• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seleksi Peserta Diklat Sertifikasi Hakim

BAB III PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

B. Seleksi Peserta Diklat Sertifikasi Hakim

untuk mendapatkan calon peserta pelatihan yang memenuhi syarat normatif. Tahapan penyelenggaraan seleksi hakim lingkungan hidup terdiri dari:

 Penentuan kebutuhan jumlah hakim lingkungan hidup;

 Pendaftaran;

 Seleksi peserta pelatihan yang terdiri dari:

a. Seleksi administratif;

Meliputi kegiatan verifikasi dokumen administrasi kepada penerbit dokumen, klarifikasi atas dokumen administrasi baik terhadap para calon peserta pelatihan maupun penerbit

dokumen apabila dianggap dokumen kurang jelas, dan melakukan validasi syarat-syarat administrasi.

b. Seleksi kompetensi;

Melakukan tes tertulis untuk substansi hukum lingkungan dan teknis lingkungan dasar, analisis terhadap putusan-putusan perkara lingkungan hidup yang pernah diputus oleh calon peserta, bagi yang pernah mengadili perkara lingkungan hidup, serta dilakukan wawancara untuk mengetahui motivasi atau passion dari calon peserta pelatihan.

c. Seleksi integritas.

Melakukan penilaian kondisi mental dan kepribadian (profile assessment) yang dapat menunjang profesionalitas pelaksanaan tugas para calon hakim bersertifikat lingkungan hidup, serta melakukan penilaian kemampuan verbal dengan pengamatan sikap dan perilaku para calon hakim bersertifikat lingkungan hidup.

Kemudian berdasarkan hasil wawancara dan sistem lacak dengan pihak ketiga yang berkaitan langsung dengan para calon hakim bersertifikat lingkungan hidup, misalnya atasan langsung atau perwakilan anggota masyarakat yang mengenal calon hakim bersertifikat lingkungan hidup tersebut. Pertimbangan kelulusan pada seleksi integritas juga diperoleh dari data hukuman disiplin atau

rekomendasi Badan Pengawasan Mahkamah Agung.48

Pada pengumuman rekrutmen calon peserta pelatihan hakim lingkungan hidup, dicantumkan bahwa calon peserta pelatihan

hakim lingkungan hidup harus menyerahkan persyaratan

administrasi yang terdiri dari:

a. Formulir Pendaftaran, termasuk riwayat pekerjaan;

48 Lihat ketentuan pada pasal 6 Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 178/KMA/SK/IX/2011, tentang Pembentukan Tim Seleksi dalam Sistem Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup

b. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);

c. Pas foto terbaru ukuran 4 x 6 sebanyak 2 lembar; d. Surat Keterangan berbadan sehat dari RS Pemerintah; e. Fotokopi SK. Kepangkatan Terakhir;

f. Fotokopi Kartu Pegawai (KarPeg);

g. Fotokopi Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN); h. Surat Rekomendasi dari Ketua Pengadilan dimana yang

bersangkutan bertugas, khususnya mengenai perilaku (apakah selama bertugas di Pengadilan tersebut pernah mendapatkan pengaduan dari masyarakat/sanksi administratif);

i. Fotokopi Daftar Jumlah atau putusan Perkara Lingkungan

Hidup yang pernah ditangani;

j. Salinan Putusan Perkara Lingkungan Hidup yang pernah

ditangani (apabila ada);

k. Fotokopi Sertifikat Pelatihan yang pernah diikuti (apabila ada).

Berdasarkan persyaratan diatas selanjutnya Ketua

Pengadilan Tinggi dan Ketua Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara mengusulkan 2 calon peserta pelatihan hakim lingkungan dari pengadilan tingkat pertama dan 2 calon peserta pelatihan hakim lingkungan dari tingkat banding. Dalam perkembangannya, jumlah hakim yang diusulkan calon peserta pelatihan hakim lingkungan hidup juga mempertimbangkan potensial perkara lingkungan hidup yang bakal muncul di wilayah kerja masing-masing Pengadilan Tinggi.

