• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tema 2: Proses Pelaksanaan Discharge Planning

F. Upaya Perawat dan Rumah Sakit Terhadap Pelaksanaan Discharge Planning

4.4.1 Peran Perawat

4.4.1.1 Pelaksanaan Peran Perawat di Instalasi Rawat Inap RSJD Surakarta terkait Pelaksanaan Discharge Planning

Perawat di Instalasi Rawat Inap RSJD Surakarta melaksanakan peran perawat terkait pelaksanaan discharge planning sebagai pemberi asuhan keperawatan (care provider), peran sebagai advokat, peran sebagai educator, peran sebagai koordinator dan peran sebagai kolaborator.

a. Pemberi Asuhan Keperawatan (Care Giver)

Partisipan melakukan perannya sebagai care giver dengan melaksanakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh rumah sakit, yaitu memberikan asuhan keperawatan berdasarkan kebutuhan pasien terkait pemenuhan kebutuhan sehari-hari, pemberian obat, perawatan, terapi, rehabilitasi dan memberikan pembelajaran kepada pasien untuk menangani masalah yang dihadapi. Hal tersebut berkaitan dengan teori konsep keperawatan Virginia Handerson dalam Dwidiyanti, 1998 menyatakan bahwa peran perawat adalah menyempurnakan dan membantu mencapai kemampuan untuk mempertahankan atau memperoleh kemandirian dalam memenuhi empat belas kebutuhan dasar manusia yang diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu: psikologis, biologis, sosiologis dan spiritual. Pemberian asuhan keperawatan merupakan poin penting dalam pelaksanaan peran perawat, dimana perawat harus melihat kebutuhan dasar manusia berdasarkan empat belas kebutuhan dasar manusia yang diungkapkan Handerson, dimana yang disebut manusia dalam konteks ini adalah pasien yang dipandang sebagai komponen bio, psiko, kultural dan spiritual yang mempunyai empat belas kebutuhan dasar. Oleh karena itu perawat memiliki peran sebagai pelaksanan/pemberi asuhan keperawatan dalam meningkatkan kemandirian pasien dan peningkatkan derajat kesehatan pasien.

b. Advokat

Pelaksanaan peran perawat sebagai advokat yang dilakukan oleh partisipan adalah dengan melindungi hak dan memberikan kewajiban kepada pasien, menanamkan rasa kekeluargaan, memberikan rasa aman dan nyaman kepada pasien. Salah satu kebutuhan dasar manusia menurut Virginia Handerson dalam Dwidiyanti, 1998 adalah kebutuhan rasa aman dan nyaman. Ketidaktahuan seseorang dapat menimbulkan kekhawatiran tanpa sebab yang dipengaruhi dalam keadaan sehat maupun sakit. Oleh karena itu, perawat berperan penting memberikan rasa aman dan nyaman terhadap pasien sehingga mengurangi rasa takut/kekhawatiran yang dialami pasien. Perawat di RSJD mengupayakan pelayanan yang optimal dengan selalu memberikan hak yang seharusnya didapatkan pasien seperti pemenuhan kebutuhan pangan, istirahat, kebersihan diri dan informasi terkait tindakan yang diberikan ke pasien serta mengajarkan kepada pasien tentang apa yang harus mereka lakukan selama dirawat. Hal tersebut didukung oleh Hidayat (2008) dalam Firmansyah (2016) menyatakan bahwa peran perawat sebagai advokat adalah mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya dan hak atas privasi. Pasien memiliki hak penuh atas setiap tindakan, informasi, dan penanganan yang akan diterimanya.

Sebagai seorang perawat profesional harus memiliki kemampuan dalam menjalankan peran khususnya sebagai advokat dengan memiliki tanggungjawab besar. Peran perawat lainnya terkait peran sebagai advokat adalah menanmkan rasa kekelurgaan. Hal tersebut didukung dengan teori caring yang dikemukakan oleh Watson dengan memahami respon manusia terhadap masalah kesehatan yang actual ataupun yang potensial, kebutuhan manusia dan bagaimana berespon terhadap orang lain dan memahami kekurangan dan kelebihan pasien dan keluarganya maupun pemahaman terhadap dirinya sendiri. Selain itu memberikan kenyamanan dan perhatian serta empati pada pasien dan keluarganya (Watson, 1987 dalam Dwidiyanti, 1998). Hal tersebut menggambarkan sikap kepedulian perawat yang tidak membeda- bedakan pasien melainkan mengajarkan rasa kebersamaan dan saling pengertian antara satu dengan lainnya.

c. Educator

Partisipan melaksanakan peran sebagai educator terkait pelaksanaan discharge planning dengan memberikan pengarahan dan pendidikan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari (ADL), pendidikan tentang kepatuhan minum obat, perawatan pasien di rumah, pencegahan kekambuhan, kebutuhan nutrisi dan spiritual pasien. Pernyataan tersebut sejalan dengan Bastable (2002) menyatakan bahwa peran educator perawat dalam memberikan

pendidikan kepada pasien menunjukkan potensinya untuk meningkatkan kepuasan konsumen, memperbaiki kualitas kehidupan, memastikan kelangsungan perawatan, mengurangi insidensi komplikasi penyakit, meningkatkan kepatuhan terhadap rencana pemberian perawatan kesehatan, menurunkan ansietas pasien, dan memaksimalkan kemandirian dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Selain itu, menurut teori Abdellah dkk (1960) dalam Potter dan Perry (2005) yang sering dikenal dengan 21 masalah keperawatan Abdellah, yaitu memfasilitasi kesadaran akan diri sendiri sebagai individu yang memiliki kebutuhan fisik, emosi dan perkembangan yang berbeda-beda, mempertahankan komunikasi verbal dan nonverbal, mempertahankan nutrisi untuk seluruh sel tubuh, dan memfasilitasi pencapaian tujuan spiritual personal yang progresif. Teori tersebut mendukung pernyataan partisipan terkait peran mereka sebagai educator dalam pelaksanaan discharge planning dimana perawat berperan mengarahkan pasien untuk mendapatkan pelayanan seoptimal mungkin dengan berbagai upaya yang sudah dilakukan untuk mengingatkan, mengajarkan pasien agar mampu melakukan edukasi yang sudah disampaikan secara berulang-ulang.

