 1980 telah menunjuk 117 pengadilan tingkat pertama di beberapa kota dan wilayah sebagai pengadilan lingkungan hidup (environmental court). Kemudian pada awal tahun 1993 Mahkamah Agung Filipina (Supreme Court of Philipine) mengeluarkan Administrative Order No. 15-13-93 yang menunjuk beberapa pengadilan khusus untuk menangani pelanggaran terhadap Undang-Undang Kehutanan (the
Forestry Code). Hal tersebut didorong oleh meningkatnya jumlah
kasus-kasus pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan kehutanan. Pengadilan-Pengadilan khusus tersebut ditempatkan pada wilayah dimana jumlah pelanggaran kehutanan sangat banyak. Penentuan tersebut berdasarkan hasil monitor kasus-kasus yang menggunakan sistem administrasi pengelolaan informasi pengadilan (the Court Administration Management Information System).
Sengketa lingkungan hidup yang lainnya kebanyakan diselesaikan oleh badan-badan administrasi (administrative
agencies) yang telah diberi mandat hukum (quasi-judicial
42 Sumber: http://www.asianjudges.org/wp-content/uploads/2014/10/25-Session-5.Green-Benches-in-Thailand-Winai-Ruangsri.pdf
mandates). Kesadaran dan pengetahuan para jaksa dan hakim dalam
kaitan dengan masalah lingkungan hidup hanya sebatas pada beberapa peraturan perundang-undangan saja (misalnya kehutanan). Melihat kondisi tersebut, maka ada kebutuhan untuk meningkatkan peran peradilan dalam mengatasi masalah-masalah lingkungan. Peran tersebut terutama berkaitan dengan pelanggaran pidana terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yaitu untuk menciptakan penegakan hukum yang lebih kuat, karena seringkali putusan-putusan yang dikeluarkan oleh administrative
bodies tidak mencapai penegakan hukum yang maksimal.43
Sementara itu pada tahun 1998, telah didirikanlah the
Philipine Judicial Academy (PHILJA) yaitu semacam sekolah
pelatihan bagi para hakim, panitera, pengacara dan calon hakim yang dibentuk melalui Republic Act 8557. Sejak didirikannya PHILJA telah melakukan beberapa pelatihan lingkungan bagi para hakim.
Pada Juli 2007, PHILJA, bekerja sama dengan USAID, AECEN, the United Nations Environment Programme (UNEP), the
Asia Pacific Jurist Association (APJA), the United States Environmental Protection Agency (USEPA) dan the Supreme Court Project Management Office (PMO), menyelenggarakan the Asian Justices Forum on the Environment. Pada forum ini rincian kerangka
kerja dalam rangka membangun green bench di Filipina dipresentasikan sebagai masukan bagi negara-negara peserta lainnya. Hakim senior dari Indonesia, India, Thailand, Sri Lanka, Australia dan U.S. kemudian memberi tanggapan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Beberapa rekomendasi hasil dari Forum tersebut memberikan dorongan untuk menguatkan
putusan-putusan lingkungan hidu di kawasan ASEAN termasuk Filipina.44
43 Sumber: http://www.asianjudges.org/about-ajne/member-judiciaries/asean/ philippines/
Pada awal 2010, Mahkamah Agung Filipina meminta bantuan Asian Development Bank (ADB) dengan program lingkungan mereka, kemudian ADB memulai dengan membantu Mahkamah Agung menerbitkan Peraturan baru tentang Prosedur Kasus Lingkungan (Rule) yang diterapkan pada bulan April 2010. Aturan ini memiliki banyak praktek-praktek terbaik di lingkungan Pengadilan, termasuk ketentuan mencegah Strategis Tindakan Melawan Hukum Partisipasi Masyarakat yang dikenal sebagai Anti "SLAPP".
Dengan bantuan dari beberapa lembaga donor, dibentuk program aksi yang menghasilkan strategi untuk membentuk green
bench di Filipina. Dalam upaya untuk mempercepat perubahan
kelembagaan, dibangun beberapa opsi sebagai bahan pertimbangan bagi Mahkamah Agung Filipina, yaitu : a) Menunjuk pengadilan-pengadilan khusus untuk menangani kasus-kasus lingkungan dengan menggunakan data-data empirik yang memperlihatkan tingginya kasus-kasus lingkungan; b) Memperluas jurisdiksi dari pengadilan-pengadilan kehutanan untuk menangani seluruh kasus-kasus lingkungan; c) Membentuk divisi khusus lingkungan dalam
pengadilan-pengadilan tingkat banding. Dengan berbagai
pertimbangan maka disimpulkan bahwa pengadilan khusus adalah bentuk yang tepat dalam penegakan hukum lingkungan hidup.
Untuk mencapai penunjukan pengadilan khusus lingkungan hidup memerlukan tahap-tahap tertentu, antara lain melakukan inventarisasi dan penilaian terhadap kasus-kasus lingkungan yang ditangguhkan di berbagai pengadilan, termasuk monitoring prosedur beracara di pengadilan dan mengelompokan kasus. Proses tersebut penting karena a) Untuk mengidentifikasi berbagai jenis pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan; b) Untuk mengarahkan Mahkamah Agung bagi keperluan penunjukan
pengadilan lingkungan; c) Untuk meningkatkan sistem
Data memperlihatkan sebanyak 2,353 kasus ditangguhkan pada berbagai pengadilan termasuk pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan kehutanan dan perikanan. Keseluruhan data tersebut merupakan bahan dasar bagi Komisi Pembentukan Green
Bench yang didirikan oleh Mahkamah Agung Filipina dalam
membangun Green Bench.