Persyaratan sebagai calon peserta pelatihan hakim lingkungan hidup tersebut adalah untuk memenuhi kriteria hakim yang mendaftar sebagai calon peserta pelatihan yang ditentukan Tim Pelaksana sertifikasi hakim lingkungan hidup, yaitu:

a. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; b. Sehat jasmani dan rohani;

c. Mendapatkan rekomendasi dari Ketua Pengadilan Tinggi dan Ketua Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara;

d. Telah menjabat sebagai hakim selama 10 tahun dan minimal memiliki golongan kepangkatan III/d;

e. Telah mengikuti pelatihan pedoman perilaku hakim;

f. Tidak pernah dikenai tindakan hukuman disiplin tingkat berat;

g. Diutamakan bagi para Hakim yang pernah menangani perkara Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam;

h. Diutamakan bagi hakim yang baru ditugaskan di wilayah pengadilannya kurang dari 12 bulan;

i. Tidak pernah mendapatkan pengaduan dari masyarakat;

j. Hanya memiliki satu sertifikasi spesialisasi sebelum mendaftar

menjadi calon peserta pelatihan sertifikasi hakim lingkungan (tidak termasuk sertifikasi mediasi)

Dalam pelaksanaannya untuk memenuhi standar ideal calon peserta pelatihan sertifikasi hakim lingkungan tersebut mengalami kesulitan memenuhi target, sehingga memerlukan evaluasi dan penyesuaian dengan kondisi riil yang dibutuhkan dalam sistem sertifikasi hakim lingkungan hidup.

Secara keseluruhan proses pelaksanaan rekrutmen dan seleksi pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Mengumumkan atau menyebarluaskan informasi tentang program pelatihan yang akan dilaksanakan serta persyaratannya melalui website Mahkamah Agung (https://www.mahkamah agung.go.id/), yang termuat pula melalui link pengumuman pada website Badilum (http://www.badilum.info/), Badimiltun (http://www.ditjenmiltun.net/) dan info pemanggilan diklat pada website Pusdiklat MA (http://litbangdiklatkumdil.net/). Selain melalui website, juga dikirimkan surat yang berisi pengumuman rekruitmen peserta diklat sertifikasi hakim lingkungan hidup melalui Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara;

2. Melakukan pendaftaran calon peserta, baik yang didaftarkan melalui usulan Ketua Pengadilan Tinggi dan Ketua Pengadilan

Tinggi Tata Usaha Negara, maupun yang dikirimkan langsung memalui email panitia;

3. Menyiapkan daftar rekapitulasi calon peserta yang berisi semua data persyaratan;

4. Menetapkan metode seleksi yang akan dipakai sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan;

5. Melakukan seleksi terhadap calon peserta pelatihan, apakah telah memenuhi kriteria dan persyaratan administratif yang ditentukan, serta melakukan pemeriksaan data sanksi disiplin yang dimiliki Badan Pengawasan MA terhadap calon peserta; 6. Menetapkan hasil seleksi administratif;

7. Mengumumkan hasil seleksi administratif;

8. Menyiapkan daftar peserta yang telah dinyatakan lolos seleksi administratif serta membuat data lengkap calon peserta pelatihan;

9. Melakukan pemanggilan calon peserta pelatihan.

Proses rekrutmen dan seleksi calon peserta pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup tersebut selain berpedoman pada standar pelatihan yang dimiliki oleh Pusdiklat Mahkamah Agung, yaitu Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 140/ KMA/SK/X/2008 tentang Panduan mengenai Pengelolaan dan Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan, juga secara spesifik mengacu pada Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung No.178/KMA/SK/XI/ 2011 tentang Pembentukan Tim Seleksi dalam Sistem Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup.

Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur integritas adalah rekam jejak, yaitu pencatatan atau perekaman jejak-jejak yang ditinggalkan seseorang, mencakup aktivitas, jenis pekerjaan, hubungan interpersonal, kontribusi kepada masyarakat, pikiran dan karya, serta hal-hal lain yang relevan dengan kompetensi orang itu. Jejak yang dimaksud di sini adalah bukti yang dapat diandalkan dari aktivitas, pekerjaan, hubungan interpersonal,

kontribusi kepada masyarakat, pikiran dan karya, serta hal-hal lain. Sebagai sebuah metode, rekam jejak adalah penggunaan data dari rekam jejak untuk kepentingan memperoleh informasi mengenai orang yang direkam jejaknya.

Rekam jejak merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengetahui aspek psikologis yang sifatnya dinamis, terkait dengan situasi, dan tak dapat langsung dikenali pada saat tertentu, umumnya berupa kecenderungan yang relatif menetap. Rekam jejak biasanya digunakan untuk keperluan seleksi, penempatan, pemberian penghargaan, dan peramalan kinerja. Informasi yang biasa digali melalui rekam jejak mencakup integritas sebagai kompetensi khusus, kompetensi umum, dan relasi dengan berbagai pihak (jejaring sosial).

Dalam konteks seleksi integritas yang merupakan bagian dari sertifikasi hakim lingkungan hidup ini, yang direkam jejaknya adalah calon hakim lingkungan hidup dan informasi yang hendak diperoleh adalah informasi mengenai integritasnya sebagai hakim. Dasar dari penilaian integritas adalah Pedoman Perilaku Hakim. Dalam seleksi integritas ini informasi yang digali adalah informasi yang mengenai atau yang terkait dengan integritas calon hakim lingkungan hidup.