Pernyataan lain juga yang mendukung adalah menurut Doheny (1982) dalam Kusnanto (2004) menyatakan bahwa perawat dalam menjalankan peran educator membantu pasien untuk meningkatkan kesehatannya melalui pemberian pengetahuan terkait dengan keperawatan dan tindakan medis yang diterima sehingga pasien atau keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang diketahuinya.

Peningkatan wawasan dan cara berfikir selanjutnya akan memberikan dampak, salah satunya terhadap persepsi seseorang dalam mengambil keputusan untuk berperilaku (Nugroho, dkk., 2008). Pendidikan/edukasi yang diberikan partisipan khususnya terkait kepatuhan minum obat selalu diingatkan oleh partisipan kepada pasien, begitupun sebelum pemulangan pasien partisipan menjalankan perannya sebagai educator dengan memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang perawatan yang dilakukan di rumah, jadwal kontrol, diit (makanan) yang tidak boleh dikonsumsi pasien dan lain sebagainya. Namun terkadang masih terdapat pasien dan keluarga yang tidak melakukan anjuran maupun edukasi yang telah disampaikan, hal tersebut dapat dilihat dari data kunjungan pasien dan tingkat kekambuhan yang menyebabkan pasien kembali dirawat di RSJ.

d. Koordinator

Peran perawat sebagai koordinator terkait pelaksanaan discharge planning yang dilakukan oleh partisipan adalah dengan merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol pasien, melakukan kerjasama dengan staf lain (sesama perawat), mengatur dan mengendalikan tugas internal maupun eksternal, merencanakan perencanaan pemulangan sesuai kebutuhan pasien, memberikan edukasi terhadap pasien dan keluarga, memberikan motivasi secara terus menerus. Hal tersebut di atas sejalan dengan pernyataan Hidayat (2008) bahwa peran perawat sebagai koordinator adalah mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan pasien. Oleh karena itu, peran perawat sebagai koordinator merupakan peran yang sangat penting dimana perawat dituntut untuk mampu berkoordinasi dengan baik terhadap tim kesehatan lain dalam merencanakan dan melakukan pelayanan kesehatan sehingga dapat memfasilitasi kebutuhan pasien dan meningkatkan derajat kesehatannya. Dalam hal tersebut dibutuhkan kerjasama serta komunikasi yang baik untuk menciptakan suasana yang harmonis dengan sesama tenaga kesehatan. Pemberian motivasi secara terus menerus itu sesuai dengan teori harapan (Expectancy Theory) yang

menyatakan bahwa seseorang akan termotivasi bila memiliki harapan akan sebuah hasil yang nantinya akan bernilai positif bagi dirinya sendiri. Vroom lebih menekankan pada harapan, daya tarik dan usaha sebagai pemenuhan suatu kebutuhan (Vroom Pace dan Faules, 1998 dalam Saam dan Wahyuni, 2012).

e. Kolaborator

Peran yang dilakukan oleh partisipan sebagai kolaborator terkait pelaksanaan discharge planning adalah melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lain, yaitu dokter, poli gigi, dan tenaga kesehatan lainnya dengan menghubungi ataupun bersurat dalam hal menjalin kerjasama dalam memfasilitasi kebutuhan pasien.

Terkait peran perawat sebagai kolaborator, penelitiaan yang sejalan dengan itu, menurut Secretary of Health and Human Services Commission on Nursing (1988) dalam Isnaeni (2014) bahwa pentingnya praktik kolaboratif untuk memberikan perawatan kesehatan dengan merekomendasikan agar para pengguna jasa perawat dan profesi medis meningkatkan dan memelihara kolaborasi antara tim perawatan kesehatan. Fokus utama perawat untuk menangani masalah kolaboratif adalah memantau pasien terhadap awitan komplikasi atau perubahan dalam status komplikasi yang sering terjadi. Komplikasi biasanya berhubungan

dengan proses penyakit pasien atau tindakan pengobatan atau pemeriksaan diagnostik (Smeltzer, 2001).

Partisipan dalam melaksanakan tugas dan perannya, yaitu melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lain. Setiap tim kesehatan memiliki tugas dan peranan sesuai fungsi dan wewenangnya. Dalam menunjang kemajuan kondisi kesehatan pasien diperlukan bantuan dari berbagai penunjang kesehatan yang ada di kawasan RSJ sesuai dengan advice dokter. Dalam hal ini, partisipan menyatakan bahwa dokter memegang peranan penting yang berkaitan dengan kondisi/keadaan pasien. Dokter merupakan penanggungjawab utama terhadap pasien, sehingga sebelum melakukan tindakan apapun terhadap pasien harus memberitahukan kepada penanggungjawab pasien yaitu dokter. Khususnya, pada saat seorang pasien dinyatakan boleh pulang harus atas izin dari dokter penanggungjawabnya. Oleh karena itu, peran perawat sebagai kolaborator dengan melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lain sangat diperlukan untuk menunjang perubahan positif terhadap kondisi kesehatan pasien.

Dokumen terkait