Kemudian atas dasar rekomendasi dari Komisi Pembentukan Green Bench tersebut, Mahkamah Agung Filipina dalam resolusinya tertanggal 20 November 2007 sebagai perubahan pada tanggal 22 Januari 2008 (A.M. No. 07-11-12-SC), menunjuk 117 pengadilan lingkungan terdiri dari pengadilan tingkat pertama dan kedua untuk menangani semua jenis kasus-kasus lingkungan, paling tidak 14 peraturan perundang-undangan lingkungan (Revised Forestry Code
Marine Pollution Law, Toxic Substances and Hazardous Waste Act, People's Small-Scale Mining Act, National Integrated Protected Areas Act, Philippine Mining Act, Indigenous People's Rights Act, Philipine Fisheries Code, Clean Air Act, Ecological Solid Waste Management Act, Wildlife Conservation and Protection Act, Chainsaw Act, and Clean Water Act).
Pengadilan-pengadilan yang ditunjuk sebagai pengadilan
lingkungan tersebut tidak secara serta-merta kehilangan
jurisdiksinya untuk menangani kasus-kasus lain diluar perkara lingkungan hidup. Pengadilan-pengadilan tersebut akan tetap memiliki jurisdiksi sebagai pengadilan umum. Segera setelah penunjukan pengadilan-pengadilan lingkungan tim multi sektoral telah mendukung pendirian pengadilan lingkungan hidup untuk menyelenggarakan forum dalam upaya mengidentifikasi strategi-strategi yang tepat untuk mendukung pengadilan-pengadilan khusus lingkungan tersebut.
Dalam forum tersebut lembaga donor berkomitmen untuk terus mendukung berkaitan dengan inventarisasi kasus lingkungan, pelatihan penyusunan panduan hukum lingkungan. Praktisi hukum dari komunitas akar rumput menawarkan pendekatan inovatif untuk
menghukum pelanggar hukum lingkungan, mengumpulkan barang bukti, memfasilitasi penyelenggaraan penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Disamping itu revisi peraturan pengadilan juga disarankan agar keadilan lebih mudah diakses oleh masyarakat miskin. Sementara itu Administrative Agencies mengemukakan kebutuhan untuk memfasilitasi advokat mereka dengan pengetahuan investigasi dan beracara. PHILJA telah didekati oleh the Department
of Environment and Natural Resources untuk menangani program
pelatihan kills-based training untuk para advokatnya.
Dari proses pembentukan green bench tersebut, ada tiga faktor yang mendorong keberhasilan pembentukan Green Bench di Filipina yaitu:
1. Kepemimpinan dan keinginan yang kuat dari Ketua Mahkamah Agung Filipina untuk mendorong keberadaan lingkungan yang bersih. Hal ini tercermin dari peran aktifnya mendorong pembaruan lembaga peradilan yang lebih responsif terhadap masalah lingkungan dan mengirimkan para hakim untuk mengikuti pelatihan hukum lingkungan.
2. Terselenggaranya pendidikan dan pelatihan hakim. Sejak tahun 1998 PHILJA telah melakukan beberapa pelatihan lingkungan sehingga para hakim dapat memahami kompleksitas kasus-kasus lingkungan.
3. Kerjasama yang kuat dari berbagai pihak seperti, PHILJA, advokat, aktivis lingkungan, komunitas akar rumput dan
lembaga-lembaga donor.45
Peran pengadilan lingkungan hidup sebagai upaya memperkuat penaatan dan penegakan hukum lingkungan hidup yang terus berkembang di beberapa negara tersebut, memberi gambaran bahwa sekalipun sistem peradilan berbeda-beda, namun yang terpenting bahwa hakim lingkungan hidup harus memiliki wawasan luas mengenai lingkungan hidup agar dapat memahami
perkara lingkungan hidup yang secara substantif memiliki kekhususan. Pengetahuan tentang lingkungan hidup, keterampilan menggunakan pengetahuan itu dalam memeriksa berkas perkara, mencermati berbagai pendapat dalam sidang, memeriksa alat bukti yang seringkali berupa alat bukti ilmiah (scientific evidence) dan membuat putusan berkualitas, serta keyakinan, orientasi, motif dan sikap positif terhadap keberlanjutan lingkungan hidup yang didasari keadilan juga perlu dimiliki hakim lingkungan hidup dalam menjalankan tugasnya. Dalam konteks hakim lingkungan hidup Indonesia, kompetensi ini perlu dimiliki oleh hakim peradilan umum dan peradilan TUN yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara-perkara lingkungan hidup.
Kompetensi lain diluar keterampilan dan pengetahuan, adalah memiliki integritas yang tinggi dalam menangani perkara lingkungan hidup, yaitu selain berpedoman pada Pedoman Perilaku Hakim, hakim lingkungan hidup juga harus memegang kuat prinsip pertumbuhan berkelanjutan dan keadilan lingkungan. Hakim lingkungan hidup dituntut untuk mampu memelihara kaidah dan standar pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan pro
natura.
Untuk membentuk hakim lingkungan hidup yang memenuhi standar kompetensi tersebut diperlukan sistem pelatihan yang baik, yaitu sistem pelatihan yang terencana berdasarkan kebutuhan sesuai hasil analisis Training Need Assesment (TNA), pengelolaan sistem pelatihan dilakukan sejak sebelum pelatihan, saat pelaksanaan pelatihan sampai dengan pasca pelatihan termasuk monitoring dan evaluasi.