Langkah-langkah yang dilalui dalam rekam jejak pada dasarnya sama dengan langkah pembuatan dan penggunaan alat ukur psikologis. Data yang digunakan mencakup (1) biodata, CV, resume, dsb; (2) biografi dan otobiografi (cerita diri); (3) karya: buku, produk, jasa, dsb.; (4) penilaian teman sejawat, teman sekolah, teman, keluarga, tetangga, mantan atasan, dll.; (5) laporan masyarakat; (6) berita media massa; (7) catatan hukum; (8) prestasi sekolah; serta (9) prestasi kerja/pencapaian. Untuk kepentingan seleksi integritas ini, data yang digunakan hanya CV, penilaian atasan, catatan di Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum dan Direktorat Jenderal Militer TUN, catatan Badan Pengawasan dan laporan pengaduan pada Badan Pengawasan (Bawas) Mahkamah

Agung RI, penilaian rekan sejawat, laporan masyarakat, dan berita media massa. Selain itu digunakan juga penilaian terhadap pemenuhan kewajiban pelaporan seorang pejabat negara dengan menggunakan data diantaranya: pelaporan LHKPN selama 1 tahun terakhir dan laporan pembayaran pajak selama 2 tahun terakhir.

Data hasil rekam jejak dalam seleksi integritas ini dianalis dengan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Selain laporan kualitatif yang memaparkan aspek-aspek integritas calon hakim lingkungan hidup, dibuat juga hasil analisis kuantitatif berupa indeks integritas yang mengindikasikan seberapa jauh calon hakim lingkungan hidup memenuhi kriteria hakim yang berintegritas berdasarkan Pedoman Perilaku Hakim. Teknik analisis dilakukan dengan dasar kategori integritas yang sudah ditetapkan. Penilaian dilakukan sekurang-kurangnya oleh dua orang penilai. Hasil penilaian dua orang itu masing-masing akan diperbandingkan dan dicek koherensi internalnya. Dalam penilaian terhadap integritas menggunakan metode rekam dilakukan analisis koherensi antardata yang diperoleh yang sudah lulus uji kesahihan bukti.

Metode terakhir untuk menilai calon peserta pelatihan di dalam proses pelaksanaan seleksi pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup adalah dengan wawancara yang dilakukan berdasarkan pedoman wawancara dan panduan penilaian yang disusun oleh tim seleksi. Pedoman wawancara mencakup penjelasan mengenai (1) pengertian dan tujuan wawancara; (2) teknik wawancara; dan (3) kisi-kisi pertanyaan dan hal yang hendak digali dengan pertanyaan itu. Wawancara terhadap calon hakim lingkungan hidup dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai pemahaman calon terhadap kompetensi hakim lingkungan hidup.

Wawancara juga bertujuan untuk memahami sikap dan sifat calon, serta koherensi dan konsistensi pikirannya dalam kaitannya dengan jabatan hakim lingkungan hidup. Selain itu juga berfungsi sebagai metode yang digunakan dalam seleksi untuk menilai

kompetensi dan integritas. Wawancara kompetensi menggali seberapa jauh calon hakim lingkungan hidup mengetahui dan memahami tugas dan kompetensi hakim lingkungan hidup. Sedangkan wawancara integritas menggali seberapa jauh calon hakim lingkungan hidup menampilkan konsistensi dan koherensi dirinya dalam menjalankan profesi dan tugas sebagai hakim lingkungan hidup.

Panduan penilaian wawancara mencakup (1) Pertanyaan yang diajukan, (2) ruang lingkup jawaban setiap pertanyaan; (3) Indikator dari setiap aspek yang digali dalam wawancara melalui pertanyaan; (3) aspek yang dinilai dan cara mengenalinya; (4) form penilaian; dan (5) form rekapitulasi skor wawancara.

Dalam panduan penilaian disertakan juga penjelasan tentang cara memberi skor untuk setiap indikator, prosedur pemberian skor total berdasarkan skor setiap indikator, dan prosedur pemaduan skor dari setiap pewawancara untuk mendapatkan skor akhir wawancara. Penilaian terhadap kompetensi calon dilakukan berdasarkan jawaban yang menjadi indikator dari kompetensi. Setiap pewawancara menggunakan form penilaian wawancara yang mencakup nama calon, nama pewawancara, indikator yang dinilai, opsi kategori jawaban dengan skor tertentu, dan total skor, serta catatan kualitatif dari observasi. Hasil wawancara berupa skor dalam rentang nilai 0-100. Selama wawancara dilakukan juga observasi kualitatif terhadap calon. Catatan hasil observasi dapat dituliskan dibagian yang disediakan pada form penilaian wawancara.

Berikut ini adalah kisi-kisi pertanyaan wawancara:

- Sejauh ini apa yang anda ketahui tentang permasalahan

lingkungan hidup di Indonesia? Mohon jelaskan.

- Apa yang membedakan hakim lingkungan hidup dengan hakim

pada umumnya?

- Pengetahuan, keterampilan dan sifat-sifat apa yang perlu

dimiliki hakim lingkungan hidup untuk dapat menjalankan tugasnya?

- Seberapa penting peran hakim lingkungan hidup dalam kehidupan masyarakat Indonesia?

- Seberapa jauh anda menilai diri anda mampu menjadi hakim

lingkungan hidup? Apa dasar penilaian anda? Ceritakan pengalaman kerja anda yang terkait dengan kompetensi hakim lingkungan hukum.

- Apakah penilaian anda sejalan dengan penilaian kolega anda?

- Persiapan apa saja yang anda lakukan untuk dapat menjadi

hakim lingkungan hidup?

- Jika ada kesempatan bagi anda untuk menjadi hakim khusus lain

(misalnya hakim Tipikor), apakah anda tetap memilih menjadi hakim lingkungan hidup?

- Apa keuntungan yang anda peroleh dengan menjadi hakim

lingkungan hidup?

- Apa keuntungan MA dan masyarakat jika anda menjadi hakim

lingkungan hidup?

- Apa harapan dan saran anda jika nanti anda lulus menjadi hakim

lingkungan hidup?

Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat digali aspek-aspek dari calon peserta pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup untuk dikenali dan dinilai dalam wawancara, yaitu mencakup hal-hal berikut ini.

1. Pengetahuan dan pemahaman calon mengenai tugas dan kompetensi hakim lingkungan hidup.

2. Pemahaman mengenai kebutuhan Indonesia akan hakim lingkungan hidup dan peran jabatan ini di Indonesia.

3. Pemahaman calon mengenai kekuatan dan kelemahan dirinya sebagai hakim umum dan hakim lingkungan hidup.

4. Pemahaman calon mengenai kesesuaian dirinya dengan jabatan hakim lingkungan hidup.

5. Usaha calon untuk dapat menjadi hakim lingkungan hidup dan kecenderungan pribadi yang mementingkan lingkungan hidup.

6. Motivasi menjadi hakim lingkungan hidup dan orientasi kepada pelestarian lingkungan.

7. Antisipasi keberhasilan kerja dan self-efficacy.

8. Keterlibatan dan aspirasi terkait hukum lingkungan hukum calon peserta pelatihan, serta orientasi ke masa depan.

Dilihat tujuan, teknik dan cara penilaiannya, wawancara dapat disebut sebagai wawancara terstruktur karena jenis dan kualitas respons (jawaban dan sikap tubuh) yang diharapkan muncul dalam wawancara adalah jenis dan kualitas respons yang sudah jelas indikatornya. Pewawancara mencocokan jawaban calon hakim lingkungan hidup dengan indikator yang ada di panduan penilaian dan memberi skor pada formulir yang tersedia.

Keseluruhan kegiatan pelaksanaan rekrutmen dan seleksi adalah menjadi tanggung jawab Tim Pelaksana yang ditunjuk oleh Tim Pengarah berdasarkan ketentuan pasal 2, SK KMA No. No.178/KMA/SK/XI/2011 tersebut. Kewenangan Tim Pelaksana adalah:

a. mengusulkan proses seleksi sertifikasi hakim lingkungan hidup; b. melaksanakan proses seleksi sertifikasi hakim lingkungan

hidup;

c. menyampaikan peserta pelatihan berdasarkan hasil seleksi peserta pelatihan;

d. menyampaikan hasil kelulusan hakim yang akan memperoleh sertifikasi hakim lingkungan hidup kepada Tim Pengarah berdasarkan hasil tahapan penyelenggaraan seleksi;

e. melaksanakan kegiatan lainnya berdasarkan persetujuan Tim Pengarah.

Tanggung jawab Tim Pelaksana untuk menyeleksi dan mempersiapkan calon peserta pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup tersebut sangat menentukan kualitas pelaksanaan pendidikan dan pelatihan sertifikasi hakim lingkungan hidup, oleh karena itu dalam melaksanakan rekrutmen dan seleksi, tetap berada di bawah supervisi Tim Pengarah.

C. Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi Hakim

Dokumen terkait